
Vann ingin menemani Derrel jalan-jalan. Namun lelaki itu tidak ingin ada yang menemani karena dia tidak bisa percaya dengan siapapun. Derrel menuju ke arah dapur dan membuka laci yang menggantung. Ternyata di dalam sana banyak makanan yang bisa dikonsumsi, dia juga membuka lemari es dan banyak bahan makanan yang cukup untuk beberapa hari.
Tak lama, Laura juga masuk ke ruangan yang sama dengan Derrel. Derrel segera mengambil pisau dapur dan bersiap menyerang jika ada yang mencurigakan. "Jangan mendekat!" ujar Derrel dengan nada pelan dan bergetar.
Laura mengangkat kedua tangannya, dia menjauhi Derrel beberapa langkah. Derrel pergi dari dapur dan menuju ruang awal mereka bangun. Di sana dia mendekat meja dengan kotak di atasnya. Derrel memegang kotak tersebut dan membukanya, di sana ada beberapa benda seperti pisau, jarum, boneka, racun tikus, pistol dan tali. "Kayaknya ini barang-barang untuk membunuh. Aku jadi semakin takut."
Vann membuka pintu kamar mandi, dia melihat Derrel yang bergetar memegang kotak. Lelaki itu mendekatinya dan menyentuh pundak dia. Derrel terkejut dan menodong pisau. "Ah, Vann. Maaf, aku terlalu takut untuk berinteraksi, padahal aku rajanya dan kalian rakyatku. Aku harus menjaga rakyatku."
Vann tersenyum dan mengelus pundak Derrel. "Ga apa-apa. Setelah diskusi, kau pasti akan bisa lebih tenang," ujar Vann dengan bahasa isyarat. Derrel tersenyum ke arah Vann sekarang orang yang dirinya bisa percaya hanya lelaki itu.
Mereka menuju tempat lain untuk melihat-lihat. Di lantai dua terdapat kamar dengan beberapa kasur tingkat. Di lantai bawah terdapat dapur dan kamar mandi. Di tengah ruangan itu kosong dan terdapat kotak yang Derrel buka tadi.
Kina keluar dari dapur dan mendekati Derrel. "Derrel, kata Laura kau tadi bawa pisau dapur. Boleh pinjam?" tanya Kina.
"Untuk apa?" tanya Derrel kembali.
"Kami lagi masak untuk makan sambil diskusi nanti." Kina menjawab. Derrel memberikan pisaunya sambil menghela napas berat.
"Jangan dibuat untuk hal aneh-aneh, ini baru awal permainan." Kina hanya mengangguk lalu kembali ke dapur.
Di dapur. Kina, Laura, Andini, Mista dan Riana seperti sedang asik memasak, mereka saling membantu dan terlihat sangat damai. Namun, tiba-tiba Riana menyeletuk, "Kalau salah satu dari kita pembunuh lalu membunuh sesama menurut kalian bagaimana?"
Seketika semua diam dan menatap satu sama lain. "Ya, permainannya memang seperti itu, kan?" ujar Mista, yang lain mengangguk setuju.
"Tapi aku harap bukan Divan yang jadi pembunuh, dia seram." Riana mengepalkan tangan dengan erat.
"Iya. Dia membully aja udah brutal, gimana ngebunuh nanti? Pasti seperti hewan sedang rabies," ucap Kina. Andini hanya diam saja, dia fokus memotong sayuran dan memasukannya pada panci yang sudah diberi kaldu.
"Aku dan Riana akan mengantar makanannya kalau sudah jadi," ucap Kina. Riana mengangguk saja.
...****************...
Sambil menunggu waktu, anak-anak lain memainkan permainan tradisional. Derrel menemukan buku kecil yang masih baru dengan pulpen. Dia mencatat semua nama yang ikut permainan itu dan menulis asal peran mereka sesuai insting. "Untuk sementara begini dulu, baru nanti aku perbaiki kalo ada dugaan baru."
Setelah makanan jadi, Kina langsung menuju ruang tengah dan meletakan nampan berisi daging dan minuman di lantai. Riana menyusul dengan nampan berisi sayuran dan gelas untuk minum. Laura membawa piring serta sendok dan garpu dan Mista membawa bakul nasi. Andini keluar dari dapur dengan tangan kosong mereka duduk di lantai.
Satu-persatu mengoper piring yang sudah berisi lauk-pauk dan nasi. "Jadi ... kalian ngapain aja tadi?" tanya Derrel.
