THE RULES

THE RULES
Episode 52



Derrel memeluk erat badannya sendiri sambil menuju ke kamar, dengan suara pelan dia berkata, "A-ayo, udah malam kita harus tidur."


Mereka mengangguk saja. Masing-masing menempati kasur yang tersedia. Derrel menuju kasur yang pojok dan naik ke kasur bagian atas. Vann menempati kasur di bawah Derrel. Divan datang terakhir, dia cuma berdiri di ambang pintu sejenak lalu keluar lagi.


"Bro, kok ga masuk?" tanya Simon, tapi Divan hanya menoleh lalu lanjut jalan. Simon menduga temannya ingin ke toilet sebelum tidur. Lelaki itu tidur saja duluan dan Brian di kasur bagian atas sibuk bermain sudoku sampai mengantuk. Para siswi lain langsung tidur dan berusaha melupakan kejadian barusan.


Sedangkan Farel sambil melihat cctv dia menghabiskan makanan yang disediakan. Seorang pria masuk ke ruangan tempat Farel sedang mengawasi. "Kau ga lelah?" tanya pria itu sambil mengusap kepala Farel.


"Nggak. Aku lagi mau sendiri," ujar Farel. Kamera pengawas merekam bahwa semua orang sudah tidur tenang. Kemudian dia menoleh ke arah bingkai foto kecil. Dia mendadak teringat masa lalu.


...****************...


"Farel jangan lupa bekelmu," ujar seorang wanita yang merupakan ibu Farel. Farel kecil membuka tasnya dan mempersilahkan kotak bekal makannya masuk. Farel menutup tasnya dan menuju depan pintu. Di luar rumah sudah ada ayahnya yang menunggu Farel sambil menatap ponsel, pria itu bersandar ke mobil dan dia mendengar suara langkah kaki.


Si ayah mengangkat kepalanya dan menatap anak semata wayang yang dia sayang. "Udah siap hari pertama sekolah?" tanya pria itu.


Farel menyatukan kedua telunjuknya ambil berkata, "Nggak yakin, Yah. Tapi aku penasaran sama sekolah." Ayahnya ngusap kepala Farel dan memintanya masuk ke dalam mobil sebelum waktunya terlambat.


Di parkiran sekolah. Farel melihat gedung besar yang menjulang tinggi. Dia penasaran dimana letak kelas dirinya di dalam gedung besar itu. Ayah Farel menyentuh pundak anaknya, menuntun Farel sampai mading sekolah. Jari telunjuknya menyentuh kertas yang menempel di mading.


"Rel, di sana kelasmu." Pria itu menunjuk papan nama di depan pintu kelas. Farel melihatnya, anak itu berlari kecil mendekati kelas. Kepalanya muncul, mengawasi sekitar kelas. Banyak anak-anak lain yang sedang menangis sambil di tenangkan orang tua masing-masing. Kepala Farel menoleh ke arah ayahnya.


"Kamu kuat, Rel. Semua akan baik-baik aja. Nanti mama bakal jemput kamu, ayah pulang malam," ujar pria itu.


"Pulang malam lagi? Padahal aku mau main bareng ayah." Farel menundukan kepala. Namun si ayah meyakinkan bahwa mereka bisa main nanti. Setelah bel berbunyi si ayah pulang ke rumah.


Sampai di rumah, pria itu langsung menuju ruangan di lantai tiga rumahnya. Itu tempat yang tidak bisa sembarang orang masuk ke sana. Pria itu duduk di lantai, melipat kakinya melihat barang-barang di atas meja bundar, membuka buku berwarna hitam dan membaca isinya sambil melakukan suatu ritual.


Saat selesai, dia mengambil gelang yang dipakai untuk percobaan ritual kali ini. Dia berniat untuk memakaikan gelang tersebut kepada si anak, menjadi tikus percobaannya.


Siang hari datang. Farel menuju rumah bersama sang ibu. Anak lelaki itu berlari ke kamar dan tiduran di atas kasur. Tiba-tiba pintu terbuka, muncul sosok pria yang membuat anak itu senang. "Ayah!" serunya, lalu berlari mendekati si ayah dan memeluknya dengan erat.


"Ayah ada gelang untuk kamu," ujar pria tersebut sambil memakaikan gelang tersebut ke pergelangan tangan Farel.


"Kegedean, Yah. Ini dari siapa?" tanya Farel dengan polosnya.


"Ini ayah beli tadi. Katanya kau bisa punya kekuatan supranatural dari sini dan ... anggap saja ini nyawamu, jadi jangan sampai gelang ini kenapa-kenapa," jelas pria itu.


