
Dian semakin mempercepat langkahnya hingga akhirnya ia sampai kembali ke depan toko fotocopy. Di sana ada pertigaan jalan raya. Dian ingin lewat belakang saja agar lebih sepi dan tidak ada orang lain yang melihatnya.
Namun saat ingin pergi, Dian sempat melihat sebuah mobil pribadi yang modelnya terlihat tak asing di matanya. "Ah, itu dia!" Dian sangat bersyukur mobil itu datang. Jadi ia pun langsung berjalan ke tengah untuk menjegat mobil tersebut. Saat mobil itu berhasil mengerem mendadak dan nyaris menabrak Dian, pengemudinya pun keluar dari mobil.
"Apa yang kau lakukan di tengah jalan begitu? Mau mati, kah? Pikirkan masa depan, nak!"
"Maaf, pak! Tapi ini penting!" tegas Dian. Lalu ia berjalan ke depan pintu belakang mobilnya. Dengan satu tangan, ia mengetuk-ngetuk kaca mobilnya. "Le! Gw tau lu di dalam, tolongin, nih!"
Tak butuh waktu lama, orang di dalam sana pun membukakan pintunya langsung. Ia membiarkan Dian masuk. Tapi sebelum itu, ia memindahkan tubuh Azura dan menggendongnya di depan. Saat di dalam mobil, Dian memangkunya seperti anak kecil.
"Tuan muda? Apa tidak apa-apa ...."
Sopirnya kembali masuk. Tapi sebelum Leon menjawab, Dian sudah menyelanya. "Tolong! Rumah sakit terdekat sekarang!"
"Tapi sekarang ... Tuan Leon akan pergi ke–"
"Ikuti saja." Leon menyela dengan dingin.
"Baik, Tuan." Sopir itu kembali masuk ke dalam mobil dan langsung menyalakan kembali mesin mobilnya. Setelah itu, ia memutar balikan mobil karena jalan menuju rumah sakit telah terlewat tadi.
"Le, ada kain atau apa gitu yang bisa buat nutupin matanya bentar?" tanya Dian. Entah kenapa ia jadi semakin panik saat melihat mata kanan Azura yang terus mengeluarkan darah. Ia takut temannya kenapa-napa.
Leon mengambil sesuatu di bangku belakang lalu menunjukkan sebuah kotak P3k yang di dalamnya terdapat perban lembut untuk menghentikan pendarahannya sementara.
Dian menerimanya dan langsung mengurusi Azura. Sementara itu, Leon hanya melihatnya saja dengan tatapan kosong khasnya. Tapi sebenarnya ia juga penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada kedua temannya itu.
...*******♥*******...
Setelah sampai di tujuan, Dian langsung membuka pintu mobil. Tapi sebelum pergi, ada yang ingin Dian minta dari Leon.
"Le, gue boleh pinjem duit gak? Plis, gue gak ada duit sama sekali. Ini juga gak sengaja ketemu Azura."
Leon menghela napas dan memberikan kartu berwarna hitam. Dian hanya memandanginya, lalu berkata, "Emang bisa pake kartu mainan?"
Leon memicingkan mata dan hendak menaruh kembali kartunya di dompet. Namun Dian langsung menyelanya, "Iya, iya, gue butuh. Sekalian minta pinnya."
Leon memberikan secarik kertas dan mengisyaratkan agar Dian cepet keluar. Bukan mengusirnya, dia khawatir pendarahan Azura semakin parah. Dian kembali menggendong Azura dipunggungnya
"Ra, masih hidup, kan? Bertahan ya." Batin Dian yang semakin cemas. Tapi sebelum ia menutup pintu, Dian bertanya pada Leon, "Kau gak ikut?"
Leon menggeleng, lalu menempelkan kedua telapak tangannya ke depan. Kemudian ia menjawab, "Maaf. Les."
Dian paham. Ia mengangguk, lalu mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarnya. Setelah itu, ia berlari masuk ke rumah sakit tersebut. Beberapa orang memperhatikannya dengan heran.
Sementara itu di belakang, Leon masih menatap Dian sampai ia tidak melihat lelaki itu lagi. Lalu setelah itu, ia meminta sopirnya untuk pergi karena ia sudah terlambat.
