
"Hmm ... permainan yang sekarang bakal seru, nih. Tapi gak bakal seru, kalau kalian cepat matinya. Sebaiknya kalian hati-hati." Farel menatap tajam semuanya. Lalu setelah itu ia menghitung jumlah kertas HVS yang dipegangnya.
"Kau kira, aku bakalan ngikutin permainan bodohmu, kah?!" Salah satu siswa berseru pada Farel.
Farel hanya meliriknya sebentar, lalu kembali menghitung kertasnya. "Hm? Menurutmu gimn? Aku sih terserah. Kau mau ikut atau tidak."
"Eh? Jadi kita boleh pulang??" Seketika semua orang terkejut sekaligus senang. Siswa tadi menggendong tasnya, lalu berlari ke luar kelas. Disusul oleh anak lainnya.
Namun setelah melewati pintu kelas, tiba-tiba tubuh siswa itu kaku. Semua orang berhenti bergerak dan memandangnya dengan heran. Salah satu temannya menepuk pundak anak itu. Tapi tiba-tiba siswa tersebut, mengangkat tangan, lalu mencekik lehernya sendiri.
Tentu saja semua orang terkejut. Salah satu temannya mencoba untuk menghentikan aksinya itu. Dia keluar kelas dan ingin menjauhkan tangan anak itu dari lehernya. Tapi tiba-tiba tubuh temannya itu juga mendadak kaku.
Lelaki itu berjalan menghampiri jendela kelas. Lalu dari luar, dia membenturkan kepalanya di kaca jendela sampai pecah. Semua murid langsung mundur dan menjauh dari jendela itu. Tak sampai di sana, lelaki itu mengambil serpihan kacanya, lalu menyayat lehernya sendiri sampai dalam dan darahnya bermuncratan.
Siswa yang mencekik lehernya itu juga sudah tewas. Begitu juga dengan anak kedua yang keluar kelas. Melihat hal itu, Derrel menyadari sesuatu. Dia langsung berteriak pada teman-temannya. "Stop! Jangan ada yang keluar kelas! Keluar dari kelas ini, sama dengan bunuh diri!"
"Nah, tuh kalian tau." Ujar Farel, lalu turun dari atas meja guru. "Seharusnya kalian mendengarkanku saja. Batu banget, sih."
Yudi terlihat kesal dengan omong kosong yang dikatakan lelaki itu. Ia mengepal tangan, lalu berjalan menghampiri Farel. "Maksud lu apa mau ngurung kita di sini semalaman, hah?!" Tak segan-segan, Yudi langsung memukul kepala Farel sampai lelaki itu terjatuh.
Namun tiba-tiba, tubuh Yudi seketika kaku. Secara perlahan ia melirik ke pisau yang tergeletak di samping mayat gurunya. Ia mengambil pisau itu.
Simon yang merupakan teman dekatnya pun langsung menghampiri lelaki itu dan menghentikan perbuatannya. Tapi entah kenapa, pergerakan Yudi terlalu kuat. Simon tak bisa berbuat banyak dan akhirnya, Yudi menusuk dadanya sendiri sampai akhirnya ia mati dengan pisau menancap di tubuhnya.
"Kyaaaa!!" Para murid perempuan langsung berteriak histeris. Salah satu dari mereka ada yang menangis dan akhirnya kedua bola mata mereka tiba-tiba pecah dan membuat pendarahan hebat di mata siswi itu.
Lalu ada seorang anak lainnya yang mengambil ponsel mereka, lalu berusaha untuk menghubungi orang tuanya. Ternyata tersambung. Ia berhasil menghubungi ibunya. "Mama! Mama, tolong aku! Aku–"
Tubuh anak itu seketika kaku. Ia menjatuhkan ponselnya, lalu berjalan ke arah jendela. Dengan bantuan kursi, gadis itu memanjat jendela dan langsung menjatuhkan dirinya. Semua murid langsung menghampiri jendela itu. Ternyata gadis tadi juga telah mati karena jatuh dari ketinggian.
"Aaaah! Ini jadi tidak asik! Kenapa kalian suka melanggar rules di sini?!" Kesal Farel membentak mereka semua. Ia kembali bangun, lalu mengelap darah di bibir.
"Apa maksud lu dengan rules?" tanya Simon setelah berduka karena kepergian Yudi.
"Ck,, terpaksa aku harus ngasih tau sebelum jumlah kalian semakin berkurang." Farel melipat tangan di depan, lalu mulai menjelaskan. "Sebenarnya di sini ada semacam rules atau peraturan yang tidak boleh kalian langgar selama permainan berlangsung. Salah satunya adalah penyebab kematian teman kalian tadi. Yah~ Aku tambahin itu agar lebih seru aja. Tapi malah begini jadinya."
