THE RULES

THE RULES
Episode 44



“Makasih ya udah bantuin aku cari tempat kos. Nyaman tempatnya, deket minimarket sama sekolah.” Derrel tersenyum melihat rumah itu. Vann menuju belakang Derrel dan menulis di buku kecil dengan bantuan punggung lelaki itu. Setelah selesai dia memberikan bukunya tersebut.


“Sama-sama. Rumahku juga lumayan dekat dari sini, kalo butuh bantuan kau bisa ke sana. Ini alamatnya.” Vann menuliskan alamatnya secara terpisah di bagian bawah buku. Setelah Derrel membacanya, Vann merobek halaman buku tersebut dan memberikannya kepada Derrel.


“Ah iya, makasih ya, Vann.” Setelah pamit dengan Vann, Derrel pulang ke rumah. Saat akan memasuki rumah, Derrel mendengar bunyi pagar. Ia pikir, ada orang yang datang. Tapi saat Derrel menoleh, ia melihat pagernya telah terbuka sendiri, tapi tak ada siapapun di sekitarnya. Derrel pun menutup kembali pager itu, lalu menyelotnya. Kemudian ia masuk ke rumah.


...****************...


Derrel melepas sepatu, lalu melihat jam dinding. Masih siang, jadi tidak ada siapapun yang pulang. Derrel melihat sekeliling, mencari sesuatu yang bisa dimainkan. Tapi tidak ada yang menarik. Ia ingin pergi ke kamar, tapi takut.


Derrel pun pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Ia mengambil gelas dan susu dalam kulkas. Lalu menuangnya di atas meja. Sebelum meneguknya, Derrel sempat melihat sebuah buku tua di atas meja. Terlihat tak asing, jadi Derrel melihat buku tersebut.


"Eh, ini buku yang dibawa pulang Kak Dennis dulu. Kenapa ada di sini? Apa bekas Kak Dennis baca, ya?" Derrel tak berani membuka bukunya. Ia pun pergi ke kamar untuk menaruh buku tersebut, lalu setelah itu ia kembali ke dapur.


Derrel terkejut melihat gelas beling yang tadinya terisi susu, jadi kosong tanpa sisah. Ia awalnya bingung, tapi Derrel tidak berpikir yang aneh-aneh. "Ah mungkin tadi aku belum menuangnya." Derrel menuang susu tersebut ke gelasnya, lalu meminumnya.


Tiba-tiba ia merasa lapar. Dennis membuka lemari dan melihat ada beberapa bungkus mie instan. Ia memasak air dan akan membuat mie saja untuk makan siang.


...****************...


Sejam kemudian, Dennis akhirnya pulang ke rumah. Ia memberitahu kedatangannya, tak ada yang menyahutnya. Dengan cepat, Dennis membuka sepatu, lalu masuk ke ruang tamu.


Di sana ia langsung melihat Derrel sedang memakai earphone sambil makan, adiknya itu meletakan mangkok berisi mie di atas paha, kakinya di letakan pada meja. Pandangannya mengarah ke ponsel. Dennis melihat ke arah televisi yang menyala.


Lelaki itu mendekati sang adik, dia memanggil-manggil Derrel tetapi tidak digubris. Dennis menghela napas kasar, tangannya mencabut salah satu earphone dari telinga Derrel. “Derrel!” panggil Dennis.


“Eh, kapan kak Dennis pulang?!” Derrel langsung menurunkan kakinya. Dennis menunjuk televisi, Derrel menoleh ke televisi dan memiringkan kepalanya. “Kenapa, kak?” tanya Derrel.


“Televisi nyala tapi kamu liatnya ke smartphone kamu, terus kakinya jangan ditaro di atas meja, ga sopan dan dengerin lagu jangan keras-keras, di lepas sebelah kalo bisa.” Dennis mengoceh, si adik menunduk karena tak berani menatap si kakak.


“Ma-maaf kak Dennis, lain kali aku ga ulangi lagi.” Derrel berbicara dengan nada pelan. Dennnis mengambil remot di atas meja dan mematikan televisinya.


"Aku nyalain tv biar gak sepi aja."


“Hm. ngomong-ngomong, aku ada berita baik.” Dennis meletakan surat-suratnya di atas meja, lalu duduk bersandar samping Derrel.


“Apa itu kak?”


“Aku keterima kerja di rumah sakit,” ujar Dennis sambil tersenyum lebar.


“Wah, keren kak! Aku juga udah dapet kos buat kita tinggal. Aku maunya besok kita pindah,” ucap Derrel.


