
Pulang sekolah. Tio izin pulang duluan kepada Vann. Vann sendiri baru selesai piket sambil mendengarkan lagu di headphone-nya. Setelah selesai, lelaki itu menggendong tas, lalu keluar kelas.
Vann melewati lapangan sekolah, dia berjalan lurus menuju pagar. Sontak sebuah bola menghantam kepalanya, Vann terjatuh, headphone-nya juga terlepas. Lelaki itu menatap tajam sekeliling, tetapi matanya langsung terfokus pada Divan yang mendekat dengan bibir menyeringai.
"Sakit ya?" tanyanya. Vann diam saja, dia mengambil headphone yang terjatuh dan menggantungnya di leher.
"Woy, kenapa lu ga jawab gw?" Divan terlihat seperti menahan tawa, lalu berkata, "Bisu ya?"
Vann menarik kerah Divan. Tatapannya tajam seperti akan membunuh Divan saat itu juga. Lelaki yang diancamnya itu justru tertawa. "Hahaha, ngapain lo hah? Ga bisa bales omongan gw ya? Kasian—"
Belum saja selesai bicara, Vann mendaratkan pukulan kencang ke arah pipi Divan. Lelaki itu tidak berhenti begitu saja, pukulan kembali dilayangkan ke arah perut dan dagu. Divan mundur sedikit, dia menyentuh ujung bibirnya yang ternyata terluka.
"Huh, boleh juga ni anak." Divan mengepalkan tangan dan menyerang Vann. Lawannya beberapa kali menangkis serangan Divan.
Vann melihat ada celah, dia fokus ke arah celah itu, tangannya melucur lurus ke arah target. Namun Divan langsung menangkisnya, dengan cepat lelaki itu mencegkram tangan Vann dan membantingnya ke tanah.
Beruntung Vann masih memakai tas, tulang belakangnya masih terlindungi. Namun beberapa debu menghalangi pandangannya. Kaki Divan berhasil mengenai wajah Vann. Serangan kedua, Vann langsung melepas tas untuk menghindarinya dengan mudah.
Sekarang tubuhnya bisa bergerak bebas. Vann mengangkat kedua kepalan tangan ke depan wajahnya. Dia melangkah panjang mendekati Divan, lalu memukul di kepala. Pukulannya meleset, dia langsung memukul uluh hati Divan dengan tangan satunya.
"Ukh!" Divan menyentuh dadanya. Dia sedikit membungkuk, hal tersebut merupakan keberuntungan untuk Vann, lelaki itu berputar dan menendang kepala Divan dengan tumit.
Divan pun tumbang. Namun Yudi dan Simon tidak terima kekalahan bosnya itu. Mereka berdua berlari mendekati Vann.
"Awas saja kau!" seru Yudi. Vann berdecak lidah, malas meladeni mereka. Ia pun menggendong tasnya, lalu memakai headphone-nya kembali. Lelaki itu berbalik badan dan pergi.
Simon mengambil bola dan langsung melemparnya ke arah Vann. Menyadari bola itu melayang cepat ke arahnya, Vann langsung berbalik badan dan menangkap bola tersebut dengan satu tangan.
Dengan cepat ia membidik dan langsung melempar bola itu kembali ke Simon. Kepala Simon terkena hantaman bolanya dan seketika lelaki itu langsung jatuh duduk.
"Aw, gw balas lu nanti!!"
...****************...
Sedangkan Dennis dan Derrel baru saja sampai rumah bibinya. Derrel merebahkan dirinya sebentar sembari menunggu kakaknya selesai mandi. Lelaki itu berguling-guling di atas kasur. Sampai seketika dia melihat seseorang di jendela.
Derrel terbangun kaget. Namun saat melihatnya sekali lagi, tidak ada siapapun di jendela itu. Karena takut, Derrel menarik selimut untuk menutupi wajahnya. Tubuhnya bergetar dan napasnya sesak. Selimut Derrel cukup tipis, samar-samar dia bisa melihat keadaan di luar.
Ceklek!
Napas Derrel tertahan saat mendengar suara pintu itu, keringat mulai mengucur di kening dan leher Derrel. Sosok tersebut semakin mendekat, tangannya meraih selimut Derrel dan mengangkatnya.
"HUAAA!!" Derrel berteriak sangat kencang, membuat Dennis juga ikut terkejut.
"Astaga, kau kenapa, sih?" Dennis mengelus dadanya beberapa kali.
"Ah, kak Dennis, aku pikir sosok mengerikan. Baguslah ternyata tak ada apa-apa," ujar Derrel.
