
"Kak Azura!?" Mata Dennis sedikit berkaca-kaca karena ia masih takut. Ia berlari sampai masuk ke lorong di dekat kelas Derrel. Sebelumnya ia sempat bertemu dengan seorang guru yang meminta Dennis untuk mencari Azura.
"Kak Dennis kenapa?" tanya Derrel yang sedang menyapu di depan kelasnya. Dennis menggeleng sambil tersenyum paksa.
"Em ... Azura disuruh ke ruang guru. Jadi aku mau cari dia." Jawab Dennis.
"Aku mau bantu."
Dennis menggeleng dan minta Derrel fokus aja untuk bersih-bersih. Ia pun pergi lagi mencari Azura.
...********♥********...
Azura sembunyi di kamar mandi. Sambil mengigit jari, dia kepikiran soal mayat di gudang. "Bukan gw pelakunya, bukan gw."
Lalu tak lama, ia mendengar suara beberapa orang yang masuk ke kamar mandi. Azura mencium bau rokok yang sangat menyengat. Ia tidak tahan dengan baunya, jadi keluar dari kamar mandi. Tapi mendadak langkahnya terhenti dan langsung menatap tajam ke orang-orang itu.
Dennis mulai lelah mencari Azura sampai akhirnya ia lewat kamar mandi. Di sana ia terkejut melihat Azura sedang mencekik seseorang. Dennis mendekat dan langsung menarik tubuh Azura.
"Azura! Jangan!!" seru Dennis. Namun, Azura tidak ingin lepas. Dennis terus menarik tangannya lalu tak lama, akhirnya Azura melepaskan cekikannya.
Lelaki itu menggeleng pelan lalu melihat kedua tangannya. "Eh, gw ngapain?" Ia melirik ke arah beberapa orang yang tergeletak tak sadarkan diri di dekatnya.
"Kau kenapa ngelakuin itu?!" tanya Dennis cepat.
"Gw gak merasa ngelakuin itu. Gimana nih Dennis, gw pasti dituduh." Azura mengacak-acak rambutnya, frustrasi. Tak lama terdiam, ia melirik Dennis dengan tatapan kosong. Membuat Dennis merinding dan ingin menjauhinya.
"Nis, kalo kamu buka mulut tentang ini. Awas aja," ancam Azura, lalu dia keluar dari kamar mandi.
"A–zura kenapa ya? Aneh gitu," gumam Dennis. Tiba-tiba ada suara teriakan beberapa siswa. Dennis baru teringat tentang mayat di gudang tadi. Harusnya dia langsung lapor ke guru saja daripada mencari Azura.
Di lorong. Azura melihat dua sosok tinggi besar bertanduk, seperti sedang memegang trisula. Sosok itu mendekat dan hendak menyerangnya.
Saat Azura memukulnya, sosok tersebut menghindar, lalu salah atau dari mereka langsung menarik tangan Azura dan menjatuhkannya ke lantai.
"Akh, lepasin gw!!" seru Azura sembari meronta-ronta.
"Tahan dia sebentar, Le," ujar Rei. Leon menahan tangan Azura di belakang tubuhnya. Rei merogoh kantung lelaki itu.
"Ah, kata Dian kau bawa patung. Mana?" tanya Rei. Azura tidak menjawabnya dan ia masih berusaha untuk melepaskan diri. Rei tidak putus asa sampai akhirnya dia menemukan patung kayu yang dimaksud.
"Aku mau buang dulu. Tunggu ya." Rei berdiri, dia berlari ke halaman belakang lalu melempar patung kayu itu ke tempat pembakaran mumpung api di sana masih menyala.
"Jangan ganggu temanku lagi." Rei menutup tempat pembakaran tersebut. Ia akan kembali ke Leon, tapi tiba-tiba ia dikejutkan oleh kehadiran Arel yang berlari ke arahnya.
"Rei, Rei! Sebenarnya ada masalah apa ini?" tanya Arel, lalu menggenggam erat buku catatan yang dibawanya. "Ada anak yang menemukan mayat di gudang. Lalu beberapa murid juga lapor kalau mereka diserang oleh murid dari kelas 11."
"Itu Azura." Jawab Rei. Ia menggeleng pelan. "Tidak ... bukan dia yang melakukannya."
"Apa maksudmu, Rei?"
"Ada sesuatu yang merasuki Azura dan membuat dia melakukan pembunuhan tersebut."
