THE RULES

THE RULES
Episode 16



Sore harinya, Dennis dan Derrel sedang berjalan-jalan di belakang rumah mereka. Tidak jauh dari sana sudah terlihat danau kecil yang dikelilingi kebon.


Sebelumnya mereka tidak sempat menyusuri sekitar danau itu karena Dian bilang, danaunya ada piranha.


Kedua adik kakak itu pun mendekati danaunya. Dennis mencelupkan jari telunjuknya ke dalam air. Lalu tak lama mengeluarkannya kembali.


"Airnya dingin."


"Ada piranhanya, kak?" tanya Derrel.


Dennis menggeleng. "Gak ada. Kak Dian salah liat kali."


"Kak Dennis! Ayo coba kita ke sana yuk!" Derrel lari duluan. Ia masuk ke dalam kebun pisang yang sebagian besar pohonnya telah mati.


"Hoo ... Tempat ini udah lama ditinggalkan sepertinya." Derrel tetap maju tanpa takut sedikitpun. Sedangkan Dennis terlihat waspada. Sebelumnya ia sempat mendengar suara-suara aneh dari dalam sana.


"Uwaaa!" Dennis terkejut dengan daun pisang yang jatuh. Ia mendongak melihat pohon pisang tersebut, tapi tiba-tiba ada sesuatu yang lewat dengan cepat di depan matanya. "Aduh, apaan itu?!"


"Ada apa kak Dennis?" Derrel berbalik badan dan menghampiri kakaknya yang masih menatap langit.


"Ta–tadi ... Ada bayangan hitam lewat."


"Kak Dennis jangan nakut-nakutin, dong!"


"Aku serius. Hmm ... Burung kali, ya?"


"Iya kali– eh itu apa?" Derrel melihat sesuatu dari balik beberapa pohon. Ia pun menghampirinya, diikuti dengan Dennis juga.


Dari dekat danau, masuk lagi sejauh beberapa meter, mereka menemukan sebuah rumah pohon yang tinggi. Masih ada tangga gantungnya untuk sampai ke sana. Mereka berdua pun memanjatnya. Di dalam sana ada kasur kecil, kursi, lemari dan mainan-mainan dari kayu.


"Kak Dennis, ada mainan!" Derrel jongkok dan menyentuh mainan itu. Berupa mobil kayu yang dingin dan lembab. Mainan itu sudah berlumut.


"Siapa yang tinggal di sini ya?" Dennis membuka lemari dan menemukan foto yang sudah pudar dari balik pintunya. Foto pengantin, wajah dari kekasih ini tidak terlihat.


"Kak Dennis!" seru Derrel lalu memeluk Dennis.


"Eh, kenapa?" Dennis seketika panik. Derrel menunjuk ke arah sudut rumah pohon itu, ada kecoa yang berjalan-jalan.


"Pulang, yuk!"


Mata Derrel berkaca-kaca sambil mengangguk. Dennis menenangkan Derrel dan mengajaknya ke luar. Mereka jalan-jalan lagi untuk keluar dari kawasan kebun pisang.


"DENNIS! DERREL! DI MANA KALIAN?"


"Ah itu teriakan Kak Rei."


"Tuh kan, udah dicariin. Dah yuk!" Dennis menarik tangan adiknya dan segera keluar dari kebun pisang dan semak belukar. Setelah itu mereka menepuk-nepuk celana karena ada tumbuhan kecil yang menempel. Tak lama setelah itu, sosok Rei terlihat menghampiri mereka.


"Duh, dari mana aja kalian?" tanya Rei.


"Jalan-jalan doang, kak Rei~" jawab Dennis santai. Derrel hanya mengangguk-angguk.


Rei menghela napas. Lalu ia mengajak kedua adiknya pulang. "Hah, lain kali kalau mau pergi, izin dulu."


"Iya, maap, Kak Rei." Ucap keduanya.


...********♥********...


 


Di rumah, Derrel mengeluarkan buku. Dia baru ingat jika ada PR. Dennis mengintip kegiatan Derrel. "Mau dibantuin?" tawarnya. Derrel menggeleng sambil tetap fokus liat bukunya.


"Kalo udah selesai, bantuin bunda di bawah. Besok mau adain pesta penyambutan rumah baru. Ya begitulah kalau kata bunda."


Derrel mengangguk saja.


