THE RULES

THE RULES
Episode 17



Keesokan harinya, Dennis terbangun karena suara alarm dari jam beker yang ia pasang semalam. Ia mematikan jam itu, lalu bangun dan duduk sebentar untuk mengisi energi.


Tak lama setelah itu, Derrel juga terbangun. "Pagi, Kak Dennis."


"Huum pagi. Bagaimana tidurmu?"


"Biasa aja. Aku mimpi indah."


"Mimpi apa tuh?"


"Nanti aku ceritakan, hehe ..."


Dennis menepuk-nepuk kepala Derrel, lalu membuka tirai jendela. Pemandangan matahari terbit dapat terlihat dari sana. Dennis tidak bisa memandanginya terus, jadi ia pergi ke kamar mandi dalam kamarnya untuk bersiap-siap.


Sementara menunggu Dennis, Derrel menyiapkan seragam dan buku pelajaran hari ini.


Di lantai bawah, terlihat Rei baru selesai mandi. Ia mengeringkan rambut dengan handuk, lalu menggeleng cepat. "Fiuh ... dingin ...."


Ibunya lewat dan langsung bertanya, "Eh, Rei? Kuat mandi pagi di pedesaan gini?"


"Huum ... gapapa, cuma rada dingin aja. Gak kayak biasanya." Jawab Rei, lalu mengalungkan handuknya di leher. 


"Ya udah siap-siap mau sekolah."


"Ibu mau siapin makanan buat tar malam?"


"Iya. Nanti pulang sekolah, jangan lupa bawa teman-temanmu, ya?"


"Oke, bu!" Rei pergi ke kamar. Ia mengambil seragamnya dari lemari, lalu memakainya sambil berkaca. Saat memandang diri di cermin, Rei melihat setumpuk kotak kardus di sudut ruangan. Ia pun berbalik badan dan memandang kotak-kotak itu.


"Masih ada barang-barangku di dalam sana. Tar pulang sekolah aja deh aku beresin."


...********♥********...


Leon berangkat pagi seperti biasanya hari ini. Di rumah, ia hanya sarapan sandwich dengan isi sayur. Sebelum ke sekolah, seperti biasa, ia akan menyampar Azura. Tapi saat sampai di sana, pintu rumah Azura tidak terbuka. Padahal sopirnya sudah membunyikan klakson berkali-kali.


"Stop," ujar Leon pada sopirnya. Lalu ia mengeluarkan ponsel dan menelpon temennya itu. Tak kunjung diangkat, jadi Leon matikan. "Jalan aja." Tidak ada kabar dari Azura, Leon pun pergi meninggalkannya dan duluan ke sekolah.


****


Dennis tiba di kelasnya. Tapi kedua teman terbaiknya, yaitu Azura dan Dian blom datang. Dennis datang kepagian dan saat ini juga baru ada 5 murid yang ada di kelas.


"Eh, Den. Acara di rumahmu itu hari ini, kan?" tanya salah satu teman kelasnya.


Dennis mengangguk, lalu menaruh tas di atas meja. "Iya. Jangan lupa datang, ya?"


"Iya pastinya dong!"


"Aaah jadi gak sabar~"


"Pasti asik."


Dennis senang melihat temannya juga ikut senang. Ia merogoh kantung jas, lalu mengeluarkan uang sakunya.


"Lah kok lebih banget?" gumam Dennis. Sampai akhirnya ia ingat kalau ia belum memberikan selebihnya untuk Derrel.


Dennis pun pergi ke luar kelas untuk ke kelas adiknya. Namun tak jauh dari pintu, ia menabrak seseorang sampai terjatuh.


"Aduh duh ... Maaf, ya? Kau gapapa?" Dennis mengulurkan tangan untuk membantu seorang gadis yang baru ditabraknya.


Gadis itu hanya mengangguk dan kembali menunduk. Lalu ia pergi ke kelas Dennis.


"Aku kayak pernah liat dia. Tapi dia gak pernah ngomong sama siapa-siapa di kelas juga." Batin Dennis yang masih menatapi murid pendiam di kelasnya. Tak lama, ia kembali beranjak.


...********♥********...


 


Di kelas, Dennis tidak melihat adiknya di manapun. Tasnya juga tidak ada. Padahal tadi ia berangkat bersama. Tiba-tiba perasaan tidak enak muncul. Dennis pergi ke kelas kakaknya untuk melapor.


Saat tiba di sana, Dennis memanggil Rei yang sedang menghapus papan tulis di kelasnya. "Ka–kak Rei ... Sini deh."


"Ada apa, Den?"


"Kak Rei liat Derrel, gak? Aku lupa ngasih dia uang jajan. Sekarang dia gak ada di kelas."


"Hmm ... Kamu tenang aja, Den. Ayo kita cari."


...********♥********...


"Hahaha, gimana rasanya?"


"Di–dingin ...." Derrel memeluk dirinya sendiri, dia kedinginan disiram air bekas pel.


"Awas ya kalo lu kasih tau kakel lu itu." Salah satu orang itu mengancam Derrel.


