THE RULES

THE RULES
Episode 33



"Isinya tentang peraturan apa saja yang gak boleh dilanggar."


Derrel menerima buku tersebut. Dia membuka buku itu dan membacanya, itu buku diary seseorang. Karena terlalu panjang, lelaki itu membalikan beberapa halaman sampai ke halaman yang dimaksud Dennis.


Ia hanya melihat sekilas, tapi tidak membaca semuanya. "Eh, tapi kok kak Dennis gak kenapa-kenapa?" tanya Derrel


"Mungkin karena inangnya udah meninggal, yang kemungkinan besar itu si Farel," jawab Dennis.


Derrel mengangguk paham. Dia menutup bukunya. Kakak beradik itu meninggalkan lokasi rumah besar mereka yang kini telah terbengkalai kembali. Mereka melewati jalan kecil, lalu kembali ke pinggir jalan raya. Di sana mereka mencari taksi untuk pulang.


Jalanan di sana cukup ramai. Ada saja kendaraan umum yang lewat. Jadi tak menunggu waktu lama, ada sebuah taksi yang lewat dan keduanya pun memanggilnya. Mereka pulang dengan taksi.


Saat diperjalanan, Derrel menatap keluar jendela. Dennis juga begitu.


"Kak Dennis, aku kangen kak Rei. Sama Bunda, Ayah juga ...."


"Jangan dipikirin terus, Rel. Mereka udah tenang di alam lain. Mungkin suatu saat nanti, kita bisa bertemu mereka lagi." Balas Dennis, lalu menepuk-nepuk kepala Derrel.


"Kak Dennis jangan cepet nyusul mereka, ya? Aku nanti gak punya siapa-siapa."


"Nggak akan kok, Rel. Aku bakal selalu ada untuk Derrel."


Derrel tersenyum samar, lalu kembali menatap jendela. Entah kenapa, ia merasa kalau kata-kata kakaknya itu kurang meyakinkan. Ia hanya bisa menghela napas dan berusaha untuk melupakan orang-orang terdekatnya yang sudah tiada. Hanya untuk menghilangkan rasa kesedihannya.


Mereka melewati sebuah danau. Saat Dennis perhatikan, seketika sebuah ide mendadak terlintas di kepalanya. Dia menyentuh pundak Derrel. "Rel, Rel. Gimana kalau kita ke pantai?"


"Berdua aja?" Derrel menghela napas panjang.


"Iya, kita harus cari suasana baru, Rel. Jangan kepikiran mereka terus." Dennis mengusap-usap punggung Derrel.


Derrel mengangguk. "Kapan kita pergi?"


"Besok?"


"Oke, yey!!" Derrel mengangkat kedua tangannya ke udara. Senyuman manis kembali muncul di wajah lelaki itu. Dennis ikut senang karena perasaan Derrel mulai membaik.


Mereka memang membutuhkan waktu untuk bersenang-senang setelah kejadian mengerikan yang menimpa keduanya. Mereka berdua memutuskan untuk memulai hidup baru dan berharap, kedepannya akan bisa lebih bahagia.


...********♥********...


Di rumah, Derrel langsung lari ke kamar. Dia mengambil koper dan mengemas beberapa baju dan kebutuhan lain untuk mereka pergi besok. Sementara Dennis masih membicarakan rencana mereka pada bibinya. Untungnya sang bibi mengizinkan kedua adik kakak itu untuk berlibur bersama. Beliau juga akan memberikan sedikit uang saku untuk keduanya.


Setelah pembicaraan itu selesai, Dennis kembali ke kamar dan menemui Derrel. Lelaki itu melihat buku yang dia ambil dari ruang bawah tanah dekat rumah besar tadi. Setelah memandanginya, mendadak Dennis merasa cemas.


"Apa gak masalah aku bawa pulang benda ini?" Batin Dennis bertanya-tanya. Ia ingin menyentuh benda itu, tapi tiba-tiba suara Derrel mengejutkannya.


"Kak Dennis, ayo berkemas! Gak jadi besok?" Teriakan Derrel menyadarkan dia.


"Ah iya! Besok jadi kok. Bibi udah ngizinin." Dennis meletakan buku itu di atas kasur lalu meninggalkannya. Ia mengambil tasnya, lalu membuka lemari untuk mengambil sedikit baju gantinya. Lalu ia juga mengeluarkan sebuah celengan berbentuk kepala kucing.


"Kau juga punya tabungan, kan, Rel?" tanya Dennis.


"Iya, aku punya, kak. Aku kan rajin." Derrel menunjukkannya. Celengan miliknya itu berbentuk kepala Anjing. Kedua celengan itu dibelikan oleh bunda mereka dulu.


"Kita pakai uang sendiri ya, Rel. Aku gak mau ngebebani bibi terus."