"Eh ... jangan nakut-nakutin aku!"
"Maaf, tapi aku hanya merasakan aura tidak enak dari Azura sejak kemarin sore. Aku juga udah curiga sama dia. Ah, tapi sekarang ... sepertinya makhluk itu sudah pergi." Jelas Rei. Ia akan kembali ke tempat Leon. Arel mengikutinya dari belakang.
Saat kembali ke tempat Leon dan Azura, kedua lelaki itu tidak ada di sana. Rei hanya pergi sebentar, tapi sekarang keduanya sudah menghilang.
"Ke kelas kali, ya?" gumam Rei. Ia akan pergi ke kelasnya, tapi ingat dengan Arel yang masih ada di dekatnya. "Rel, kamu mau ngapain sekarang?"
"Aku sebenarnya sedang mengumpulkan informasi tentang kejadian ini dan mencari saksi." Jawab Arel, lalu menepuk-nepuk buku yang dipeluknya
"Hmm ... kalau kasih tau soal makhluk itu ... para guru gak akan–"
"Kaaak Reeeiii!!" Begitu melihat Rei, Derrel langsung berlari menghampirinya.
Rei bertanya, "Eh, ada apa?"
"Kak Dennis masuk ruang BK."
"Loh, kenapa dia?"
"Ah, kayaknya dia jadi saksi kejadian di kamar mandi. Aku juga sempat melihat Dennis ditanya-tanya oleh guru." Jawab Arel. Lalu ia melirik ke jam tangannya dan terkejut. "Eh, maaf, ya? Aku udah harus kembali ke kelas!"
"O–oh iya, oke. Hati-hati." Rei kembali melirik ke adik kecilnya yang khawatir dengan Dennis. Ia menepuk-nepuk kepala Derrel lalu berkata, "Dennis gak salah apa-apa. Dia cuma mau ditanya guru aja. Kamu ga usah khawatir."
"Tapi kata orang lain, ruang BK itu mengerikan. Kak Dennis pasti ketakutan di sana."
"Duh, ga ada yang seperti itu. Dah ayo aku hantar kau ke kelas."
...********♥********...
Setelah mengantar Derrel balik ke kelas, Rei juga pergi ke kelasnya. Di sana ia melihat Leon yang sedang duduk di tempatnya sambil membaca buku dengan tenang.
"Hei, Le. Kau ke mana tadi?" tanya Rei setelah ia berdiri di samping tempat Leon. "Kan aku suruh tunggu di lorong itu."
"Saat kau pergi, Azura pingsan." Jawab Leon. "Aku bawa dia ke UKS. Terus balik ke sini."
Rei terdiam. Tapi dalam batin ia memikirkan sesuatu. "Dugaan ku benar. Patung yang dibawa Azura dari dekat danau itu telah dirasuki oleh makhluk jahat yang sepertinya meminta tumbal. Tapi siapa yang meletakan patung itu di sana?"
...********♥********...
Di ruang BK–
" ... Maaf, hanya itu yang bisa saya beritahu. Saya baru masuk ke kamar mandi, dan melihat korban sudah seperti itu." Dennis berhenti menjelaskan. Saat ini sudah ada 2 guru termasuk wali kelasnya dan seorang polisi yang sedang menginterogasi Dennis.
"Baiklah. Terima kasih, Den. Kamu boleh kembali ke kelas." Ucap wali kelasnya.
Dennis berdiri dari kursi, membungkuk sedikit, lalu pergi. "Permisi."
Di depan ruang BK, Dennis bertemu dengan Arel yang ingin memberikan laporannya ke guru-guru di dalam ruangan itu. Dennis menyapanya. "Hai, Arel."
Seperti biasa, Arel selalu ceria di mata semua orang yang menyapanya duluan. "Oh, halo, Den! Udah selesai berbincang dengan guru?"
Dennis menunduk dan memainkan kuku jarinya. "Emm ... aku takut sebenarnya."
"Tenang aja, Den. Kamu gak bakal dianggap tersangka, kok!" gadis itu menyentuh pipi Dennis, lalu menepuk-nepuk pundaknya. "Dah, balik ke kelas aja sana. Jangan khawatir soal kejadian sekarang. Biar polisi yang menanganinya."
"O–oke, Rel ..." Dennis pun pergi. Kemudian Arel masuk ke ruangan tersebut.