"Jalan-jalan doang. Ga banyak tempat yang bisa dijelajahi. Semua pintu dan jendela dikunci rapat," jawab Brian.
"Kalau misalnya raja harus ngaku, gampang matinya ga sih? Permainan bakal cepat selesai. Rakyat bisa apa tanpa raja?" Divan melirik ke arah Derrel.
Derrel menatap Divan. "Apa maksudmu?" tanya Derrel.
"Kau pasti mencurigaiku, padahal aku cuma asal ngomong." Divan lanjut makan. Sedangkan Derrel masih mempelajari gerak-gerik dari para rakyatnya.
"Kau sendiri gimana, Din?" Andini mengangkat kepala. Gadis itu tidak berbicara apapun dan menunduk kembali secara perlahan.
"Kok diem aja? Mencurigakan tau." Kina menyipitkan mata sambil melihat ke arah Andini.
"Ga ada hal penting yang harus aku sampaikan," jawab Andini sambil lanjut makan.
"Bro, kalo lu pembunuhnya, lu bakal bunuh gw?" tanya Simon ke Divan. Divan berpikir sejenak dan menjawab, "Iya kali, kan itu tugas gw. Kecuali kalo permainan ini ga ada peraturan aneh-aneh."
"Tega lu!" seru Simon.
"Kira-kira pembunuhnya bakal beraksi kapan ya?" Mista penasaran. Mereka tidak tau bagaimana pembunuh akan menghabisi korbannya. Mereka yang menganggap dirinya rakyat, mau tidak mau harus menjaga, Sang Raja, Derrel.
Setelah diskusi dan makan, mereka harus menentukan siapa yang akan dieksekusi. "Oke, begini. Aku sebagai raja akan mendengarkan pendapat kalian. Tapi tolong bicara pelan-pelan dan sopan!" tegas Derrel.
"Aku curiga pada Andini." Kina menatap sinis gadis yang dimaksud.
"Kau serius? Aku ga ngapa-ngapain, loh," sangkal Andini.
"Kau terlalu diam dari tadi. Itu mencurigakan!" tegas Kina. Andini memutar bola matanya, malas mendengarkan pendapat Kina.
"Diam aja bukan berarti pembunuhnya, Kin. Jangan buru-buru." Derrel tidak ingin ada orang yang menjadi asal tuduh.
"Kina sok tau, jangan-jangan dia pembunuhnya. Dia nuduh orang dengan sembarangan," ujar Simon.
"Kalian semua mencurigakan. Aku sedang berusaha keras untuk bertahan hidup. Aku ingin bertemu mama papaku!" seru Kina.
"Sabar, Kin. Kita dengarkan pendapat lain dulu." Derrel berusaha menengahi mereka. Mungkin karena sikap kurang tegas, hasilnya jadi nihil.
Sontak semua orang langsung melirik ke Derrel. Mata Derrel kembali melirik ke jam dinding. "Masih ada 30 menit lagi. Se–sekarang ... bagaimana keputusan kalian? Kalian milih siapa?"
"Aku milih Kina. Dia cerewet." Jawab Simon sambil melirik sinis pada gadis itu.
Tentu saja Kina merasa tak terima dan langsung membentaknya. "Ngomong apa, kau?! Apa di mata kau, aku ini pembunuhnya?!"
"Iya." Andini mengangguk. Diam-diam dia tersenyum sinis pada Kina tanpa diketahui orang lain.
Kina tentu terkejut melihatnya dan langsung menunjuk ke Andini. "Kan! Dia mencurigakan banget! Bunuh aja dia!"
Derrel memperhatikan gerak gerik Kina dan yang lain mulai memutuskan kalau gadis itu yang harus dibunuh. Sudah banyak yang memutuskan, bahkan sampai teman dekatnya sendiri yaitu Riana.
Mata Kina mulai berkaca-kaca. Ia tak percaya kalau dirinya yang harus menjadi korban pertama. Tapi gadis itu tidak menyerah. Ia menghampiri Riana, lalu berlutut di hadapannya. "Na! Kita ini udah lama berteman, kan? Tolong bantu aku. Aku ingin hidup!"
"Ma–maaf, Kin. Aku melakukan ini juga karena ingin hidup." Riana membuang muka dari temannya itu. Kina mulai menangis di hadapannya, membuat anak-anak yang lain termasuk Derrel tak kuat mendengarnya. Mereka juga tak ingin membunuh siapapun, tapi karena permainan telah dimulai, mereka terpaksa melakukannya.
