THE RULES

THE RULES
Episode 29



Selang beberapa menit, buaya itu tak kunjung kembali. Semuanya mengira permainan telah usai, tapi mereka tidak tahu harus apa sekarang.


Lalu tiba-tiba, tanpa tanda, air danau terlihat semakin naik.  Sampai mereka terlihat seakan berdiri di atas air. Siska mengulurkan tangan ke Diana. "sini, Di."


Diana melompat ragu dia meraih tangan Siska. Pijakan di bawah sama sekali tidak terlihat, tapi untungnya dia bisa selamat ke tempat Siska. Seketika pijakan di tempat Diana sebelumnya hancur.


"Kak Rei, aku takut." Derrel meremas tangan Rei. Sebagai kakak dia harus sabar dengan adiknya. Rei merangkul Derrel, Dennis mendekat ke Rei.


Pijakan kayu mereka seperti terdorong mendekati tempat Revan dan Azura. Begitu juga dengan Siska dan Diana.


"Tiba-tiba gw mau ayam geprek," ujar Azura. Lelaki itu memandang Rei di hadapannya.


"Apa kau?" ujar Rei, menatap rendah Azura.


Azura berdiri, lalu berkata, "Gw mau geprek lu."


"Jangan ngomong gitu, Kak," ujar Derrel.


"Hah ... kalo gw mati di sini ... bawain ayam geprek ke sini ya, Nis." Azura berbicara dengan nada tak biasa. Seperti tak ada semangatnya.


"I-iya, nanti aku bawa—"


"Pedesnya level 5," lanjut Azura. Dennis tersenyum dan mengangguk saja.


"Apa sih yang gak buat lu," sindir Revan. Azura langsung menggetok kepala lelaki itu. Saat Revan ingin membalasnya, tiba-tiba mereka melihat sesuatu.


Dari hutan, muncul beberapa tongkat kayu. Tongkat itu menancap di tanah pinggir danau. Mereka bisa mengambil tongkat itu. Ternyata jumlah tongkatnya pas dengan jumlah mereka.


"Eh ini tongkat buat apaan?" gumam Dennis. "Jadi permainan ini belum selesai, kah?"


Tak lama, dari kegelapan, muncul sosok memakai jaket ungu, dengan bercak darah di jaketnya. Rambutnya pendek berwarna hitam legam. Matanya abu-abu seperti Derrel.


"Loh, mirip Arel! Sodaranya ya? Arel udah mati, sana pulang aja. Nanti sial loh!" ujar Azura. Ia mengibaskan tangan seperti mengusir kucing.


Lelaki berjaket ungu itu mengerutkan alis. Dia mengacak rambut, lalu berkata, "Ini aku Arel—ah, bukan maksudnya Farel."


"Eh, selama ini Arel cowok?!" Azura terkejut dan langsung melirik ke arah Rei.


"Diem!" Kepala Azura dipukul oleh Rei dengan tongkatnya.


"Gw gak ngomong apa-apa, loh!" Azura mengelus kepalanya.


"Ka–kan dugaanku benar!" tegas Dennis sambil mengarahkan tongkatnya ke Farel.


"Kok kau masih hidup?!" tanya Rei dengan nada tinggi dari tempatnya.


"Soal itu, kalian tidak perlu tau." Farel mengangkat tangan kanannya. Seketika tiga ekor monster mendekatinya. Salah satunya muncul dari dalam air. Yaitu si buaya yang tadi.


"Sudahlah, hibur aku, ya? Aku bakal jelasin permainan yang ini. Kalian akan berpasang-pasang dan harus menjatuhkan satu sama lain. Yang tidak dapat pasangan, maka akan menjadi final bosnya.


"Kaki kalian akan di pasang pemberat. Jadi tidak akan mudah jatuh pastinya dan kalo jatuh pun ... kalian tau lah ya," jelas Farel lalu tertawa jahat. Ia menatap mereka semua dengan sinis, lalu berjongkok di tempat. "Ayo ... kalian bebas menentukan pasangannya."


"Nis, lu lawan gw ya." Azura menunjuk Dennis dengan tongkatnya. Dennis menelan saliva. Ia rada takut. Azura terlihat begitu yakin ingin menantangnya, tapi Dennis masih belum siap jika menghadapi Azura.


Saat Rei ingin protes, tiba-tiba Revan mengajak Rei berpasangan. Siska dengan Diana. Derrel menghela napas, dia tidak berpasangan dengan siapapun.


Monster-monster itu mendekati mereka dan memberikan pemberat di kaki mereka. Sebelum itu, Rei dan Azura bertukar tempat. Masing-masing pasangan kembali dibawa ke tengah danau.


