
Saat sampai di kelasnya Derrel, Azura masih mengikuti Derrel. Bahkan sampai masuk ke dalam kelasnya juga. Derrel sebenarnya mau sekali Azura sebagai murid di kelasnya.
"Heeeh? Kalian kenapa?" Azura melirik ke semua temannya Derrel sambil tersenyum miring. Seketika setelah melihat tatapan mata merahnya, semua anak langsung tersentak dan menundukkan kepala. "Jangan tegang begitu, dong~ Aku kan anaknya ramah, hehe...."
"Kak ... kak Azura tidak mau kembali ke kelasnya?" tanya Derrel ragu. Ia tidak berniat mengusir Azura. Hanya saja ia takut kalau di kelasnya Azura telah datang gurunya. Karena bel sudah berbunyi saat mereka menuruni tangga.
"Iya, tentu saja aku akan kembali ke kelas." Azura berdiri tegak, lalu kembali menoleh ke semua teman sekelas Derrel yang sudah duduk di kursi mereka masing-masing. "Kalau aku jadi guru di sini, mungkin mereka akan menjuluki ku sebagai guru Killer. Sama seperti Ibu matematika yang galak itu."
"Siapa yang galak?"
"EH?!"
Azura seperti mengenal suara itu. Dengan cepat ia berbalik lalu mundur ke belakang. Ia benar-benar terkejut karena guru matematika yang baru saja ia bilang itu muncul di belakangnya. Ternyata mata pelajaran pertama di kelas Derrel adalah matematika.
"Bukan, Bu! Itu si Derrel yang galak. Dia habis bunuh nyamuk!"
Derrel tersentak mendengarnya. Tapi ia hanya mengangguk-angguk saja untuk menerima ucapan Azura sebagai alasannya.
Setelah berkata seperti itu, Azura langsung berlari keluar kelas sampai akhirnya ia tiba di kelasnya sendiri. Tapi kelasnya belum ada guru. Dia aman sekarang.
Setelah guru datang, pelajaran pertama pun dimulai. Seorang guru laki-laki yang sudah memakai seragam olahraganya yang berwarna putih biru dengan kalung peluit di lehernya.
Guru itu berdiri di depan kelas. Ia mengumumkan kepada semua murid di kelas untuk segera pergi ke ruang ganti karena mereka akan praktek di lapangan karena Minggu kemarin mereka telah materi. Sekarang waktunya praktek.
Semuanya sangat senang kalau olahraga di luar kelas. Dennis sudah siap dengan pelajaran olahraga. Apalagi Azura dan Dian sangat antusias untuk kegiatan ini.
"Yosh! Ayo, Dian!" ajak Azura dengan penuh semangat.
Dian tertawa kecil, lalu beranjak dari tempat duduknya dan menyusul Azura yang sudah berlari duluan keluar kelas.
...*******♥********...
Saat di dalam ruang ganti baju para laki-laki, semua murid laki-laki lainnya telah keluar dan pergi ke lapangan duluan. Sedangkan di dalam ruangan itu masih ada Dennis, Azura dan Dian.
Dennis mengganti sepatunya dengan sepatu khusus olahraga. Ia baru mengambilnya dari loker pribadinya. Lalu sepatu sebelumnya ia simpan di dalam sana.
Setelah mengeluarkan sepatu olahraganya, Dennis kembali duduk di kursi panjang yang terletak di tengah ruangan. Tapi sebelum ia memakainya, Dennis melihat Azura dan Dian sedang berada di pojok ruangan samping loker sambil berbisik-bisik.
Dennis yang terheran pun menghampiri mereka berdua. "Hei, apa yang kalian lakukan di sana?" tanya Dennis.
Azura menoleh ke belakang lalu menempelkan telunjuk di bibirnya. "Ssstt... Dennis kalau mau gabung sini, ayo."
"Ada apa, sih?" Dennis masih belum tahu apa yang kedua temannya itu lakukan. Jadi ia kembali mendekat dan berdiri di tengah-tengah. "Eh? Sejak kapan ada lubang kecil di sini?"
"Oh, ini Azura yang melobanginya dengan cutter." Jawab Dian.
"Kok bisa sih hanya dengan cutter?" tanya Dennis heran.
"Tentu saja. Azura gitu, loh!" Ia berbangga diri. Lalu menunjukkan satu paku besar yang ia pegang pada Dennis. "Tapi tidak hanya cutter. Untuk melubanginya, aku juga pakai paku."
"Memangnya kalian ngapain buat lubang di sini, sih?"
"Yah... kau lihat saja sendiri."
Dennis semakin penasaran. Ia akan mengikuti kelakuan kedua temannya itu. Dennis sedikit membungkuk lalu mendekatkan wajahnya pada tembok. Dengan mata kanannya, ia melihat dalam lubang itu.
Seketika matanya terbuka lebar dan langsung menjauh dari lubang itu. Sangking kagetnya, ia sampai jatuh terduduk di lantai.
