THE RULES

THE RULES
Episode 25



2 jam berlalu. Tak ada hasil sama sekali. Masih ada sisa 5 jam, mereka memutuskan untuk istirahat.


Mereka memasuki kamar dan membawa alas untuk tidur di lantai. Masih berkumpul satu sama lain. Tidak ada yang berani memisahkan diri.


"Kak Dennis ... Kapan ini akan berakhir?" tanya Derrel lalu menyandarkan kepalanya di pundak kakaknya. "Aku mau keluar."


"Hah ... Kita udah mencari-cari tadi. Semua pintu dan jendela tidak bisa dibuka." Jawab Dennis dengan keluhannya.


"Kayaknya rumah kita benar-benar terkutuk. Aku kangen ayah sama bunda."


Sejak berakhirnya permainan Truth or Dare, Derrel tidak berani melirik ke sudut lain dari ruangan itu karena di sana terdapat beberapa korban akibat permainan sebelumnya. Mayat-mayat itu masih belum dibersihkan dan yang pasti di sana ada mayat ayahnya.


"Tenang aja, Derrel. Ayah sama bunda pasti sudah tenang di sana." Dennis mengelus kepala Derrel sampai adiknya tertidur di pangkuannya.


"Aku juga lelah dengan semua ini." Dennis juga ikut tidur.


...********♦********...


Dua puluh menit berlalu. Disaat semuanya sedang beristirahat dengan tenang, hanya Azura yang belum bisa tidur karena saat petak umpet dia sudah tidur walau hanya satu jam.


Karena bosan, dia memilih berjalan-jalan sambil mencari jalan keluar. Dimulai dari dapur, biasanya ada pintu belakang. Tapi untuk rumah itu tidak tersedia pintu belakangnya.


Azura pindah tempat. Ia pergi menghampiri ruang perpustakaan. Di depan pintunya, Azura melihat helai-helai rambut di sana. "Rambut? Warnanya hitam. Rambut siapa ya, mungkin Lia atau Siska?"


"Ngapain lu?" tanya Revan. Dia melipat tangan. Azura sedikit terkejut dan langsung menoleh ke belakang.


"Jalan-jalan doang. Kayaknya ini bisa di buka," ujar Azura.


"Masa? Tadi gw coba gak bisa. Kalo sampe bisa ... lu mencurigakan banget sih." Revan tersenyum sinis. Azura menarik kenop dan pintu terbuka. "Kan."


"Mana gw tau woy!" bentak Azura. Dia mengintip, terlihat ruangan besar dengan buku di mana-mana. Azura dan Revan masuk sedikit.


Di tengah-tengah ruangan, mereka melihat bentuk lantai seperti petak kotak warna warni sebanyak seratus, serta dadu berukuran raksasa.


"Mau ngapain ya?" gumam Revan melihat benda-benda itu. Ia menyentuh dadunya, ternyata terbuat dari gabus. "Apa ini persiapan untuk permainan berikutnya?"


"Kayaknya iya. Kalo masuk mati ga ya?" Azura ingin melangkahkan kaki masuk. Di depan matanya tiba-tiba muncul wanita tanpa mata dengan kepala terbalik meneriakinya.


"Njer, kaget! Iya iya gw gak masuk." Azura mundur lalu menutup pintu. Dia berbalik badan dan tidak menemukan Revan di sekitarnya. "Lah ilang tuh anak."


Yang lain masih terlelap. Tentu saja mereka sangat lelah dengan ketegangan di permainan sebelumnya.  Azura kembali ke tempat itu, dia membaringkan tubuh dan berusaha tertidur. Sampai akhirnya ia ketiduran juga.


...********♦********...


3 Jam kemudian, Dennis terbangun karena ia mendengar suara tapak kaki di sampingnya. Tapi saat membuka mata, ia tidak melihat siapapun dan hanya ada Derrel di sampingnya. Semua orang masih tertidur. Dennis ingin melanjutkan, tapi tiba-tiba ia merasa ingin buang air kecil. Ia pun langsung pergi ke dapur, berjalan pelan-pelan agar tidak membangunkan yang lain.


Saat ingin memasuki dapur, Dennis terkejut dengan suara gelas jatuh dari dalam sana. Ia pun mengendap-endap masuk, lalu mengintip lewat pintu. Ada seorang manusia asing di dalam sana. Baju yang dikenakannya tidak pernah Dennis lihat sebelumnya. Yang pasti orang itu bukanlah salah satu temannya.


