THE RULES

THE RULES
Episode 14



Rei, Leon dan Arel kembali ke luar. Sisah barang-barang di dalam akan diurus oleh orang tua Rei. Lagi-lagi di depan sana, Rei tidak melihat keberadaan Dian dan Azura. Kalau kedua adiknya ia tahu mereka ada di kamar. Tapi tak lama, Dennis dan Derrel juga muncul.


"Eh, Kak Rei udah beresin kamar belum?" tanya Dennis.


"Ng ... tar aja. Eh, kalian liat Dian sama Azura, gak?" tanya Rei balik.


Dennis dan Derrel saling menatap. Lalu mereka menggeleng pada kakaknya. Rei berkacak pinggang dan mengeluh. "Hadeh ... mereka hilang mulu perasaan ...."


"Tenang aja, Rei~ Mereka pasti cuma mau lihat-lihat di sekitar rumah kayaknya." Balas Arel sambil menggoyangkan kedua tangannya. Lalu ia melihat sopirnya Leon yang lewat sambil membawa kopi.


"Eh, sopirmu, ya, Le?" tanya Arel.


Leon hanya mengangguk. Lalu ia berjalan ke arah mobilnya hendak mengambil sesuatu. Tadinya ia mau mengambil tisu dari dalam mobil, tapi saat membuka pintu belakang mobil, ia terkejut dengan kehadiran dua temannya yang sedang mereka cari-cari. Ia pun pergi memanggil teman-temannya yang lain.


Saat semuanya mengecek, ternyata dua teman mereka di dalam sana–yaitu Dian dan Azura–masih hidup. Keduanya terlihat sedang tidur di kursi, tapi saat dicek ternyata keduanya dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Dian sama Azura kenapa itu?" tanya Arel sedikit panik.


"Tenang, Arel. Mereka baik-baik saja." Rei menepuk-nepuk punggung Arel untuk menenangkannya, lalu membawa keluar Dian dari dalam sana. Kalau Azura akan dibawa Leon ke kamar.


"Tidak ada luka fisik. Kira-kira mereka kenapa dan habis ngapain di dalam mobil?" batin Rei sambil memperhatikan tubuh Dian yang ia gendong. Lirikan mata Rei sampai ke leher Dian. "Loh, memar apa ini?"


...********♥********...


15 menit kemudian, Azura terbangun karena merasakan dinginnya air es dari kompres yang diberikan Arel.


"Eh, maap-maap. Dah tidur lagi aja ..." Arel mendorong kepala Azura kembali ke bantal. Tapi lelaki itu langsung menepisnya lalu melihat sekeliling.


"Lah kok gw bisa di sini?" gumamnya.


"Balik lagi seperti semula kayaknya nih anak."


Azura langsung menoleh ke samping kirinya. Suara barusan itu adalah suaranya Dian. Saat ini, Dian sedang meminum susu hangat dari Derrel.


"Udah bangun?" tanya Dian.


"Lu bisa liat sendiri, kan? Eh– emangnya gw kenapa, dah?"


"Gak tau gw juga. Baru bangun juga, sih." Jawab Dian. Lalu ia melirik ke arah dua teman lainnya yang berada di dalam kamar itu. "Eh, emangnya kita kenapa tadi?"


"Kalian berdua pingsan tadi. Aku takut kalian kenapa-kenapa." Jawab Arel, lalu memeras kain kompres yang akan ia tempelkan ke dahi Azura lagi. Tapi lelaki itu menolaknya.


"Oy, oy ... gw ga nyaman ditempelin begituan."


"Ah, maaf. Habisnya ... tubuhmu panas tau, Ra."


"Eh, masa sih?" Untuk memastikan, Azura menyentuh keningnya, lalu menggeleng pelan. "Nggak, tuh!"


"Ih, tadi panas, tau!"


"Mana anjir? Dingin gini!"


"Tadi beneran panas!"


Karena suara Azura dan Arel yang berisik, beberapa teman mereka pun datang. Dennis dan Rei. Mereka masuk ke kamar yang sebenarnya adalah kamar milik Rei.


"Ini. Bunda bikinin sup buat kalian!" Dennis membawa nampan dengan dua mangkuk kecil yang akan diberikan untuk Dian dan Azura.


"Makasih, Bun," ucap mereka berdua. Mereka makan sup itu. Azura tiba-tiba batuk. Dia menutup mulutnya dengan tangan.


