THE RULES

THE RULES
Episode 32



Hari demi hari berlalu. Dennis dan Derrel masih dalam pengawasan polisi. Kini mereka pun tinggal bersama paman dan bibi mereka. Derrel mulai tidak nyaman dengan situasi ini, dia tidak bisa sebebas sebelum bencana itu datang.


"Rel, aku ke minimarket dulu. Kau mau nitip sesuatu?"


"Nggak," Derrel menjawab. Dia tak melepaskan pandangannya dari televisi. Berita tentang rumah berhantu itu menyebar. Di sosial media banyak komentar positif dan negatif tentang hal itu. Mereka masih belum tahu pasti tentang penemuan mayat-mayat di rumah tersebut.


Dennis dan Derrel telah menceritakan semuanya pada polisi. Tapi 70% mereka masih meragukan cerita itu karena dianggap tidak masuk akal. Jadi penyelidikan pun akan tetap berlanjut. Kedua adik kakak itu jadi malas berkomunikasi dengan siapapun, termasuk pada media. Jadi selama seminggu, mereka memutuskan untuk mengurung diri di dalam rumah.


Untuk kali ini, Dennis memutuskan akan keluar. Dia pun pergi sendiri. Tak lama, Derrel menghela napas. Ia mematikan televisi karena tidak ada siaran yang menarik. Lelaki itu merenggangkan tubuhnya lalu menuju dapur. Dia melihat ada mie rebus, itu ternyata untuknya dari Dennis. Seketika dia teringat oleh kakak pertamanya, Rei.


Derrel mengambil garpu. Ia duduk di depan meja makan, lalu memakan mienya. Tak lama, pintu terbuka. Derrel pikir itu Dennis, tapi ternyata itu bibinya.


"Eh, Rel. Bibi baru aja mau masak," ujar wanita itu sambil meletakan bahan masakan di atas meja.


"Aku bisa makan nanti," ujar Derrel sambil lanjut menikmati mienya. Seketika dia kepikiran sesuatu.


"Bi, aku boleh gak belajar bela diri?" tanya Derrel lalu menghentikan makannya sebentar untuk bicara.


Bibinya langsung menoleh ke arah Derrel. Matanya sedikit membulat. "Kamu yakin? Bela diri itu berat, loh latihannya. Nanti kamu kecapekan, takutnya gak fokus belajar."


"Aku yakin, karena aku mau lindungin kak Dennis. Gak peduli seberat apapun." Derrel mengerutkan alisnya, membuktikan bahwa dia serius. Tetapi bibinya tertawa kecil karena muka Derrel yang lucu itu.


"Haha, baiklah. Nanti bibi carikan tempat latihannya."


Derrel tersenyum mendengarnya. Ia pun lanjut makan.


Tak lama, Dennis pulang. Dia membawa snack untuk dirinya dan Derrel. Dia ke dapur dan melihat bibinya. "Ah, bibi. Mau aku bantu?"


"Tidak perlu. Kau sudah makan?"


"Sudah tadi makan mie." Dennis menanggapi. Dia memasukan snacknya ke kabinet dapur.


"Rel, jangan lupa lusa mulai sekolah lagi," ujar Dennis. Derrel menghela napas panjang. Dia sebenarnya belum mau ke sekolah.


"Aku ketinggalan jauh pelajaran, gak masalah?"


"Aku juga ketinggalan pelajaran. Tak masalah," jawab Dennis sambil tersenyum. Derrel cemberut sambil memainkan mienya.


"Nanti bisa cari teman lagi." Dennis mengusap kepala Derrel, lalu mencubit pipinya. Dia membuka laci di dekatnya, mengambil sapu dan membersihkan rumah.


Derrel buru-buru mengabiskan makanannya, lalu minum. Dia mengambil sapu satu lagi dan membantu Dennis.