Seminggu setelah gelang itu diberikan. Ibu dan ayah Farel beradu mulut setiap hari. Farel tidak tahan memdengarnya, dia menutup telinga sambil sembunyi di bawah kasur. Anak itu takut, suara menggelegar itu semakin keras tapi Farel tak bisa berbuat banyak.


Suatu hari. Farel mencium bau gosong yang menyengat dari dapur. Anak itu mengeceknya ternyata bau itu bukan dari masakan yang hangus terbakar, tetapi seisi dapur terbakar. Farel panik, dia menuju kamar dan mengambil jaket kesayangannya untuk diselamatkan baru keluar dari rumah.


Nahasnya asap tebal sudah menyelimuti rumah besar itu. Farel berusaha mencari jalan keluar, karena terlalu banyak menghirup asap, anak itu pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.


Saat sadar, dia teringat orang tuanya. Panik, tubuh Farel bergerak sendiri ingin mencari orang tuanya. Dokter datang bersama nenek dari keluarga ibunya.


"Ayah ibu dimana?" tanya Farel. Tak ada yang menjawab. Anak itu menaikan nada bicaranya, "DIMANA AYAH IBU AKU!?"


"Mereka sedang istirahat Farel. Jangan di ganggu dulu ya?" ujar neneknha dengan nada lembut dan membujuk sang cucu kembali ke kasur.


Farel memberontak, dia menatap tajam semua orang. "Aku mau ketemu, pokoknya aku mau ketemu mereka!" bentak Farel.


"Ga bisa, Rel. Tolong tenang dulu, kondisi kamu belum baik." Farel akhirnya menurut.


Sudah tiga hari berlalu. Farel melamun menatap gelang pemberian ayahnya dan jaket ungu hasil jahitan sang ibu. Dua benda itu amat berharga bagi Farel. Di tengah lamunannya itu, si nenek masuk sambil membawa bunga dan snack.


"Farel~ Liat nih nenek bawa apa." Wanita tua itu melihat kondisi mental Farel yang semakin memburuk.


"Nenek berharap aku senang? Kenapa ga bilang aja ayah dan ibu udah meninggal," ucap Farel dengan nada datar. Anak itu menghela napas pasrah.


"Kamu udah tau ya?" tanya neneknya. Wanita itu menarik kursi dan duduk di sebelah kasur Farel. "Kamu tinggal sama nenek ya. Saudara lain ga bisa urus kamu, mereka juga sibuk."


"Iya." Farel hanya menjawab singkat.


...****************...


"Kamu tidur aja. Biar saya yang jaga." Ujar Pria itu. Farel berdiri dari kursinya dan mengangguk. Pria itu pun menempati kursi yang diduduki Farel tadi. Sementara Farel mengatur alarm di ponselnya pada pukul 7 pagi. Setelah itu ia tidur.


...****************...


Di waktu yang sama, Diana bangun dari tempat tidur tanpa busana. Ia mengambil baju yang tergeletak di lantai, lalu memakai atasannya saja. Setelah itu ia menoleh ke belakang sambil tersenyum. "Tadi sangat seru, Den. Aku ingin melakukannya lagi lain waktu."


Dennis yang terbaring di tempat tidur dengan tangan terikat hanya bisa diam. Ia tak percaya telah melakukan hubungan intim yang dipaksa Diana. Secara perlahan, lelaki itu melirik ke Diana.


"Boleh aku menghubungi adikku sekarang? Aku gak mau membuat dia cemas." Ujar Dennis dengan nada pelan. Ia kelelahan setelah bermain dengan Diana barusan.


"Hmm ... maaf, Dennis. Aku gak bisa." Diana langsung pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Dennis menghela napas kasar. Ia benar-benar takut di tempat itu dan juga khawatir dengan keadaan adiknya.


"Derrel pasti sendirian di kosan. Semoga dia gapapa."


...****************...


Di waktu yang sama, Tio tiba di halte bus terakhir. Ia baru selesai bekerja, makanya baru bisa datang sekarang. Tanpa membuang waktu, ia pun berjalan mendekati lingkungan sekolah. Lelaki itu melihat jam tangan. "Baru jam 11. Semoga gak ada apa-apa."


"Meong, meong." Moching si kucing kesayangan Tio memasukan seluruh tubuhnya ke tas Tio. Lelaki itu merogoh tas dan mengambil senter. Dengan berani, ia masuk ke dalam lingkungan sekolah.


"Meong ..."