"Eh, paku?!" Azura mengangkat sebuah paku yang terdapat darah itu.


"Bunda mau bunuh Azura?" tanya Derrel dengan polosnya


"Eh apaan, sih. Bunda gak apa-apain sopnya loh, bunda juga bukan kuli." Bunda menjawab. Azura meletakan paku itu di atas nakas, lalu lanjut makan.


"Akh, tenggorokan gw rada nyeri." Ucap batinnya.


...********♥********...


Selesai dua orang itu makan. Arel melihat keluar jendela. Ternyata sudah sore, jadi mereka memutuskan untuk pulang sebelum malam.


"Pamit ya, dadah~" ujar Azura, Dian dan Arel. Leon hanya melambai lalu masuk ke dalam mobil, tubuhnya terasa lelah sekali. Lelaki itu ingin tidur saja di mobil.


Namun, Leon merasa tidak nyaman karena ada suara bisikan yang semakin lama ucapannya semakin cepat, "Cek kursi belakang. Cek kursi belakang, cek kursi, cek, cek!"


Leon terbangun kaget. Dia langsung mengecek kursi belakang, yang ternyata ada Azura di sana. Azura sedag menatap depan sambil melamun. Leon melihat mata Azura melirik padanya lalu tersenyum.


...********♥********...


Keesokannya. Leon datang sendiri ke sekolah, karena Azura tidak ada di rumah. Sembari jalan, lelaki itu membaca buku kesukaannya.


"Kak Leon ... Aku mau bicara sama kakak." Leon hanya menoleh. Perempuan yang bicara padanya itu menunduk, lalu menghela napas.


"Se–sebenarnya aku suka kakak dari lama. Kakak mau menerimaku?" Tubuh perempuan itu bergemetar.


"Wah wah, apaan nih~" ujar Dian sambil merekam kejadian itu.


"Ayo terima, Le. Kasian tuh anak orang nangis nanti," goda Dian.


Leon menghela napas. "Maaf," ujarnya lalu pergi.


"Njir, gak romantis amat nolaknya!" Dian kecewa dan mematikan rekamannya. Lalu menghampiri Leon dan berjalan di sampingnya.


"Apanya sama?" tanya Dian sambil memiringkan kepala


"Ingin aku musnahkan," lanjut Leon. Dia kembali membaca bukunya sambil berjalan ke kelas. Sementara Dian masih membatu saat Leon berbisik dengan suara beratnya.


"Ahaha ... ke–kenapa temen-temen gw serem-serem sih...." Dian menghela napas panjang, lalu pergi ke tempat lain untuk mendapatkan momen bagus sekalian mencari mood pagi hari.


...********♥********...


Dennis dan Derrel sedang di kantin. Mereka memakan es serut, meskipun rei sudah menasihati mereka untuk tidak makan es pagi-pagi.


"Haa... Batu banget kalian," ujar Rei yang pasrah melihat kelakuan dua adiknya.


"Hehe, kak Rei mau?" Derrel menyendok esnya lalu menyodorkan kepada Rei. Kepala Rei menjauh, dia menolaknya.


"Rel, badak mana suka makan es krim," ujar Dennis.


"Badak sukanya apa ya?" Derrel mengusap dagunya.


"Lumpur mungkin." Jawab Dennis.


"Oy oy! Sembarangan!" Rei menatap sinis Dennis. "Apa badak badak? Pasti ajarannya Dian, nih."


Dennis dan Derrel tertawa kecil. Rei berkacak pinggang, lalu menoleh ke segala arah mencari Dian. Biasanya lelaki itu selalu nongkrong dengan anak perempuan di kantin.


"Kayaknya dia telat lagi." Gumam Rei.


"Eh, siapa yang telat?" tanya Dennis.


"Dian."


"Main sama kak Azura kali."


...********♥********...


Sementara itu di lain tempat, Azura baru tiba di lingkungan sekolah. Sikapnya seperti biasa. Menyapa para gadis yang lewat di dekatnya. Ia akan langsung pergi ke kelas karena ada yang ingin ia tunjukkan pada teman-temannya.


Namun saat melewati lorong, Azura dikejutkan oleh seseorang yang menegurnya. Ia pun menoleh ke belakang dan kembali kaget, lalu lari ke lorong di sebelahnya. Jalan itu menuju ke gudang. 2 Orang yang menegurnya itu mengejarnya.


