THE RULES

THE RULES
Episode 53



Derrel mengedipkan mata beberapa kali, dia bangun dan melihat banyak kasur sudah kosong. Lelaki itu menoleh ke bawah dan melihat Vann masih tiduran sambil menggambar sesuatu di buku kecilnya. Derrel turun, dari kasur atas.


"Pagi, Vann," ujar Derrel sambil mengusap matanya. Vann menoleh sejenak, lalu lanjut menggambar


"Kau nggambar apa?" Derrel sedikit mengintip. Vann memberi buku kecilnya.


"Ah, gedung sekolah." Derrel memberikan kembali bukunya, lalu berkata, "Aku ke toilet dulu ya."


Sebelum Derrel pergi. Vann bangun dari kasur dan menulis secepat mungkin lalu menunjukannya pada Derrel. "Langsung ke dapur, bantu aku masak."


"Tentu," respon Derrel lalu menuju kamar mandi di lantai bawah.


Sedangkan Laura di dapur bersama teman-teman perempuannya yang lain sedang bergosip. "Derrel jadi raja asal banget nentuin korban," ujar Mista


"Ini salah Andini juga, dia mencurigakan." Riana menatap Andini. Lagi-lagi Andini cuma diam, seakan tidak mendengar apapun.


"Din, daripada ngelamun, mending bantuin tuh cuci sayuran." Laura menunjuk sayuran dengan dagunya. Andini beranjak dan segera mencuci sayuran itu.


Tak lama, Vann datang, lalu menggulung lengan bajunya, bersiap untuk memasak. "Wah, kokinya udah dateng, nih," ujar Laura sambil menopang dagu. Vann tersenyum tipis, untuk merespon.


Divan bersama dengan Simon dan Brian berada di ruang tengah. Divan dan Simon terkejut melihat adanya televisi yang digantung di dinding. Kedua lelaki itu mengecek televisi tersebut.


"Aneh, kemaren ga ada, dah perasaan," gumam Simon.


"Pake ilmu hitam munculnya. Soalnya ga ada tombol buat nyalain," ujar Divan.


Brian di belakang mereka menggelengkan kepala dan bergumam, "Huh, lihatlah makhluk purba ini."


"Oy, makan!" seru Laura.


Mereka mengumpul di tengah-tengah ruangan itu. Makanan itu dioper seperti kemarin. Derrel melihat satu-persatu orang, dia melihat Vann tidak memakan makanannya. Itu aneh, jadi Derrel mmengikutinya. Tak hanya Derrel, tapi juga Divan, Brian, Mista langsung memahami kondisinya.


"Kok pada ga makan? Ayo dimakan, dong!" ujar Laura. Sedangkan Simon yang baru saja mendapat jatahnya langsung memakan dengan lahap. Divan sendiri bingung dengan tingkah temannya itu.


"Siapa yang masak, sih? Rasanya rada aneh," ujar Simon, lalu minum air mineral di gelas.


"Aneh gimana?" tanya Andini, lalu melanjutkan, "Makanan Vann biasanya enak tau."


"Tau darimana? Kan, baru kali ini dimasakin," ujar Mista


"Aku cuma yakin aja." Andini membuang muka, terlihat telinganya memerah. Mista mmenghela napas singkat soal itu. Lalu tiba-tiba semuanya dikejutkan dengan Simon yang bertingkah aneh.


Lelaki itu sesak napas, dia batuk terus menerus dan semakin parah. Cipratan darah keluar dari mulutnya. Divan mendekati temannya itu, "Mon, jangan mati dulu woi. Gw ga ada temen. Dari SD lu nemenin gw dan mati sia-sia gini? Nggak kan?"


"Sorry, Van." Simon mengucapkan kata-mata terakhirnya dengan tenaga tersisa.


Derrel membuang muka. Meskipun tidak melihat, dia tetap mendengar suara kesakitan dari Simon dan Divan yang berusaha menguatkan temannya itu. Setelah sepuluh menit, suara Simon tak terdengar lagi.