...*******♥*******...
"Tolong! Siapa aja! Banyak orang kan di sini?!" Di depan pintu masuk, Dian berteriak pada siapapun yang ada di dekatnya. Termasuk ke pengunjung rumah sakit itu.
Lalu tak lama, seorang suster bersama dengan pria berpakaian jas putih seperti dokter menghampirinya dengan tergesa-gesa. "A–ada apa?" tanya dokter itu.
"Tolong rawat teman saya sekarang, Dok! Dia udah kehilangan banyak darah!"
Dokter itu mengangguk paham. Lalu seorang suster membawakan sebuah ranjang pasien, lalu Dian membaringkan tubuh Azura di sana. Beberapa suster lainnya pun langsung mendorong ranjang itu untuk memberikan penanganan khusus untuk Azura di suatu ruangan.
Dian mengikutinya dari belakang bersama dengan dokter yang akan memeriksa Azura. "Memangnya kenapa temanmu bisa sampai seperti itu?"
"Dia ketabrak mobil, Dok!" jawab Dian cepat.
"Tapi kok matanya sampai hilang?"
"Ah, itu ... tubuhnya sempat terlempar, lalu matanya menancap di batu."
"Oh, semoga dia bisa tenang."
"Temen saya belum mati, woe! Tolongin, ya? Sebelum mati beneran, dia!"
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin," ujar Dokter itu. Lalu saat tiba di ruang UGD, ia tidak membiarkan Dian masuk dan menyarankan untuk tunggu di luar. Dian menurutinya dan ia pun duduk di ruang tunggu. Perasaannya masih belum tenang. Bahkan sangking paniknya, ia sudah tidak merasakan lapar. Tapi haus.
Setelah beberapa menit duduk, ia memutuskan untuk pergi mencari minum. Tapi ia sadar, kalau ia sudah tidak punya uang lagi. Jadi ia hanya bisa duduk dengan tenang sambil nunggu dokter itu keluar dari ruang UGD dan memberitahu keadaan Azura padanya.
"Duh, Azura kenapa sih tadi?" Sambil duduk, Dian masih terus memikirkannya. Ia benar-benar cemas saat ini. "Kalau gw gak ketemu sama dia,, mungkin dia sudah ... ah, Dian, Dian ... jangan mikirin yang aneh-aneh."
...*******♥*******...
Derrel dan Dennis bersiap menuju rumah sakit karena penyakit asma yang diderita ibu mereka sudah semakin memburuk. Tak sengaja, Derrel melihat Dian yang sedang duduk sambil melihat ke arah pintu ruang UGD yang ada di ujung lorong.
Dennis dan Derrel meninggalkan ibu mereka yang masih menunggu namanya dipanggil dokter di ruang tunggu, lalu berjalan menghampiri Dian. "Eh, Kak Dian ada di sini juga? Lagi ngapain?" Dennis menegur duluan.
Dian sedikit terkejut dengan kehadiran mereka berdua, lalu berdiri dari kursi. "Emm ... itu–"
Grrrkk ....
Suara pintu di belakang Dian pun terdengar. Dengan cepat, lelaki itu langsung berbalik badan dan menghampiri dokter yang keluar dari dalam ruangan itu. "Bagaimana dengan keadaannya?!"
"Eh, Kak Dian kenapa?" batin Derrel heran sambil memperhatikan tingkah temannya itu.
"Dia baik-baik saja. Adek tenang saja. Tapi untuk menutup lukanya dan mengobati luka dalam, dia butuh operasi segera." Jelas dokter itu.
Dian menggenggam erat kartu rekening yang dipinjamkan Leon. Ia tidak berani memakai uang jutaan yang ada di dalamnya karena sebelumnya ia hanya bilang kalau ingin memakai sedikit. Dian tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang.
"Ck, buat operasi ... dapet duit dari mana gw?" gumam Dian dalam hati. "Apa keluarganya akan sanggup membiayainya? Tapi gw juga ingin membantu."
"Emm ... apakah ada keluarga korban yang bisa dihubungi?" tanya dokter itu.
Dian tersentak. Ia langsung mengambil ponsel, tapi ingat kalau ia tidak punya nomor ibunya Azura. Ingin menggunakan ponsel Azura juga, dari tadi Dian tidak menemukan ponselnya di mana-mana. Di tasnya juga udah tidak ada.
