
Setelah beberapa lama berjalan, mereka akhirnya sampai di danau. Di atas danau itu terdapat beberapa pijakan kayu dan batu. Kira-kira ada lima pijakan kayu dan batu yang entah kenapa bisa mengambang di sana.
Saat ditaiki, semua pijakannya cukup kuat untuk diinjak tiga orang lebih. Derrel memilih berpijak pada batu dekat dengan jalan setapak, Dennis ikut dengan Derrel.
"Eh, Kak Dennis udah baikan? Mau ikut permainan ini?" tanya Derrel sambil meraba-raba tangan kirinya Dennis.
"Ng ... masih sakit dikit. Sebelumnya cuma keseleo. Gapapa. Kalau aku gak ikutan, tar aku bisa dibunuh." Dennis tersenyum paksa, lalu ia berjongkok di batu itu sambil memperhatikan yang lainnya. "Kita di sini aja, Rel. Semoga bisa aman."
"Kak Dennis hati-hati, ya? Kau kan ga bisa berenang."
"Iya, sih. Aku juga khawatir kalau jatuh."
Azura menghampiri batu. Sebelum Azura melompat, dia menoleh ke arah Leon. "Awas jadi duyung, Mbing. Nanti malah nemenin Dian," ujar Azura, lalu melompat ke pijakan.
Leon memutar bola matanya malas, lalu menyusul Azura. Saat Leon sampai, Azura iseng-iseng menepuk-nepuk kepala Leon dengan tangan Dian. Leon menepis potongan tangan itu sampai terlepas dari Azura.
Potongan tangan itu nyaris terjatuh ke danau. Untungnya Azura sempat menangkapnya. "Ah, kambing!"
"Buang aja." Ujar Leon.
"Gak ah! Cuma ini peninggalan dari Dian." Azura memeluk tangan itu, lalu membelakangi Leon. Leon hanya menghela napas, lalu kembali memasang wajah polosnya.
Sisanya melompat-lompat ke pijakan juga, ada yang di batu dan di kayu.
Hanya Dennis dan Derrel yang berdua, sisanya sendiri-sendiri. Sudah sepuluh menit mereka di atas sana. Masih tidak terjadi apa-apa.
"Hadeh, bosen!" Revan berkata seperti itu, menantang permainan tersebut.
"Kita harus di sini 2 jam," ujar Devin. Revan menggela napas, dia duduk di atas pijakan batunya.
"Ada peraturan waktu ga sih?"
"Katanya kita hanya bisa bertahan di sini selama 1 sampai 2 menit. Setiap waktu semenit itu bakal ada buaya yang menghancurkan pijakan ini sampai tersisah tiga." Jelas Devin. Ia iseng-iseng mencelupkan jari ke air danau yang dingin.
Lalu dari air, Revan melihat pergerakan ke arahnya dan sebuah bayangan dalam air. Tetapi tiba-tiba bayangan itu berbelok ke arah Tania yang sedang bermain air. Pijakan kayu Tania hancur, gadis itu langsung ditelan oleh buaya dengan tubuh beruang. Sosok buaya yang aneh itu mengejutkan yang lainnya. Mereka semua langsung berwaspada.
Buaya itu menuju tempat Revan dan Devin berada. Tapi Leon tiba-tiba menyelupkan tangannya ke air dan menyipratkannya. Buaya tersebut teralihkan dan dengan cepat berbelok ke arah Leon. Saat sudah dekat, Leon melompat ke pijakan lain.
Buaya itu naik ke batu tempat Leon dan gagal mendapatkan lelaki itu. Buaya tersebut menggeram, lalu kembali ke air dan tetap memilih Revan menjadi mangsa.
"Njir, dia ngincer gw doang." Revan lompat ke pijakan kayu Adila yang lumayan jauh dari punyanya. Untungnya berhasil.
"Ih, kamu ngapain sih!?" Adila ingin mendorong Revan.
"Jangan dorong-dorong, nanti gw mati!" bentak Revan sambil tetap menjaga keseimbangannya.
"Bodo amat! Gara-gara kau buayanya ke sini, kan?!" Adila terus mendorong Revan dengan sekuat tenaga. Hingga akhirnya, Revan kehilangan keseimbangan, reflek dia menarik tangan Adila dan mereka jatuh bersama.
Buaya itu sedang berenang menuju ke arah mereka, Revan dengan cepat kembali naik, begitu juga dengan Adila yang mulai panik karena buayanya semakin mendekat.
"Bu–buruan! Tarik aku! Tarik!"