"Mon, Simon!" panggil Divan sambil mengguncang sedikit tubuh Simon. "Simon, woi! Bangun ajg!"


"Van, udahlah." Brian menyentuh pundak Divan yang bergetar. Tangan Brian ditepis, sontak Divan bangkit berdiri, memukul Vann lalu menarik kerah bajunya.


"Lu yang bunuh Simon, kan!? Ngaku lu ajg!" seru Divan.


"Divan, biarin Vann jelasin—" belum saja Derrel menyelesaikan perkataannya, Divan mendorong Derrel dengan kencang. Dorongan itu membuat tempat makan jadi berantakan.


"Bacod, gw yakin lu liat juga tuh bisu ga makan. Tuh orang pasti tau sesuatu!" Divan yang sudah tersulut emosi, menendang Derrel berkali-kali.


Brian menahan Divan sebelum keadaan semakin parah. "Lepasin gw! Gw bunuh aja tuh bocah. Ga guna jadi raja!" bentak Divan. Derrel batuk-batuk sambil memegang perut dan mengelap hidungnya.


"Sabar, Van. Sabar," ujar Brian yang masih menahan tubuh Divan. Divan mulai tenang setelah beberapa detik. Brian pun melepaskannya.


"Gw harap ada yang bunuh lu nanti malem," ujar Divan kepada Derrel, lelaki itu berjalan ke arah kamar. Mendengar perkataannya, membuat Derrel terpikirkan sesuatu.


"Van, kita harus diskusi dulu," ucap Mista.


"P*rsetan sama diskusi! Jangan mancing emosi gw ajg!" bentak Divan. Lelaki itu masuk kamar dengan membanting pintunya.


"Tenang aja, ga ada aturannya harus diskusi kok," ujar Riana.


"Tapi kan ... setiap 10 jam sekali, kita harus milih seseorang untuk dibunuh." Ujar Brian mengingatkan kembali rulesnya pada teman-temannya. Semuanya hampir lupa dengan hal itu. Mereka tidak bisa menentukan korban selanjutnya tanpa diskusi.


Vann mengulurkan tangan kepada Derrel. "Ah, makasih. Aku ga apa-apa." Ucap Derrel, lalu berdiri.


"Tadi yang masak, kan Riana sama Vann .... Aku cuma bantu sedikit. Siapa yang saji makanan?" Derrel melirik ke arah Laura, Mista, Riana. Ketiga perempuan itu saling melirik.


"Yang saji minum tadi Andini terus yang saji makanan aku," jawab Laura. Dia berkata jujur tetapi Derrel tetap saja mencurigainya.


"Aku cek dapur dulu," ujar Derrel. Lelaki itu berjalan ke dapur, diikuti oleh Vann.


"Ga ada apa-apa, Rel," sela Riana. Derrel menatap tajam Riana dan menitahnya, "Diam di tempat!"


Vann berjaga di ambang pintu selama Derrel di dalam. Derrel menggeser-geser bumbu dapur dan menemukan bungkusan aneh. Lelaki itu pun berbalik badan dan menunjukkan bungkusan kecil tersebut.


"Apa ini?" tanya Derrel


Tetapi tak ada yang menjawabnya. Derrel melirik ke salah satu gadis. "Ini apa Riana?" tanya Derrel


"Ke–kenapa ... kenapa tanya aku?" Riana memiringkan kepala.


"Karena kamu yang melarangku masuk. Andini sama Vann ga melarangku, tuh." Derrel melipat tangannya.


"Itu .... Aku ga tau itu apa. Aku ga pernah liat." Riana menggaruk kepala.


"Jelas-jelas ada gambar tikus di bungkusnya." Andini mulai angkat bicara. Riana mendengar hal itu sebal, rasanya ingin menjambak Andini saat itu juga.