Cekrek!
Derrel langsung menoleh ke arah sumber suara. Itu membuat Dennis semakin bingung. "Rel, kamu kenapa sih? Gara-gara film waktu itu kau begini ya?"
"Bukan, Kak. Ada suara kamera tadi." Derrel merasa aneh, dia sebenarnya tak yakin itu suara kamera.
"Sana mandi. Ga perlu ditemenin kan?" Dennis memberikan handuk Derrel. Respon Derrel, dia tertawa kecil. Dennis menghela napas dan mengantar Derrel ke kamar mandi.
"Tunggu sini," ujar Derrel. Dennis menunggu sambil duduk di kursi yang tak jauh dari kamar mandi. Dia membuka ponsel dan melihat berita-berita di artikel online.
"Berita soal rumah itu udah tenggelam dibeberapa website. Tapi di aplikasi lain masih viral," gumam Dennis.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka dan kepala Derrel keluar dari sela-sela pintu. "Kak Dennis, tolong odol baru dong."
"Ah ya, sebentar." Dennis beranjak dari tempat menuju ruangan di sebelah kamar bibi dan om mereka. Dia membuka laci dan mengambil odol baru. Dennis lupa menutup kembali pintu itu.
...****************...
Malemnya, Dennis selesai makan bersama. Ia mencuci piring, lalu pergi ke kamar duluan. Di sana, ia mengambil buku novel dari atas meja. Tapi di atas tempat tidurnya, Dennis melihat buku coklat misterius itu lagi. Yang sebelumnya ia temukan dari ruang bawah tanah rumah barunya.
Dennis meletakan buku novelnya ke atas meja kembali. Lalu menyentuh buku coklat tersebut. Ia lebih tertarik dengan buku itu. Kebetulan ia juga belum melihat-lihat seluruh isinya. Buku yang lumayan tipis dan tanpa judul, tapi dilapisi dengan sampul coklat polos yang tebal.
Saat Dennis membukanya, isi tulisannya tidak terlalu banyak. Kertasnya terlihat usang, tapi beberapa tulisan masih bisa kebaca. Dennis membulak-balikan halaman dan menemukan beberapa angka-angka dalam buku tersebut.
"Apa ini? Nomor telepon seseorang? Atau sebuah kode?" Dennis tidak paham dengan angka-angka yang tersusun berantakan dalam buku tersebut. Ia pun membalikkan beberapa halaman. Ternyata ada banyak halaman yang disobek. Buku itu dulunya tidak setipis yang sekarang sepertinya karena banyak lembar yang hilang.
Sampai akhirnya, Dennis menemukan tulisan yang membuatnya tertarik untuk membawa buku itu. Yaitu, beberapa peraturan yang tidak boleh dilanggar. Sebelum memulai urutan, terdapat dua kata di atasnya yaitu, "Aturan Keluarga".
Dennis pun membacanya. Terdapat banyak peraturan yang tertulis. Seperti dilarang masuk kamar mandi dengan kaki kanan, menjatuhkan benda selewat jam enam sore, mengetuk pintu pada malam hari, dilarang menyisahkan makanan, dan lain-lain.
"Eh, Kak Dennis lagi baca apa tuh?" tanya Derrel lalu duduk di samping kakaknya.
"Ah ini ... buku yang aku temukan pas itu."
"Kak Dennis masih menyimpannya?"
"Iya. Mungkin nanti aku mau balikin ke tempat asalnya. Takut hal buruk terjadi."
Derrel mengangguk pelan. Ia menghampiri lemari bajunya, lalu membuka celengannya. Dennis memperhatikan adiknya itu, lalu bertanya, "Kau mau apa dengan duit itu?"
"Ah ini ... aku mau bawa lebih uang saku agar aku tidak diganggu temen sekelasku." Jawab Derrel dengan jujur.
Dennis mengerutkan kening, lalu mendekati Derrel. Ia melarang adiknya itu untuk mengeluarkan uangnya. "Kau masih mau nuruti mereka???"
"Ta–tapi Kak Dennis ... nanti mereka bakal memukulku kalau aku gak kasih uang."
"No. Jangan, Rel. Kalau kamu begini terus, mereka jadi keenakan."
"Ta–tapi ... aku takut kalau dia–"
"Rel. Aku berjanji akan melindungimu!" Dennis mengatakannya dengan yakin. Tapi pada keesokan harinya, Dennis yang dipukuli oleh tiga pembully Derrel di kelas adiknya sendiri.