Dian menggaruk kepala, lalu menjawab, "Emm ... saya akan menjemput orang tuanya, deh!" Dian langsung bergegas. Ia meminta dokter itu untuk menjaga Azura dulu. Tapi sebelum pergi, Dennis menahan tangannya.
"Dian. Sebenarnya ada apa?"
"Ah, sebenarnya ..." Dian tidak bisa menjelaskan semuanya. Jadi ia langsung ke intinya saja. "Gw juga tidak tahu. Tapi di dalam sana ada Azura yang terluka parah dan dia harus dioperasi. Makanya sekarang gw ingin ke rumah dia buat ngasih tau emaknya."
Sontak Dennis dan Derrel pun terkejut mendengarnya. "Eh?! Kak Azura? Dia emangnya kenapa?"
"Gw gak tau kejadian detailnya. Intinya sekarang gw mau ke rumahnya dulu deh."
"Tunggu, Dian! Aku ikut!" tegas Dennis lalu berjalan di samping Dian. Derrel mengejar mereka berdua. Ia juga ingin ikut, tapi Dennis melarangnya karena ia harus menjaga ibunya dulu sementara itu, Dennis dan Dian mau pinjam mobilnya bentar.
"Eh, tapi nanti kalau ibu sudah selesai, trus kalian belum datang, nanti ibu mau pulang naik apa?" tanya Derrel.
"Telepon ayah atau kak Rei suruh jemput pake mobil yang satunya, ya?"
"Oke, oke! Kalian berhati-hatilah!" Derrel mengangguk cepat, lalu berbelok ke lorong yang di sampingnya untuk pergi menemui ibunya. Sementara itu, Dennis dan Dian akan pergi ke rumah Azura dengan menggunakan mobilnya Dennis.
Derrel duduk di sebelah ibunya yang sedang menatap layar ponsel. Lelaki itu penasaran, tetapi dia tidak ingin menganggu privasi ibunya. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri, melihat pasien-pasien lain.
Sampai matanya tertuju kepada seseorang. Kepalanya ditutup dengan penutup jaket yang dia kenakan. Bukan masalah jaketnya yang diperhatikan oleh Derrel. Tetapi seperti ada bayangan sesuatu di samping orang itu.
Derrel berusaha mengabaikannya. Tak lama, nama ibu Derrel di panggil. Mereka bangkit dari tempat duduk dan menuju ruang dokter.
Sedangkan Dennis, dia menunggu Dian yang masih mengobrol dengan ibu Azura. Suara ibu itu yang menggelegar membuat Dian dan Dennis terkena serangan mental. Namun memang begitulah nadanya, mirip Azura. Agak nyolot dan bernada tinggi.
Setelah selesai, mereka kembali ke mobil. Dian menyandarkan badannya ke kursi mobil sambil mengatur napas. Dia merasa seperti dibentak ibu sendiri. Dennis membuka ponsel, ada pesan dari adiknya.
"Ah, ibu udah selesai. Aku anterin Dian dulu baru ke rumah sakit lagi." Dennis bergumam lalu mulai menjalankan mobilnya ke rumah Dian.
...*******♥*******...
Sudah tiga hari berlalu. Hal tak biasa hari ini, Dian datang terlalu pagi ke sekolah. Dia memandangi kursi kosong di depannya yang merupakan tempat duduk Azura. "Ah, gak asik. Gak ada yang bisa diajak gila bareng. Gw mati gaya tiga hari," ujar Dian seraya menendang pelan kursi itu.
"Kenapa lu nendang-nendang kursi gw!?"
Dian mengangkat kepala, matanya berbinar-binar melihat sosok itu.
"Aaaa Azura!" Dian memeluk Azura dengan senangnya, lalu berkata, "Lu tau gak, Ra? Gue sampe dibilang tipes satu kelas, gegara gw diem-diem doang."
"Dih biasanya godain cewek, terus ngapain diem-diem doang?" Azura menarik kursi dan meletakan tasnya di sana.
"Cewek mana lagi, Ra? Guru?" Dian berkacak pinggang. Azura menyeringai penuh arti. Dian tau itu bukan sesuatu yang bagus.