"Jangan khawatir, Cing. Kalau aku gak ambil bukunya sekarang, besok wali kelasku bakal ngamuk. Aku belum ngerjain PR di buku itu." Tio seakan paham dengan bahasa kucingnya. Ia membuka gerbang sekolah yang entah kenapa tidak dikunci. Tadinya kalau dikunci, ia ingin memanjat gerbang tersebut. Tanpa curiga, Tio pun membuka gerbangnya, lalu menyalakan senter.


Ia langsung berlari ke kelasnya yang berada di lantai tiga. Hanya berlari di lorong agar lebih cepat. Tapi saat menaiki tangga hanya pelan-pelan saja. Dalam sekolah lebih mengerikan dari yang ia kira. Tapi dalam hati, Tio selalu meyakinkan dirinya kalau hantu itu tidak ada.


Saat sampai di lantai tiga, Tio berbelok ke lorong kiri. Kelasnya ada di paling terpojok lorong itu. Sebelum sampai, ia melewati kelas Derrel terlebih dahulu. Di depan kelas itu, Tio melihat pecahan kaca. Ia pun menyorot jendela dengan cahaya senter dan melihat jendela yang sudah tak memiliki kaca.


"Apa yang terjadi di sini? Ini pecah kena bola, kah?" Tio menoleh ke belakang. Di sana ada jendela yang masih bagus. "Tapi gimana bisa? Ini ruangan tertutup. Bola datang dari mana?"


"Meong meong ..." Moching terlihat tak bisa diam di dalam tas Tio. Dia banyak bergerak dan terlihat lebih tidak tenang dari biasanya.


Tio melihat masuk lewat jendela itu. Ia menyoroti bagian depan kelasnya dan terkejut dengan bercak darah di depan papan tulis. "A–apa itu?"


Tio berjalan ke pintu depan kelas itu. Ia ingin membuka pintunya untuk masuk dan melihat lebih jelas bagian dalam kelas. Tapi ternyata pintu itu tak bisa dibuka. Tio pun kembali ke jendela yang pecah. Ia memasukkan tangannya lewat jendela itu, lalu menyorot seisi kelas dengan cahaya senter.


Selain di depan kelas, ia juga melihat bercak sampai genangan darah lainnya di dalam sana. Tapi Tio tak melihat siapapun. Dari cahaya yang diberikan, bercak itu berwarna merah. Ia anggap kalau itu hanyalah air cat, tidak mungkin. Karena Tio juga mencium bau amis yang tidak enak dalam kelas tersebut.


"Kayaknya ada sesuatu yang terjadi di sini." Gumam Tio lalu merogoh kantung celana. Ia mengambil ponsel dan ingin menghubungi polisi untuk memeriksa kelas itu secara langsung. Tapi sebelum sempat mengetik nomor, Moching tiba-tiba mendesis dan berusaha melompat dari tas Tio.


"Moching, ada ap–" Tio menoleh ke belakang dan terkejut. Dengan cepat ia langsung menunduk untuk menghindar. Ada seseorang di belakangnya yang membawa pisau hendak ingin menyerangnya. "Apa-apaan itu?! Kau siapa??"


Tio menyorot sosok tersebut dengan senternya. Ternyata sosok itu adalah manusia. Tapi Tio tidak tau siapa itu karena dia memakai topeng binatang.


Sosok itu berjalan ke arah Tio sambil membawa pisaunya. Tio tak ingin melawan dan memutuskan untuk melarikan diri. Tapi saat sampai di tangga, Tio terkejut melihat orang lain bertopeng kelinci yang sedang menunggunya sambil membawa sebuah tongkat.


Tio menoleh ke sampingnya. Sosok bertopeng beruang yang membawa pisau itu semakin dekat dengannya. Tak ada jalan lain selain tangga itu. Terpaksa ia akan menerobos sosok yang di tangga. Lelaki itu berlari menuruni tangga, lalu dengan senjata berupa senter, ia memukul kepala sosok itu.


Sosok tersebut terdorong sedikit. Tio berhasil melewatinya, tapi tiba-tiba tasnya ditarik ke belakang. Kucingnya langsung melompat keluar. Sosok itu mencekik leher Tio dari belakang, lalu membenturkan kepala lelaki itu ke tembok kemudian melempar tubuh Tio dari atas tangga.


Tubuh lelaki itu terguling sampai ke bawah tangga. Kepalanya sakit, begitu juga dengan kaki dan tangannya. Tio berusaha bangkit dengan tenaga yang tersisah. Tapi entah kenapa, pandangannya semakin gelap.


Sebelum kehilangan kesadaran, Tio sempat melihat Moching di depan wajahnya, mengeong padanya. Lalu ada yang mengangkat tubuh kucing itu dan seketika meongan keras lainnya terdengar. Entah bagaimana nasib kucing itu dan juga Tio.


*


*


*


To be continued –