THE RULES

THE RULES
Episode 13



"Ke mana lagi mereka?" Rei tak melihat Dian dan Azura di halaman rumah. Bahkan di dalam pun tidak ada.


Rei melihat kotak barang di dekat mobil sudah tidak ada. Untuk merapihkan barang, masih ada orang tuanya di dalam. Jadi sebentar aja, Rei ingin berkeliling sekalian mencari dua temannya yang hilang.


"Mungkin ke danau tadi kali, ya?" Rei akan pergi ke tempat itu lagi. Danau berada tak jauh dari rumah, ada di belakangnya. Namun saat Rei tiba di belakang rumah, tak jauh dari danau akhirnya ia melihat Dian dan Azura sedang berjalan menghampiri.


"Dari mana aja kalian?" tanya Rei.


"Azura liat benda bersinar deket danau. Pas disamperin, ternyata cuma patung kayu." Jawab Dian, lalu menunjuk ke benda yang ditemukan Azura. Saat ini, benda itu diikat dengan tali dan dijadikan kalung.


"Bentuknya lucu. Kayak orang lagi duduk," ujar Azura. "Gw jadiin jimat dah. Mayan. Biar gak sial mulu hari gw."


"Sesat lu, Ra." Balas Dian.


"Bodo."


"Apa patung itu gak keliatan mencurigakan?" tanya Rei. Ia merasakan aura tidak enak dari benda penemuan Azura tersebut. "Di mana kau menemukannya?"


"Deket batu yang di sana tuh. Bawah pohon pisang." Azura menunjuk ke tempatnya. Lalu ia kembali menyentuh patung itu. Ternyata ada sebuah batu akik yang tertempel di bagian kepala patungnya. "Tadi benda ini bersinar, sumpah!"


"Lu kayak burung gagak aja, Ra. Liat yang sinar-sinar dikit langsung ambil." Ucap Dian.


"Ck, suka-suka gw lah!"


"Iya deh, terserah kau saja. Sekarang ayo kita kembali." Rei membiarkan Azura dan Dian jalan duluan. Ia kembali menatap ke arah danau sejenak, lalu pergi. Tak lama setelah itu, ada seseorang yang mengintip dari balik pohon pisang dan pergi ke tempat lain.


...*******♥*******...


 


Dennis dan Derrel akhirnya selesai merapihkan kamar mereka. Sekarang hanya tinggal menyapu debu yang di lantai bekas mereka membersihkan mainannya Derrel dan buku-buku Dennis.


"Ng ... di sini ada sapu gak, ya, kak?" tanya Derrel.


"Aku tanya mama dulu, deh." Dennis ke luar kamar. Derrel akan menunggu. Ia ingin melihat lingkungan luar dari jendelanya. Tapi pas membuka hordeng, debu berhamburan membuat Derrel terbatuk-batuk. Ia menyentuh hordeng tersebut. Benar-benar sangat kotor karena debu.


"A–aku minta mama cuci, deh." Derrel menarik-narik hordeng itu dengan tujuan ingin mencopotnya dari atas jendela. Tapi karena hal itu telah membuat pipa gordennya jatuh karena sudah rapuh dan ingin menimpa Derrel.


Namun ada seseorang yang menangkap pipa itu dan memberikannya pada Derrel.


"Ma–makasih, kak." Derrel mengambil pipa itu dari orang di sampingnya. Ia melihat sosok manusia dengan wajah hancur berdarah. Lalu kembali melirik ke jendela.


"EH?!" Dengan cepat, Derrel kembali menoleh ke sampingnya. Tidak ada siapapun di sana. Karena merasa takut, Derrel pun lari meninggalkan kamarnya.


Derrel nabrak Dennis yang lagi bawa dua sapu. Dia bingung kenapa adikknya berlarian seperti itu. Dennis hendak bertanya tapi Derrel malah nangis duluan.


"Huee, ka–kak Dennis ada hantu hiks hiks" Derrel memeluk kakaknya dengan sangat erat


"Eh, Rel. Hantu itu gak ada. Mungkin azura lagi nyamar jadi hantu?" ujar Dennis. Derrel gak percaya omongan kakaknya itu. 


