THE RULES

THE RULES
Episode 36



Derrel kembali ke kelasnya. Ia ingin pergi ke tempat duduknya, tapi Simon terlihat menghalangi jalannya.


"Hei bocah! Urusan kita belum selesai."


"A–aku gak bikin salah. Tolong jangan ganggu aku." Derrel ingin melewati orang itu, tapi masih tetap dihalangi. Simon merogoh paksa kantung celana Derrel dan menemukan uang 10 ribu. "Ah dikit amat ini. Mana yang lain?"


"Aku gak punya uang lagi, hiks ..." Derrel terlihat ingin menangis saat duitnya diambil. Ia berusaha merebutnya, tapi Simon terlalu tinggi untuk Derrel.


"Hah ... tenang aja, Mon. Besok kan dia bakal bawa lebih." Divan beranjak dari tempatnya. Ia mencengkram pundak Derrel, lalu menatapnya dari samping wajah Derrel. "Iya, kan?"


"I–iya ... aku akan bawa uang ... lebih ..." Derrel terpaksa menjawabnya demi keselamatannya. Ia tidak ingin membuat ketiga orang itu marah lagi padanya. Mereka sangat kasar jika hal itu terjadi. Derrel sendiri juga tidak ingin terluka lagi.


"Haha ... ya sudahlah. Segini juga cukup buat beli roko–"


Belum saja Simon menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba tangannya yang memegang uang Derrel digenggam seseorang. Reflek Simon langsung menoleh dan menarik tangannya. Tapi orang itu tetap menahan tangan Simon.


Simon pun mendorong orang itu. Tapi tetap saja tangannya tidak dilepaskan. "Kau ... kau mau mati, hah?!"


Lelaki itu tetap menatap Simon, lalu menunjukkan sebuah buku catatan kecil dengan tulisan, "Balikin duit dia".


Simon pun membacanya. "Huh? Apa ini? Kenapa pakai catatan segala? Gak bisa ngomong, ya?"


Simon malah meledeknya. Lelaki itu meletakkan bukunya ke meja di belakang. Lalu memelintir tangan Simon, kemudian menjatuhkannya. Dengan cepat, lelaki itu merebut uang milik Derrel dan mengembalikannya kepada pemiliknya.


Derrel menerima uangnya dengan ragu. "Ah, makasih kak– Eh awas di belakangmu!"


Yudi hendak memukul lelaki itu dengan kursi. Tapi lelaki itu mendorong Derrel agar tidak terkena, lalu menunduk. Ia berbalik badan dan satu pukulan mulus menonjok perut Yudi. Alhasil Yudi pun terdorong ke belakang dan terjatuh. Lelaki itu menyibak poninya yang menghalangi mata, lalu mengambil buku catatannya.


Simon kembali bangkit. Ia meluruskan tangannya, lalu melancarkan serangan pada lelaki berambut hitam tadi. Tapi lelaki itu menunduk dengan cepat, lalu melompat dan menendang kepala Simon sembari berbalik badan.


Simon terpental sedikit dan menabrak meja di kelas itu. Ia mengeluh punggungnya sakit. Lelaki itu mengeluarkan earphone dari kantung jaketnya, lalu memakainya. Ia kembali ke tempat duduk.


Derrel dan Divan tidak percaya dengan aksi lelaki tersebut. Derrel sendiri juga tidak mengenal dia. Seketika dalam hati ia bergumam, "Dia ... murid di kelas ini? Tapi siapa?"


Divan yang tak terima melihat temannya dipukuli pun mulai berdiri. Ia sendiri yang akan menantang anak itu, tapi tiba-tiba bel bunyi dan seorang gadis kepang yang tadi pun memasuki kelas. Gadis itu langsung menghampiri Divan dan memberikan pesanannya.


"Ma–maaf, aku terlambat. Kantinnya rame–"


Tanpa berkata apapun, Divan merebut plastik hitam yang diberikan gadis itu. Tak lama, Simon dan Yudi kembali bangun dan menghampiri Divan. Gadis itu kembali ke tempat duduk. Begitu juga dengan yang lainnya karena guru telah datang.


Setelah Derrel duduk di tempatnya, ia masih memandang lelaki berambut hitam yang menolongnya tadi. "Ah aku akan berterimakasih nanti padanya," ujar batin Derrel.


...****************...


Waktu berjalan begitu cepat, bel istirahat berdering. Derrel bangkit dari kursi dan memghampiri lelaki yang menolongnya tadi. "Hai," sapa Derrel.