"A–aku gak—" Derrel belum menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba pintu depan kamar mandi terbuka dengan cara ditendang. Suara itu datang dari bilik paling depan sepertinya. Sementara Derrel berada di bilik terpojok.


"Bilik yang mana?" Itu suara Rei. Saat Derrel ingin membuka pintu, teman sekelasnya langsung menahan Derrel dan membekap mulutnya.


"Sstt!" Mata orang itu melotot sambil menempelkan jari telunjuknya dibibir.


"Kak Rei, kayaknya bukan di sini deh." Dennis ingin keluar lagi, diikuti oleh Rei.


Derrel di kamar mandi melawan dua temannya itu. "Kak Rei!! Kak!" Derrel memberanikan diri untuk berteriak. Lalu salah satu orang di dekat Derrel, langsung kembali membekapnya dan menahannya di tembok.


Rei langsung menoleh ke belakang. Dia berjalan dan menggedor bilik kamar mandi ketiga, yaitu paling pojok. "Rel, kamu di dalam?"


Rei mendobrak pintu. Pintunya terbuka dan menabrak salah satu orang yang membully Derrel. "Duh anj—"


Rei menarik kerah baju dua orang itu. Lalu menatap tajam keduanya. "Gak kapok juga?"


"A–anu kak, tadi Derrel jatuh ke genangan air," ujar salah satunya. Rei melihat ke Derrel meminta penjelasan. Derrel tak bisa berkata-kata, dia hanya menggeleng.


Dennis mendekati Derrel dan membawanya keluar kamar mandi. Dia mengajaknya ke UKS untuk mengganti baju. Derrel mengangguk saja. Rei merangkul dua orang itu dan mengajak mereka ke ruang BK.


...********♥********...


Sedangkan Azura masih berada di rumah. Dia baru saja bangun tidur dan melihat jam. Sudah pukul tujuh pagi. Pasti akan telat kalau dia berangkat sekarang.


"Mager banget, aaaaa!" Azura merenggangkan tubuhnya, lalu beranjak dari kasur. Dia menuju dapur dan melihat mamanya menyiapkan makanan sambil menelepon seseorang.


"Ma, aku mau mie," ujar Azura.


"Mama gak bisa buatin. Masak sendiri kalo mau." Azura mendengar ucapan ibunya itu suasana hatinya langsung menurun drastis. Seorang wanita muncul dari kamar lain. Itu kakak keduanya Azura.


"Jiran, kamu lanjutin masak ya. Mama buru-buru." Wanita tersebut langsung menggendong tas kerjanya dan berjalan keluar rumah.


"Ya..." jawab Jiran dengan malas. Mata gadis itu melihat ke arah Azura yang melamun di depan dapur. "Lah, lu belum berangkat?"


"Gw gak sekolah." Azura masuk ke dapur, mengacak rambutnya dan mengambil minum dari kulkas.


"Apa aja, makan batu juga gak apa-apa," Jawab Azura. Dia menuju ruang depan dan menonton TV.


Dua puluh menit kemudian, Jiran keluar dapur lalu menuju kamar mandi. Kemudian ke kamar dan berpakaian. Azura mematikan TV saat melihat kakaknya lewat di belakang sofa.


"Cil, gw berangkat ya. Bye!" Jiran keluar rumah sambil berlari-lari. "Tuh mie udah gw buatin!"


"Mager banget ke dapur. Gak usah makan deh." Azura tiduran di sofa sambil ngemil. Tak lama, dirinya merasa ngantuk, lalu dia kembali tidur.


...********♥********...


 


Bel masuk berbunyi. Hampir saja Dian terlambat dan ia masih bisa membujuk pak satpam untuk membukakan pagernya lagi. Dian masuk dan langsung pergi ke kelasnya.


"Hah ... untung belum ada guru." Gumam Dian lalu melirik ke kursi Azura dan Dennis yang tak jauh dari tempatnya. "Lah mereka berdua belum datang? Eh tapi tas Dennis udah ada di tempatnya sih. Pada ke mana dah?"


...********♥********...


Di UKS–


"Rel ... kamu harusnya bisa lawan mereka, dong. Udah gede, kan?" tanya Dennis sambil mengeringkan rambut adiknya dengan handuk. Derrel dipangku oleh Dennis.


"Ta–tapi aku takut, Kak ..."


"Kalau gitu, kau lebih baik lari aja."


"Aku udah dikepung duluan, hiks ...."


"Hah ... sulit, sih." Gumam Dennis. Ia selesai dengan Derrel dan membiarkan rambutnya kering sendiri terkena sinar matahari dari jendela. "Udah, kamu di sini aja dulu, ya? Tunggu sampai kering semua itu. Aku mau ke kelas."


"Eh, jangan, Kak. Aku takut sendirian." Jawab Derrel sambil menarik-narik tangan Dennis untuk tetap di dekatnya. Tapi Dennis tak bisa melakukan itu. Ia sendiri juga tidak mau melewatkan satu pelajaran di kelas.


