
Derrel akhirnya keluar dari ruang BK setelah mendapat beberapa nasihat dan hukuman kecil untuknya. Murid yang ia pukuli, yaitu Yudi, masuk rumah sakit karena lukanya. Jadi Derrel diberikan hukuman skorsing sebulan. Tapi karena ia telah lama menjadi korban bully, hukumannya pun diperingan jadi seminggu saja.
Setelah keluar, Bibinya tak mengatakan sepatah kata apapun selain keluhan napasnya. Derrel menduga kalau bibinya itu pasti sama kecewanya seperti kakaknya. Hal itu membuat hatinya sakit dan ia ingin segera menangis disaat itu juga.
Mata Derrel telah berkaca-kaca. Tapi sebelum ia terisak, bibinya tiba-tiba menoleh ke belakang dan bertanya, "Malam ini, kmu mau makan apa? Bibi beliin."
"Eh? Bibi gak marah sama aku?" Derrel bertanya balik dengan cepat.
"Bibi tau itu bukan kesalahanmu. Kamu mencoba melindungi diri. Yang salah itu mereka yang ganggu kamu," ujar Bibi sambil mengelus-elus kepala Derrel.
"Ta–tapi kak Dennis ... dia marah sama aku." Suaranya bergetar. Ia takut kalau kakaknya akan membencinya dan tidak sayang lagi padanya di kemudian hari.
Bibinya itu menggeleng pelan. "Gak mungkin. Dia pasti punya alasan lain kenapa dia bisa marah. Kamu coba introspeksi diri."
"Hm ... iya, Bi." Derrel mengangguk paham. Bibinya pun pergi pulang duluan. Sementara Derrel ingin ke toilet sebentar. Tapi saat di perjalanan, tiba-tiba bel masuk berbunyi. Derrel pun mulai berlari ke toilet.
Saat tiba di sana, ia langsung menghampiri salah satu bilik dan terkejut. Ia menemukan seseorang yang dikenalnya duduk bersandar pada tembok dengan kepala menunduk. Ada seekor kucing juga yang tertidur di atas toilet duduk yang tertutup.
Begitu mendengar suara langkah kaki Derrel, kucing itu pun terbangun. Derrel memeriksa keadaan orang itu yang ternyata adalah Tio. Derrel memeriksa denyut nadi dan pernafasannya. "Ah, syukurlah. Dia masih hidup. Cuma pingsan doang. Tapi dia kenapa, ya?"
Derrel menarik tangan Tio, lalu merangkulnya dan membawanya pergi dari toilet. Saat ia keluar, Derrel dikejutkan dengan kedatangan Divan dan Simon ke dalam toilet tersebut.
"Ah di sini lu bocil." Divan menyeringai. Lalu ia mencengkram pundak Derrel. "Urusan kita belum selesai."
Derrel menepis tangan Divan, lalu menatap tajam pada lelaki itu. "Aku tak ada waktu untuk meladenimu."
"Mon, pegangin tuh. Tangan gw udah gatel."
Simon mencengkram tangan Derrel, lalu mendorong tubuh Tio. Derrel ingin membalas dengan memukul Simon, tapi tiba-tiba wajah Dennis terbayang di pikirannya. Membuat ia enggan melakukannya dan akhirnya Simon berhasil mengunci tangan Derrel ke belakang.
"Lepasin! Aku cuma mau bawa dia ke UKS!" Derrel memberontak.
"Lu dah bikin temen gw masuk rumah sakit. Sekarang giliran lu yang kita bawa ke sana." Divan mulai mengepalkan tangan, lalu mengangkatnya. Tapi sebelum ia meluncurkan satu pukulan, tangannya ditahan seseorang di belakangnya. Saat Divan menoleh, tiba-tiba wajahnya dipukul dengan keras.
"Akh!! Anj–" Divan mundur menjaga jarak sambil memegang pipi kanannya yang paling sakit. Ia melihat Vann menatap sinis padanya. Divan yang kesal langsung mengarahkan pukulannya ke lelaki itu.
Vann menghindar dengan mengesampingkan kepala, lalu bergerak cepat ke samping tubuh Divan dan langsung memukul kepalanya. Divan pun terjatuh.
Simon mengerutkan alis, lalu melepaskan Derrel. Ia mulai menyerang Vann dengan tinjunya. Tapi Vann menangkis serangan tersebut dengan menangkap tinju Simon, lalu menarik tangannya, kemudian membenturkan sikunya ke punggung Simon. Kemudian lelaki itu pun menghampiri Derrel.
Mendengar rintihan Simon, Tio akhirnya terbangun. ia kaget melihat tempatnya saat ini dan dua orang tumbang di dekatnya. Kemudian ia mendongak melihat Derrel dan Vann.
"Lah kok ... kalian ada di sini?" Tio mulai berdiri, lalu menepuk-nepuk celananya yang kotor. Derrel menghampirinya dan langsung bertanya, "Kau gapapa? Ada yang sakit?"
