
Dennis berterima kasih kepada Diana lalu tersenyum, hati Diana sangat senang melihat senyuman Dennis. Gadis itu mengangguk pelan. Kemudian duduk di kursinya, tepat di belakang Dennis. Tak lama seorang siswa di pintu langsung berseru, “Woy, guru dateng!”
Semua orang langsung duduk di tempatnya masing-masing termasuk Diana. Guru tersebut meletakan barang yang dia bawa. “Ketua kelas tolong bagikan dulu kertas soal ulangannya ya. Saya mau ke toilet.”
“Baik, Bu!” respon ketua kelas saat ini. Guru pun menuju keluar kelas dengan sedikit tergesa-gesa. Merasa keadaan sudah aman, mereka langsung berkumpul meminta jawaban ke satu sama lain.
Dennis mengambil kertas untuk mengerjakannya. Saat sudah akan selesai, ada air yang membasahi kertas ulangannya. Ternyata saat Diana lewat ingin membuang air minumnya, tiba-tiba ia terdorong murid lain.
“Ah, maaf Dennis.” Diana menyatukan kedua tangan.
“Oh, ya, gak masalah. Aku bisa tulis ulang.” Dennis tersenyum dan hendak mengambil kertas lagi. Namun Diana langsung menyodorkan selembar kertas dengan pinggir-pinggirnya bermotif kucing. Dennis menerima saja kertas itu. “Makasih,” ujar Dennis.
Diana pun pergi ke luar kelas. Ia menuangkan air minumnya sedikit ke tanaman di depan kelas. Dalam hati, ia sangat bahagia bisa sering-sering berbicara dengan Dennis.
...****************...
Di kelas Tio. Lelaki itu meletakan pulpen di antara bibirnya dan hidung. Kemudian pandangannya teralihkan, dia melihat anak kucing di bawah pohon sedang tertidur. Ingin sekali dia menghampirinya.
“Tio!” seru guru. Tio langsung tersentak, pulpennya jatuh. “Ini kesekian kalinya kamu tidak fokus pelajaran saya!”
“Ma-maaf, Pak. Saya berusaha lebih fokus.” Tio duduk tegak sambil menghadap papan tulis.
“Tolong ya yang lain perhatikan juga. Saya akan tunjuk satu-satu,” ujar guru tersebut. Pria itu kembali menulis di papan.
Tio ingin mengambil pulpennya yang terjatuh. Tak sengaja matanya mengarah ke dua buah kaki di dekat guru. Tio langsung duduk tegak kembali untuk melihat siapa itu. Namun, tak ada siapapun di sana. “Sial, masa sih aku pagi-pagi halu,” ujar batin Tio. Lelaki itu menggeleng pelan lalu kembali fokus.
Di kelas Derrel tak kedatangan guru sama sekali. Derrel hanya memanfaatkan waktu untuk tidur. Sedangkan Vann sesekali melirik Derrel, lalu kembali ke ponselnya untuk melihat beranda sosial media. Video-video kucing imut terus bermunculan, membuat Vann ketagihan.
Divan dengan iseng mencabut kabel headphone Vann. Beruntung videonya terjeda otomatis ketika kabel headphone-nya di cabut. Vann menoleh ke kiri, dia menepuk kepala Divan dengan kencang. Divan kesal, tetapi dia tidak ingin membuang tenaga sekarang.
Empat puluh menit kemudian bel berbunyi, pelajaran selanjutnya adalah pelajaran olahraga. Seluruh murid langsung keluar kelas sambil membawa baju ganti mereka. Derrel juga melakukan hal yang sama, sebelum dia pergi, Derrel dirangkul Divan dan punggungnya ditepuk-tepuk beberapa kali, lalu dia bilang, “Semangat, ya!”
Vann menatap sinis Divan. Setelah Divan pergi, dia mendekati Derrel lalu mencabut kertas berisi tulisan hinaan di punggungnya. Vann menepuk pundak Derrel, lalu memiringkan kepalanya sekejap, bermaksud mengajaknya pergi ganti baju bersama.
“Oke, nanti kamu duluan aja, terus tungguin aku,” ujar Derrel. Vann mengangguk menyetujuinnya. Mereka berjalan bersama ke ruang ganti. Tak sengaja Derrel melihat ruangan kosong yang luas dengan papan tergantung bertuliskan “Pencak Silat” Entah kenapa, Derrel jadi tertarik dengan seni bela diri itu.
Derrel ingin seperti kakaknya, Rei, yang jago bela diri. “Wah, izin kak Dennis, ah. Aku juga mau bisa bela diri."
...****************...
Semua murid di kelas Derrel pun pergi ke lapangan. Di sana sudah ada guru olahraga mereka yang menunggu. Setelah semuanya berkumpul, guru itu memberitahu kalau nilai praktek mereka masih banyak yang kosong. Apalagi dengan Derrel.
