THE RULES

THE RULES
Episode 23



Permainan masih tetap berlanjut. Setelah Leon melakukan tantangannya, seorang lelaki bernama Revan mulai membuka amplop.


"Ah, apaan ini, anjir?" Revan melihat kertasnya. Dia harus jujur soal hubungannya. Sedangkan pacarnya ada di samping dia persis.


"Eh, ada apa, sayang?" tanya Siska yang merupakan pacar dari Revan saat ini.


"Em, ja–jadi ... selama ini gw gak cinta sama lo," ujar Revan dengan nada tegas. Ia benar-benar mengungkapkannya dengan jujur.


"Hah? Terus buat apa dua tahun yang kita habisin, hah?" Gadis di sebelahnya itu mengepalkan tangan dengan erat. Ia melotot tajam ke lelaki itu.


"Gw sebenernya udah ada cewek lain. Niatnya besok minta putus sebelum lu tau, eh sekarang malah gini." Revan tidak berani menatap mata pacarnya di sebelahnya itu. Namun, dalam hatinya dia sangat takut.


"Dasar cowok br*ngs*k!!" Gadis itu menampar Revan. Suaranya terdengar sangat keras.


"Uuuuh, sakit tuh~" Sempat-sempatnya Azura bercanda tentang hal itu. Dian langsung menepuk kepala Azura. "Aduh!"


Siska langsung menjauh dari Revan. Ia benar-benar benci dengan lelaki itu sekarang. Sementara Revan sendiri merasa baik-baik saja, yang penting ia sudah mengungkapkannya dan hidupnya aman.


"Terus Toni dapat apa?" tanya Tania.


Toni menghela napas panjang. Dia seperti enggan mengucapkannya. Namun akhirnya dia berkata, "G–gw harus rebus tangan gw selama sepuluh detik. Ah tapi gw gak mau. Bodo amat mati juga—"


Toni seketika tercabik-cabik. Darahnya bermuncratan ke sekeliling dan mengenai wajah Tania.


Tania di sebelahnya hampir saja muntah. Gadis itu langsung menjauh dari potongan daging tersebut. Devin menepuk-nepuk punggung gadis itu untuk menenangkannya.


"A–aku baik-baik saja," ujar Tania. Gadis itu membuka amplop, ternyata dia mendapatkan dare.


"Eh, tadi dare ku bukan ini. Kenapa jadi dare si Toni?" Tania mengigit kuku. Dia menenangkan diri, lalu ke dapur. Karena khawatir, Devin pun pergi menemaninya.


"Sepertinya kalau 1 orang gugur dan tidak melaksanakan dare nya itu, mungkin dare itu akan pindah ke orang di sampingnya." Pikir Rei dalam hati.


Tak lama, Fani tiba-tiba datang membawa kunci inggris yang ia temukan dari ruangan yang gelap itu. Dia baru keluar dari ruangan tempat kukunya dicabut Azura.


Gadis itu berlari menuju Azura dan mengangkat kunci inggris itu. "Mati loooo!" seru Fani. Ia benar-benar menyerangnya dan hendak memukul Azura dengan brutal.


Azura menghindar dengan melangkah mundur yang jauh. Fani terus menyerang dan mengayunkan benda itu sampai tak sadar kalau dia juga menyerang teman-teman yang lain.


Rei langsung melindungi Dennis dan Derrel. Dian diajak menjauh oleh Leon. Fani terus mengincar Azura sampai ia juga merusak barang lain di sana.


"Oy, gak diobatin dulu tuh kuku? Darahnya masih netes, loh~" ucap Azura dengan santainya. Nada bicaranya seperti menggoda Fani.


Fani semakin kesal dengan ucapannya. Ia kembali mengayunkan senjata kecilnya sampai ia berhasil memojokkan Azura di depan pintu keluar. Lelaki itu benar-benar terpojok.


Saat ia berbalik badan, sebuah kunci Inggris itu berhasil mengenai kepalanya. Seketika darah mengalir dari sela-sela kening lelaki itu. Tak lama, ia mendongak dan melirik tajam ke arah Fani.


"Perempuan seharusnya tidak bersikap kasar begitu, dong." Mata merahnya menyala dalam gelap. Fani yang ingin memukulnya lagi pun terkejut dan seketika tubuhnya membatu. Ia merinding hanya dengan menatap mata Azura.


Azura mengelap darah yang sudah mengalir melewati pipi, lalu ia mencekik Fani dan menjatuhkan tubuh gadis itu ke lantai. Kunci Inggris yang dipegang Fani terlempar sehingga gadis itu tidak memiliki senjata.


Azura menyentuh kedua pipi gadis itu, lalu membenturkan kepalanya dengan kepala Fani. Darah dari Azura mengenai wajah gadis itu.


Fani terus memberontak sampai ia berteriak minta tolong. Tapi teman-temannya yang lain tidak ada yang berani mendekat karena kelakuan Azura.


"Sial, kalau dibiarin, Azura bakal–" Rei ingin menghentikan perbuatan temannya itu, tapi Derrel terus menahan tangannya.