"Ah, gaada. Cuma pusing dikit." Jawab Tio pelan. Lalu ia celingak-celinguk mencari sesuatu. "Eh, kucingku ke mana?"
"Oh iya, emm ... kayaknya dia keluar toilet."
“Hah?!” Tio langsung bangkit berdiri, mencari kucing kesayangannya itu.
...****************...
Di kelas Tio, seorang siswi menggenggam buku presensi sambil mengelilingi meja murid. Ia pun berhenti di salah satu meja. “Uang kas,” ujarnya sambil menggeprak meja.
“Gw ga ada uangnya, tadi abis traktir ni orang.” Siswa itu menunjuk teman sebangkunya.
“Emang berapa sih utang uang kas kita?” kesal murid sebelahnya itu. Dia merogoh saku celananya dan mengambil uang.
“Dua puluh ribu terus temen lu itu tiga puluh ribu, jadi totalnya lima puluh ribu,” jelas siswi tersebut, lalu dia melanjutkan, “Kalo bayar minggu depan jadi enam puluh ribu.”
“Cih, gw bayar besok dah, janji gw.”
“Kemaren bilang gitu juga, ck. Gw tandain muka lu!” tegas siswi tersebut. Kemudian dia menuju meja Tio, yang tentu saja tidak ada orangnya.
“Nih orang ga ada utang sih, tadi pagi bayar,” gumam siswi tersebut lalu lanjut jalan ke meja belakangnya. “Uang kas,” ujarnya.
“Oke.” Murid itu mengambil dompetnya. “Eh, Adila, aku ada utang lagi gak?” tanyanya.
Siswi bernama Adila itu menghela napas pelan dan menggeleng. Lantas siswi itu memberikan uangnya kepada Adila. Kemudian dia lanjut mengobrol dengan teman sebangkunya.
“Permisi, Tio ada?” Seorang siswa muncul dari arah pintu. Tak ada yang menjawabnya, kelas mendadak hening.
Adila mendekati siswa itu lalu mengajaknya berbicara, “Tio tadi ke toilet, sekarang ga tau kemana. Ada perlu apa?”
“Oh ini buku dia jatuh di depan perpustakaan, tolong kasih ke dia nanti ya.” Siswa itu tersenyum manis.
“Oh, iya iya. Nama kakak siapa?”
“Dennis.” Dennis berjalan menjauh setelah memberitahu namanya.
...****************...
Keesokan harinya. Derrel menjalani masa skors, dia di rumah sendiri. Bibi kerja, paman kerja, dan Dennis sekolah. Suasana rumah tampak berbeda, seperti ada yang melihatnya dari segala arah. “Ah ga enak banget sih di rumah sendiri.”
Saat Derrel ingin mengganti saluran televisi, remot yang dia letakan dia letakan di meja menghilang. “Eh, tadi aku taro sini. Kemana ya?” Derrel menoleh ke arah bawah meja. Tidak ada apapun, dia melihat ke arah bawah sofa.
“Ah itu dia.” Derrel berjongkok di depan sofa dan meraba-raba, untuk mencari remot. “Ini dia.” Derrel mengambil remotnya dan kembali ke posisi semula.
Di belakang sofa, Derrel merasa ada yang mengawasinya. Derrel menoleh beberapa kali, perasaannya sudah tidak tenang. Sambil sesekali menoleh ke belakang, lelaki itu mengambil jaket lalu dia keluar rumah dan bermain dengan anak-anak tetangga.
Namun ia lupa mematikan televisi. Setelah Derrel pergi, televisi itu mati sendiri.
...****************...
Sore harinya, Derrel sedang duduk di depan teras rumah sambil bermain dengan dua ekor enak kucing yang dipangku. Tak lama, Dennis akhirnya pulang. Derrel langsung berdiri dan menatapnya.
"Ka–Kak Dennis ...."
"Udah, diem." Dennis masih saja dingin pada adik kecilnya. Ia langsung masuk dan melewati Derrel. "Aku capek mau tidur. Bilangin kalau bibi udah pulang." Lelaki itu melepas jas dan dasi, lalu pergi ke kamar.
"Ung ... Kak Dennis masih marah." Derrel kembali duduk di depan pintu sambil memeluk dua kakinya. "Salahku juga karena udh bohong sama Kak Dennis. Dia aja ga pernah jahat sama aku. Umm ...."
"Loh, Derrel. Ngapain di luar sendirian?" Bibinya akhirnya pulang. Dia membawakan bingkisan untuk makan malam. Derrel pun membukakan pintu. "Kakakmu udah pulang?"
"Udah. Dia barusan pulang." Jawab Derrel, lalu ikut masuk ke dalam dan menutup pintu. Anak-anak kucing di depan sana pun kembali ke ibu mereka.