Jadi untuk hari ini, guru itu memutuskan ingin mengambil nilai praktek para muridnya dengan lomba lari. Satu persatu murid akan dipanggil sesuai abjad. Tapi untuk perempuan dan laki-laki dipisah. Sekarang duluan yang laki-laki terlebih dahulu.
Vann mencari tempat duduk yang bersih, lalu mengeluarkan ponsel. Ia tahu namanya akan dipanggil terakhir, jadi selagi menunggu, ia memutuskan untuk bermain game sejenak. Tapi ia sedikit merasa tak nyaman karena anak-anak perempuan yang terus memperhatikannya.
Anak dengan huruf awal A–C telah selesai. Sekarang guru itu akan memanggil 4 orang berikutnya. "Derrel, Divan, Edward, Ferdi."
Namanya yang dipanggil pun langsung menghampiri garis start. Derrel sedikit takut karena orang di sampingnya itu adalah orang yang ditakutinya. Ia akan berhati-hati dan menjaga jarak.
Peluit dibunyikan. Derrel dan ketiga anak lainnya langsung berlari sekuat tenaga. Tubuh Derrel yang kecil memungkinkan ia dapat berlari cepat. Tapi Divan yang tidak ingin kalah pun mempercepat larinya dan saat ia sudah dekat di samping Derrel, lelaki itu menyelengkat Derrel dengan cepat tanpa ketahuan.
Derrel seketika itu juga terjatuh dan lututnya terluka kena gesekan aspal. Ia tertinggal oleh temannya yang lain. Derrel kembali bangun dan berlari kecil sekuat tenaganya. "Hah ... hah ... aku kalah ...."
Divan menghela napas panjang, lalu lewat di samping Derrel. "Makanya hati-hati kalau lari."
"Hm ..." Derrel mengangguk aja menanggapinya. Ia pun kembali ke teman-temannya yang lain. Semuanya tak ada yang mengkhawatirkan luka Derrel termasuk gurunya. Derrel sudah menduga kalau ia memang tidak pernah dianggap.
Namun tak lama setelah duduk, ada yang menepuk pundaknya. Saat Derrel menoleh, ternyata itu Vann. Lelaki itu memberikan saputangan bersih dan plester.
"Ung ... ga usah, aku gapapa, kok!" Derrel menggeleng cepat.
Karena Derrel tidak mau, jadi Vann yang akan melakukannya. Ia membersihkan luka Derrel dari kotoran yang menempel dan darah dengan saputangan, lalu memberikan plester. Ia mengangguk mantap setelah melakukannya.
"Ah ... ma–makasih." Derrel ingin memberi sesuatu yang lebih dari sekedar ucapan "terima kasih" pada lelaki itu. Karena hanya dia saja yang paling baik dengannya daripada yang lain. Derrel jadi merasa tidak enak.
Sekarang adalah sisah anak-anak terakhir yang belum lari. Vann mulai berdiri karena ia tahu namanya akan dipanggil. Sebelum menuju garis start, Vann sempat mendengar bisikan dari kelompok Divan. Karena tidak peduli, ia pun menuju garis start duluan. Seketika itu juga, para anak perempuan langsung menyorakinya dengan memberikan semangat.
"Tch, sok ganteng amat si bisu itu." Gumam Divan. Lalu ia melirik ke Yudi yang sudah berdiri ingin ke garis start. "Jangan sampai kau gagal."
"Heh, tenang aja. Akan kubuat malu dia." Yudi pun pergi ke garis start. Ia meregangkan badan sambil sesekali melirik ke Vann. Ternyata lelaki di sampingnya itu masih sibuk bermain ponsel sekalian menunggu aba-aba dari gurunya.
Tak lama kemudian, peluit dibunyikan. Keempat lelaki terakhir itu langsung berlari. Yudi di posisi pertama, sedangkan Vann kedua. Saat Vann ingin menyusul Yudi, lelaki itu sedikit mendekat ke Vann, lalu mengarahkan kakinya ke depan kaki Vann.
Untungnya Vann menyadarinya lebih cepat. Reflek lelaki itu menyingkirkan kaki di depannya dengan menendangnya sambil berlari. Vann sempat oleng sedikit, tapi ia masih bisa lari. Sedangkan Yudi malah terjatuh di tempatnya.
"Akh, sial!" umpat batin lelaki itu. Lalu kembali bangkit. Ia menyusul Vann dengan cepat, tapi lelaki itu telah sampai duluan ke finish. Yudi merasa sangat kesal. Ia ingin memukul lelaki itu, tapi bukan waktu yang tepat sekarang.
"Kenapa bisa kalah?!" bentak Divan saat Yudi kembali.
Yudi hanya menggaruk kepala sambil menunduk. "Ya maap, dia seperti sudah membaca gerakan gw tadi."