“Ya udah, sebelum tidur kita kemas-kemas pakaian, ya?”


Derrel mengangguk mantap.


...****************...


Keesokan harinya. Alarm ponsel adila berbunyi, dia mematikan alarm dan melihat sang ibu masih tidur. Gadis itu mengambil sticky note dan, menulis “Aku mau berangkat sekolah dulu ya ma” lalu menempelkannya pada botol minum di atas meja.


Rumah Adila tampak gelap dan sepi, dia menyalakan beberapa lampu agar terang. Adila menuju kamar mandi, setelah selesai dia memakai seragam sekolahnya.


Sambil memakai jaket, dia memastikan lagi hal-hal yang akan dibawa. “Power bank, buku, tempat pensil, tempat minum, hp, kabel charger, dasi, rompi. Oke, udah semua.”


Saat sedang sarapan, Adila melihat cahaya merah yang diapit oleh garam dan gula. Adila menggeser dua bumbu dapur tersebut dan menyentuh cahaya merah yang kecil tersebut. “Kotak?” Adila mengambilnya dan ternyata itu adalah kamera berukuran kecil.


Adila melirik sekitar, dia mencari kamera itu lagi, ternyata di ruang tengah ada. Adila mulai khawatir di kamarnya juga. Adila segera menuju kamar dan mencari benda yang sama. “Ah, ada. Siapa orang yang berani masuk rumah gw?”


...****************...


Diana mengetuk meja, dia kembali melihat layar laptop. “Sial, ketauan. Ck, aku penasaran hubungan dia sama Dennis apa? Bisa-bisanya dia akrab dengan Dennis saat di rumah sakit.”


Diana yang mengetahui kameranya itu dirusak mulai menggerutu kesal. Ia akan mencaritahu dengan cara lain. Tapi sekarang ia harus pergi, karena sudah terlambat.


Karena cuaca cerah dan panas, Diana menguncir rambut dengan model ponytail agar tidak merasa gerah. Lalu ia memakai mini dress lengan panjang dan membawa tas selempang.


Sebelum pergi, ia menyelimuti boneka kesayangannya, lalu mengecup keningnya. Setelah itu, Diana mematikan lampu kamar dan pergi kuliah.


...****************...


Di rumah Tio, lelaki itu baru bangun pukul 7. Ia tahu dirinya telah terlambat. Lagi-lagi ia males ke sekolah dan memutuskan untuk bolos sekali lagi. Tapi ia mengurungkan niat tersebut, lalu menelpon Vann.


Ternyata tak diangkat. Saat Tio menelponnya lagi, tetap tidak diangkat. Ia pun menyepam chat saja di kontak Vann. Ternyata langsung dibales oleh lelaki itu.


[ Aku gak bisa ngomong. Ngapain telpon? ]


"Sial, aku lupa." Tip tersenyum samar, lalu ia mengetik untuk membalas. [ Tolong bilang ke wali kelasku, aku sakit, oke? ]


[ Beneran sakit? ]


[ Iya, tolong ya ]


[ Hm ]


Tio pun meletakkan ponselnya di samping bantal, lalu kembali tidur. Tak lama, kucingnya masuk ke kamar dan tidur di atas kasur Tio.


...****************...


Derrel mengeluarkan bukunya yang di dalam ada lembar jawaban PR-nya. Ia lupa memberikan nama dan kelas pada lembaran tersebut, jadi akan ia tulis sekarang. Tapi saat sedang menulis, tiba-tiba seseorang merebut kertas Derrel, lalu merobeknya. Siapa lagi kalau bukan Divan?


"Tidak ..." Derrel terkejut melihatnya. Ia pun langsung berdiri dari kursi. "Apa yang kau lakukan?!"


"Kalau gw gak ngerjain PR, lu juga harus sama. Semuanya juga sama! Awas kalau ada yang berani bilang ke guru–"


"Kalau bilang, kenapa, huh?" Derel menatap tajam Divan.


"Oh? Lu kerjain PR lu lagi sono, tapi kerjain punya gw juga, ya?"


"Kenapa aku harus melakukan itu?"


"Kalau gak mau, kupukul kau." Divan menarik kerah baju Derrel. "Lu bisa mati di tangan gw. Jadi jangan sampai berani macem-macem lu ya sekarang."


Vann tidak terima melihat Derrel diperlakukan seperti itu. Ia pun berdiri dar tempatnya, tapi sebelum bergerak, Simon dan Yudi tiba-tiba menghalangi.


"Lu gak usah ikut campur, Bisu!" Simon mendorong keras tubuh Vann. Lelaki itu pun diam saja. Ia melihat Derrel masih belum disakiti.