"Ka–kalau boleh tau, rules lainnya itu apa aja?" tanya seorang siswi di paling depan.
"Itu ... rahasia~ Kalian harus mencarinya sendiri." Farel tersenyum, lalu ia kembali mengambil kertas HVS dan akan membagikannya kepada yang lain. "Kita mulai permainan kedua aja, ya? Kalau ada yang mau pulang, silahkan~"
"Aku akan mengikuti permainanmu!" tegas Derrel dari tempatnya. "Aku akan bertahan hidup sampai bisa ketemu kakakku lagi."
"Hm? Kakakmu, ya? Kayaknya mati gak mati, kau gak bakal bisa ketemu dia lagi." Farel menyeringai.
"Eh? Apa yang kau lakukan pada kakakku?!"
"Oh, kau mau tau?" Farel merogoh kantung. Ia mengambil ponselnya, lalu memperlihatkan sebuah gambar pada Derrel.
Seketika Derrel terkejut melihat foto itu. Yang Farel tunjukkan adalah foto tubuh Dennis yang sudah dimutilasi dan dibungkus dengan kantung plastik besar. Derrel menggeleng pelan, lalu mundur dari Farel. "Nggak, gak mungkin!"
"Kau tak lihat sendiri? Anak buahku telah mengincar kakakmu dan membunuhnya." Farel mendekati Derrel, lalu berbisik di samping telinga lelaki itu. "Dia sudah tidak ada. Sebaiknya kau ikut mati dengannya juga."
Derrel mendorong tubuh Farel. "Tidak! Uwwaaaa!! Kak Dennis!!" Derrel terjatuh duduk di tempat. Ia mengacak rambutnya dan berteriak, matanya hampir mengeluarkan air mata. Tapi dia menahannya.
Vann mendekati Derrel. Dia mengelus pundaknya. Lalu menggunakan bahasa isyarat, "Jangan putus asa dulu."
Derrel tak mengerti. Tapi ia tahu kalau Vann sedang memberi dorongan untuknya. "Iya, Vann, makasih." Derrel tersenyum dia berdiri pelan-pelan.
"Tch, yang lain bersiaplah." Farel kembali ke depan kelas. Ia membagikan kertas setiap baris sesuai jumlah siswa dan siswi. Murid paling depan membagikannya ke belakang, begitu seterusnya.
Farel menjentikan jari. Seketika kertas HVS yang kosong berisi tulisan. "Kalian harus selesaikan itu. Waktu kalian .... Lima menit untuk mengerti, lalu kerjakan selama sepuluh menit."
Tulisan-tulisan itu berisi angka dan huruf. Di bawah huruf-huruf tersebut ada angka sesuai urutannya.
"Huruf vokal itu satu, dua, tiga, empat, lima. Hm .... " Derrel mengelus dagu. Berusaha memahami.
"Langsung kerjain aja ga sih?" ujar Divan. Lalu dia menulis di kertas itu dengan pulpen, tetapi tidak ada yang terjadi. Dia juga mencobanya dengan pulpen baru tetep tidak bisa ditulisi. Divan juga mencobanya dengan pensil, tetapi tak ada yang terjadi. "Apaan ini?"
"Waktu terus berjalan loh, ayo fokus!" tegas farel.
"Males, ah." Salah satu siswa duduk dengan santainya lalu tidur.
"Ini maksudnya buat apa?" ujar batin Vann.
"Aku kayaknya tau buat apa. Dulu saat aku SD kak Rei kasih aku mainan mirip kayak gini." Derrel seakan membaca pikiran Vann.
Waktu berlalu. Tiba-tiba tulisan yang menjadi kunci dalam permainan kali ini hilang. Digantikan dengan munculnya urutan angka.
"Ah untung udah hapal." Derrel menghela napas panjang. Lelaki itu berasumsi kalau angka-angka itu harus diterjemahkan menjadi sebuah kalimat.
Farel tidak mengatakan apapun. Dia hanya memutar-mutar jam untuk mengatur timer, lalu memerhatikan sekitar. Para siswa dan siswi mulai mengerjakan.
Derrel melihat tulisan yang aneh. Dia tidak bisa menerjemahkan itu. Namun Vann memberi petunjuk, dia menyenggol tangan Derrel dengan sikunya, lalu mengusap kertas yang berisi angka dengan jarinya.
Derrel mempraktekan hal itu. Ternyata ada garis timbul yang menunjukan bahwa angka itu menyatu, angka yang memiliki dua digit. Tak lama ada siswa yang mendekati Derrel, dia sedikit menggebrak meja dengan kertas.
"Rel, nyontek dong!" ujar siswa yang baru bangun dari tidurnya tadi.
