
Sebulan berlalu, setiap seminggu sekali pasti ada saja yang mengajak Derrel main. Dennis merasa tenang, sepertinya sudah tidak ada yang menganggu Derrel dan adiknya punya banyak teman. Dia juga melihat Derrel jadi senang berolahraga.
Namun kenyataannya, Derrel berlatih bela diri dengan dua temannya, Vann dan Tio. Dia tidak ingin Dennis tau dan lelaki itu berusaha untuk tidak selalu telat pulang agar Dennis tidak curiga, meskipun sangat melalahkan, tetapi Derrel senang dengan latihan itu. Rencananya berjalan mulus sampai setahun.
...****************...
Derrel sekarang sudah kelas sebelas. Semester baru dimulai. Siang itu sangat terik, Derrel beberapa kali mengusap peluh di pelipisnya. Guru tidak ada di kelas, mereka diminta untuk belajar mandiri, tetapi tidak ada siswa yang membuka bukunya, bahkan ketua kelas sekalipun.
Divan berdiri, dia mendekati Derrel dan mengambil jaket anak itu. Lelaki jangkung tersebut mengusap peluhnya dengan jaket Derrel. Jaket kesayangannya ternodai oleh keringat Divan. Derrel menatap sinis anak berandalan tersebut. Derrel berdiri, meskipun begitu tingginya tidak melebihi Divan maka kurang mengintimidasi musuhnya tersebut.
“Kenapa, Cil? Kaget loh gw, lu tiba-tiba berdiri gitu kalo nyundul dagu gw gmn?” Divan mencengkram rahang Derrel.
Derrel menyingkirkan tangan Divan. Tangan Derrel mengepal kuat, dia memukul perut Divan. “Aakh! A–apa-apaan kau?!” seru Divan sambil membungkuk dan memegangi perutnya.
Derrel mendorong kepala Divan dengan kencang dan membenturkannya ke meja. Derrel mengangkat kepala DIvan lagi dengan menjambak rambutnya. “Aku ga suka, jaket kesayanganku dinodai begitu saja oleh orang sepertimu.”
“Oh, sekarang lu berani ngelawan ternyata.” Divan menyingkirkan tangan Derrel. Dia menyibak poninya ke belakang.
“Aku lelah ditindas kau terus. Aku bisa saja membuatmu masuk rumah sakit kalo aku mau,” ujar Derrel. Divan justru tertawa mendengar hal itu.
“Orang lemah sepertimu tidak akan bisa melawan yang lebih berkuasa. Paham?” Derrel tidak mendengarkan, dia mengambil parfum di tas dan menyemprotkannya ke jaket bekas keringat Divan.
“Oy, jangan kacangin gw!” Divan meraih rambut Derrel, dia menarik rambut Derrel agar mendongak dan menghadap ke arah dia. “Mau dihajar, huh?” ancam Divan.
Derrel diam saja, dia berusaha untuk tidak panik dan bertindak sembarangan. Lelaki itu menyemprotkan parfum ke kedua ibu jarinya sampai benar-benar basah, kemudian meletakan ibu jari ke mata Divan. Seketika Divan melepaskan tangannya dari Derrel.
“Aakh, sial!!” Divan mengusap kelompak matanya beberapa kali. Panas dan perih membuat Divan tidak dapat membuka matanya. Simon langsung merangkul Divan dan menuntunnya ke UKS sedangkan Yudi menghadap Derrel.
Yudi mengambil penggaris besi milik salah satu siswa dan menebasnya ke arah Derrel. Derrel mundur sedikit lalu menangkap tangan Yudi, dia menyikut wajah Yudi. Tubuh lelaki itu dibanting ke meja oleh Derrel. Derrel mengumpulkan tenaga untuk memukul Yudi, tetapi Yudi menghindar. Derrel malah memukul meja.
Beberapa anak berdiri dan anak perempuan berkumpul di sudut ruangan. Mereka memperhatikan perkelahian dia orang itu. Sebenarnya ada perasaan takut juga.
Derrel mendongak dan melihat kaki Yudi melayang ke arahnya. Derrel terpental ke kursi dekat Vann. Vann ingin membantu Derrel berdiri, tetapi Derrel langsung berdiri dengan tenaganya sendiri.
“Ck, aku lengah.” Derrel bergumam, dia merasakan ada yang mengalir di hidung. Derrel mengusap hidungnya yang ternyata mengeluarkan darah. Efek latihan dan praktek asli sangat berbeda. Vann berdiri dan ingin menghajar Yudi.
Namun Derrel menahan Vann. “Jangan,” ucapnya. Vann menghela napas dan duduk kembali, dia memasang headphone di telinga lalu tidur.
“Jangan sok berani lu!” seru Yudi. Derrel menunduk, dia menatap tajam Yudi dari atas ke bawah, mencari celah untuk bisa menyerangnya. Derrel lari ke arah Yudi, dia melihat Yudi menendangnya lagi tapi Derrel meluncur sambil menendang kaki meja agar Yudi terjatuh.