Namun lelaki itu seakan tidak mendengarnya. Ia masih sibuk bermain game. Derrel tidak ingin mengganggunya, jadi ia menunggu sebentar. Lalu tak lama, Derrel menepuk pelan pundak lelaki tersebut. "A-anu, makasih buat yang tadi. Namamu siapa?"


Lelaki tersebut mematikan ponselnya lalu menulis di bukunya. Ia menunjukannya pada Derrel "Vann" tulisannya.


"Oh, aku Derrel. Kau bawa bekal?"


Vann membuat silang di buku.


"Gitu .... Mau aku beliin makan?"


Vann membuat silang lagi. Derrel merasa orang yang sedang dia ajak bicara tidak suka bergaul. Bertepatan dengan itu, Dennis memanggil dari depan kelas Derrel untuk makan bersama. Mereka berdua makan di kantin.


"Masih diganggu?" tanya Dennis.


"Ah nggak, Kak. Ada orang baik yang bantuin aku. Kayaknya dia tunawicara, komunikasinya nulis di buku."


"Udah bilang terima kasih?"


"Udah." Derrel mengangguk. Ia berdiri untuk membeli teh kemasan botol. Tiba-tiba Diana datang duduk di sebelah Dennis dengan kotak bekalnya.


"Aku boleh di sini?" tanyanya dengan nada datar. Dennis mengangguk, dia melanjutkan makannya.


"Mukamu kenapa?" Diana melirik ke arah Dennis. Ia ingin menyentuh pipi Dennis yang diplester, tapi tak jadi.


"Ta–tadi jatoh di gudang, kena perkakas." Dennis tersenyum paksa, dia merasa sangat tidak enak ketika berbohong. Diana mengangguk saja, lalu memakan bekalnya.


Tak lama, Derrel kembali. "Loh, sejak kapan ada Kak Diana?"


"Barusan, cepetan selesain makannya. Nanti keburu bel," ujar Dennis.


Tak lama ada dua orang masuk ke kantin. Satu siswa terdapat kucing di pelukannya, satunya berwajah datar, mengingatkan Dennis pada seseorang.


"Den." Diana memanggil. Dennis menoleh ke arah gadis itu.


"Kalo udah lulus nanti, aku cocok ga jadi guru?" tanya Diana sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga.


"Cocok kok. Pasti bagus kalau kau jadi guru. Bantu orang-orang muda buat makin pintar."


Diana merasa tersentuh, dia tersenyum tipis.


"Kau kenal?" tanya Tio sambil mengelus-elus kepala kucingnya.


Vann mengangguk. Tapi ia tidak menulis apapun dalam buku kecilnya.


...****************...


Di kelas. Derrel membuka tas dan mencari buku-bukunya. Tak sengaja dia mendengar percakapan Divan dan teman-temannya. Seketika gerakan Derrel berhenti dan mendengarkan percakapan tiga orang itu.


"Pokoknya kita harus singkirin si bisu itu." Divan mengeratkan kepalan tangan.


"Susah, Van. Lu liat kan tadi?" ujar Yudi. Simon hanya diam saja mendengarkan dua orang temannya.


"Apa liat-liat?" tanya Divan yang sedang melirik ke arah Derrel. Derrel seketika bergerak kembali mengambil buku-buku yang dia butuhkan. Lelaki itu menghadap ke arah Divan lalu membungkuk, "Maaf, maaf."


"Aku dengar, teman-temannya udah mati. Makanya sekarang dia dilindungi sama kakaknya." Ujar Simon.


"Tau dari mana lu?" tanya Divan tak percaya.


"Kan tragedi di kelas atas itu viral, cuy. Lu gak pernah nonton berita. Hampir semua anak di kelas itu mati setelah mampir ke rumah si tiga bersaudara itu." Jelas Simon.


"Ortunya juga?" tanya Yudi.


"Iya."


"Kasian jadi yatim piatu." Yudi menertawakannya. Begitu juga dengan Simon. Lalu tak lama, satu kepalan tangan menghantam kedua orang itu.


"Kalian ngejek gw, ya?!" Devin membentak mereka dengan geram. Yudi dan Simon berhenti tertawa. Mereka baru ingat kalau Devin juga tidak mempunyai orang tua.


"E–enggak, kawan! Kita kan ngetawain si Derrel." Simon mencari alasan, lalu Yudi menimpalinya. "Jangan tersinggung, ya? Hehe ...."


