
Sepanjang jalan, Dennis hanya melihat jalan tol. Belum ada yang berubah, bahkan dia sudah menguap sebanyak empat kali saking bosannya.
"Rel, aku bosan," ucap Dennis dengan nada manja. Sedangkan Rei sedang tertidur sambil mendengarkan musik.
"Aku juga, Kak Dennis. Aku gak bisa tidur dengan keadaan duduk," balas Derrel. Lima menit berpikir, mereka berdua memiliki ide setelah melihat Rei.
"Rel, kamu tau apa yang aku pikirkan?" tanya Dennis.
"Tentu." Derrel mengangguk. Mereka berdua menyeringai. Kemudian mengganggu Rei. Sedangkan di mobil Leon. Lelaki itu tak bisa tidur karena Azura dan Dian.
"Ah, minggir lu gendut!" hadrik Azura. Dian tak terima dan membalasnya.
"Ngaca dong, njir!" balas Dian sambil mencubit lengan Azura.
Leon hanya bisa memijat pangkal hidungnya. Kepalanya sakit mendengar mereka berteriak seperti kera yang lepas dari kandangnya. Namun semakin diamkan mereka semakin melunjak.
"Bisa diam, gak?!" bentak Leon. Azura dan Dian terkejut, spontan menatap Leon yang sedang marah itu. "Kulempar keluar mobil nanti!" lanjutnya.
Dian tak percaya. Ia tersenyum miring, lalu membalas Leon. "Memangnya lu berani?" Dian mengejeknya. Bertepatan dia duduk di sebelahnya. Leon membuka pintu mobil kemudian menarik baju Dian.
"Eh, mak! Mati dah gw! Yare yare, iya gw diem. Damai!" Jantung Dian hampir saja berhenti berdetak karena kaget. Leon melepas Dian dan dia sendiri kembali ke tempat duduknya dengan jantung yang masih berdegup kencang.
"Main-main, sih, sama kambing," bisik Azura. Dian hanya berdecak lidah kemudian melipat kedua tangannya.
Keheningan terjadi. Akhirnya Leon bisa tidur dengan tenang. Semalam dia begadang karena tugas dari ayahnya.
"Kambing butuh tidur juga ternyata," gumam Azura.
"Iyalah bodoh! Lu pikir dia apa? Robot?" balas Dian yang geram.
"Ah lu gak kenal deket ama si kambing."
Dian menggeleng tak mengerti.
"Oh iya, menurut lu Arel dateng gak?" Sebuah pertanyaan terlintas di benak Dian.
"Dateng anjir. Lu udah nanya itu tiga kali." Jawab Azura.
"Masa sih? Kapan?" Dian tak ingat apa-apa.
"Cih, amnesia nih anak. Di jalan ke rumah Derrel lu nanya itu dua kali."
"Oh, emang lu tau darimana? Lu dukun?"
"Aku tanya orangnya lah, njir!" Azura menepuk kening Dian dengan kencang. Mereka akhirnya kembali terdiam.
Tak lama Dian dikejutkan oleh Azura yang mengguncang tubuhnya. "Corat-coret muka si Kambing mau gak?"
Dian melirik Leon, lalu menaik turunkan alisnya. Mereka berdua mengambil spidol yang berada di mobil itu dan membuka tutupnya.
"Kupatahin leher kalian," ucap Leon dengan mata yang tertutup. Mereka berdua tersentak dan kembali duduk di tempatnya. Ternyata mereka tak berhasil melancarkan aksinya.
"Kek cenayang," gumam mereka setelah kembali duduk dengan tenang.
...*******♥*******...
Setelah setengah jam, Derrel akhirnya melihat pemandangan lain. Namun hanya pohon-pohon saja. Dia menepuk-nepuk pundak Dennis yang masih sibuk mewarnai wajah Rei.
"Apa?" tanya Dennis. Ia menoleh menatap Derrel.
"Kalau rumah kita sedalam ini. Bagimana kita sekolah? Terlambat terus, dong?" ucap Derrel.
"Ya, semoga aja ada jalan pintas." Dennis tersenyum dan itu membuat Derrel tenang. "Nanti setelah sampai, kita berkeliling saja nyari jalan. Atau tanya sama mama aja ada jalan bagus apa enggak, gitu."
"Ooh ... oke deh." Derrel mengangguk.
Dennis kembali dengan urusannya untuk menggambar sesutu di wajah Rei. Derrel hanya melihat dan ia berusaha untuk menahan tawa agar tidak berisik.
Dennis dan Derrel terkejut. Mereka langsung meletakkan spidolnya ke atas pangkuan Rei sebelum Rei tersadar sepenuhnya. Setelah itu, Dennis mendorong adik kecilnya kembali ke tempat duduk dan pura-pura tidur. Derrel bersandar pada jendela dan Dennis bersandar pada bahu adiknya.