Dennis keluar kamar lalu menuju lantai bawah. Dia melihat Rei sedang melipat kardus untuk acara besok.


"Bantuin sini," ujar Rei. Dennis mengangguk, dia duduk di dekat Rei.


"Bunda mau keluar dulu ya." Bunda mereka lewat dengan membawa tas belanja. Beliau akan pergi sebentar sepertinya.


"Iya, bun!" sahut Rei dan Dennis.


...********♥********...


Derrel di kamar sendiri, mengayun-ayunkan kaki. Sambil menopang kepalanya. Di belakangnya, Derrel merasa ada hawa dingin yang menusuk, membuat bulu kuduk berdiri. Dia menoleh dan tidak menemukan apapun. Hawa dingin tersebut semakin kuat, lalu ada buku di rak yang tiba-tiba terjatuh.


"Hah ... bikin kaget aja." Derrel kembali fokus, tapi pikirannya gak tenang. Dia mutuskan untuk keluar kamar saja dan tidak melihat siapapun.


"Bunda? Kak Dennis? Kak Rei?" panggil Derrel. Dia menuju lantai bawah dan ke dapur. Dennis dan Rei yang ada di ruang tamu melihat Derrel jalan ke dapur. Dari sana, pintu dapur mereka dapat terlihat.


"Kenapa dia?" tanya Rei. Dennis berdiri, dia menuju dapur juga. Saat di dapur ternyata tak ada siapapun.


"Loh, tadi ada Derrel, kan? Atau aku halusinasi?" Dennis kembali ke tempat tadi.


"Ngapain dia?" tanya Rei.


"Gak ada siapa-siapa di dapur. Kayaknya halusinasi aja. Derrel lagi ngerjain PR di kamar," jawab Dennis.


"Aku ditinggal sendiri di rumah. Ditambah aku fobia kesepian. Semoga mereka cepet pulang," Derrel bergumam. Lalu dia melihat Dennis tiba-tiba memunculkan kepalanya dari pintu dapur. Dennis hanya melihat sekeliling lalu pergi lagi.


"Eh, Kak Dennis gak lihat aku?" Derrel melihat keluar. Ternyata tidak ada siapa-siapa


"Hadeh, aku mulai halu. Tidur aja, deh." Derrel melangkahkan kaki menuju kamar. Lelaki itu merebahkan diri di kasur, lalu menutup mata.


Sekilas ada mata merah yang menyala dengan baju panjang yang lusuh dan kotor. Derrel melirik ke atas, ada sosok lain. Lehernya panjang dan patah-patah mata sosok itu fokus melihat Derrel. Seketika itu Derrel menutup matanya rapat-rapat dan berdoa dalam hati.


Lengan kanannya seperti menyentuh rambut panjang yang semakin naik, membuat dia semakin takut. Mendadak suara Dennis terdengar dari luar kamar. Derrel membuka matanya lebar-lebar, tubuhnya bisa digerakan lagi. Dia lari ke pintu dan membukanya.


"Kak Dennis kemana tadi? Kok di rumah gak ada orang?" tanya Derrel. Suaranya bergetar.


Dennis menyadari ada yang gak beres dengan adiknya. "Rel, daritadi aku di bawah, loh, sama kak Rei."


"Bohong! Tadi gak ada siapa-siapa. Tadi aku cek ke dapur juga sepi aja."


"Kamu beneran ke dapur tadi?" tanya Dennis


"Iyalah. Aku liat kak Dennis tadi nongol juga, pas aku ikutin ternyata gak ada siapa-siapa," jawab Derrel.


"Kamu kecapekan karena jalan-jalan tadi, ya? Istirahat aja," ujar Dennis


"Nanti kak Rei marah."


Dennis menggeleng dia mengelus-elus kepala Derrel. Dennis pun menidurkan adik kecilnya itu dan berjanji tidak akan meninggalkannya. Ia akan membaca buku saja di kamar.


Selang beberapa waktu, Dennis juga mulai mengantuk karena terlalu banyak baca. Ia juga memutuskan untuk tidur aja. Palingan tar malem bangun untuk makan. Tapi sebelum ia naik ke tempat tidur, ia melihat Rei ngintip dari pintu depan.