Derrel mengangguk. "Iya, kak!" Lalu ia membuka kunci celengannya tersebut. Ternyata sudah rada penuh dan Derrel bisa bebas mengambil uangnya sesuka hati. Begitu juga dengan Dennis.


Setelah Dennis siap, dia meletakkan tasnya di samping lemari. Lelaki itu belum menyadari bahwa buku yang dia bawa tadi tak ada di tempat.


"Kak Dennis, aku mau tidur duluan." Derrel merebahkan diri di kasur.


"Udah gosok gigi?"


"Udah, Kak!" jawab Derrel. Lelaki itu mengambil guling dan mulai menutup mata. Tak lama, Dennis mematikan lampu dan ikut tidur juga bersama dengan Derrel.


...********♥********...


Keesokan harinya, Dennis dan Derrel sudah menggendong tasnya masing-masing dan membawa koper kecil mereka. Sebelum pergi, keduanya berpamitan, lalu memesan kendaraan online untuk mengantar mereka ke stasiun.


Saat tiba di sana, Dennis pergi sebentar untuk mengantri di depan loket tiket. Hari ini rada ramai karena beberapa dari mereka menggunakan kereta untuk pergi bekerja. Sementara Dennis membeli tiket, Derrel akan menunggu sambil memainkan ponselnya.


Saat sedang asik scroll foto di media sosialnya, tak sengaja ia menemukan foto Leon. Ia pun membuka akun milik temannya itu lalu melihat-lihat. "Wah, pengikut Kak Leon lumayan banyak juga. Dia bukannya pernah bilang kalau gak suka difoto, ya? Tapi fotonya di sini ada banyak."


"Oh ... kau gak tau, Rel?"


"Eh kak Dennis ngagetin aja!" Derrel terkejut melihat Dennis sudah ada di sampingnya.


"Hehe ... Kak Leon itu kan pernah jadi model. Jadi foto-foto dia itu banyak. Makanya dia lumayan terkenal di sekolah." Jelas Dennis.


"O–oalah ... aku gak tau ..." Sambil berjalan mengikuti Dennis untuk ke peron, Derrel melihat foto terakhir yang Leon post di akunnya. Ia melihat komentar. Ternyata dipenuhi oleh ungkapan duka cita dari para fansnya.


"Te–ternyata ada banyak yang sedih kalau Kak Leon udah gak ada. Aku juga merasa begitu ...." batin Derrel. Ia pun mematikan ponselnya, lalu menyimpannya di tas.


"Kamu kenapa, Rel?" tanya Dennis yang cemas melihat Derrel tiba-tiba murung.


Derrel langsung menggeleng cepat, lalu mengelus-elus pipinya dengan tujuan menyamarkan air mata yang mau keluar. "Gak, gapapa, Kak Dennis! Eh itu keretanya udah datang!"


"Wah, lebih cepat dari dugaanku. Ya udah ayo masuk. Hati-hati sama langkahmu, Rel."


"I–iya, kak!"


Seketika sinar matahari menerpa kulit Derrel. "Wah, kulitku bakal gelap deh pasti," ujarnya.


Tak lama Dennis datang membawa krim sunscreen. "Pake ini dulu dong, Rel."


"Hehe, lupa kak. Aku terlalu bersemangat." Derrel menggaruk kepalanya.


"Nih, pake." Dennis menyodorkan krim itu. Derrel pun memakainya.


Dennis mendekati bibir pantai. Gelombang kecil mendekat ke arahnya, lalu menyentuh kakinya. Lelaki itu megambil karang panjang, lalu menulis sesuatu di pasir.


"Kak Dennis, aku mau juga nulis-nulis." Derrel jongkok di dekat Dennis.


"Ini, aku mau cari kerang di sana." Dennis menunjuk ke arah tengah laut lalu menghampirinya.


" jangan jauh-jauh!" Derrel memperingati, lalu kembali menggambar sesuatu di pasir.


Dennis mengangguk. Dia ke tengah pantai dan melihat-lihat ke dalam air. Ia menemukan satu kerang, tapi keburu dibawa ombak. "Hm, susah juga. Airnya goyang-goyang."


Dennis akan mencari ke tempat lain. Lalu tak lama, ia mendengar suara langkah seseorang yang sedang berlari di atas air. Dengan suara cipratan airnya juga. Lelaki itu menoleh, tapi tak menemukan siapapun.


Ia menggaruk kepala, lalu celingak-celinguk. "Kayaknya aku kejauhan. Ah ada karang besar di sana. Pasti ada kerang yang nempel." Dennis pun menghampiri tumpukan karang tersebut. "Ung, ombaknya agak besar di sini. Kayaknya berbahaya."