Setelah selesai membersihkan rumah, dia duduk di sofa. Dennis duduk di sebelahnya. Sontak dia teringat sesuatu. "Aku nyuci baju dulu. Kamu jemurin ya nanti."


Derrel mengangguk. Dia fokus ke televisi, menonton kartun berkaraker kotak favoritnya. Derrel merebahkan tubuh di sofa. Dia menutup matanya sejenak.


"Derrel, bangun, Rel!" panggil Dennis. Derrel langsung membuka matanya. Dia tidak melihat siapa-siapa di hadapannya. Teriakan Dennis kembali terdengar dari daerah kamar mandi.


Derrel mendekati kamar mandi yang tertutup. Dia menempelkan telinganya di pintu. Sangat sunyi di dalam. Perlahan dia masuk, tidak ada siapapun di dalam sana.


"Kak Dennis?" Derrel mengintip. Beberapa saat kemudian dia masuk. Dia melihat ke arah bak mandi. Sebuah tangan dengan cakar meraihnya dan menarik Derrel masuk ke bak.


"Derrel!" Dennis terus menyipratkan adiknya dengan air.


"Ah, kak Dennis!" Derrel mengusap wajahnya yang basah. Ia kaget dan langsung bangkit dari sofa.


"Ayo jemurin dulu, baru tidur." Dennis berkacak pinggang. Derrel berdiri. Sebenarnya dia malas, tapi ia tak mau jadi beban. Lelaki itu hanya mengangguk, lalu melakukan tugasnya.


...********♦********...


Derrel menjemur baju di halaman. Ia mengambil satu baju, lalu memerasnya. Setelah menjemurnya di tempat, Derrel menatap langit yang tiba-tiba gelap. "Yah mendung. Nanti kalau hujan, diangkat lagi dong bajunya."


mumpung belum dijemur semua, Derrel ingin bertanya sesuatu pada kakaknya. Tapi saat di depan pintu, ia sudah melihat Dennis sedang merapihkan rak sepatu. "Ah, Kak Dennis! Di luar dah mendung, takutnya mau hujan. Mending gak usah dijemurin dulu kali, ya? Biar gak kerjaan dua kali."


"Ah~ Kamu lagi males aja ya, Rel? Kan bisa jemur di dalam."


"Huuh ... ya udah, deh. Di dalam aja. Aku gak mau ngangkat lagi kalau ujan nanti."


"Oke, terserah kamu aja, Rel~"


Derrel kembali ke luar. Lelaki itu akan balik ke halaman samping rumah, tapi ia dikejutkan oleh kedatangan dua polisi yang saat ini berdiri di depan pintu pagar.


Derrel menghampiri kedua polisi itu, lalu bertanya, "Ng ... anu, cari siapa, ya?"


"Oh, Nak Derrel. Kami datang cuma mau memberikan barang bukti. Ini dua ponsel milik kalian dan kamera yang sudah rusak. Tapi kartu memorinya masih aman di dalam. Barang ini sudah kami selidiki, tapi kami sudah tidak memerlukannya lagi. Barang kali kamu mau mengambilnya?"


Salah satu dari polisi itu menunjukkan barangnya. Secara perlahan, Derrel pun mengambilnya. Saat dilihat. Ternyata memang benar. Itu dua ponsel miliknya dan kakaknya, lalu sebuah kamera yang selalu ia bawa untuk bersua foto sebelum tragedi di rumah barunya terjadi.


"Umm ... akan saya ambil. Terima kasih, pak Polisi." Ucap Derrel sambil membungkuk hormat. Dua polisi itu pun pergi dengan mobil mereka. Derrel kembali melihat kameranya yang rusak. Lalu tak lama ada Dennis yang tiba-tiba datang mengejutkannya.


"Eh, Rel? Ngejemurnya udah selesai?"


"Ah, kak Dennis! Jangan bikin kaget, dong!"


"Kamu nya atuh jangan keseringan bengong!"