"Aduh ... eh apa kita sudah sampai?" tanya Rei. Ia mengucek mata dan melihat keluar jendela. Dari pantulan jendela mobil, ia melihat bayangan dirinya dan terkejut.
Rei langsung mengusap-usap wajahnya, lalu melihat telapak tangannya. Ia menyadari wajahnya kotor, terdapat tiga warna dari spidol yang menempel di wajahnya.
Ia menduga kalau wajahnya berantakan karena ulah kedua adiknya. Dengan cepat, ia menoleh ke belakang untuk mengomel pada mereka, tapi ternyata saat dilihat, Dennis dan Derrel masih tertidur pulas.
Rei jadi bingung sendiri. Ia mengambil tisu yang ada di bawah kursi mobil, lalu membersihkan wajahnya dengan menciptakan sedikit air dari botol. Dalam hati, ia masih bertanya-tanya, "Kenapa mukaku bisa jadi begini, ya?"
Rei menemukan beberapa spidol berwarna di dekat tempat duduknya. "Apa aku yang melakukannya tanpa sadar? Kebetulan tadi aku lagi mimpi tentang pelangi. Hmmm ...."
"Aduh, tadi ketabrak gak, anaknya?"
Rei kembali melirik ke depan, ke arah orang tuanya. Lalu tak lama, Dennis dan Derrel kembali membuka mata dan berpura-pura seperti orang yang habis bangun tidur.
"Ada apa, Ma?" tanya Derrel pelan sambil mengucek mata.
"Kok kita berhenti di sini?" tanya Dennis setelah Derrel.
"Kayaknya enggak, deh! Soalnya tadi anak itu sudah ada di pinggir jalan dan menghilang dalam semak." Ayahnya menjelaskan. Rei, Dennis dan Derrel masih terlihat bingung.
Namun tak lama, ibu mereka menjawab pertanyaan Derrel sebelumnya. Ternyata beliau sempat mendengarnya. Ia menoleh ke bangku belakang dan menjawab, "Tidak apa-apa. Tadi ada anak yang sembarang menyeberang. Kan jadi kaget."
"Oooh ..." Rei mengangguk pelan. "Tapi apa anak itu baik-baik saja?"
"Iya kali. Dia sudah kabur lagi ke jalan di seberangnya tadi." Jawab ibu.
"Apa rumah kita masih jauh?" tanya Derrel. Ia melihat keluar jendela. Lingkungan sekitarnya jadi berubah. Terlihat lebih banyak kebon dan perbukitan, tapi tak banyak pohon di pinggir jalan. "Kok sekitar sini kayak pedesaan, ya? Beda banget sama di kota.
"Iya memang begitu, sayang. Rumah kita memang masuk ke pedesaan." Jawab ibunya. "Sebentar lagi sampai, kok! Ayo ayah, jalan lagi."
"Iya." Ayah kembali menginjak gas mobilnya dan kembali menjalankannya. Mobil Leon yang ada di belakang juga ikut berjalan kembali. Mengikuti mobil Dennis dari belakang.
"Loh, tadi mobil mereka kenapa berhenti, ya?" tanya Dian. Ia sendiri juga berhenti sejenak untuk memakan cemilannya.
"Mana gw tahu. Mungkin ayahnya Dennis capek nginjek gas mulu." Azura menjawab sambil menyisir rambutnya. Ia merapihkan poninya lagi dan sesekali membenarkan posisi penutup matanya.
...********♥********...
Mereka akhirnya sampai di rumah tersebut. Rumah cukup besar, bahkan sangat besar dan megah. Derrel berpikir kalau dia dan teman-temannya bisa jungkir balik sesuka hati.
Beberapa barang kecil di angkut oleh mereka semua. Cukup melelahkan untuk naik turun tangga. Karena beberapa barang kecil adalah peralatan rumah tangga di kamar, sebagian berada di dapur.
Setelah selesai, mereka berenam disuguhi minuman dingin dan minuman hangat khusus untuk Leon. Tak lupa juga Ayah Dennis dan dua orang tukang angkut.
"Eh, Le. Capek gini minum anget, emang enak?" tanya Dian. Azura langsung menyela, Leon sudah menduga hal tersebut akan terjadi.
"Ya, karena kambing rambutnya tipis, nanti kalo kena dingin langsung jadi daging beku. Terus jual, deh." Secepat kilat Leon menjewer telinga Azura.
"Aw, aw! Putus nanti telinga gw, Le!" seru Azura yang kesakitan, yang lain hanya bisa menertawakannya.
Derrel tak sengaja melihat orang tuanya dan tukang kembali ke mobil. "Ma, Pa mau kemana?" tanya Derrel setelah berlari kecil ke ambang pintu.
"Mau pindahin barang lain, ada yang ketinggalan. Sementara itu, kalian jalan-jalan dulu aja," jelas ibunya. Derrel mengangguk-angguk saja.
*
*
*
To be continued–