Dennis memutuskan untuk kembali ke tempat Derrel. Tapi sebelum itu, ia sempat melihat sebuah gua kecil tak jauh dari sana. Dennis berjalan pelan menghampiri gua tersebut dan betapa terkejutnya ia melihat sosok Farel yang berdiri di depan gua yang gelap itu.


Dennis pun mundur ke belakang. Tak sengaja kakinya menginjak karang kecil dan membuatnya kesakitan. Ia teralihkan dengan karang itu, lalu kembali melirik ke gua. Sosok Farel yang dilihatnya sudah tidak ada di tempat.


"Ah apa aku cuma halu?" Dennis celingak-celinguk, lalu ia memutuskan untuk kembali ke Derrel saja.


...****************...


Saat Dennis kembali ke tempat adiknya, ternyata adiknya itu sedang membuat istana pasir. Tapi bersama dengan seseorang yang tak asing di matanya. Dennis pun menghampiri kedua orang itu.


"Eh, Diana! Bagaimana kabarmu?" Dennis menyapa duluan.


Diana menghancurkan istana pasirnya, lalu mendongak. "Baik." Jawabnya singkat dengan tatapan biasanya. Lalu dia kembali membuat istana pasir yang baru.


"Yang tadi kenapa dihancurin?" tanya Dennis heran.


"Aku bosan dengan model yang itu-itu aja." Jawab Diana sambil mengumpulkan pasir basah yang akan dibuatnya menjadi bentuk sesuatu. Dennis agak heran dengan jawabannya, jadi ia pun memperhatikan adiknya.


"Derrel, kau diam aja dari tadi."


"Bentar," ujar Derrel sambil membentuk pola atap untuk rumah pasirnya. "Ah selesai. Aku lagi fokus, hehe ...."


"Oh ya, gak mau berenang di lautnya?" tanya Dennis.


"Gak dulu, kak. Gak mood." Derrel selesai bermain pasir. Lama-lama ia merasa bosan juga. "Kak Dennis, ada hal lain yang bisa dilakukan?"


"Umm ..." Dennis memperhatikan sekitar. Rata-rata para pengunjung di sana hanya bermain air dan pasir. Tidak ada hal lain. Tapi ada juga yang makan bersama dengan keluarga mereka. "Hmm ... mau ke toko cendramata?"


"Ngapain?"


"Beli oleh-oleh."


"Sebelum itu, bagaimana kalau kita ke Sea World?" Diana menyarankan sebuah tempat yang sebenarnya ingin ia kunjungi. Gadis itu berdiri, lalu menepuk-nepuk roknya. "Katanya mereka akan mengadakan pertunjukan lumba-lumba."


"Eh lumba-lumba?? Ayo Kak Dennis, kita tonton!" Derrel terlihat bersemangat kembali. Begitu juga dengan Dennis. "Oke ayo kita pergi bareng-bareng. Tapi aku mau beli tiketnya dulu. Oh ya di mana tempatnya?"


"Gak jauh dari sini. Ayo!" Diana jalan duluan. Disusul oleh Dennis dan Derrel.


...****************...


Mereka akhirnya sampai di tempat yang ditunjukkan Diana. Cukup ramai pengunjung juga. Tapi tidak seramai saat hari libur. Pertama Dennis membeli tiket. Diana akan membayar untuk dirinya sendiri.


Setelah itu mereka bertiga masuk bersama, disambut dengan hiasan dan pernak-pernik bertema lautan. Ada banyak kolam ikan di dalamnya dan juga beberapa aquarium raksasa.


"Keren! Kayak lagi di bawah laut, tapi gak basah." Ujar Derrel dengan senangnya. Lalu ia menyusuri lorong aquarium raksasa. Dennis juga ikut, begitu juga dengan Diana.


"Kira-kira berapa tingginya sampai ke permukaan ya?" Dennis ingin melihat atasnya, tapi tidak bisa karena terhalang kaca tebal.


"Dennis, kau suka ikan yang mana?" tanya Diana sambil mengelus-elus kaca aquarium.


"Ikan tropis yang kecil-kecilnya bagus. Walau aku kurang tau sama namanya, haha ..." Jawab Dennis, lalu tertawa kecil. Diana sedikit menyipitkan mata, lalu tersenyum dan membuang muka.


"Eh liat itu ikan pari!" Derrel lari duluan ingin mengejar ikan itu. Dennis juga mau tahu ke mana perginya spesies besar tersebut. Tapi saat dua kali melangkah, ia tersandung kaki sendiri dan ingin terjatuh. Untungnya Diana sempat menahan tangan Dennis sebelum terjatuh.


"Aw ... Ma–makasih, Diana." Dennis kembali berdiri tegak, lalu berlari menghampiri Derrel. Diana tersenyum tipis, lalu mencium tangannya yang bekas disentuh Dennis.


"Ah, aku ingin mendapatkan hatinya."


*


*


*


To be continued –