"Kak ... kak Dennis! Udah, cukup!" Derrel menarik-narik baju Divan untuk menjauhkannya dari kakaknya. Tapi Divan menyingkirkan Derrel dengan mendorongnya. "Kau yang mau kupukul?!"
"Ung ..." Derrel menggeleng pelan. Ia melirik ke arah Dennis yang masih dipukuli di depan matanya. Ia jadi merasa bersalah.
"Udahlah ... stop." Titah Divan pada Simon dan Yudi. "Gak guna juga sih mukulin dia. Habis-habisin tenaga aja." Lelaki itu menghampiri Derrel lalu berbisik, "Besok masih gak bawa juga, kubunuh kakakmu itu."
Divan pergi keluar kelas. Diikuti oleh Simon dan Yudi. Beberapa anak yang baru datang mulai berani mendekati Dennis untuk melihat keadaannya. Begitu juga dengan Derrel. "Kak, Kak Dennis, bangun! Ayo kita ke UKS!"
Dennis membuka mata, lalu bangun terduduk. Ia mengelap darah di bibir dengan lengan baju, lalu bersandar pada tembok. "Ah tidak usah, aku mau pergi ke kelas aja."
Dennis mulai berdiri secara perlahan, lalu menepuk-nepuk kepala adiknya. "Kalau mereka ganggu kamu lagi, bilang sama aku, ya?" Derrel tidak berani menjawabnya. Entah ia mau bilang iya atau tidak. Karena dengan kedua jawaban itu, kakaknya bisa dipastikan akan terluka lagi kedepannya.
Derrel memilih diam. Dennis menghela napas, lalu berjalan pincang keluar pintu kelas. Di depan sana, ia berpapasan dengan Vann yang baru datang. Mata lelaki itu sedikit terbuka saat melihat Dennis dengan wajah dipenuhi lebam.
Setelah Dennis menjauh, Vann melihat keadaan dalam kelasnya sangat berantakan. Tapi kini sedang dibereskan oleh anak-anak yang lain. Di depan papan tulis, ia melihat Derrel yang sedang menangis sambil berdiri.
Vann menulis sesuatu dalam buku kecilnya, lalu berlari kecil menghampiri Derrel dan menunjukkan tulisannya tersebut. "Ada apa?"
Derrel membuka mata, lalu mengelap air matanya. Ia melihat tulisan tersebut, lalu menjawab, "A–aku membiarkan kakakku terluka. Itu semua gara-gara aku ... hiks ... aku payah tidak bisa melakukan apapun!"
Vann kembali menulis sebentar, lalu menunjukkannya pada Derrel. "Dibully lagi?"
Derrel hanya mengangguk. Vann kembali menulis. "Pelakunya masih sama?"
"I–iya ... tiga orang itu lagi ... hiks ..."
Vann menepuk-nepuk punggung Derrel untuk menenangkannya. Lalu ia mengajak Derrel ke tempat duduknya, setelah itu Vann juga duduk di tempatnya. Seketika, mood pagi harinya hancur hanya karena mendengar cerita dari Derrel.
"Mau mereka sebenarnya itu apa sih?" batin Vann dengan geram.
...****************...
Begitu sampai di kelasnya, Dennis duduk bersandar di tempatnya. Ia mengambil tisu kecil yang ia bawa dari rumah, lalu meneteskannya dengan air. Setelah itu, ia mencoba untuk membersihkan lukanya sendiri. Walau menyakitkan, ia tetap melakukannya.
Tak lama kemudian, Diana datang ke kelas itu. Ia langsung menaruh tas di atas mejanya, lalu melirik ke arah Dennis. Gadis itu menghampirinya dan melihat keadaan Dennis.
"Ah, Diana ... kau udah datang?" tanya Dennis sambil mengelap wajahnya dengan tisu basah. Ia selesai dengan tisu terakhir itu.
Diana terkejut melihat wajah Dennis yang lebih terluka dari kemarin. Sebelum bertanya, gadis itu mengeluarkan sesuatu dari kantung jasnya. Ia memberikan sebuah plester dengan gambar bunga-bunga kepada Dennis.
"Ah tidak usah, aku gapapa, kok!" Dennis menggeleng pelan dan menolaknya dengan halus. Tapi Diana tetap memakaikan plester itu ke pipi Dennis lalu menyentuh tengkuk lelaki itu dan menatapnya.
"Tidak perlu menolak. Kau membutuhkannya."
*
*
*
To be continued –