Tetapi Revan menahan Adila agar tetap di air. Lelaki itu menginjak kepala Adila agar tetap berada di tempatnya. "Gak akan. Gw gak mau jadi santapannya!"
"Ta–tapi aku juga–" Tiba-tiba Adila tertarik ke belakang. Air di sekitarnya mulai berwarna merah. "REVAN! TOLONG AKU, KYAAAA!" Gadis itu berteriak kesakitan, lalu dirinya pun ditenggelamkan oleh buaya. Akhirnya gadis itu menjadi korban.
"Ha ... ha ...." Revan beristirahat sebentar, dia duduk di atas batu tempat Adila. Lalu tak lama ia kembali ke pijakan Devin.
"Lu mau bunuh gw juga?" tanya Devin.
"Kagak, tadi gw terpaksa," jawab Revan.
Azura melihat pijakan di sekitarnya cukup dekat dan seperti melingkar. "Dadah, Leon!" Lelaki itu melompat-lompat ke pijakan tersebut, berputar-putar sampai salah satunya hancur dibentur buaya. Kelakuannya memang menantang maut.
"Ya elah." Azura akhirnya pindah ke pijakan dekat Devin dan Revan karena pijakan yang ia mau telah dihancurkan.
Dennis dan Derrel tenang saja berdiri di atas pijakan. Dennis tiba-tiba mendengar suara aneh dari semak-semak. Derrel ikut menoleh ke daerah hutan yang mengelilingi mereka, tampaknya seram. Tapi Derrel tidak ingin mengucapkan.
Pijakan Rei cukup jauh dari pijakan lain, karena sekelilingnya sudah hancur. Ada pijakan yang cukup dekat, tetapi tak mungkin hanya melompat bisa sampai. Rei melihat buaya itu mendekat dia mulai panik dan ingin melompat ke pijakan yang agak jauh itu.
Pijakan kayu Rei hancur. Rei tak sempat berenang ke pijakan yang ia tuju. Namun, buaya itu tak langsung melahap Rei, ternyata ada Leon yang mengalihkan perhatian buaya itu. Tangan Leon digigit oleh buaya. Rei sudah sampai di pijakan yang dia tuju.
"Le, sini!" panggil Rei sambil mengulurkan tangan. Leon mendorong buaya itu meski tangannya harus terputus. Lelaki itu menendang buaya tersebut agar lebih menjauh. Kemudian ia berenang cepat ke arah Rei.
Rei masih mengulurkan tangan dan berusaha menarik Leon. Derrel dan Dennis melompati pijakan lain. Mereka sampai di tempat Rei. Keduanya membantu kakaknya menarik tangan Leon. Tapi buaya di belakangnya lebih cepat.
Akhirnya buaya itu berhasil mengigit pinggang Leon dan semakin menariknya ke dalam air. Setengah tubuh Leon sudah hilang, lelaki itu memuntakan darah yang cukup banyak.
Buaya itu tetap berusaha menarik sisah tubuh Leon. Lelaki itu menepis tangan Rei agar dia tidak ikut masuk ke air. Rei ingin menarik tangannya Leon lagi, tetapi wujud lelaki tersebut sudah tidak ada.
"Lah, beneran nyusul Dian." Azura bergumam. Ia yang melihat kejadian itu hanya bengong setelah melihat Leon diterkam buaya.
"Ini pasti ulah Azura. Semua orang yang dibicarain Azura pasti mati!" seru Siska dari jauh. Kini anak perempuan hanya sisah dirinya dan Diana yang masih diam di tempat.
"Ya, maaf." Azura menunduk. Satu lagi, orang terdekatnya meninggal. Tapi kematian Leon tidak membuatnya sedih seperti kematian Dian.
"Tidak ..." Rei mengacak-acak rambutnya. Ia tak percaya kalau ada temannya yang mati lagi. Derrel dan Dennis juga merasa kehilangan. Mereka ingin kembali ke tempatnya, tapi ternyata batu yang menjadi tempat pijakan mereka telah dihancurkan oleh buayanya. Lalu buaya itu juga menghancurkan tempat Leon.
Kini semua tempat yang tidak diinjak oleh siapapun akan dihancurkan saja. Sekarang tersisa Dennis, Rei dan Derrel yang berada di atas batu. Azura sendiri di atas pijakan kayu. Devin dan Revan berada di pijakan batu lain. Diana sendiri berada di pijakan batu. Lalu pijakan kayu terakhir ditempati oleh Siska.