"A–apa dia pelakunya? Kayaknya dia yang sudah merencanakan permainan ini." Batin Dennis sambil melirik ke segala arah. Tidak ada siapapun di dapur selain dirinya dan orang misterius tersebut. Dennis menghampiri meja dan lemari, di sana ia mengambil sebuah pisau dapur dan hendak menikam orang tersebut.


Saat Dennis mengangkat pisaunya, tiba-tiba muncul makhluk kayang dengan rambut panjang dan tebal meniban Dennis. Lelaki itu tak sengaja menjatuhkan pisaunya dan tersungkur ke lantai. Lalu rambut-rambut itu melilit tubuhnya dan kepala makhluk itu terbalik menatapnya.


Wajahnya tentu menyeramkan. Dennis ingin berteriak, tapi mendadak mulutnya dibekap rambut yang tebal. Perlahan wajahnya ikut terlilit, tapi tidak dengan matanya. Sebelum semuanya tertutup, ia sempat melihat orang misterius itu berbalik badan dan tersenyum. Wajahnya tidak jelas, tapi yang Dennis lihat, penampilan depannya tidak asing dan dia seorang laki-laki.


...********♦********...


 


Alarm berbunyi. Leon dan Rei bangun duluan, sedangkan yang lain masih tertidur. Anehnya Rei tidak melihat Dennis di sana.


"Eh, Nis? Dennis!" panggil Rei. Namun tidak ada jawaban.


"Berisik bet lu, njing!" omel Azura, lelaki itu membalikan badan.


"Ung ... kenapa kak Rei?" Derrel mengusap mata, lalu menguap.


"Dennis hilang."


"Eh, tadi kak Dennis tidur sebelah aku. Mungkin ke toilet?" Dugaan Derrel belum tentu benar. Rei mengecek kamar mandi, tapi hasilnya nihil.


"Gak ada." Rei mendengus kasar sambil mengacak rambut. Karena tak kunjung menemukan adiknya, Rei jadi merasa cemas dan tidak tenang.


"Nanti juga dateng. Ayo ke mainan selanjutnya." Azura merenggangkan badan. Disusul Dian yang masih ngantuk, lalu bersandar pada pundak Azura.


"Lu berat, Ndut. Jangan nyender-nyender!"


"Semenit doang elah. Hoam~" Hampir saja Dian terlelap lagi, tapi suara gong membuatnya bangun. "Anjir, apaan tuh?"


"Suaranya dari perpustakaan." Devin meluncur ke tempat terlebih dahulu, sisanya masih mengumpulkan nyawa dan membangunkan yang lain. Anak-anak perempuan sangat susah dibangunkan, entah mengapa.


"Elah, cewek padahal. Kok susah dibangunin?" keluh Azura. Dia juga baru sadar Diana tidak ada di tempat para gadis itu tidur.


Tak lama, seseorang muncul dari kegelapan. Rambutnya yang putih terurai panjang dengan tatapan kosong, kepalanya menunduk. Awalnya semua mengira itu hantu, tapi ternyata Diana.


"Kek setan, njir." Gumam Azura.


"Sudah gw bilang, dia cocok sama lu." Balas Dian. Azura yang tak terima pun langsung mendorong kepala Dian jauh-jauh dari pundaknya. Setelah itu mereka berdua masuk ke ruang perpustakaan.


...********♦********...


 


Di tempat lain. Dennis mengedipkan mata beberapa kali. Dia bangun di ruangan kecil yang tampaknya tak asing. Di sana tidak ada pintu, hanya jendela kecil. Dennis mengintip, tetapi tak ada apapun, hanya kegelapan.


"Hm, kayaknya aku pernah ke sini," gumam Dennis sambil berbalik badan. Lelaki itu menunduk dan melihat beberapa helai rambut hitam legam di lantai kayu.


"Aku harus keluar dari sini." Dennis mencari barang untuk membuka celah. Langkah Dennis terhenti, kakinya terlilit rambut yang lebat. Dia melirik ke sudut ruangan. Terdapat wanita yang sedang membalik badannya sambil tertawa-tertawa melengking.


Dennis menarik-narik kakinya agar bisa terlepas, tapi hasilnya nihil. Lelaki itu memutuskan perhelai rambut, anehnya rambut itu terus tumbuh dan semakin melilit.


"A–apa yang harus aku lakukan?!"


...********♦********...


 


"Kita mau main ular tangga kah?" Derrel melihat ular dan tangga di beberapa petak di lantai. Tentunya tidak asli. Saat Derrel menyentuh lantai, ternyata bagian yang terdapat petak kotak-kotak yang bergambar ular dan tangga itu hanyalah karpet tipis yang luasnya hampir memenuhi lantai ruangan.