"Kacamataku ketinggalan di kamar. Jadi ga liat," elak Riana.


Bbzzttt


Tiba-tiba televisi di ruang tengah menyala. Menampilkan seseorang yang sedang diikat di kursi. Semua orang selain Divan menghampiri ruangan tersebut.


Saat melihatnya, mata Vann terbelalak melihat sosok itu. "Tio!?" teriak batin Vann.


"Eh, Tio!" Derrel yang melihatnya juga terkejut. Tapi tidak dengan yang lainnya karena tidak semuanya yang ada di sana mengenal sosok tersebut.


[ Tes tes! Apa semuanya sudah melihatnya? ] Suara Farel muncul dari speaker.


"Farel! Apa yang kau lakukan pada temanku!?" bentak Derrel setelah mendekati speaker tersebut.


[ Ah aku ingin memberikan sebuah tawaran menarik untuk kalian. ]


[ Jadi tolong dengarkan. ]


[ Waktu akan dipercepat. Aku selalu cepat bosan menunggu. Jadi sekarang, setiap 5 jam sekali, kalian harus memilih 1 korban dan mencari Pembunuhnya. ]


[ Akan ada hadiah menarik untuk yang menang. Pertama, hadiah uang tunai dengan total 10jt rupiah, bisa dibawa pulang! Lalu hadiah kedua adalah, kalian boleh membawa pulang sandera kesayanganku. ]


"Tio, kah?" gumam batin Vann. Lalu ia kembali melirik ke televisi yang menampilkan sosok Tio dalam keadaan tak sadarkan diri, terdiam di atas kursi.


[ TAPI! Kalian hanya boleh memilih satu hadiah saja. Kalian mau uang, atau menyelamatkan teman kalian. Satu jam lagi, tolong pilih korban kalian. Jadi udah, itu aja. Sandera tidak akan aku apa-apakan selama kalian tetap mengikuti permainanku. Dadah~ ]


Suara Farel pun menghilang. Ruangan itu jadi hening dan sekarang mereka semua jadi bingung harus bagaimana selain tetap mengikuti permainan Farel. Mereka semua pun pergi ke tempat lain untuk menjernihkan pikiran sebelum jam 9.


Kecuali Derrel yang masih menatap televisi yang terus menampilkan sosok Tio. "Tenang aja, Tio. Aku pasti akan menyelamatkanmu dan aku akan ketemu Kak Dennis lagi!"


...****************...


Di waktu yang sama, Chris keluar dari kamar kosnya. Ia bersiap ingin kerja, tapi sebelum itu ia mengunci pintu lalu lewat di depan kamar Dennis dan Derrel. Lelaki itu berhenti di depan pintunya, lalu bergumam, "Aneh. Dari kemarin kamar ini sepi aja. Bukannya ada penghuninya, ya?"


Chris melihat tirai jendelanya sedikit terbuka. Lelaki itu pun mengintip ke dalam karena penasaran. Di sana masih ada barang-barang kedua adik kakak itu, walau ia tak bisa melihat semuanya. Chris pun mencoba untuk membuka pintunya, tapi terkunci.


"Setauku yang rambut coklat itu– Ah tidak, mereka berdua berambut coklat. Maksudnya yang paling tinggi. Ck, aku lupa namanya." Ujar bati Chris, lalu menempelkan tangan di dagu dan berpikir. "Kalau gak salah, dia pernah ngasih tau tempat kerjanya pas kita lagi ngobrol bareng. Apa aku samperin aja ya buat tanya-tanya? Hmm ...."


...****************...


Gadis itu pun menjambak Adila dan menatapnya dengan seringai. "Pagi~ Tadi malam aku abis main-main sama Dennis dan itu menyenangkan sekali."


Wajah Adila terlihat pucat. Ia kehilangan cukup banyak darah dari luka tusuk di pahanya kemarin. Tapi ternyata gadis itu masih bertahan. Ia tetap tenang walau sudah di depan orang yang akan membunuhnya.