Derrel mengikuti bibinya sampai ke dapur. Lelaki itu duduk di depan meja. "Bi, mungkin besok aku mau ke pemakaman Kak Rei."
"Loh kenapa tiba-tiba?"
"Aku kangen dia."
"Mau bibi anter?"
"Ga usah. Aku mau berangkat sendiri."
"Loh gak bareng kakakmu?"
"Gak usah. Aku mau sendiri. Sekalian pulangnya, aku mau mampir ke rumah temen."
"Ah okelah kalau begitu." Bibi jadi sangat mengkhawatirkan Derrel karena dari kemarin, lelaki itu terlihat murung tak seperti biasanya. Sepertinya ia ingin bicara dengan Dennis nanti malam.
...****************...
Di waktu yang sama, Diana juga baru pulang. Ia memiliki rumah yang lumayan besar, tapi di sana ia hanya tinggal bersama dengan para asistennya yang berpakaian maid. Orang tuanya bekerja di luar negeri. Jadi gadis itu harus bertahan hidup di rumahnya dengan para asisten rumah tangga.
Begitu masuk, gadis itu langsung disambut baik oleh salah satu asisten. Diana hanya mengangguk. Lalu ia pergi ke ruangan di lorong terpojok. Ia membuka kuncinya, lalu masuk ke dalam.
Terdapat tangga menuju ruang bawah tanah. Gadis itu memakai cahaya dari lampu ponsel. Lalu masuk ke dalam. Terdapat beberapa ruangan di dalam sana. Diana masuk ke ruangan terpojok.
Di ruangan itu, Diana menyalakan lampu dan seketika terlihat isi ruangan yang mengerikan dengan bercak darah di tembok dan lantai tanahnya. Terdapat banyak senjata tajam dari yang kecil sampai besar tertempel di tembok tersebut.
Gadis itu menghampiri lemari, lalu mengambil plastik hitam besar. Kemudian ia menghampiri salah satu bangkai besar yang telah membusuk dan dipenuhi belatung. Ternyata itu mayat manusia.
Diana memasukkan potongan mayat itu ke dalam plastik, lalu mengikat plastik tersebut. Setelah itu ia membersihkan ruangan tersebut agar lebih rapih dan tidak bau mayat lagi.
Setelah sejam pengerjaan, Diana akhirnya selesai membersihkan isi ruangan tersebut. Tak ada darah lagi dan mayat. Gadis itu meletakan alat pembersih ke tempatnya, lalu pergi menghampiri sebuah papan yang terdapat beberapa foto para gadis di sana.
Semua fotonya telah disilang dengan cat merah. Diana menempelkan satu foto gadis lagi ke papan tersebut, lalu menahannya dengan paku. Gadis itu menyipitkan mata, kemudian pergi dari ruangan tersebut.
...****************...
Diana pergi ke kamarnya. Di sana, ia menyiapkan baju ganti, lalu pergi ke kamar mandi di dalam kamarnya. Ia bersih-bersih diri. Selang beberapa menit, gadis itu keluar dengan rambut panjangnya yang basah terurai dan pakaian baju handuk.
Ia memakai baju yang sudah disiapkannya, lalu mengeringkan rambu dengan hairdryer. Setelah itu, ia membuka sebuah lemari untuk mengambil parfum. Setelah memakainya, Diana meletakkan kembali parfum itu, lalu mengambil sebuah foto dari atas mejanya.
Ia memandang foto tersebut sambil senyum-senyum sendiri. Kemudian ia menempelkan foto tersebut di dalam lemari yang ternyata foto itu adalah fotonya Dennis. Di dalam lemari itu juga ada banyak foto Dennis lainnya dari yang kecil sampai ukuran besar. Semua tertampang di sana.
Lalu setelah itu, Diana menutup lemari dan pergi ke kasurnya. Terdapat suatu benda besar yang membuat bawah selimutnya mengembang. Diana pun membuka selimut tersebut, lalu tersenyum sambil memiringkan kepala.
"Aku pulang, Dennis~"
Dennis yang dimaksud adalah sebuah Ball Jointed Doll yang dibuat mirip dengan orang yang Diana sukai, yaitu Dennis. Dari ukuran badan, wajah, sampai model rambut, semuanya mirip. Diana sangat menyukai boneka besar itu untuk ia peluk-peluk seakan itu adalah pacarnya.
Namun setiap hari, ia sangat berharap bisa memiliki yang aslinya. Diana mendudukkan boneka itu, lalu dirinya duduk di pangkuannya. Gadis itu mengarahkan tangan boneka tersebut ke depan dada seakan sedang memeluknya.
"Ah, ingin sekali aku memilikimu, Dennis." Diana mendongak menatap boneka yang kepalanya berada di atas kepala. Lalu tak lama, gadis itu mencium boneka tersebut tepat di bibirnya.
*
*
*
To be continued–