"Ya sudah, kita balik bareng ke kamar ya. Nih, aku udah dapet sapunya." Derrel ngangguk sambil mengusap air matanya. Dia mengambil salah satu sapu yang dibawa Dennis.


...*******♥*******...


Sedangkan Leon berada di gudang saat ini, ia habis membantu orang tua tiga bersaudara itu. Namun mereka berdua sudah pergi keluar ruangan, jadi tinggal Leon sendirian. Saat Leon sedang meluruskan meja, tiba-tiba ada suara benda yang terjatuh. Leon langsung menoleh, tapi tidak ada barang apapun yang jatuh atau berantakan.


Dia mengangkat bahu dan menganggapnya hanya halusinasi. Setelah selesai dengan meja, dia melihat benda yang ditutup dengan kain. Leon menarik kainnya ternyata itu sebuah cermin dan terdapat sosok nenek-nenek tua, berwajah sangat pucat tersenyum lebar kepadanya.


Leon menutup kembali cermin tersebut. Lalu berdiri, dia menghampiri lemari tua yang sangat berdebu, membuatnya risih. Akhirnya leon memutuskan untuk keluar, tapi ternyata pintu dikunci.


Pundak Leon serasa seperti disentuh sesuatu. Lelaki itu berbalik dan melihat nenek itu lagi. Nenek tersebut mengajak Leon untuk duduk dan mendengarkan ceritanya.


Nenek itu bercerita sangat panjang, tetapi menarik untuk Leon. "... Lalu rumah ini ada pera–" Ucapannya terhenti.


"Bukain pintunya, dong. Mau naruh barang nih!" Dari suaranya, itu suara Rei.


Leon mendekati pintu dan memutar kenop. Ternyata pintunya bisa dibuka. "Kamu ngapain di sini?" tanya Rei.


Leon menoleh ke arah tempat dia dan nenek itu duduk. Ternyata sosoknya sudah menghilang, jadi Leon tidak menjawabnya. "Ah ya udah, kamu dicariin bunda." Leon mengangguk dan langsung keluar.


...********♥********...


Di luar rumah, terdapat dua sahabat yang selalu bersama. Siapa lagi kalau bukan Dian dan Azura?


Dian melirik Azura yang hanya melamun melihat patung tersebut. Lelaki itu mengayunkan tangannya di depan wajah Azura. "Bro, sehat?"


Azura menoleh perlahan, lalu mengangguk. Dia kembali menyimpan patungnya di dalam katung celana. Dian keheranan dengan sifat Azura yang berubah drastis itu.


"Yare-yare, Ra. Mendadak sariawan?" tanya Dian sambil merangkul Azura. Saat merangkul itu sekujur tubuh Dian langsung merinding, jadi dia melepasnya lagi. Dian melihat Leon keluar rumah seperti mencari sesuatu.


"Bunda Rei," jawabnya. Dian mengangkat bahu dan Leon pergi lagi.


"Yare-yare, Ra. Lu marah sama barcandaan gw? Baper amat, biasanya kagak." Dian kembali bicara pada Azura. Azura menatap Dian dengan tatapan marah, membuat nyalinya semakin ciut dan ingin menjauh saja.


"E–eh, Le. Gw ikut lu, dong!" Dian menyusul Leon yang tak terlalu jauh. "Ah, langsung anget deket Leon~"


Leon menatap Dian dengan tatapan bertanya. Dian langsung saja menjawabnya dengan jujur, "Gw merinding deket Azura. Gak tau dah kenapa."


Dari kejauhan, Dian ngeliat Arel jalan kaki mendekati mereka. "Halo~" sapanya


"Akhirnya dateng juga, asw! Lama bet dah." Dian mengeluh. Arel hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya.


"Kalian mau kemana?" taya Arel.


"Nyari bunda Rei," jawab Dian. Arel mengangguk dan berniat bergabung mencarinya.