Adila hanya tersenyum tipis, lalu menjawab, "Seru, ya? Coba kau lakukan lagi nanti malam. Sampai hamil kalau bisa." Adila tertawa kecil.


Diana mendorong tubuh Adila sampai gadis itu berserta kursinya terjatuh ke lantai. Adila sedikit merasa nyeri pada tangannya karena tertiban tubuhnya sendiri.


"Aku akan membunuhmu nanti. Tapi mungkin nanti. Sekarang aku masih ada urusan." Diana mengambil sapu, lalu pergi dan mengunci ruangan itu kembali.


Setelah Diana pergi, Adila tersenyum, lalu bergumam, "Makasih~"


Tubuhnya yang dijatuhkan Diana itu adalah keberuntungan untuknya. Sebelumnya ia mendorong pisau yang digunakan Diana untuk menusuknya. Pisau itu ada di lantai, di depan kakinya. Saat Diana pergi kemarin, Adila mendorong pisau tersebut ke belakang kursi.


Jadi sekarang, saat Diana menjatuhkan Adila, Adila bisa dengan mudah mengambil pisau yang ada di belakangnya untuk memotong tali yang mengikat tangannya.


Setelah beberapa gesekan pisau di tali itu, Adila akhirnya bisa bebas dengan mudahnya. Ia pun bangun, tapi tak bisa berdiri karena luka di pahanya. Gadis itu pun melihat kain yang ada di atas plastik hitam.


Dirinya merangkak mendekati plastik tersebut, lalu menarik kain itu. Setelah mendapatkannya, ia sedikit terkejut karena melihat beberapa potongan tubuh manusia dan kepala yang mirip dengan Dennis. Tapi saat diperhatikan, ternyata bagian-bagian tubuh itu hanyalah boneka.


Kain yang ia dapatkan adalah celana dari boneka tersebut. Adila duduk, lalu memotong kain itu dan mengikatkannya pada luka di pahanya. Setelah itu, ia mencoba untuk berdiri dan menopang tubuhnya pada meja dinding yang terdapat banyak senjata tajam.


Adila mengambil golok dari tempat itu, lalu bergumam, "Gw yang bakal bunuh cewek gila itu duluan."


...****************...


Tik tok tik tok ....


Dalam ruangan, hanya suara jam lah yang mengisi keheningan tempat itu. Semua telah berkumpul di ruang kosong dan berkumpul di depan meja yang di atasnya terdapat kotak berisi benda mematikan.


Tak lama kemudian, Divan akhirnya ikut berkumpul. Dia juga akan berdiskusi dengan yang lainnya. Sebelum waktunya habis, mereka langsung mulai saja.


"Ja–jadi ... siapa yang akan kita pilih?" tanya Mista dengan gugup.


Semuanya terdiam dan hanya saling melirik. Lalu tak lama, Devan menunjuk ke arah Vann. "Gw pilih dia."


Vann hanya melirik Devan, lalu menarik sebelah alis seakan bertanya, "Kenapa aku?"


Derrel terkejut. Ia langsung melirik ke Divan. "Eh tunggu, Van. Gak mungkin dia–"


"Jangan mentang-mentang si bisu itu temen lu, lu bakal belain dia terus. Bisa aja dia itu pembunuhnya dan lu bakal ditusuk dari belakang, Rel!" Sela Divan dengan bentakan.


Vann hanya menggeleng. Derrel kembali memikirkannya. Perkataan Divan ada benarnya juga. Tak ada yang bisa ia percaya dalam keadaan begini. Apalagi dia masih belum tau siapa pembunuhnya.


"Kalau aku akan memilih Andini." Riana menunjuk ke Andini. "Aku udah curiga banget sama tuh anak. Apalagi dia gak ragu-ragu bunuh Kina kemarin."