"U-ung sebentar, aku selesaikan dulu." Derrel menulis jawabannya secepat yang dia bisa. Sesekali dia mengingat petunjuk yang sebelumnya tadi muncul.
Derrel memberikan kertas itu kepada siswa yang memintanya. Lalu lelaki itu melihat kalimat, "Selamat, kau berhasil~"
"Itu doang? Bener ga nih?" ujarnya menatap curiga kepada Derrel.
"Be-bener kok," ujar Derrel. Lelaki itu menyalin tulisannya. Belum saja selesai menulis, Derrel tiba-tiba mengambil gunting lalu menusuk kepala siswa tersebut berkali-kali.
Semua orang yang melihat itu tentu saja terkejut. Terutama Vann, dia berusaha menghentikan lelaki itu tetapi tenaga Derrel tidak seperti biasanya.
"Siapa suruh nyontek?" ujar Derrel dengan nada datar. Lelaki itu mundur dari temannya yang sudah ia bunuh. Ia menjatuhkan guntingnya, lalu seketika Derrel tersentak, dia melihat mayat di depannya lalu melihat tangannya yang berlumuran darah.
"Eh, enggak ... aku ga lakuin ini!" Derrel berteriak, dia memeluk dirinya sendiri. Air mata sudah menggenang di kelopak mata Derrel. Ia jadi sangat takut.
Vann berlutut di samping Derrel dan memeluknya sambil mengelus-elus kepala Derrel untuk menenangkannya. Divan diam-diam menyontek jawaban milik Vann dan menulisnya di kertas milik dia. Farel melihat hal itu, tapi entah kenapa Divan baik-baik saja.
Namun siswa lain yang menyontek diam-diam, justru dibunuh oleh korban mereka. Darah bercipratan dan terjadi pembunuhan massal. Farel tertawa kecil melihat tingkah mereka. Sampai siswa di sana tersisa 10 orang saja. Derrel, Vann, Divan, Simon, dan enam murid lainnya.
"Oke waktu habis! Selamat ya, kalian adalah sepuluh orang terpilih dari dua puluh delapan orang." Farel tersenyum manis sambil menyatukan kedua telapak tangannya. "Yah sebenarnya ... aku ada banyak permainan lain. Tapi ternyata kalian semua lemah. Kebanyakan mati di awal-awal."
Namun kelas benar-benar sepi, tak ada yang merasa sebahagia itu setelah menyelesaikan permainan. Farel menatap mereka dengan heran. "Loh, kenapa? Biasanya kalo kalian berhasil bakal sombongin diri. Tapi ya sudahlah~"
"A–apa kita boleh pulang?" tanya seorang siswi dengan ragu.
"Hmm ... pulang, ya?" Farel menyentuh dagu. Lalu tiba-tiba matanya menyala dan langsung melirik ke semua anak yang tersisah.
Mereka semua terkejut. Tubuh mereka tak bisa digerakkan dan secara perlahan, pandangan mereka mulai gelap. Farel yang masih menatap mereka pun tersenyum, lalu bergumam, "Ayo pulang ke rumahku."
...****************...
Di lain tempat, Diana bersama sopirnya sedang mengintai sebuah rumah. Setelah menunggu lama, akhirnya Diana melihat orang yang ia cari, yaitu Adila.
Adila baru pulang sekolah. Ia memasuki pagar rumahnya, lalu membuka kunci. Namun setelah memasukkan kunci ke lubangnya, ia merasakan sesuatu yang mendekat dengan cepat dari belakang. Gadis itu menunduk dan benar saja. Sebuah balok kayu menghantam pintu rumahnya.
"Kau siapa, hah?!" bentak Adila pada orang yang memegang balok kayu tersebut. Orang itu kembali mengangkat senjatanya dan hendak memukul Adila.
Untungnya gadis itu menguasai sedikit teknik bela diri. Jadi begitu balok kayu tersebut mengarah padanya, ia langsung menunduk ke samping, lalu memukul kepala orang itu sampai terjatuh.
Adila benar-benar terkejut tadi. Ia merasa tidak aman di rumahnya, jadi ia akan menelepon polisi. Namun saat sedang merogoh tas, tiba-tiba dirinya dibekap seseorang dengan kain dan membuatnya pingsan.
Diana menjatuhkan tubuh Adila, lalu membuka kacamata hitamnya. Tak lama, orang yang dipukul Adila itu kembali bangkit. Dia ternyata sopirnya Diana.
"Bawa dia sebelum ada yang melihat." Ujar Diana, lalu kembali ke mobilnya. Sopirnya pun membawa tubuh Adila, lalu memasukkannya ke dalam bagasi. Lalu setelah itu, mereka berdua pun pergi dari kediaman Adila.
*
*
*
To be continued –