"Eh ini, kak." Derrel memberikan ponsel Dennis yang berwarna biru pada pemiliknya. Begitu mendapatkan ponselnya kembali, Dennis sedikit terkejut.


"Loh kok bisa di kamu?"


"Ng ... tadi baru aja ada polisi datang yang ngasih barang milik kita." Jawab Derrel. Lalu lelaki itu berlari masuk ke rumah membawa ponsel dan kameranya. Dennis sudah memanggilnya untuk mengerjakan tugas anak itu dulu. Tapi Derrel tidak mendengarkan.


"Hadeh ... aku lagi yang ngerjain." Keluh Dennis lalu pergi ke halaman. Ia yang akan menjemur pakaiannya di sana. Tapi ucapan Derrel sebelummya memang benar. Langit semakin gelap, tanda mau hujan. "Hah sebaiknya ngejemur di dalam aja, deh."


...********♦********...


"Kameranya kemana ya ...." Derrel menggeser-geser fotonya. Saat ada foto Farel di dalamnya, dia edit foto itu agar Farel tak terlihat.


Derrel membuka tempat file. Dia melihat dokumen asing di sana. Lelaki itu membukanya, isinya hanya ID miliknya dan teman-teman lain.


Dennis masuk ke kamar. Dia melihat Derrel tiduran di kasur sembari melihat ke arah tembok. "Rel, kau tidur?"


"Nggak, aku liat foto." Derrel bangun duduk, lalu melirik ke kakaknya. "Kamera ayah kemana ya? Yang ada foto kita bertujuh."


"Kayaknya ketinggalan di rumah itu. Mau cek?"


"Aku gak mau ke sana, tapi ... demi foto," ucap Derrel mengangguk.


****


Seseorang masuk ke area rumah sakit. Pakaiannya serba hitam, dia masuk ke kamar jenazah. Orang itu membuka tempat mayat berbahan besi. Dia memakaikan gelang untuk salah satu jenazah di sana, lalu keluar dari tempat itu.


****


Derrel dan Dennis menaiki taksi menuju rumah lama itu. Mereka di turunkan di dekat jalan setapak. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam hutan. Semakin masuk ke hutan, Derrel semakin takut.


"Kak Dennis, aku mau pulang aja." Derrel mengurungkan niat untuk mencari foto. Ia menarik-narik tangan Dennis.


"Ayolah, siapa tau masih ada polisi di sana yang bisa jaga kita."


"Hm ...." Derrel mengangguk. Dia mulai berjalan lagi mengikuti Dennis.


Saat sampai, banyak garis polisi di depan rumah. Derrel melangkahi garis polisi itu dan masuk ke dalam rumah.


"Aku tunggu luar ya," ujar Dennis.


"Ya," sahut Derrel, kemudian dia membuka pintu. Lelaki itu melihat sekeliling. Dia melihat seperti pantulan cahaya kecil di bawah kayu. Derrel menyingkirkan kayu itu. Dia menemukan kamera yang sudah hancur.


Derrel mencari kartu memorinya di kamera itu. "Mana ya .... Sini?" Dia tidak tahu di mana letak kartu itu tersimpan. Ia tidak tau bagian-bagian kamera, kecuali kalau untuk memanfaatkan fungsi utamanya, yaitu untuk memotret.


Saat Derrel fokus mencari kartu memorinya, pintu depan tiba-tiba tertutup sendiri dengan cepat. Derrel terkejut dengan suara bantingan pintunya. Dengan cepat, lelaki itu pergi menghampiri pintu sambil membawa kameranya.


Ia berusaha membuka pintu itu, tapi tidak bisa. Dirinya pun mulai panik dan ketakutan. Saat ingin menggedornya, ia jadi teringat dengan peraturan di rumah itu, dimana tidak boleh ada yang mengetuk pintu. Hanya itu yang Derrel ketahui, tapi ia lupa dengan waktu larangannya.