Di salah satu rak buku, Derrel menemukan sebuah kertas tertempel di buku-buku tersebut. Ada sebuah tulisan. Derrel membacanya,  "Tak peduli siapa yang duluan sampai, jangan kena ular sama sekali. Permainan dimulai dari kalian menemukan kertas ini. Permainan berlangsung selama 1 jam. Jika tidak ada yang bisa sampai ke garis finis duluan, maka dia kalah."


"Main hoki-hokian. Emang apa yang terjadi kalo kita dapet ular?"  tanya Devin.


"Ketelen, mati." Azura menjawabnya. Lalu iseng-iseng ia mendekati gambar ular di satu petak, lalu menyentuhnya. Seketika muncul ular raksasa dari gambar tersebut. Makhluk itu ingin memakan Azura di tempat, tapi Dian sudah keburu mendorongnya jauh-jauh sampai mereka berdua keluar dari atas karpet.


"Anjir! Beneran ada ulernya dong!" Azura tak percaya dengan makhluk yang baru ia lihat itu. Tapi setelah berdiri kembali, ia jadi lebih bersemangat dari sebelumnya. "Ini menarik, cuy!"


"Tch, tadi lu hampir aja mati, woy!" bentak Dian sambil menggoyangkan dua pundak Azura dengan brutal.


"Sudahlah. Lebih baik kita mulai saja permainan ini." Ujar Rei menghentikan tingkah kedua temannya itu.


"Terus bidaknya mana? Kita kah?" Derrel melihat sekeliling. Hanya ada dadu yang dipegang Diana. Tak ada benda lain di sekitarnya selain buku-buku.


"Kemungkinan besar iya. Mau main sekarang?" Dian menawarkan. Raut wajah mereka terlihat ragu. Seketika suasana sangat hening. Nyali mereka semakin ciut semenjak melihat ular besar yang hampir memakan Azura tadi.


"Mau tinggalin Dennis sama Revan?" Azura bertanya.


"Gw di sini!" seru Revan yang baru masuk ruangan. Ia merunduk dan menyentuh lutut lalu mengatur napasnya.


"Lah, gw kira diculik wewe gombel." Azura menggoda Revan.


Revan membuang muka sambil berdecih, lalu dia berkata, "Gw lari karena takut tadi. Tapi selama gw tersesat di rumah, gw gak ngeliat Dennis."


"Jangan-jangan, kak Dennis diculik hantu." Derrel mengulurkan tangan ke depan, seolah menjadi hantu. Ia memperagakannya sampai berjalan mendekati Rei. "Kak Rei. Aku takut Kak Dennis kenapa-kenapa."


"Tenang aja. Kakakmu yang satu itu bisa menjaga dirinya. Kau kan masih ada aku." Ucap Rei sambil mengelus-elus kepala Derrel.


"Tapi aku lebih suka Kak Dennis."


"Huum huum, iya terserah." Rei memutar mata malas lalu melirik ke Diana yang membawa dadunya ke arah yang lain.


"Kita main saja dulu, masalah Dennis nanti bisa belakangan," usul Siska. "Lagipula permainannya udah mulai kan?"


"Ya sudah. Ayo gambreng lagi, siapa yang main pertama." Azura mengulurkan tangan, diikuti dengan yang lain.


"Gambreng!" Dari hasilnya, ternyata Derrel yang jalan duluan. Awalnya ia merasa takut, tapi Rei meminta Derrel untuk tenang. Derrel melempar dadunya, ternyata dapat empat. Lelaki itu langsung melompati empat petak.


"Huh, masih aman." Gumam Derrel menghembuskan napas lega. Lalu ia menghitung beberapa petak yang sampai ke ularnya. Ternyata ada 6 petak lebih buat sampai ke kepala ular. "Lemparan kedua masih aman, deh."


"Hup, halo Derrel!" Seseorang menepuk pundak Derrel. Ternyata itu Siska. Dia juga mendapat angka empat, jadi posisinya sekarang sama dengan Derrel.


Lalu tak lama, beberapa orang muncul. Ada yang di belakang Derrel, dan ada juga yang sudah mendahuluinya. Kini permainan Ular Tangga pun dimulai!


*


*


*


To be continued–


List Pemain 🗿:



Dennis (L)


Derrel (L)


Rei (L)


Leon (L)


Azura (L)


Dian (L)


Geo (L)


Devin (L)


Lilo (L) ❌


Adila (P)


Revan (L)


Fani (P) ❌


Shira (P) ❌


Toni (L) ❌


Olivia (P)


Tania (P)


Siska (P)


Sasha (P)


Lia (P)


Diana (P)


Ayah 3 bersaudara ❌