Derrel mengambil kursi dan memukul Yudi dengan kursi itu. Saat Derrel lagi melampiaskan amarahnya, kursi itu tiba-tiba tidak bisa dia gerakan, seperti ada yang menahan. Derrel menoleh, ternyata itu Vann yang sedang menahan kursinya.
Vann menunjuk ke arah pintu kelas, ternyata ada Dennis di sana sambil membawa tumpukan buku.
Derrel terkejut melihatnya. “Eh, Ka-kak Dennis …. ”
Dennis mengerutkan alis, dia meletakan tumpukan buku itu di meja murid di dekatnya, lalu pergi ke luar. Derrel segera berdiri, dia mengejar kakaknya sampai tersandung kaki meja salah satu siswa. Namun itu tidak menghentikannya. Derrel memanggil-manggil nama Dennis, tetapi tidak digubris.
“Kak Dennis, maafin aku.” Derrel menarik tangan Dennis. Kakaknya langsung menepis tangan Derrel.
“Aku pernah bilang apa soal ini? Aku ga suka.” Dennis menyilangkan tangannya di depan dada.
“A–aku ga mau mereka ganggu aku. Kalo aku bisa bela diri juga aku bisa lindungin kak Dennis. Aku gak mau kakak dipukuli, aku juga gak mau tabungan kita habis untuk mereka aja. Maafin aku.” Mata Derrel berkaca-kaca, dia menunduk, tidak berani menatap kakaknya.
Dennis menghela napas, dia seakan tidak mendengarkan Derrel dan lanjut pergi menuju kelasnya. Derrel perlahan mengangkat kepalanya, melihat Dennis yang perlahan menjauh. Sekarang dia takut Dennis akan menjauhi dan tidak sayang dengannya lagi.
...****************...
Diana melihat Dennis dengan air muka seperti itu membuatnya cemas, dia menghampiri Dennis. “Kau kenapa?” tanyanya.
Dennis menoleh ke arah Diana, dia menggeleng dan berusaha meredam emosi. “Bukan apa-apa, cuma masalah pribadi.”
Dennis duduk di kursinya, dia masih kepikiran soal apa yang dia lihat tadi. Dia benar-benar takut adiknya bakal berubah, mungkin kalo tidak ada Vann atau dirinya tidak datang, siswa yang sedang dihajar Derrel pasti sudah mati.
Murid-murid di kelas Derrel terlalu takut, ada juga yang tidak peduli. Dennis harus benar-benar mengawasi Derrel agar adiknya tidak menjadi kriminal. Dia akan bicara ke Vann soal ini nanti.
...****************...
Saat melihat jam, ternyata sudah jam istirahat tetapi tidak ada bel yang berdering. Dennis mengambil bekal dan menuju kantin, di ajak Diana. Saat melewati ruang BK, dia melihat adiknya dan bibi ada di dalam sana, tak lama pintu ditutup rapat.
Dennis penasaran apa saja yang mereka bicarakan. “Semoga Derrel tidak dikeluarkan dari sekolah,” ujar batin Dennis.
Sebuah tangan menyentuh pundaknya. Dennis langsung menengok dan hampir saja memukul orang itu. ternyata itu Vann. Vann menyodorkan buku kecilnya “Maafkan Derrel, dia menangis karena takut kau ga sayang dia lagi”.
Vann mengangguk mantap sambil menulis, lalu menyodorkannya ke Dennis “Tenang saja”.
Sebelum Dennis pergi dengan Diana, Vann sempat menulis beberapa kata lagi. Dennis pun menunggunya. Tak lama, Vann menunjukkan kertasnya. "Aku juga mau minta maaf. Sebenarnya aku yang mengajak dia untuk latihan gitu".
"Hm, okelah, gapapa." Dennis tersenyum tipis, lalu berbalik badan. Ia pun pergi ke kantin dengan Diana.
Sementara Vann masih berdiri di tempatnya. Ia melirik ruang BK di sampingnya, lalu mulai melangkahkan kaki. Melewati lorong di depannya.
...****************...
Di kantin–
"Hah ... aku gak nafsu makan." Dennis mendorong kotak bekalnya, lalu berdiri. Ia ingin membeli sesuatu. Diana terus memperhatikannya. Dari tadi, Dennis terlihat seperti tidak ada semangat hidup.
Dennis Kantin Kejujuran. Di sana ia ingin membeli bolu paling enak di sana. Sudah lama juga dia tidak memakannya. Tapi saat Dennis lihat-lihat, ia tidak menemukan bolu tersebut di atas meja. Hanya kebanyakan makanan ringan lainnya.
"Ah anu ..." Dennis memanggil salah sati siswi yang lewat di depannya. Siswi itu pun menoleh. "Eh iya, kak? Ada yang mau dibeli?"