Sedangkan Derrel dibawa ke pinggir dan menonton bersama Farel. Lelaki itu melihat gelang Farel yang bersinar.


"Gelangmu bagus, beli dimana?" Saat Derrel ingin menyentuhnya, Farel manjauhkan gelangnya tersebut.


"Di kasih seseorang." Farel tersenyum, lalu fokus melihat mereka lagi. Derrel menjadi curiga dengan gerak gerik Arel yang menjauhkan gelangnya itu.


Dulu saat di sekolah, Farel yang masih menyamar menjadi seorang gadis memberitahu Derrel kalau gelang itu diberi dari orang tuanya.


"Kayaknya gelang itu berperan penting. Dia selalu keliatan memakainya." Batin Derrel yang terus memperhatikan gelang dan juga gerak gerik Farel. Tapi ia tetap fokus menonton teman-temannya.


"Aku tidak akan mati." Revan menggenggam erat tongkatnya. Ia meremehkan Rei dan ia tidak tahu kemampuan Rei yang sebenarnya.


"Coba saja." Balas Rei dingin. Lelaki itu siap dengan posisinya. Revan menyerang duluan. Ia berusaha untuk memukul tubuh Rei sampai lawannya itu jatuh ke air. Tapi Rei juga tidak mau kalah. Ia memiringkan tongkatnya dan menangkis setiap serangan dari Revan.


"Oh iya tambahan!" Farel teriak dari tempatnya. Semua orang pun memerhatikan. " Kalian hanya boleh serang pakai tongkat itu, loh! Jangan pakai serangan fisik, kayak memukul dengan tangan, mendorong dengan tangan dan lain-lain!"


"Ck, iya lah! Bacod bet lu!" bales Azura lalu kembali melirik tajam ke Dennis. "Oy, gw sekarang adalah lawan lu. Jangan anggap gw kawan lagi karena kita sedang berkompetisi. Jangan ragu untuk menyerang balas. Tapi gw juga gak mau kalah."


Azura mulai mengayunkan tongkatnya. Ia mengincar kepala Dennis dan membuat lawannya pingsan saja daripada ribet-ribet menjatuhkannya. Serangan pertama itu Dennis hanya menghindarinya. Lelaki itu rada susah bergerak dan berpindah tempat karena pemberatnya.


"Tu–tunggu, Azura! Jangan cepat-cepat." Dennis mulai kewalahan dengan serangan bertubi-tubi dari lawannya itu. Sampai serangan terakhir dari Azura, tongkatnya memukul punggung Dennis dan membuat lelaki itu terjatuh duduk di pinggir batu.


"Akh, aw!" Tongkat Azura mengenai pundak kirinya dan hal itu membuat rasa sakit di lengan kiri Dennis muncul kembali.


Azura tersenyum sinis, lalu memiringkan kepala. "Oh, kelemahanmu terlihat. Ini akan mudah!" Azura mengincar lengan Dennis itu. Tapi Dennis berhasil menangkap tongkat Azura dengan tangan kanan, lalu balas menyerang untuk pertama kalinya.


Azura mundur ke belakang untuk menghindari ayunan tongkat dari Dennis. Dennis kembali berdiri. "Aku ... aku juga tidak mau kalah."


"Yah~ Semangat seperti itu yang gw mau!" Azura kembali menyerang Dennis dengan brutal. Tapi Dennis masih belum berani membalasnya. Ia terus menangkis dan menghindari setiap ayunan keras dari tongkat Azura.


Lalu tak lama kemudian, muncul teriakan dari arah lain. Semuanya menghentikan aksi mereka dan menoleh ke arah asal teriakan itu. Ternyata dari tempat dua gadis berada. Saat dilihat, hanya Diana yang berdiri di atas pijakannya.


Siska tidak ada di sana. Mereka dapat menduga kalau Siska berhasil dijatuhkan Diana karena melihat gelembung-gelembung yang keluar dari air dekat sana. Kemungkinan besar itu adalah bekas udara dari Siska.


"Wah, tangguh juga dirimu!" Farel terlihat senang. Ia bertepuk tangan untuk Diana karena memenangkan permainannya. Lalu ia kembali melirik ke Rei dan Revan yang masih adu tongkat.


"Akh!" Rei terjatuh setelah menerima pukulan dari Revan. Lawannya itu akan mengayunkan tongkatnya lagi. Dengan cepat, Rei melihat celah. Ia langsung mendorong perut Revan dengan ujung tongkat. Alhasil lelaki itu mundur jauh ke belakang dan hampir terjatuh.


Karena tak kuat menahan berat, Revan akhirnya tenggelam. Rei memenangkan permainannya. Tapi seperti Diana. Ia masih belum dikembalikan ke daratan, tapi pemberat di kakinya telah dihancurkan. Begitu juga dengan Diana.