"Kak Dennis! Kak!!" Derrel menghampiri jendela samping pintunya. Ia mengintip ke luar, ternyata Dennis tidak ada di depan. Kakaknya itu tidak benar-benar menunggunya di depan sana.


"Ka–kakak ke mana?"


...****************...


Di waktu yang sama, ternyata Dennis sedang berkeliling rumah besar itu. Ia pergi ke halaman belakangnya untuk melihat-lihat. Tapi lagi-lagi, kenangan mengerikan lah yang tergambar di pikirannya termasuk dengan kematian teman-temannya yang ia lihat.


"Hah ... sebenarnya apa penyebab kematian mereka? Karena Farel? Tapi bagaimana bisa? Apa rumah ini benar-benar terkutuk?" Dennis mengelus-elus tembok rumah yang kasar. Ia melihat serpihan debu yang jatuh mengenai sepatunya. Saat menunduk, Dennis melihat sesuatu dibalik rerumputan. Lebih tepatnya, karpet rumput.


"Eh aku kira ini rumput beneran." Dennis mengangkat karpet itu dan menemukan sebuah papan kayu yang dikaitkan dengan engsel. Jadi terlihat seperti pintu, hanya saja bentuknya persegi.


Dennis iseng-iseng membuka pintu itu karena penasaran. Tapi ternyata terdapat gembok yang menguncinya. Dennis mengambil batu dan menghancurkan gembok tersebut. Karena gembok itu telah termakan usia dan sudah karatan parah, Dennis bisa dengan mudah menghancurkannya.


Setelah pintu dapat dibuka, lelaki itu menemukan sebuah tangga menuju ke bawah. Rasa penasaran lelaki itu semakin tinggi. Ia pun memberanikan diri memasuki ruang bawah tanah yang gelap. Hanya dengan bantuan senter ponsel, ia bisa melihat isinya.


...****************...


Derrel di dalam rumah masih berusaha untuk mencari jalan keluar. Ia teringat dengan pintu belakang yang ada di dapur. Lelaki itu segera pergi ke sana dan ternyata benar. Pintu dapur itu masih ada.


Saat Derrel membukanya, ia tidak melihat jurang gelap seperti yang ia lihat saat permainan kematian itu berlangsung. Semuanya aman-aman saja dan dari sana, Derrel bisa melihat danau dan hutan yang gosong karena bekas kebakaran.


Tak membuang waktu lagi, Derrel pergi ke teras rumah. Ia berteriak memanggil nama kakaknya, tapi tak kunjung muncul. Lelaki itu masih membawa kamera ayahnya yang ia temukan di dalam rumah.


"Duh, Kak Dennis ke mana?"


"Kenapa Derrel? Ketemu kameranya?"


Suara tak asing terdengar dari belakang Derrel. Lelaki itu langsung berbalik badan dan akhirnya ia dapat menghembuskan napas lega. "Huh, Kak Dennis ke mana aja dari tadi?!"


"Hehe ... maap, Rel. Aku berkeliling tadi. Oh ya, ketemu kameranya?"


Derrel mengangguk sambil menunjukan kameranya kepada Dennis. "Ketemu. Tapi aku gak tau dimana kartu memorinya." Derrel menunduk memandangi kamera yang setengah rusak tersebut.


"Nanti kita cari di rumah ya?" Dennis mengusap-usap kepala Derrel. Adiknya itu hanya mengangguk.


Mereka akan kembali ke rumah. Di perjalanan pulang, Dennis menoleh ke arah Derrel. "Aku tadi nemu sesuatu."


"Apa?" Derrel penasaran.


"Sebuah jalan ke ruang bawah tanah dan di sana ... aku menemukan buku yang menarik."


"Eh, apa itu?" Derrel meneleng.


Dennis menunjukkan buku penemuannya, lalu menjawab, "Isinya tentang peraturan apa saja yang gak boleh dilanggar."


*


*


*


To be continued–