"Bolu coklat dengan seres dan keju itu ke mana, ya?" tanya Dennis. "Apa kalian tidak menjualnya?"
Siswi itu terdiam sejenak. Lalu tak lama, ia kembali membuka mulut. "Oh ... kami udah gak menjual bolu lagi. Si pembuatnya menghilang dari tahun lalu. Sebelum kelulusan kemarin."
"Eh iya, kah? Anak yang mana?"
"Emm ... dia pendek, berambut coklat, suka pake jepitan strawbery gitu. Rambutnya pendek juga. Kau kenal, gak? Dia anak kelasku yang hilang. Tapi gak pernah ditemukan." Jelas siswi tersebut.
Dennis akhirnya diam. Ia memutuskan untuk membeli cemilan, lalu pergi dari kantin itu. Sembari berjalan kembali ke Diana, ia memikirkan soal gadis yang hilang tersebut. Ciri-cirinya masih ia ingat.
Gadis itu adalah gadis yang pernah sekali pulang bersama Dennis. Ia juga baru menyadari, semenjak hari itu, gadis tersebut tidak pernah terlihat di sekolah lagi. "Apa gara-gara dia pulang sendirian, dia diculik orang?" batin Dennis.
Dennis pun akhirnya kembali ke Diana. Ia menutup kotak bekalnya, lalu memasukannya ke dalam tas kecil. Kemudian berdiri kembali. "Dian, aku duluan, ya?"
"Ah aku ikut!" Diana juga ikut berdiri. Mereka berdua pun pergi meninggalkan kantin. Keduanya lewat di depan meja Vann dan Tio berada. Vann memperhatikan Dennis.
"Oy, kau liatin apa?" tanya Tio sambil memakan donat toping krim strawberry dan meises. Sesekali ia juga membagi sedikit potongan donatnya untuk kucingnya.
Vann hanya menggeleng. Ia langsung menghabiskan roti sisah, lalu memakai headphone dan pergi. Ia ingin ke kelas dengan tujuan ingin melihat Derrel.
Setelah Vann pergi, Tio juga menghabiskan makanannya, lalu pergi. Ia ingin menggendong kucingnya lagi, tapi tiba-tiba kucing itu berlari ke luar kantin. Tio pun mengejarnya. Sampai akhirnya ia bisa mendapatkan kucingnya itu di depan gudang samping kantin. Rada sepi.
"Moching, kau ini ngapain?" Tio mengangkat tubuh kecil kucingnya itu, lalu melihat apa yang kucingnya lihat. Ternyata ada cahaya merah yang bergerak-gerak di tanah. Membuat kucingnya sangat ingin mengejar cahaya tersebut.
Lalu tak lama, ada seseorang yang datang menghampiri. Ia memakai jaket hitam dengan tudung yang dikenakan. Memakai masker juga. Tio melihat tangan orang itu sedang memegang alat kecil yang dapat mengeluarkan cahaya laser.
"Oy oy, matiin itu! Kucing ku jadi gak bisa diam!" Tanpa curiga, Tio mendekati orang itu untuk menangkap kucingnya yang berusaha mengejar titik bercahaya tersebut.
Saat sudah dekat, orang itu membuka tudung, lalu menatap Tio. Tio juga menatap orang itu. Seketika tubuhnya kaku. Orang itu menepuk pundak Tio, lalu memberikannya surat.
Tanpa berkata apa-apa, Tio mengangguk, lalu menerima surat itu dan memasukkannya ke dalam jas. Lalu ia berbalik badan dan pergi dengan langkah biasa meninggalkan tempat itu.
Orang itu mematikan cahaya laser, lalu pergi. Kucing Tio pun meninggalkan tempat. Ia mengikuti majikannya pergi sambil mengeong.
...****************...
Tio dengan tatapan kosong, menaiki beberapa tangga sampai akhirnya ia tiba di lantai 4. Di sana ia menghampiri ruangan terpojok yang di atas pintunya terdapat papan bertuliskan "Ruang Kepala Sekolah".
Tio berjongkok di depan pintu itu, lalu menyelipkan surat yang ia dapat ke bawah pintu. Setelah itu, ia pun pergi. Kucingnya pun tetap ngikutin dia.
Di dalam sana, Pak kepala sekolah mendengar suara kucing. Reflek matanya melirik ke pintu dan surat itu pun ditemukannya. Beliau beranjak dari tempatnya, lalu mengambil surat tersebut dan membukanya.
"Tak lama lagi, permainanku akan dimulai. Jadi tinggalkan ruanganmu segera."
Pria itu hanya menganggap isi surat itu hanyalah hasil kejahilan dari murid sekolahnya. Ia pun meremas kertas tersebut sampai membentuk bola, lalu membuangnya ke tempat sampah.
*
*
*
To be continued –