Dennis masih memasang wajah kagetnya lalu tertawa kecil. "Ehehehe ... ta–tadi itu ... tujuan kalian membuat lubang di sana?"
"Heeeh? Pemandangan yang indah, kan?" Azura balik bertanya. "Jangan-jangan kau juga menyukainya, Dennis!" Dian menimpali.
Seketika wajah Dennis memerah. Ia menggeleng pelan sambil mengucek matanya yang sudah ternodai. "A–aku tidak seperti kalian. Ah, sudahlah! Sebaiknya kalian hentikan saja."
"Heeeh? Kenapa memangnya, Dennis?" tanya Azura pelan. "Kan kesempatan kita dalam seminggu sekali."
"Yare yare... Dennis kalau tidak suka jangan lihat aja, deh!" Dian mengelus rambut Dennis lalu membantunya berdiri.
"Lagian Azura ngintip kayak gitu gak takut matanya ilang lagi?" Azura yang mendengar perkataan itu dari Dennis, langsung mengembangkan senyuman.
"Sini matamu, Den. Biar kalo mataku ilang lagi ada penggantinya." Azura menunjukan cutter yang dia genggam.
Dennis langsung bangun dari posisi duduk dan berlari menuju pintu depan. Namun, tiba-tiba seseorang membuka pintu ruang ganti baju. Dennis, Azura dan Dian pun terkejut dengan kedatangan orang itu.
"A–AAAREEEEL!!"
"A–ada apa kau ke sini?" tanya Dian gugup.
"Kok?" Arel menelengkan bingung. "Kalian sedang apa bertiga di dalam? Apa kalian melakukan hal yang tersembunyi di dalam sana?" Arel tersenyum miring. Pikirannya langsung melayang setelah ia membayangkan sesuatu tentang ketiga temannya itu.
"Kau jangan berpikir yang aneh-aneh, oy!" Azura membentaknya. Ia menghela napas, lalu kembali bertanya dengan nada pelan. "Ada apa kau ke sini? Bukannya kau tidak boleh di sini, ya?"
"Umm... Aku yang seharusnya bertanya seperti itu. Kalian sedang apa di sini? Pak guru menunggu kalian di lapangan. Kalian terlalu lama di sini. Semuanya sudah menunggu."
Mereka bertiga terkejut. Azura dan Dian berlari cepat keluar dari ruangan. Sementara di belakang, Dennis dan Arel juga menyusul. Sambil jalan, Dennis bertanya pada Arel, "Kak Arel kok ikut olahraga juga? Bukankah kita beda kelas?"
"Iya. Sebenarnya hari ini aku juga ada mapel olahraga. Harusnya sih siang, tapi gurunya mau rapat. Jadi kelasku bareng sama kelas kalian."
"Oalah ... jadi makin rame."
Sepertinya para anak perempuan yang ada di ruangan sebelah tadi telah pergi saat Azura dan Dian sedang fokus dengan Dennis. Para gadis itu langsung pergi setelah mereka selesai mengganti baju dengan cepat.
...*******♥*******...
"Yare yare... Anak cewek kalau sudah pakai seragam olahraga mantep banget dilihat. Jadi cerah mataku." Ucap Dian dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh semua orang.
Azura yang ada di sampingnya juga ikut menimpali. "Yoi. Jadi pemandangan yang indah di depan mata."
"Eh? Ada apa dengan mereka, itu?" tanya Arel heran pada Dennis.
Dennis hanya bisa menjawab, "Entahlah. Mereka kambuh lagi nakalnya, haduh...."
...*******♥*******...
Sore menyapa. Rei, Dennis dan Derrel bersiap akan pindah ke rumah baru. Teman-teman mereka mampir untuk membantu. Tapi Dian dan Azura hanya jadi beban saja, karena mereka terus berdebat tak jelas.
Rei jadi geram. Kemudian mengusap brutal kepala mereka berdua. "Bisa gak jangan berantem terus?" tanyanya dengan nada ala psikopat.
"I–iya bisa." Mereka berdua mengangguk ragu dan Rei melanjutkan kegiatannya. Azura dan Dian saling melempar tatapan tajam, tak suka. Perdebatan mereka belum selesai. Andai Dian tau, dia salah mencari masalah dengan Azura.
Akhirnya barang-barang selesai dipindah. Derrel meregangkan badannya. "Akhirnya," ucap Derrel dan Dennis bersamaan.
"Sebenernya kalian pindah kemana, sih?" Dian masih menyimpan rasa penasarannya dari kemarin.
"Ke—"
"Baiklah anak-anak. Ayo berangkat!" ucap orang tua Dennis dan Derrel.
Derrel tidak sempat menjawab Dian. Jadi semenjak ia diajak ibunya, ia dengan kedua kakaknya naik ke mobil keluarga. Sementara yang lainnya menumpang di mobil Leon.
*
*
*
To be continued–