"Ja–jangan tinggalin aku, kak!"


"Tapi si Azura–"


KREK!


Seketika semua orang terkejut. Azura memutar kepala Fani sampai leher gadis itu patah. Tak lama, Fani mati di tangan Azura. Lelaki itu mengelap darah di pipi, lalu kembali berdiri, kemudian berjalan mendekati Dian.


"Bro ... Lu–"


Belum aja Dian bertanya, Azura langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan melotot dan menyela. "Ga ada peraturan buat bunuh yang lain, kan?"


Dian menelan saliva. Ia mengangguk kaku dan lagi-lagi mengeluarkan senyum paksanya.


Azura melirik ke yang lain. "Ayo lanjut aja, deh. Siapa yang belum, nih? Kita selesaikan permainan ini secepatnya."


Belum saja ada yang menjawab, tiba-tiba suara teriakan datang dari dapur. Beberapa orang menghampiri ruangan itu termasuk Rei. Di sana mereka melihat Devin yang sedang memasukan tangan kanan Tania ke dalam panci yang berisi air mendidih.


"A–apa yang kau lakukan?!" Rei menghampiri keduanya dan ingin memisahkan Devin dari Tania.


"Ja–jangan, Rei. Ini adalah dare, ku." Tania melarang. Ia memang meminta bantuan Devin untuk membantunya mencelupkan tangan ke air mendidih tersebut.


10 detik berlalu. Devin langsung menarik tangan Tania keluar dari air. Lalu tak lama, Rei datang membawa lap basah yang akan mengkompres tangan gadis itu.


"Hah ... Hah ... Akhirnya ...." Tania benar-benar lelah dengan semua ini. Ia sudah menahan rasa sakit dan tangis, tapi sekarang semuanya telah berakhir. Ia bisa menyelesaikan permainan kedua.


Semuanya kembali ke ruang tamu. Devin merangkul Tania keluar. Lalu sekarang, permainan dilanjut. Salah satu dari mereka, yaitu Siska membuka amplopnya.


"Semoga ... Semoga ..." Ia berdoa dalam hati agar tidak mendapatkan tantangan yang mengerikan. Setelah membuka amplop, ia bisa bernapas lega. Ternyata Dare untuknya tidak terlalu buruk seperti yang lain.


"A–aku harus menjedotkan kepalaku ke tembok. Hmm ... Bagaimana, ya?" Gadis itu menghampiri tembok dan menyentuhnya. Ia masih pikir-pikir dulu cara melakukannya.


Karena terlalu banyak membuang waktu, Azura jadi geram sendiri menunggu. Ia pun menghampiri gadis itu dan langsung membantu membenturkan kepala Siska ke tembok. "Gini doang, lama!"


"Akh! Ah!" Saat benturan terakhir, Azura melakukannya dengan rada keras sampai kening gadis itu memerah dan benjol. Seketika setelah benturan ketiga, Siska langsung jatuh terduduk sambil menyentuh kepalanya. "Aw ... Sakit ...."


"He–hei! Lu harusnya jangan kasar sama perempuan, dong!" bentak Revan.


"Apa?" Azura melirik tajam. "Kita tidak punya banyak waktu. Cepatlah yang lain, segera lakukan tantangannya, woy!"


"Sa–sabar, Ra ..." Dian menepuk-nepuk punggung temannya itu.


"Gak bisa sabar, gw! Waktu kan terus berjalan!"


"Hmmm siapa lagi yang belum?" Dennis bergumam. Lalu tak lama, lirikan matanya mengarah ke Derrel yang ada di sampingnya. Adiknya itu terlihat masih menatap kertas yang didapat. "Oh iya, Rel. Kamu kan belum."


"Eh?" Derrel terkejut. Ia langsung menatap kakaknya lalu menggeleng pelan sambil menggenggam erat kertas kecilnya.


"Ada apa? Apa tantangannya sulit?"


Derrel menggeleng. "A–aku dapet truth."


"Ah kalau gitu, ayo ungkapkan saja. Apa pertanyaannya?"


"Pe–pengalamanku selama SMA ini." Jawab Derrel dengan gugup.


Dennis tertawa kecil. "Hehe, itu mudah, Rel. Ayo katakan saja. Kau kan selalu bahagia kalau aku lihat."


Seketika Derrel membalasnya dalam hati. "Andai kau tau, kak Dennis."


"Apa, Rel? Siapa tau kakak bisa ngerti," ujar Dennis dengan lembut sambil mengelus kepala adiknya.


"Wa–waktu aku pulang telat pas mau ujian. Ingat gak?" Derrel menatap Dennis dengan tatapan sendu. Dennis mengangguk.


"Kak Rei marah-marah karena aku pulang telat. Itu sebenarnya aku lagi ... dilecehin." Derrel menjawab. Lalu ia menutup wajah dengan tangannya. "Mereka menyiksaku dengan hawa nafsu mereka. Aku tak tau harus gimana lagi saat itu."