...********♥********...
Saat Dennis melewati ruang UKS, ia kaget melihat Azura yang keluar dari dalamnya. "Eh, Azura di sini ternyata."
Tak lama Azura keluar, ada seorang perawat yang menegurnya. "Eh, kamu udah baikan? Gak duduk dulu?"
"Gak." Azura pergi lagi. Ia berjalan pelan entah mau ke mana. Dennis pun memberanikan diri untuk mendekatinya. "A–Azura baik-baik aja?"
"Nggak, Den. Gw rada pusing. Ga tau kenapa, hari ini gw udh teleport ke segala tempat tanpa gw sadari."
"Eh, aku gak ngerti." Dennis meneleng heran.
"Ck, seingat gw, pagi ini gw dateng, trus dikejar penagih hutang. Pas di gudang, tiba-tiba pandangan gw jadi gelap. Terus bangun-bangun, gw malah liat mayat." Jelas Azura. Mereka berdua masih berjalan beriringan sekalian pergi ke kelas bersama.
"Terus ... gw ke kamar mandi, eh gelap lagi. Abis itu tiba-tiba lu muncul. Gw gak tau kenapa bisa nyekik anak di kamar mandi itu. Abis itu gw lari ... terus ketemu iblis. Gelap lagi, bangun-bangun udah di UKS." Lanjut Azura.
Walau sudah dijelaskan, Dennis masih tidak mengerti dengan pengalaman Azura hari ini. Sampe di kelas, mereka mengambil tas, karena ada pengumuman bahwa semua siswa dipulangkan karena kejadian hari ini.
Azura keluar duluan. Di depan pintu keluar, ia berpapasan dengan Leon. Dia minta diantar ke rumah, lelaki jangkung itu mengangguk aja sambil jalan ke parkiran.
"Makasih ya, Le." Mereka sudah sampai di rumah Azura. Lelaki itu turun lalu melambai kepada Leon.
Rumah Azura sepi karena ibunya bekerja. Kemungkinan tidak kembali hari itu, jadi dia harus mengurus dirinya sendiri. Lelaki itu melempar tas, dan langsung tiduran di kamar tanpa mengganti baju.
"Ra, lu di rumah?"
Azura mengenali suara itu dan langsung keluar. Ia membuka pintu depan. "Lu ngapain?" tanya balik Azura.
"Gw bawain lu makan. Gw denger lu pingsan terus masuk UKS," ucap Dian sambil nyodorin kantong plastik.
"Sok baik, cuih."
"Sesekali. Kan temen. Izinin masuk kek, pegel nih kaki gw!" keluh Dian. Azura mempersilakan masuk, lalu dia pergi ke dapur mengambil sirup untuk Dian.
"Emak lu kemana?"
"Au, gw gak peduli. Nih minum." Azura menaruh gelas berisi sirup berwarna merah dengan es batu dan buah-buahan di dalamnya.
"Gw ke sini bukan mau ngasih makan doang, loh. Main yuk!" Mata Dian berbinar-binar. Kapan lagi dia main sama Azura hanya berdua saja.
"Kek bocah, tapi oke. Mau main apa?"
Dian melihat sekeliling lalu menunjuk stik PS dibawah TV.
"Bentar, gw ambil DVD-nya dulu."
"Lu jarang main ya? Berdebu nih." Dian membersihkan stik PS yang ia temukan.
"Ya, gimana ya .... Dulunya itu buat gw main sama kakak. Tapi kakak gw udah meninggal jadi gw jarang main," jelas Azura.
"Eh bukannya kakak lu masih hidup? Parah lu!"
"Kakak pertama gw, ajg!"
"Yare-yare, kenapa lu gak bilang? Gw bisa nemenin lu main. Dah, siap, nih! Mana DVD-nya?" Azura tidak menyahut. Dian jadi khawatir dan penasaran juga. Dia berdiri lalu memanggil Azura dari bawah tangga.
"Ra! Oy, lu kemana?" seru Dian. Tak lama Azura turun bawa tas. Lalu memberikannya pada Dian.
"Berisik lu! Gw lupa naro DVD dimana. Jadi tolong sabar." Azura menjitak Dian. Orang yang dijitaknya itu hanya tertawa kecil. Dian pun membantu Azura untuk mencarinya di dalam tas tersebut.
*
*
*
To be continued–