Derrel melihat jam. 20 menit lagi waktunya habis dan sekarang adalah waktunya untuk memilih. Lelaki itu menghela napas, lalu berkata, "Se–sekarang ... tunjuk orang yang akan kita eksekusi."
Semuanya saling melirik. Lalu secara perlahan, mereka semua menunjuk ke arah Kina. Tapi Kina menunjuk ke Andini. Tentu saja jumlah tunjukkan paling banyak adalah ke Kina. Sekarang tinggal Derrel terakhir. Dia juga mulai mengangkat tangan dan menunjuk ke Kina juga.
"E–Eksekusi."
Kina terkejut. Tubuhnya mulai lemas sampai ia jatuh duduk. Ia tak percaya kalau hidupnya akan berakhir di tangan teman-temannya sendiri. Lalu tak lama, Kina kembali berdiri. Ia menghampiri kotak di atas meja lalu mengambil pisau di sana.
Semua orang terdiam. Mereka mengira kalau Kina akan membunuh dirinya sendiri. Tapi ternyata dengan pisau itu, Kina berlari ke Andini dan mengarahkan pisaunya pada gadis itu. "Kau yang harusnya mati!!"
Andini terkejut dengan tingkah Kina tersebut. Untungnya ada Simon yang menahan tubuh Kina dan menjatuhkan pisaunya. Kemudian Andini mengambil pisau tersebut. Kina memberontak dan berteriak, "Kalian semua akan mati di sini! Pasti mati!!"
Derrel membuang muka. Ia tak kuat melihatnya. Sementara Riana dan Mista mulai menjauhi Simon dan Andini. Divan membantu Simon memegang tangan Kina, lalu menjatuhkan gadis itu ke lantai. Andini duduk di atas perut Kina dan mulai mengangkat pisaunya.
"Kumohon, jangan! A–aku gak mau mati! Aku hanya mau pulang!" Kina menggeleng cepat sambil terus memberontak. Tapi ia tak kuat melepaskan diri karena kedua lelaki yang menahannya.
"Kau pembunuh, jangan harap mau pulang." Tatapan Andini membuat Kina semakin merinding. Gadis itu pun mengayunkan pisau dan langsung menusuk dada Kina.
"Ah!" Tusukan pertama, Kina memuntahkan darah dari mulut. Simon dan Divan pun melepaskannya. Tapi ternyata Andini tidak berhenti sampai di sana. Ia menusuk Kina, lalu mencabut pisaunya dan kembali menusuknya berkali-kali.
Suara benda tajam yang menusuk gadis itu terdengar jelas di telinga Derrel. Lelaki itu menutup telinga karena takut. Sementara Vann hanya memperhatikannya dengan tatapan polos khasnya.
Setelah Kina tak bergerak lagi, Andini baru berhenti. Gadis itu telah terbunuh. Andini menjauh dari mayat Kina, lalu menjatuhkan pisaunya. Ia menghela napas berat, lalu mengelap darah di wajah.
Suasana kembali hening. Derrel membuka mata, lalu melirik ke arah mayat. Napasnya terasa berat hanya karena melihat tubuh gadis yang meninggal secara mengenaskan. "Su–sudah selesai ...."
Tak lama, mereka dikejutkan dengan suara Farel yang muncul dari speaker. [ Kina Rahmawati bukanlah seorang Pembunuh. ]
"Eh?!" Semuanya terkejut mendengar hal itu. Para Rakyat mengira kalau pembunuhnya telah berkurang satu. Tapi ternyata masih ada 3 orang dan korban pertama yang mereka bunuh adalah seorang "Rakyat".
Brian merogoh kantung jas yang dikenakan Kina dan menemukan amplopnya. Ia mengambil kartu peran di dalam amplop dan melihatnya. Tak lama, ia bergumam, "Te–ternyata benar. Dia bukan Pembunuh."
"Ki–kita salah bunuh orang." Ujar Mista yang masih belum berani mendekati mayat temannya di tengah ruangan tersebut. Derrel jadi merasa bersalah karena telah menunjuk gadis tak bersalah itu. Hatinya terasa sakit. Ia ingin berteriak, tapi tak bisa.
"Jika Kina bukan Pembunuh, itu berarti ... ketiga pembunuh itu masih ada diantara kita." Derrel memperhatikan orang-orang di sekitarnya. "Kira-kira siapa diantara kita yang menjadi pembunuhnya?"
*
*
*
To be continued –
*
*
*
VISUAL :V