Lelaki itu memilih untuk memperhatikan Dennis dan Azura yang terlihat sengit saling menyerang dan menghindar. Tinggal pasangan itu saja yang belum selesai.


"Hah ... hah ... cukup ..." Dennis tak bisa bertahan dan akhirnya ia terkena pukulan dari Azura tepat di lengan kirinya. Lelaki itu menjerit sakit dan langsung jatuh terduduk. Tak sengaja ia melepaskan tongkatnya dan senjata satu-satunya itu terjatuh ke dalam air.


"Ada kata-kata terakhir?" Azura mengarahkan tongkatnya ke kepala Dennis.


Dennis hanya menunduk sambil terus memegang lengannya. Lalu tak lama, ia menjawab, "Aku gak bisa kasih kak Azura ayam geprek kalau aku mati."


"Gapapa, Den. Gw gak miskin-miskin amat, kok." Azura mulai mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Ia berniat ingin memukul kepala Dennis sekuat yang ia bisa. Dennis sendiri hanya menutup mata dan pasrah menerimanya.


Namun sebelum itu, mereka semua terkejut mendengar teriakan dari Derrel yang memanggil nama Dennis. Sontak semuanya langsung melirik ke lelaki kecil itu yang terlihat sedang berusaha menarik gelang milik Farel. 


"Derrel, apa yang kau lakukan?!" bentak Rei pada adik kecilnya itu. Ia pun langsung masuk ke dalam air dan berusaha berenang ke permukaan untuk menghampiri Derrel. Tak ada satu monster pun yang menghentikannya, tapi ia bisa melihat salah satu dari monster itu ingin menyerang Derrel.


"Ah, aku akan mengakhiri semuanya!" Dengan sekuat tenaga, akhirnya Derrel berhasil menarik gelang Farel sampai tangan lelaki itu terluka karena gelangnya ditarik paksa. Begitu mendapatkannya, cahaya dari gelang itu meredup.


Farel yang kesal langsung menendang kepala Derrel sampai terjatuh, lalu ia ingin merebut gelang miliknya kembali, tapi gelang itu sudah direbut Rei duluan. "Apa karena gelang ini, kau tidak bisa mati?" Rei hanya menduganya saja. Ia pun menjatuhkan gelang itu dan menginjaknya sampai hancur.


Farel terkejut dan meneriaki gelangnya itu. Rei membantu Derrel berdiri kembali, lalu ia menangkap tangan Farel yang ingin melarikan diri. Tapi sebelum sempat memukul untuk membalas dendam, tiba-tiba suara erangan dari para monster terdengar.


Mereka berteriak seakan kesakitan. Lalu tak lama, tubuh para monster itu terbakar dan mereka semua langsung lari ke dalam hutan. Karena percikan api dari tubuh monster tersebut telah membuat hutannya ikut terbakar.


Disaat semuanya teralihkan oleh pemandangan hutan yang terbakar, Farel menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri dengan memukul wajah Rei, lalu lari masuk ke dalam hutan. Tanpa basa-basi, Rei langsung mengejar lelaki itu. Aura membunuhnya muncul dan seketika mata Rei berubah merah.


Azura melepaskan sepatunya, lalu mengeluarkan rantai dengan pemberat yang mengikat kakinya. Ternyata masih bisa dilepaskan dengan mudah. Ia juga melakukan hal yang sama kepada Dennis.


"Eh, Azura?" Dennis menatap heran. Ia pikir, Azura akan membunuhnya sekarang.


"Ayo kita bantu si badak buat tangkap baj*ngan itu. Gara-gara dia ... Dian mati." Ujar Azura. Ia selesai melepaskan Dennis lalu kembali memakai sepatunya. Kemudian ia berjongkok membelakangi Dennis. "Gw bakal bantu lu keluar dari danau."


Dennis mengangguk cepat. Azura menggendong Dennis, lalu ia berenang dengan membawa Dennis sampai ke pinggir danau. Lelaki itu mengatur napas sejenak, lalu pergi menyusul Rei.


"Gw bakal bunuh lu, Banci!" seru Azura.


*


*


*


To be continued–


List Pemain 🗿:



Dennis (L)


Derrel (L)


Rei (L)


Leon (L) ❌


Azura (L)


Dian (L) ❌


Geo (L)❌


Devin (L) ❌


Lilo (L) ❌


Adila (P) ❌


Revan (L)❌


Fani (P) ❌


Shira (P) ❌


Toni (L) ❌


Olivia (P) ❌


Tania (P) ❌


Siska (P) ❌


Sasha (P)❌


Lia (P)❌


Diana (P)


Ayah 3 bersaudara ❌