"Awas, lu!" Divan melepaskan Derrel, lalu pergi ke tempat duduknya. Sementara Derrel masih menatap Divan sebentar, lalu memungut kertas tugasnya yang dirobek. Ia punya cara lain untuk membalas Divan, tanpa harus menggunakan kekerasan. Karena ia sudah janji pada Dennis untuk tidak menggunakan kemampuannya itu lagi.


...****************...


Di waktu yang sama, Dennis pergi ke halte bus. Tak lama, sesuai jadwal, bus akhirnya datang. Dennis langsung memilih tempat duduk paling belakang saja yang kosong. Ada 2 halte lagi yang harus bus itu lewati sebelum sampai di rumah sakit.


Dennis bermain ponsel selama di dalam bus hanya untuk membalas beberapa pesan. Setelah itu, ia memutuskan untuk melihat keluar jendela agar tidak mabuk.


Lima menit kemudian, bus sampai di halte berikutnya. Dari tempatnya duduk, Dennis bisa melihat dua orang yang tak asing di matanya. Mereka adalah kakak beradik kembar, teman sepekerjanya Dennis.


"Udah gw bilang, pasang alarm itu pas di jam 6, ajg!"


"Lu nya aja yang kebo, bngsd! Mau alarm segede gaban, bersuara sekeras gajah juga ga bakal bangun lu. Kudu gw tendang dulu."


"Berlebihan amat lu! Ah dah lah ayo, keburu telat kita ini."


"Mereka bertengkar? Perasaan kemarin akrab-akrab aja." Batin Dennis sambil membayangkan tingkah kedua orang itu kemarin. Ramah, sopan santun, peluk-pelukan, suka ketawa dan sangat family friendly. Berbeda dengan yang sekarang ia lihat.


"Oh? Dennis!"


"Eh, ada Dennis di sini."


"Halo!" Dennis menyapa si kembar, lalu kedua temannya itu duduk di kursi kosong samping Dennis.


"Mau ke kerjaan juga, kan?" tanya sang adik.


"Ya iya lah, lol." Yang menjawab malah kakaknya. Hal itu membuat sang adik emosi kembali. "Santai, ajg. Jangan ngegas!"


"Kata lu di mana yang ngegasnya?!"


"Itu 'lol' berarti 't*lol, kan?!"


"Tch, udah gede masih gak bisa bahasa Inggris!" kakaknya pun menjitak sang adik.


Dennis hanya tertawa kecil melihat kelakuan mereka berdua. Lalu tak lama, ia bertanya, "Untuk tugas di hari pertamaku ini apa aja, ya?"


"Ah, kau temenin aku di depan, ya? Buat nyatet nama pasien yang baru datang. Kalau ada." Jawab Ryo dengan nada semangat. Lalu adiknya bernama Aldy berkata, "Aku ada tugas lain. Jadi kalian berdua yang akur, ya?"


"Ah i–iya oke ..." Dennis mengangguk kaku.


"Kau udah siapin bekel, kan, tadi?" tanya Ryo pada adiknya.


"Iya sudah, kak! Aku kan udah mandiri." Aldy tersenyum manis, tapi sebenarnya terpaksa. Lalu Ryo mengusap brutal kepala adiknya itu. Mereka jadi terlihat akrab kembali dan damai-damai saja selama di bus.


*


*


*


Di ruang kepala sekolah –


"Hah anak-anak ini. Awas saja mereka." Pak Kepala sedang merobek-robek kertas berisi ancaman dan peringatan yang sebenarnya membuatnya takut. Ia masih menduga kalau si pengirim surat-surat itu adalah ulah muridnya. Ia jadi sangat kesal.


Lalu tak lama kemudian, beliau melihat secarik kertas kecil yang masuk lewat bawah pintu ruangannya. Pria itu mengambil kertas tersebut dan langsung membuka pintu. "Kena kau sekarang! Akan saya hukum ka– Eh?!"


"Yo, Pak! Masih belum pergi juga, hm?" Seorang lelaki berpakaian serba hitam berdiri tepat di depan pintu. Dengan wajah tersenyum manis, ia mengeluarkan sebuah pisau daging dari balik tubuhnya.


"Si–siapa, kau?!" Pak Kepala mundur sampai di depan mejanya. Ia terpojok di ruangannya sendiri. Orang itu pun masuk dan menutup pintu. Ia menempelkan telunjuk di bibir dan berkata, "Anda selalu mengabaikan surat-surat dari saya. Kini sekarang, harimu telah tamat, Pak Tua."


To be continued –