"Gue normal, Ra." Nada pasrah terlontarkan dari mulut Dian.
Kejahilan Azura tidak berhenti, dia berkata, "Masa?"
"Dih, anying! Gue pukul lu!" Dian menangkat tangannya, siap memukul Azura.
"Pantes ribut amat. Berantem di luar sono!" bentak ketua kelas yang baru masuk.
"Ton, lu gak kangen apa sama gue?" Azura berpura-pura sedih. Namun ketua kelas itu bergidik geli.
"Udah, Ra. Ayo ke kantin, gue traktir bakso." Dian merangkul Azura, menggiringnya ke kantin dan membelikan bakso yang dia bilang tadi. Saat pesanan sampai di meja mereka. Azura hanya memainkan baksonya.
"Ngapain sih lu? Pusing tuh baksonya diaduk-aduk mulu." Dian tidak tahan dengan kelakuannya, pada akhirnya menegur Azura.
"Gue kangen digendong lu."
Bakso yang belum sama sekali dikunyah, lolos begitu saja masuk ke kerongkongan Dian. Dian terkejut mendengarnya.
"Duh, anjir. Gak pas banget lu ngomongnya. Untung baksonya gak nyangkut, bisa punya dua jakun gue nanti." Dian mengelus lehernya sendiri kemudian mengambil es teh di sebelah mangkuk.
"Bercanda elah. Gue kangen mata gue," ujar Azura seraya menyentuh penutup mata yang menutupi mata kanannya. "Maling sialan. Kalau ketemu lagi, gua patahin tangannya."
"Lah? Lu sendiri juga kalah, kan?" Dian membalas. Lalu ia teringat sesuatu. "Eh, tunggu– Ngomong-ngomong kok lu bisa dikeroyok sama tuh bapak-bapak, ya? Emangnya lu abis ngapain, sih?"
"Ah, mager gua ceritainnya. Intinya gua abis kejambretan." Azura membuang muka, lalu menopang dagu di atas meja. "Udah itu, mata gua juga yang jadi incarannya. Gila."
"Ikhlasin aja elah. Paling penjahatnya mati tuh ketabrak truk." Dian kembali menyantap baksonya dengan santai.
"Dih, sok-sokan jadi cenayang." Azura mulai menyuap baksonya ke dalam mulut. Setelah selesai makan, mereka menunggu sampai bel sekolah di kelas. Sepuluh menit sebelum bel berbunyi, Dennis baru memasuki kelas. Ini hal yang tidak biasa.
"Kok lu baru masuk? Apa jiwa kita ketuker, Den?" Dian meraba tubuh kecil temannya itu.
"Gak kok. Tadi tuh jalanan macet, ada kecelakaan tabrakan gitulah katanya truk sama mobil pribadi," jelas Dennis. Dian melirik kearah Azura, begitu juga sebaliknya.
"Oh ya, Azura. Gimana mata kamu?" tanya Dennis.
"Ya, ilang. Gak tau kemana. Ilang satu mata doang gak buat gue depresi, tenang aja." Jawab Azura.
Dennis mengangguk paham. Lalu ia ingin bertanya soal penyebab hilangnya mata Azura, tapi sebelum itu guru di kelas mereka pun datang. Terpaksa Dennis harus segera duduk di tempatnya.
...*******♥*******...
Bel berbunyi dari dua menit yang lalu. Tetapi Rei baru keluar dari kamar mandi. Dia tau guru-guru sedang rapat sampai nanti jam mata pelajaran kedua. Dia tak sengaja berpas-pasan dengan Leon yang tak biasanya dia memakai jaket, sampai memakai penutup kepalanya.
Rei tidak terlalu peduli, kembali menuju kelas. Ruangan benar-benar sepi, kemungkinan semua murid ke kantin. Hawa dingin yang menusuk tiba-tiba datang. Rei menoleh ke segala arah.
"Kak Rei?"
Rei tersentak. Dia menoleh ke arah pintu, sumber suara. Orang yang memanggilnya ternyata Arel yang tiba-tiba datang ke kelasnya. Sebelumnya, Rei tidak melihat tanda gadis itu akan datang.
*
*
*
To be continued–