"Sial, mereka pasti mau nagih hutang gw. Aaaaa ..." Batin Azura yang rada panik. Ia masuk ke gudang untuk bersembunyi tapi kedua orang itu berhasil menemukannya.


...********♥********...


 


Bel masuk pun berbunyi. Semua murid pastinya ke kelas masing-masing. Murid terakhir yang masuk kelas adalah Dian. Bertepatan dengan datangnya wali kelas mereka. Tapi yang membuat Dian heran, Azura masih belum datang juga.


Dian ingin bertanya pada Dennis, tapi Dennis keburu menoleh ke belakang dan bertanya duluan. "Eh, kirain Azura sama Dian. Kalian gak bertemu?"


"Hari ini gw belom ketemu Azura. Gak tau tuh anak hilang ke mana kali." Dian menopang dagu, lalu menendang-nendang kursi kosong Azura yang ada di depan mejanya.


"Kok gak biasanya, ya?" Dennis menyentuh dagu. "Azura gak pernah absen, loh. Kecuali sakit."


"Gw tanya Leon deh nanti. Mereka kan biasanya berangkat bareng."


Dennis dan Dian kembali memerhatikan guru. Karena hari ini hari Sabtu, kelas mereka dapat jadwal untuk bersih-bersih satu gedung. Tidak hanya kelas mereka, semua kelas juga sama. Pokoknya setiap hari Sabtu sudah menjadi kebiasaan untuk membersihkan kawasan sekolah yang disebut dengan "Sabtu Bersih".


"Sekolah lain aja adanya 'Jum'at Bersih', ini sabtu, coba?" keluh Dian yang masih malas beranjak dari kursinya setelah guru meminta semuanya untuk membersihkan kelas terlebih dahulu.


"Enjoy aja, Dian. Kau mau belajar emangnya? Mending kita nyapu-nyapu sekalian main~"


"Ya udh lah, sini sapunya." Dian meminta sapu yang dipegang Dennis. Lelaki itu memberikannya saja agar Dian mau bekerja. Sementara ia akan keluar, pergi ke gudang untuk mengambil peralatan bersih-bersih yang lain.


Saat melewati kelas Derrel, Dennis berhenti sejenak untuk memeriksa adik kecilnya. Ternyata di dalam kelas Derrel, masih ada guru yang memberikan pengumuman. Dennis berharap adiknya tidak menjadi bahan bullyan di kelas.


Sepanjang lorong kelas, Dennis melihat semuanya sangat kompak dalam bekerja sama membersihkan kelas. Mereka juga ada yang membawa peralatannya masing-masing. Jadi tidak ada yang repot-repot pergi ke gudang untuk mengambil peralatan pembersih.


Saat sampai di belakang gedung, Dennis tidak melihat seorang pun di sana. Ia sampai di depan gudang. Saat mau membukanya, tiba-tiba pintu terbuka dengan sendirinya. Dennis terkejut dengan hal itu, ditambah dengan kehadiran Azura yang keluar dari dalam sana seperti seorang yang ketakutan.


"Eh, eh, Azura kenapa bisa tiba-tiba keluar dari dalam sana? Kau ngapain?" tanya Dennis cemas.


"De–Dennis! Gw gak tau kenapa bisa begini ... tiba-tiba pas bangun, mereka udah kayak gitu. Kenapa ... bisa begitu?"


"Aku gak ngerti, kak. Emangnya ada apa di dalam gudang?"


"Gw akan pergi minta bantuan!"


"Eh, Ra!!" Azura pergi meninggalkan Dennis. Dennis sendiri sebenarnya ingin ikut. Tapi ia penasaran dengan apa yang dilihat Azura di dalam gudang. Awalnya setelah memasuki gudang, Dennis tidak melihat apapun yang aneh. Lalu di dekat rak-rak barang, Dennis menemukan genangan darah di sana.


"I–ini ..." Dennis mundur perlahan. Lalu tak sengaja menabrak sesuatu di belakangnya. Yaitu sebuah tempat penyimpanan bola berbentuk keranjang besar. Dennis terkejut dan langsung berteriak keluar gudang setelah ia melihat dua potongan kepala manusia di dalam keranjang tersebut.


"Uwaaa A–Azuraaa ... tungguin!!"


*


*


*


To be continued–