Di luar rumah tidak ada. Akhirnya mereka akan kembali ke dalam rumah. Di sana Azura sudah tidak ada. "Eh, Jura kemana ya? Gw cari Jura lu berdua cari bunda."


Arel dan Leon mengangguk. Mereka masuk ke dalam rumah. Ternyata bunda baru keluar dari kamar Dennis dan Derrel.


"Bunda manggil?" tanya Leon. Bunda kebingungan dan menggeleng.


"Nggak kok, kamu liat Rei gak?" tanya bunda. Leon langsung mengerti apa yang terjadi, tapi dia memilih untuk diam saja soal itu.


"Terakhir aku liat di gudang." Jawab Leon. Bunda mengangguk dan pergi ke gudang.


...********♥********...


Sedangkan Rei berada di gudang saat ini. Dia menyusun kardus yang dia bawa. Namun, tiba-tiba terdapat suara benda terjatuh di dekat benda yang ditutupi dengan kain.


"Eh, emang bunda punya ini?" Rei buka kainnya yang ternyata sebuah cermin dan muncul wajah seseorang yang berdarah-darah di belakangnya. Rei terkejut. dia langsung menoleh ke belakang. Tidak ada siapa pun.


Rei kembali melihat ke cermin. Sosok itu malah di depan matanya persis. Sosok tersebut menyekik Rei. Lelaki itu juga berusaha melawan, dia mengambil lampu tua punya ibunya dan langsung memukul sosok tersebut. Akhirnya sosok itu melepaskannya.


Rei langsung bangkit dan berlari ke pintu keluar. Saat membuka pintu dan hendak berlari, dia menabrak seseorang.


"Ah, aw kepalaku." Rei mengusap-usap keningnya yang seperti terbentur benda keras.


"Aw ... Eh, Rei kenapa?" tanya Arel yang sama-sama mengusap kepalanya juga karena benturan dari Rei. Rei menggeleng dan melewati mereka seakan tidak terjadi apa-apa.


"Ah, padahal lehernya memar gitu." Arel bergumam dan ingin menyentuh Rei.


Rei langsung mengelus lehernya. Ia menggeleng. "Gak, ga apa-apa. Eh udah yuk, kita pergi."


"Mamamu ada di dalam?" tanya Arel. Ia memaksa ingin mengintip ke dalam gudangnya. Tapi tidak ada siapapun di sana.


"Eh, bunda ke sini?" tanya Rei balik.


Leon dan Arel mengangguk. Lalu Arel menjawab, "Yah ... dia nyariin kamu tadi."


"Loh, tapi gak ada yang ke gudang dari tadi."


"Aneh ...."


"Dah yuk, bunda ada di luar kali. Kalau gak, lagi ngurus Dennis Derrel." Rei jalan keluar duluan. Leon ngikut aja. Arel masih merhatiin gudang, lalu tak lama ia juga ikutan keluar.


...********♥********...


Sementara itu, Dian masih sibuk nyari Azura. Ia mendekati dua mobil yang terparkir di halaman rumah. Itu mobil orang tuanya tiga bersaudara dan punya Leon.


Pertama, Dian mengintip lewat kaca jendela mobil keluarga Dennis. Tapi sosok Azura tidak ada di sana. Lalu ia pun pindah ke mobil di sampingnya. Pas mau ngintip, tiba-tiba pintu belakang terbuka dan membentur kepala Dian.


"Aw ... eh, Ra?" Dian langsung buka pintu itu lebar-lebar. Ia sedikit menunduk dan melihat Azura sedang duduk di dalamnya dengan tatapan kosong. Seketika Dian bergumam dalam batin, "Bikin ngeri, njir. Kenapa nih anak?"


"Ra! Oy! Sadar oy!" Dian menggoyangkan pundak Azura dengan brutal. Namun hal itu membuat Azura terlihat marah dan menggenggam tangan Dian, lalu menariknya masuk ke dalam mobil.


"Uwaaaa!" Teriakan keras Dian keluarkan. Tapi sayang tak terdengar oleh yang lainnya karena di dalam mobil itu kedap suara. Entah apa yang terjadi padanya di dalam sana.


*


*


*


To be continued–