"Hah ... kebiasaan. Suka asal tuduh aja." Andini menggeleng pelan, lalu melipat tangan ke depan. Ia kembali mengungkit masalah kematian Simon. "Bukankah kau yang membunuh Simon tadi? Aku bunuh Kina karena dia memang korbannya. Lagipula tidak ada yang berani membunuh dia."


"Kalau soal Simon, bukan aku yang bunuh dia. Lagipula kita semua kan ada di dapur." Ujar Riana membela diri.


"Aku juga bukan. Aku hanya disuruh membersihkan sayuran, lalu pergi. Aku gak ikut masak." Balas Andini.


"Alibinya kuat. Dia memang berkata jujur dan bukan dialah pelakunya. Apa antara Mista dan Laura?" batin Derrel, lalu melirik ke arah dua gadis itu. Mereka berdua bertingkah seperti biasa, tapi terlihat rasa ketakutan dari ekspresinya.


"Yang pasti antara Riana dan Vann. Karena mereka yang masak!" tegas Brian. Divan mengangguk setuju. Tapi pilihannya tetap kepada Vann.


Riana dan Vann menggeleng. Lalu Riana kembali membela diri. "Aku hanya bantu memasukan bumbu. Sisahnya Vann."


"Jadi sudah jelas, kan? Siapa pelakunya?" Divan melirik sinis ke Vann. Tapi Vann tetap bersikap tenang, walau sudah ada yang memilihnya.


"Tapi ... aku melihat Vann mencicipi masakannya sebelum dibawa Laura ke depan. Setelah itu, dia menyajikan makanannya ke piring." Ujar Mista setelah mengingat-ingat kejadian sebelum Simon keracunan. Gadis itu selalu berkata jujur, jadi semua orang mempercayainya.


"Ah ya, buktinya setelah Vann selesai masak dan mencoba makanannya, ia tidak keracunan." Ucap Derrel yang sangat setuju dengan perkataan Mista tadi.


Riana menyentuh dagu, lalu melirik ke Laura. "Itu berarti ... pelakunya adalah kau."


Gadis yang ditatapnya itu pun tersentak dan langsung membela diri. "Hah? Tidak mungkin! Kenapa kau menuduh itu aku?!"


"Karena kau yang membawa makanannya. Bisa saja kau diam-diam memasukkan racun ke dalam makanan setelah makanan disajikan. Lalu kau membawa makanan itu dengan tampang tak berdosa dan berharap semuanya mati karena memakan makanan itu." Jelas Riana sekalian memperagakan kelakuan Laura dengan gerak gerik tangannya.


Namun tetap saja Laura membantah hal itu. Ia menggeleng cepat lalu membentak Riana. "Nggak mungkin! Aku cuma nganterin makanan doang. Makanannya gak aku apa-apakan, kok!"


Derrel mencoba mengingat gerak-gerik mereka saat masak di dapur, sampai makanan jadi. Sesuai yang ia lihat saja sebelumnya. Sampai akhirnya ia mengingat perkataan Laura yang meminta semuanya untuk segera makan.


"Laura. Kau yang menyuruh kita untuk makan duluan, sedangkan kau tidak makan, kan?" tanya Derrel dengan tatapan polos.


"Eh? Aku memang meminta semuanya untuk makan. Tapi aku juga bakal makan kalau semuanya telah makan. Aku cuma gugup aja." Jawab Laura.


"Tapi sampai Simon makan, kenapa kau tidak langsung makan juga?" Seketika semuanya langsung melirik ke Laura. Tatapan mereka membuat gadis itu ketakutan.


"A–apaan, sih?! Jadi kalian bakal bunuh aku?!" bentak Laura.


"Aku tanya, apa kau yang memasukkan racun ke makanan tadi pagi?" tanya Derrel sekali lagi.


"Bukan! Bukan aku! Aku berani sumpah!" Laura tetap tidak mengakuinya. Lalu temannya di samping, yaitu Mista menyentuh pundaknya dan bertanya hal yang sama seperti Derrel. Tapi tetap saja ia tidak mengakuinya.