"Ngagetin aja. Kirain siapa." Gumam Dennis. Tapi ada kejanggalan. Posisi kepala Rei saat mengintip itu berada dekat dengan bagian atas pintu. Ditambah dengan mata lelaki itu yang terlihat gelap dengan pupil merahnya.


Pintu kamar tiba-tiba terbanting dengan keras. Saat Dennis ingin membukanya kembali, ia merasakan aura tidak enak dari samping. Tanpa pikir panjang, Dennis langsung menoleh. Sosok Rei yang tinggi mendadak muncul di dekatnya. Matanya yang hitam gelap mengeluarkan darah, lalu menunjukkan tangan keriput dengan cakar.


Saat Dennis ingin melarikan diri, makhluk itu menangkapnya dan langsung mencekiknya di lantai. Dennis berusaha untuk melepaskan diri. Tapi hasilnya nihil. Ia ingin berteriak, tapi tidak bisa.


Sampai akhirnya tak lama kemudian, tenaga makhluk itu berkurang. Dennis langsung meninju kepala makhluk itu dan langsung terbangun. Ia masih melihat sosok Rei di hadapannya dan langsung ingin memukulnya kembali.


Namun, Rei yang kali ini berbeda dari sebelumnya yang terlihat mengerikan. Rei menangkap tangan Dennis yang ingin memukulnya dan langsung bertanya. "Dennis! Ada apa?!"


Dennis menggeleng cepat. Sekarang sosok Rei yang ada di hadapannya itu adalah kakaknya yang asli. Begitu melihatnya, Dennis langsung memeluk Rei karena takut. "Ka–kak Rei! Tadi ada ... itu ... hikd ...."


"A–ada apa? Kau bermimpi buruk?"


"Apa tadi aku tertidur?"


"Iya ... aku udah nunggu lama di bawah. Tapi kalian berdua malah belum datang-datang. Ya udh aku ke sini, malah liat kalian dah tidur. Jadi aku bangunin kamu, Den." Jelas Rei. "Terus kenapa tiba-tiba mukul, sih? Sakit ...."


"Eh, maaf, Kak Rei. Aku mungkin tadi bermimpi."


"Emang mimpi apaan dah?"


"Aku gak mau membicarakannya. Sekarang ayo kita lanjut bikin hiasan buat besok!" Dennis pergi duluan ke luar kamar. Rei kembali berdiri. Ia melihat Derrel tampak tenang dalam tidurnya.


"Sepertinya akan aman. Gak ada hawa-hawa aneh lagi." Batin Rei, kemudian ia pergi meninggalkan kamar adiknya.


...********♥********...


Sorenya. Derrel merenggangkan badan dan mengedipkan matanya beberapa kali. "Kak Dennis? Kak Rei?"


Derrel turun dari tempat tidur lalu keluar dari kamar. Rumahnya mendadak penuh dengan hiasan. Di dapur pun banyak makanan di dalam kotak. Rumahnya jadi lebih bagus dari sebelumnya.


DUK!


"Ah, aw .... " Dennis mengusap-usap kepalanya. Dia muncul dari bawah meja sambil memegang barang.


"Kak, apa itu?" tanya Derrel.


"Oh ini ... gak tau sih, nemu di bawah meja." Dennis menunjukan benda yang dia dapat. Seperti patung dengan permata di kepalanya.


"Ngapain kalian?" Rei membawa kotak berisi minuman. Lalu meletakannya di meja.


"Ini, aku nemu patung." Dennis memberikannya kepada Rei.


"Nemu dimana? Kok bisa di sini?" Rei mengambil patungnya lalu keluar dapur.


"Kak Rei kenapa kayak marah gitu?" tanya Dennis.


"Kak Rei gak suka barang antik mungkin?" tanya balik Derrel.


Dennis menaikan kedua pundak. Dia mengambil pisau lalu membuka kardusnya. "Bantuin, Rel."


"Ah, ya. Emang kapan acaranya?"


"Kata Bunda, besok." Dennis menjawab. Derrel mengangguk-angguk lalu memasukan minuman berukuran kecil itu ke dalam kotak-kotak makanan.


...********♥********...


 


Rei pergi ke depan. Ia menuju halaman belakang yang terdapat danau. Ia melangkah maju sedikit, lalu membuang patung kecil itu ke danau.


"Aku gak mau teman-temanku kena masalah lagi karena benda-benda aneh itu."


*


*


*


To be continued–