"Gak dulu, ya, Rel. Kamu mending liatin anak-anak olahraga aja." Dennis mengajak Derrel menghampiri jendela. "Tuh, dari sini keliatan lapangannya. Jadi rada rame."


"Huum oke deh, kak."


"Ya udh, aku ke kelas. Dadah~"


Derrel hanya mengangguk. Lalu ia kembali melirik anak-anak di lapangan yang beberapa dari mereka ada yang bermain bola.


Lalu tak lama kemudian, tiba-tiba ada hawa tidak enak mendekatinya. Dengan cepat, Derrel langsung berbalik badan dan mendengar suara beberapa orang berbicara di luar pintu.


Pintu UKS pun terbuka. Derrel awalnya merasa takut, tapi setelah melihat sosok yang datang, ia merasa lebih tenang.


"Eh, ada Derrel di sini?" Itu Arel. Dia datang untuk membawakan sekardus minuman gelas dalam kemasan. "Kamu kenapa?"


Arel menghampiri Derrel, lalu meraba kening lelaki itu. "Kamu sakit, kah?"


Derrel menggeleng. "Ng ... Nggak, Kak Arel."


"Oh tadi aku baru ketemu kakakmu keluar. Kirain dia yang sakit."


"Ng ... Aku si dini sampai bajuku kering aja."


"Kau kenapa? Padahal kan gak hujan pagi ini."


"Aku gak mau menceritakannya." Derrel mengelus leher, lalu membuang muka.


Arel meneleng heran, lalu membantu Derrel melepas jasnya. "Harusnya kau buka dulu, dong. Gimana mau kering kalau tetap dipakai aja? Tuh pake handuk atau selimut dulu, ya?"


"O–oke deh ..." Derrel mengangguk pelan lalu membuka seragamnya. Ia menyelimuti diri dengan handuk untuk sementara.


"Nah, bajunya aku gembrengin di deket jendela, ya? Biar kena angin dan cepat mengering."


"I–iya makasih, Kak Arel."


"Sama-sama, Derrel. Dah, ya? Aku mau balik ke kelas." Arel melambai kecil, lalu pergi.


Derrel kini sendirian lagi. Daripada bosan, ia memutuskan untuk tidur saja di ranjang UKS.


...********♥********...


Dennis balik ke kelas. Tapi di sana tidak ada guru sama sekali. Semua murid juga sedang bercanda. Ia melihat Dian sedang berkumpul dengan para gadis. Dirinya ingin ke tempat duduk, tapi sempat melihat salah satu murid di kelasnya yang duduk sendirian. Gadis berambut putih. Hanya dia saja yang paling pendiam di kelas.


Dennis yang heran ingin menghampiri gadis itu, tapi tak sempat karena teguran dari Dian.


"Kau dari mana aja, Den?" tanya Dian.


"Oh aku dari UKS. Nemenin Derrel." Jawab Dennis. Lalu ia melirik ke si gadis penyendiri yang duduk di sudut ruangan dekat jendela. Jarak mejanya aja rada jauh dari yang lain.


"Kau kenal dia?" tanya Dennis berbisik pada Dian.


"Lah lu setahun di kelas ini gak tau dia?"


"A–aku tau sih ... Tapi cuma dia doang yang gak pernah ngobrol sama aku. Aku juga jarang liat dia karena suka bolos sekolah."


"Namanya Diana. Dia emang orangnya kayak gitu, sih. Auranya serem," ujar Dian. Sesekali ia melirik ke gadis di belakangnya itu, lalu kembali menatap Dennis. "Dia gak bahaya sih kayaknya. Tapi pendiem banget kayak Leon."


"Oooh ... Dia kesepian kayaknya." Dennis jadi merasa iba. Ia pun mendekati meja gadis itu dan menyapanya. "Halo, Dian ... Na ... Diana! Ah, aku mau mengundangmu ke acara di rumahku malam ini. Mau ikut gak?"


Gadis itu mendongak menatap Dennis. Namun dengan cepat ia kembali membuang muka, lalu menjawab dengan suara pelan. "Hm."


"Eh, jadi kau ikut apa nggak?"


"A–aku usahakan." Jawab Diana tanpa bergerak sedikit pun.


Dennis merasa senang. Ia memberikan selembar kertas kecil yang terdapat alamat rumah barunya. Diana pun menerimanya secara perlahan.


"Aku tunggu kedatanganmu, ya? Hehe ..." Dennis tersenyum pada gadis itu. Ia terlihat sangat senang kalau Diana mau mampir ke rumahnya. Setelah itu, Dennis kembali ke Dian.


"Ka–kau mengundang cewek kayak dia?" tanya Dian tak percaya.


"Kenapa? Kan satu kelas ini boleh ikut juga."


"I–iya sih ... Tapi cewek itu rada aneh."


"Mungkin pas berkumpul nanti, dia bisa lebih akrab dengan teman kita yang lain~"


"Kau terlalu polos, Dennis." Dian bergumam. Dennis yang mendengarnya hanya tertawa kecil.


*


*


*


To be continued–