THE RULES

THE RULES
Episode 34



Sampai di tempat pertunjukannya. Derrel menaiki tangga ke arah tempat duduk yang dia ingin. Derrel duduk di tempat yang dia maksud, lelaki itu menepuk-nepuk kursi di sebelah kanannya, meminta Dennis untuk duduk di tempat itu, sedangkan Diana di kanan Dennis. Pertunjukan berlangsung, Derrel senang melihat lumba-lumba itu melompat-lompat.


Saat pertunjukan hampir selesai, Diana ingin menempelkan tangannya lagi ke Dennis yang kebetulan ada di sampingnya. Tapi sebelum itu, Dennis keburu mengangkat tangan untuk bertepuk tangan karena pertunjukannya telah selesai. Diana cemberut karena hal itu.


Setelah pertunjukan selesai, mereka yang menonton diberikan sovenir berupa pin bergambar lumba-lumba lucu. "Aku mau pasang di tas sekolahku nanti," ucap Derrel sambil terus memperhatikan pin yang ia dapat dengan senangnya.


"Mau kemana lagi kita?" tawar Dennis.


"Aku mau makan. Ayo kita beli makan dulu." Derrel berlari keluar tempat itu duluan.


"Rel, tunggu, nanti kamu ilang!" seru Dennis. Namun Derrel sudah tidak terlihat wujudnya karena banyaknya orang yang meninggalkan tempat setelah pertunjukan tadi.


"Sebaiknya kita kejar, nanti dia hilang bakal repot," ujar Diana. Dennis mengangguk, mereka mengejar Derrel.


Derrel melewati aquarium-aquarium besar. Langkahnya terhenti saat melihat ikan yang besar yang menarik perhatiannya. Lelaki itu menempelkan tangannya di aquarium dan memerhatikan ikan tersebut.


"Derrel." Seseorang menyentuh pundak Derrel. Lelaki itu menoleh, ternyata itu Diana.


"Ah kak, liat itu ikannya gede," ujar Derrel sambil menunjuknya. Diana hanya berdeham untuk merespon. Tak lama, Dennis muncul, dia menumpu tubuhnya dengan tangan yang ditopang ke lutut.


"Haa ... ha ... kalian cepet banget sih larinya." Dennis berusaha mengatur napasnya.


"Kak Dennis jarang olahraga kali. Ngomong-ngomong liat tuh kak, ada ikan gede." Mata Derrel tidak bisa lepas dari ikan itu.


"Udah dulu liatin ikannya, sekarang kita cari makan." Dennis menggenggam tangan adiknya mengajaknya pergi.


"Bawa pulang ikannya boleh ga?" Derrel menoleh ke arah Dennis dengan muka polos.


Dennis menghela napas panjang, "Gak bisa Derrel, kita beli ikan lain aja nanti. Gimana?"


"Oke," respon Derrel.


Mereka menuju rumah makan di dekat pantai. Isinya kebanyakan makanan laut, Derrel memesan nasi putih, udang krispi, cumi-cumi dan minuman dingin. Dennis memesan hal yang sama dengan Derrel. Diana hanya memesan nasi goreng dan air mineral.


Selesai makan, Derrel dan Dennis memutuskan untuk kembali ke penginapan. Diana bilang dia akan pulang saja. Untuk menghabiskam waktu, Dennis dan Derrel bermain kartu.


Waktu berjalan. Dennis memesan makanan via online dan menunggu makanannya. Derrel tiba-tiba mendengar suara dari jendela. Lelaki itu menoleh ke arah jendelanya. "Ga ada apa-apa," gumamnya.


"Kenapa, Rel?" tanya Dennis, ikut menoleh ke arah jendela juga.


"Nggak ada apa-apa—" Mendadak ponsel Dennis berbunyi. Lelaki itu mengecek ponselnya.


"Aku ngambil makanan dulu bentar." Dennis bangun dari duduknya. Lelaki itu pergi keluar kamar meninggalkan Derrel sendiri. Lelaki itu mengambil bola kecil, memantulkannya ke lantai. Bola itu lepas dari genggaman Derrel dan memantul-mantul ke arah jendela.


Derrel mengejar bola tersebut dan mengambilnya. Angin kencang tiba-tiba menerpa, Derrel buru-buru menutup jendela. "Kayaknya bakal hujan, biasanya bunda bilang gitu."


Karena kamar mereka berada di lantai tinggi, Derrel jadi bisa melihat pantai dan gedung-gedung tinggi. Begitu juga dengan langitnya yang mulai gelap dan berawan.


Derrel menoleh ke belakang. Ia memperhatikan pintu yang tertutup. "Kak Dennis kok ngambil makanannya lama amat."


Tak lama, pintu terbuka. Derrel merasa lega setelah melihat Dennis masuk membawa dua kotak pizza. "Ini untuk makan malam. Jangan kamu sentuh dulu ya."