"Urusan Derrel tidak penting." Divan beranjak dari kursinya. Ia ingin jajan ke kantin. Kedua temannya pun mengikutinya. Sembari berjalan keluar kelas, Divan melanjutkan perkataannya. "Si Bisu itu bakal menjadi pengganggu kita. Kita harus menyingkirkannya sebelum hari esok."


...****************...


Dennis menutup kotak bekalnya. Ia ingin kembali ke kelas setelah membeli permen. "Aku duluan ya, Na."


Diana hanya mengangguk. Ia juga merapihkan kotak bekalnya. Tapi sebelum pergi, Dennis melihat kerumunan di tempat duduk lain. "Kira-kira ada apa di sana, ya?"


"Ah dia ... murid baru dari kelas sebelah. Kelas adikmu." Diana menjawab. Dennis dan Diana masih memperhatikan kerumunan yang dipenuhi anak perempuan itu. Tapi tak lama, mereka berdua pun meninggalkan kantin.


"He ... ada pengganti kak Leon ternyata." Dennis iseng-iseng mengintip ke kerumunannya. Ternyata para anak perempuan sedang melihat idola mereka. "Hanya kau di sini yang gak ikut. Apa kau tidak tertarik dengan cowok ganteng, Na?"


Diana hanya menggeleng. Dennis tertawa, lalu ia pun pergi dengan Diana. Mereka kembali ke kelasnya.


...****************...


"Plis ... aku gak suka begini. Ini hanya mimpi. Hanya mimpi." Seorang lelaki bernama Tio menempelkan kepalanya di atas meja sambil menutupi atasnya dengan telapak tangan.


Vann yang ada di sampingnya menepuk-nepuk punggung lelaki itu, lalu menulis sesuatu. Tak lama, ia pun menunjukkannya pada para perempuan yang mengelilinginya. "Bisa kalian jangan seperti ini? Aku merasa tidak enak ^^"


Para perempuan itu hanya senyum, mereka mulai diam dan bubar. Beberapa anak lainnya meminta tanda tangan pada Vann. Lelaki itu dengan senang hatinya akan memberikannya. Setelah itu, para gadis pun pergi.


Vann kembali melirik ke Tio. Tak sengaja ia melirik ke piring makanan Tio yang sudah habis dimakan kucingnya. Vann pun menepuk pundak temannya itu.


Tio kembali mendongak. Vann menunjukkan buku kecilnya dengan tulisan, "Kau gapapa?"


"Ehm, ya ... selama cewek-cewek itu pergi, aku baik-baik aja." Tio mengusap wajah, lalu mengambil makanannya dari piringnya. Sebelumnya ia memesan ikan goreng dengan nasi. Tapi saat dilihat, isi piring itu hanya tinggal nasinya dan tulang ikan.


Tio terkejut sekaligus terheran. Dengan cepat, ia pun melihat ke bawah meja lalu bergumam, "Dasar kau."


Ada seekor kucing Oren di bawah mejanya. Itu adalah kucing Tio yang suka ia bawa ke mana-mana. Tio kembali ke menidurkan kepala di atas meja dan mengeluh sekali lagi. "Ikanku diambil si Moching ...."


Dengan santainya, Vann menulis, "Beli lagi".


"Hah ... aku mau ke kelas aja." Tio memakan nasi sisah, tapi tidak menghabiskannya. Setelah itu ia menarik ekor kucingnya dari bawah meja, lalu menggendongnya dan pergi.


Namun si Vann tidak beranjak sama sekali. Ia memakai earphone dan bermain game di ponselnya. Lalu tak lama, ada tiga orang yang menghampirinya. Vann tidak menjauhkan pandangan dari ponsel dan tetap fokus bermain game.


Sampai akhirnya salah satu dari orang itu merebut ponsel Vann. Vann hanya melirik, lalu merebut ponselnya lagi. Ia mengangkat alis sebelah seakan bertanya, "ada apa?".


Ketiga orang itu adalah Divan, Simon dan Yudi. Divan mencengkeram pundak Vann, lalu menatapnya. "Pulang sekolah, jangan harap kau bisa sampai rumah! Awas kau!"


Divan pun mendorong pundak Vann, lalu pergi. Yudi mengikutinya. Simon tersenyum sinis pada lelaki itu lalu berkata, "Habis lah kau hari ini. Awas sampai cacat, loh~" Setelah itu mereka bertiga pun pergi.


Vann menghela napas, lalu bergumam dalam hati, "Dasar bocil."


*


*


*


To be continued –