Karena gerak gerik gadis itu yang panik, membuat Derrel jadi semakin curiga. Ia sudah yakin dan akan memutuskan. Lalu tak lama, Brian menunjuk ke jam dinding. "A–anu ... waktunya 20 menit lagi."


"Ugh ... sekarang waktunya." Derrel menunduk, menutup mata, lalu berkata, "Sekarang tunjuk seseorang!" Semua orang pun mulai menunjuk. Derrel kembali membuka mata dan melihat banyak tunjukan mereka yang mengarah ke beberapa orang. Lelaki itu pun menghitungnya.


Divan dan Brian menunjuk ke Vann. Vann, Riana, Andini menunjuk ke Laura. Mista dan Laura menunjuk ke Riana. Setelah melihat lebih banyak jari telunjuk yang mengarah padanya, Laura langsung gemetar ketakutan. Sekarang giliran Derrel yang memilih.


Lelaki itu menghela napas, lalu secara perlahan ia menunjuk ke Laura. "Eksekusi."


"Eh, Derrel! Jangan asal tuduh! Aku tidak melakukan apapun!" Laura membentak Derrel lalu menghampiri lelaki itu dan menarik kerah bajunya. "Jangan sembarangan menuduhku!!"


Derrel sebenarnya tidak ingin menunjuk siapapun. Tapi ia terpaksa. Lelaki itu mendorong Laura jauh-jauh darinya, lalu berkata, "Maaf, Ra. Kita harus memilih korban untuk hari ini. Semoga kau tenang di alam sana."


"Tidak ... tidak mungkin! Kalian semua memfitnahku! Ini tidak adil!! Huwaaaa!!" Laura jatuh duduk, lalu mengacak-acak rambutnya. Ia menangis di tempat, tapi semua orang hanya bisa terdiam.


Riana melihat jam. Waktu semakin menipis dan mereka harus mengeksekusi korban yang dipilih saat ini. Riana menghampiri kotak dan mengambil pisau dari dalam sana. Ia menjambak rambut Laura, lalu mengangkat kepala dan menempelkan pisau itu ke leher Laura.


Derrel langsung mundur dan menutup mata dengan tangan. Ia tak pernah kuat melihatnya. Andini mundur, tapi Mista menghampiri Riana dan berusaha untuk menghentikan gadis itu agar tidak membunuh Laura. "Ja–jangan plis! Jangan bunuh dia, dia temanku!!"


"Tidak ada yang namanya teman di sini! Teman kita udah mati semua!" Riana menepis tangan Mista, lalu merebut pisaunya kembali.


Namun saat Riana ingin membunuh Laura, tiba-tiba Laura memberontak dan mendorong Riana sampai terjatuh. Ia berteriak, lalu melarikan diri. Gadis itu berlari menghampiri pintu keluar ruangan.


Saat semuanya ingin mengejar gadis itu, tiba-tiba seseorang dari belakang menembak Laura dengan pistol dari dalam kotak. Semuanya langsung melirik ke Divan yang memegang pistol tersebut.


Setelah menerima peluru di punggungnya, Laura langsung jatuh terduduk. Melihat korbannya belum mati, Divan kembali menembaki Laura berkali-kali. Semua orang menutup telinga karena suara tembakan tersebut dan juga teriakan singkat dari Laura sebelum akhirnya ia tewas.


Divan menembak Laura sampai pelurunya abis. Setelah itu, dia menjatuhkan pistol itu dan menghela napas. Tak lama kemudian, muncul suara Farel dari speaker.


[ Laura bukanlah seorang Pembunuh. ]


*


*


*


To be continued –


*


*


NOTE: Eps ini sengaja dilebihkan karena mulai sekarang TR bakal Hiatus seminggu karena authornya pada mau liburan idul Fitri wkwk


Tetap stay tune ya ^^ makasih