"Ah okelah, Kak Dennis." Jawab Derrel sambil mengangguk. Ia mengambil bola, lalu duduk di kasur. Dennis mendekati jendela, lalu menutup tirainya. Ia menunjukkan sesuatu pada Derrel, yaitu sebuah kaset.


"Rel, kita nonton ini mau, gak?" Dennis tersenyum samar saat menunjukkan sebuah kaset film pada adiknya. Derrel hanya mengangguk. Dennis menghampiri televisi di kamar itu dan mulai memasang DVD-nya.


Derrel mengambil bantal, dan memeluknya. Mereka berdua duduk bersandar di kasur sambil menonton.


"Ah film ini ... ini kan film horor yang kata Kak Rei gak boleh tonton. Dari mana Kak Dennis dapet kasetnya?" tanya Derrel.


"Aku ... membelinya, hehe ..." Dennis tertawa kecil. "Aku penasaran sama filmnya."


"Kata Kak Rei ... ini serem banget, makanya kita gak boleh nonton dulu."


"Dulu kita masih kecil. Sekarang kan boleh~" Dennis menyeringai. Tapi Derrel jadi takut dengannya. Kesukaan Dennis dengan film horor sangat mengerikan bagi Derrel. Derrel hanya memeluk bantal saja sambil bersandar pada kakaknya.


selang beberapa menit mereka nonton. Akhirnya sampai di adegan yang ditunggu-tunggu Dennis. Seseorang dalam film itu merasakan sesuatu yang aneh. Lalu ia mendengar suara dari lemari. Saat ingin memeriksanya, Derrel langsung menutup mata dengan bantal. Takut kalau ada jumpscare.


"Ah ternyata gak ada apa-apa tuh." Dennis terlihat kecewa. Lalu ia melirik ke Derrel yang gemeteran di sampingnya "Derrel, jangan takut. Bagian seram nya udah hilang kok."


"Ng ... nggak mau ... aku mau tidur aja ...."


"Ayolah, Derrel. Masa aku nonton sendirian, sih. Ayo nonton bareng sampe habis. Film ini gaada apa-apanya, kok." Dennis menepuk-nepuk kepala Derrel, lalu menyingkirkan bantal yang dipeluk Derrel.


"Be–beneran ...?" Derrel mencoba ngintip. Ia hanya melihat seorang wanita dalam film itu. Tapi tiba-tiba dari cermin di belakangnya, muncul sosok hantu yang mengerikan. Sontak Derrel teriak dan langsung kembali menutup mata. "Kak ... kak Dennis bohong!"


"Ma–maaf, Derrel. Aku gak bermaksud menakutimu ...."


"A–aku ngantuk."


"Kamu marah, ya?~ Maaf, ya. Maaf ya~" Dennis terlihat menggoda adiknya itu. Melihat Derrel ketakutan, terlihat imut di mata Dennis.


"Ndak mau, hmph!"


"Ya ampun ...."


JDAR!!


Petir menyambar dari luar. Hal itu membuat Derrel kembali berteriak karena kaget dan langsung memeluk kakaknya. Dennis menenangkan adiknya itu, lalu mendekati televisi. Ia mengambil remot, dan mematikan filmnya.


"Kita tidur aja deh. Kalau hujan berpetir gini, gak bagus nyalain tv."


Derrel mengangguk. Dennis meminta Derrel untuk menyabut charger ponselnya dan mematikan stop kontak. Sementara Dennis mencabut colokan televisinya. Setelah itu ia melompat ke kasur dan memeluk guling.


"Ah~ lembut banget di sini~"


"Ka–Kak Dennis ... untuk sekarang aja ya jangan dimatiin lampunya." Derrel masih terlihat duduk bersandar sambil memeluk bantal.


...****************...


Paginya, Dennis baru saja terbangun. Dia tidak melihat siapa-siapa di sebelahnya. Dennis meraba-raba selimut yang menggumpal, tidak ada apa-apa. "Eh, Rel? Derrel!" Dennis segera turun ranjang.


Dennis menuju kamar mandi juga tidak ada. "Derrel!" panggil Dennis. Di rak sandal masih ada sandal Derrel. Berarti dia tidak keluar dari kamar.


Dennis membuka lemari baju. "Hm, ga mungkin dia sembunyi di tempat bersekat kecil begini." Dennis mengecek tempat lain.


Dia melihat kaki keluar dari bawah ranjang. "Bu-bukan mayat, 'kan?" Pikiran Dennis mulai memikirkan hal aneh. Dia berlutut pelan-pelan dan memegang kaki itu, lalu menyeretnya keluar.


"Eh, Derrel?" Dennis berkedip beberapa kali, dia tidak percaya adiknya bisa di bawah sana. Derrel membuka mata pelan-pelan. Dia mengucek matanya.


"Pagi, kak Dennis." Derrel membuka matanya sebentar, lalu kembali tidur.