"Tch."
...****************...
"Eh, makasih ya, soal lututku." Ucap Derrel dengan senangnya. Vann hanya mengangguk sambil menyimpan bajunya dalam tas. Derrel pun kembali ke tempat duduk. Tak lama setelah itu, Dennis datang ke kelas Derrel.
"Gimana harimu?" tanya Dennis sembari mendekati Derrel di tempatnya.
"Aku baik. Tadi sempet diganggu, tapi Ada Vann yang nolong aku." Jawab Derrel lalu tersenyum. Ia mengambil kotak bekal, lalu memeluknya.
"Vann? temen sekelasmu? Yang mana anaknya?" tanya Dennis cepat.
Derrel langsung menoleh ke tempat duduknya Vann. Ia ingin menunjuk, tapi tidak jadi. "Eh dia udah ke kantin duluan kayaknya. Intinya dia duduk di situ."
"Ooh ... ya udah ayo ke kantin! Apa mau makan di sini?"
"Kantin aja, kak!" Derrel lari duluan ke luar kelas. Di depan sana, ia dikejutkan dengan seorang siswi dari kelas sebelah yang jalan melewati Derrel dengan temannya yang lain.
Dalam pandangannya, Derrel sempat melihat siswi tadi adalah Arel karena model rambut dan warnanya yang sama. Tapi setelah Derrel mengucek mata, ia salah lihat. Siswi itu mirip dengan Arel, tapi bukan Arel yang sesungguhnya.
"Rel, ada apa?" tanya Dennis.
"Gapapa, kak! Ayo, keburu ramai kantinnya."
"Ah oke."
...****************...
Saat di kantin, Derrel membuka kotak bekalnya. Ia disediakan mie goreng dengan nugget. Begitu juga dengan Dennis. "Ah aku mau beli minum dulu." Dennis berdiri.
"Aku nitip, kak!"
Dennis mengangguk, lalu pergi. Karena kantinnya tidak terlalu ramai, jadi lelaki itu cepat kembali. Ia membeli teh botol yang sama dan satunya diberikan ke Derrel.
Derrel langsung membuka tutupnya dan meneguknya. "Ah ... Haus banget aku abis lari tadi."
"Ha? Kenapa lari?" balas Dennis.
"Guru ngambil nilai praktek dengan lomba lari tadi."
"Ooh ..." Dennis mulai memakan bekalnya. Begitu juga dengan Derrel. Tapi saat Derrel menyuap makanannya, ia teringat dengan eskul pencak silat yang sedang mencari anggota baru. Ia pun langsung memberitahu kakaknya. "Anu Kak Dennis! Aku boleh ikut eskul, gak?"
"Hm?" Dennis berhenti makan, lalu melirik. "Gak biasanya. Mau ikut eskul apa?"
"Umm ... aku mau ikut belajar pencak silat. Biar aku bisa bela diri dan gak diganggu lagi." Jawab Derrel, lalu mengetuk dua jarinnya ke depan.
Dennis terdiam sejenak, tapi setelah memikirkannya, jawabannya adalah, "No."
"Eh?" Derrel terkejut. "Kenapa gak boleh, kak? Sama bibi aja aku boleh."
"Kau udah izin ke bibi?"
"Iya ... sama dia dibolehin."
"Tapi sama aku nggak." Dennis membuang muka, lalu melanjutkan perkataannya. "Aku gak mau kau ikutan begituan."
"Loh kenapa, kak?! Ini kesempatan yang bagus untukku!"
"Nanti kau kelelahan, gak ada waktu belajar. Nanti nilaimu malah turun lagi." Jawab Dennis,.lalu menatap serius pada adiknya.
Derrel juga menatapnya begitu. Ia benar-benar yakin. "Tapi aku bisa jaga waktu. Lagipula eskul kan berjalan pada hari Sabtu."
"Tetep aja aku gak mau kamu ikut begituan."
"Kenapa, kak?!" Derrel tak sengaja membentaknya. Dennis tersentak, begitu juga dengan Derrel yang tak sengaja mengeluarkan suara kerasnya. "Ung ... apa Kak Dennis suka liat aku diganggu terus???"
"Bukan begitu, Rel ...."
"Huh! Semua orang sama aja. Gak ada yang mengerti aku!" Derrel membereskan kotak bekalnya, lalu berdiri.
Dennis baru pertama kali melihat ekspresi Derrel yang mengerutkan dahi dan cemberut. Yang kali ini, adiknya itu benar-benar marah. Derrel beranjak dari tempatnya lalu meninggalkan kantin.
Dennis terus melirik Derrel sampai adiknya itu tidak kelihatan lagi. Lalu ia lanjut makan sambil menggerutu tak jelas dalam hati.
*
*
*
To be continued –