"Eh, ma–maaf ya, Rel." Tentu saja Rei terkejut. Terlebih lagi dia merasa bersalah karena memarahi Derrel tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi. "Ke–kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya dari dulu, Rel?"


"A–aku takut ... mereka mengancam akan membunuhku." Suara Derrel bergetar. Wajahnya memerah dan ia terlihat ingin menangis. Tapi Dennis langsung memeluknya. "Itu udah berlalu, gak apa-apa," ujar Dennis. "Kali ini, aku pastikan gak ada yang bisa nyakitin kamu lagi."


"Sudah, sudah. Jangan ngedrama. Aku mau buka amplopku dulu." Sasha merubah suasana. Ia mulai membuka amplopnya dan ternyata ia mendapatkan Dare.


"Patahin—" Sasha melotot tak percaya. Dia memandangi jarinya sendiri. "Gak mau, gak mau!" teriak Sasha.


"Patahin jari ya?" tanya Azura. Dia melirik Dian sambil tersenyum jahat. Dian hanya tersenyum paksa. "Monggo mas," ujar Dian lalu mundur perlahan. Dia pasrah saja dengan kelakuan Azura.


"Sini, Sha. Gw bantuin." Sasha menatap sinis Azura. Dia menjauh dan tetap tidak mau melakukan darenya.


"Sini sama aku~" Azura menarik tangan Sasha. "Dian bantuin pegangin, Di!"


"Aku mau bantu. Kau pegangin," ujar Diana. Azura mengiyakan saja. Dia memegang tangan Sasha dan meletakannya di atas meja.


"Tu–tunggu!! Nggak, nggak, jangan!" Sasha berteriak. Diana tidak mendengarkannya. Dia menarik tangan Sasha satu lagi. Lalu mulai memilih jari untuk dipatahkan.


"Nih, pegang jarimu," ucap Diana. Sasha dengan ragu melakukanya. Kemudian, Diana tanpa ampun memulai aksinya. Ia menarik jari tengah Sasha, lalu menekannya dengan kuat sampai akhirnya tulang dalamnya patah.


KREK!


"Aaaakh! Aah, sial sakit!" Sasha mengigit bibirnya sendiri sampai darah mengalir dari sela-sela giginya.


"Satu saja atau semua?" tanya Diana.


"Sa–satu, woy. Satu!" seru Sasha dengan mata berkaca-kaca.


"Udah beres berarti." Azura melepaskan tangan Sasha. Gadis di sampingnya itu tiba-tiba menampar Azura, lalu kembali ke tempatnya semula sambil terus memegangi jarinya.


"Huuu ... sakit tuh~" Revan meledek. Saat Azura melirik tajam padanya, Revan langsung ciut dan bersembunyi dibelakang Devin.


"Selanjutnya gw," ujar Geo. Dia membuka amplop, lelaki itu ternyata mendapatkan dare. "Panggang tanganmu ... sial. Tangan gw yang indah bakal melepuh," ujar Geo. 


"Sudahlah. Cepat lakukan!" titah Azura. "Atau mau gw bantu?"


"Ck, gw sendiri juga bisa!" Geo pergi ke dapur. Tak ada yang mengikutinya karena mereka takut melihat. Ia menyalakan kompor dengan api kecil. Sebelum melakukannya, Geo menggigit lengan bajunya, lalu menempelkan telapak tangannya ke api itu.


Jeritan dari Geo terdengar sampai ruang tamu. Mereka meringis seakan merasakan sakit yang sama seperti temannya itu. Selagi menunggu Geo, Azura meminta dua orang yang tersisah untuk cepat menyelesaikan tantangan mereka.


"Eh siapa yang belum sekarang?" tanya Azura.


Olivia mengangkat tangan kanannya. Secara perlahan ia membuka amplop yang ia ambil tadi, lalu membacanya dalam hati. Tak lama, matanya membulat sempurna dan tangannya yang memegang kertas jadi gemeteran.


"Eh, kau dapat apa?" tanya Tania yang ada di sampingnya. Olivia tidak menjawab. Lalu Azura menghampiri gadis itu dan mengintip kertasnya.


"Oalah. Potong jari ternyata." Lelaki itu berkacak pinggang lalu menawarkan bantuannya. "Mau gw bantu potongin? Mau model apa? Sekali potong? Diiris? Atau dikuliti dulu?"


"Se–setress lo!" bentak Lia pada Azura.


"Ah elah, gak asik kalian." Azura cemberut, lalu ia kembali meminta Olivia untuk segera memotong jarinya itu atau Azura dengan senang hati akan membantunya.


*


*


*


To be continued–


List Pemain 🗿:



Dennis (L)


Derrel (L)


Rei (L)


Leon (L)


Azura (L)


Dian (L)


Geo (L)


Devin (L)


Lilo (L) ❌


Adila (P)


Revan (L)


Fani (P) ❌


Shira (P) ❌


Toni (L) ❌


Olivia (P)


Tania (P)


Siska (P)


Sasha (P)


Lia (P)


Diana (P)


Ayah 3 bersaudara ❌