1 menit berlalu. Buaya kembali ke atas air dan mengincar mangsanya. Ia melirik ke arah kayu yang ditempati oleh Rei dan dua adiknya. Tentunya buaya itu mengincar mereka bertiga.
"Oh tidak, kak Rei!" Derrel terlihat panik duluan. Lalu disusul oleh Dennis yang khawatir kalau ia akan tenggelam saat kayunya dihancurkan. Rei celingak-celinguk mencari sesuatu. Lalu ia mematahkan bagian kayu dari papan itu. Ia menggunakannya sebagai senjata.
Buaya itu menghancurkan batang kayunya, lalu menganga hendak menghancurkan pijakan kayu ketiga bersaudara. Namun buaya itu sempat mendengar suara percikan air dari belakangnya. Ternyata ada Azura yang sudah nyebur ke air untuk mengalihkan perhatian.
"Oy buaya! Sini lu!" begitu buayanya menoleh, lelaki itu menggigit tangan Dian yang selalu dibawanya lalu berenang cepat menghampiri tempat Devin dan Revan berada.
"Woy, woy! Lu mau ngapain?!" bentak Revan yang panik saat Azura mendekat bersama dengan buayanya. Lelaki itu menendang Azura saat ingin naik ke pijakan mereka. Namun Azura berhasil menarik kaki Revan sampai terjatuh. Untungnya ada Devin yang membantunya agar tidak jatuh ke air.
Buaya semakin mendekat. Devin mencari cara untuk mengusirnya. Ia pun menemukan sebuah batang kayu di pinggir danau. Ia mengambil kayu tersebut, lalu menunggu waktu yang pas.
Azura berhasil naik ke atas pijakan batu. Buayanya pun hendak menggigit kaki Revan dan makhluk itu berusaha naik. Devin menarik Revan sekuat tenaga, lalu ia maju sedikit, menendang moncong buaya itu dan menusuk matanya. Tepat sasaran, buaya yang kesakitan langsung mundur sedikit.
Kesempatan itulah Revan gunakan untuk bangun kembali dan menjauh. Tapi ternyata buaya tidak menjauh dari mereka dan tetap berusaha naik. Karena tidak ingin termakan, Revan mendorong Devin masuk ke dalam air.
Lelaki yang didorongnya itu terkejut. Tak bisa menahan keseimbangan, ditambah pijakan batunya yang licin membuat Devin terjatuh ke dalam air. Makhluk air itu menggigit kaki Devin lalu menariknya masuk ke dalam air. Untuk sesaat, buaya itu akhirnya bisa disingkirkan.
"Hah ajg ... untung aja gw gak dimakan." Revan jatuh terduduk sambil mengatur napas.
Dengan mata yang masih terbuka lebar, Azura melirik dengan ekspresi tak percaya pada Revan. "Wah ... lu bisa setega itu, ya? Padahal dia udah selamatin lu, loh."
"Ah ini gara-gara lu! Kenapa lu pake naik segala ke sini, sih?! Bikin masalah mulu jadi orang!" seru Revan.
"Gw cuma mau nyelamatin diri. Kalo lu gak suka, nyemplung sana!" balas Azura dengan nada yang tak kalah tinggi.
"Kenapa gak lu aja? Temenin tuh temen lu yang lu peluk-peluk mulu itu!" Revan kehilangan kesabaran, dia rasanya ingin mencekik dan mematahkan satu-persatu tulang Azura.
"Gw jaga ini karena nanti mau gw kubur, kalo gw mati siapa yang mau kuburin? Lu?" Azura menatap tajam Revan.
"Ng ... bodo ah." Revan melipat tangan dan membuang muka dari Azura.
"Apa iya, ya. Gw mati aja biar gak jadi beban." Azura berjongkok sambil memandang air.
"Silahkan." Revan menendang Azura. Untungnya Azura masih bisa menahan keseimbangannya. Ia langsung berdiri dan membentak Revan.
"Gak sekarang, woy!"
*
*
*
To be continued–
List Pemain 🗿:
Dennis (L)
Derrel (L)
Rei (L)
Leon (L) ❌
Azura (L)
Dian (L) ❌
Geo (L)❌
Devin (L) ❌
Lilo (L) ❌
Adila (P) ❌
Revan (L)
Fani (P) ❌
Shira (P) ❌
Toni (L) ❌
Olivia (P) ❌
Tania (P) ❌
Siska (P)
Sasha (P)❌
Lia (P)❌
Diana (P)
Ayah 3 bersaudara ❌