"Jangan tidur lagi. Kenapa kau bisa di bawah sini?" tanya Dennis.


"Semalem banyak petir. Aku takut , jadi aku ke bawah kasur aja," jelas Derrel. "Di bawah dingin." Derrel mengeluarkan selimut dari bawah ranjang


"Terserah deh, lain kali jangan gitu. Aku bisa peluk kamu." Dennis menghela napas panjang karena kelakuan adiknya. Derrel tersenyum, dia mengangguk.


Mereka membereskan baju dan menghabiskan pizza. Siang hari nanti mereka akan pulang. Untuk terakhir kalinya, Derrel mengunjungi pantai, dia berjalan di bibir pantai sambil bersenandung.


Dennis mengikutinya di belakang, dia melihat anak-anak sedang bermain. Ada orang kulit putih juga yang sedang berjemur. Dennis langsung membuang muka dan fokus mengawasi adiknya.


"Kak Dennis, liat itu." Derrel menunjuk truk es krim yang di selimuti roti.


"Kau mau?"


"Iya iya, mau." Derrel menarik-narik tangan Dennis. Muka melas Derrel membuat Dennis tidak bisa menolak keinginan adiknya itu. Mereka mendekati truk es krim tersebut. Dennis memesan satu untuk Derrel.


"Kok kak Dennis gak beli juga?"


"Biar hemat, nanti ga bisa pulang repot."


"Esnya bagi dua aja nanti," ujar Derrel. Dennis mengangguk. Setelah menerima es krim itu. Derrel duduk di kursi kayu dekat sana. Dennis sesekali mengecek jam.


...****************...


Siangnya, matahari benar-benar terik. Dennis dan Derrel menarik koper mereka menuju terminal. Dennis menuju loket membeli tiket untuk dua orang. "Kamu duduk sana aja sambil jaga koper aku nih," ujar Dennis


"Iya, kak."


Setelah memesan tiket. Dennis menghampiri Derrel dan mencari bus yang akan mereka naiki. Sore harinya mereka baru sampai di terminal tujuan. Dennis menghubungi bibinya untuk menjemput. Mereka menunggu selama sepuluh menit sampai bibinya datang.


"Bagaimana liburannya?" tanya bibi.


"Di hari terakhir ga asik. Aku diajak nonton horor sama kak Dennis terus ujan deres sampe ada petir," celoteh Derrel. Dia masih melanjutkan ceritanya.


Sedangkan Dennis melihat keluar jendela. Tiba-tiba matanya tertuju pada seseorang yang sedang dipinggir jalan. "Eh, ngapain dia di situ?"


"Liat apa kak Dennis?"


"Ah nggak, kayaknya aku halu." Dennis memalingkan muka dari jendela mobil.


"Dennis sama Derrel besok mulai sekolah?" tanya bibi, mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Bi. Aku ga tau bakal gimana di sekolah," ujar Dennis.


"Paling kamu cuma ditanyain temen." Bibi membelokkan mobil ke arah kanan, lalu berhenti di depan rumah. "Masuk duluan, bibi mau parkir."


"Oke," jawab Dennis dan Derrel.


Sampai di dalam rumah. Dennis menuju kamar, ada sebuah buku di atas kasurnya, lelaki itu memasukan buku tersebut ke laci. Dennis membaringkan tubuhnya di kasur. "Aku ga salah liatkan? Diana ngapain di pinggir jalan gitu terus ngadep ke arahku, seakan tau aku lewat situ." Dennis bergumam.


"Kak Diana ngapain?" Dennis terkejut tiba-tiba Derrel menyahutnya.


"Ah, bikin kaget. Tadi aku liat Diana di pinggir jalan," jawab Dennis.


"Cie cie, kak Dennis suka kak Diana ya?" Derrel menggoda Dennis.


"Bukan, kebetulan aja liat tau!" Pipi Dennis memerah, dia malu dibilang seperti itu.


"Hehehe, aku bercanda. Di dapur ada makanan, makan dulu tuh."


"Iya. Kau masukin baju kotor ke mesin cuci gih." Dennis bangun, lalu berjalan keluar kamar.


Derrel menuju tempat cuci. Dia memasukan baju-baju ke dalam mesin cuci itu. Tiba-tiba dia mendengar suara mesin, seperti mesin pemotong. Tubuh Derrel tiba-tiba kaku, ketakutan yang sudah hampir dia lupakan kembali lagi.


"Loh, Derrel, kok ngelamun?" Derrel tersentak, dia menoleh ke arah bibi.


"A-anu, Bi, di luar ada yang potong-potong?" tanya Derrel dengan suara bergetar.


"Iya itu tetangga yang potong rumput, ilalang udah tinggi-tinggi." Bibi menjelaskan. Derrel menghela napas.


"Huh, orang ternyata." Derrel kembali melakukan kegiatannya.


*


*


*


To be continued –