THE RULES

THE RULES
Episode 27



Yang selamat kali ini ada Derrel, Azura, Rei, Leon, Devin, Revan, Adila, Diana, Tania, Olivia dan Siska. Mereka semua kembali diberi waktu istirahat untuk membersihkan diri. Azura duduk di sofa ruang tamu lalu meminta kain apa saja kepada Derrel.


"Ah ya, sebentar." Derrel menuju lantai dua. Rei menemani adiknya itu. Sekalian mengambil bajunya untuk yang lain.


Beberapa menit kemudian, Derrel kembali dengan Rei. Derrel memberikan kain hitam kepada Azura. "Aku nemu ini di bawah tempat tidur. Itu doang kain gak kepakai."


"Makasih," ujar Azura. Dia membungkus bekas potongan tangan Dian lalu memandangnya. "Nah, beres."


Mereka semua membersihkan tubuhnya dari cipratan darah di permainan sebelumnya dengan mandi. Setelah selesai, mereka meminjam pakaian Rei dan Derrel sebagai baju ganti. Untuk para gadis, mungkin baju ibunya Derrel akan cocok untuk mereka.


BRAK!


Disaat semuanya sedang sibuk mandi dan merapihkan diri, tiba-tiba terdengar suara dobrakan pintu dari dapur. Rei mengecek apa itu, ternyata itu Dennis. Dia masuk dari pintu belakang.


"Eh, Dennis? Kok kau bisa di luar?" Mata Rei terbelalak. Dia menyentuh kepala hingga tangan Dennis. Lalu melirik ke pintu yang baru ia lihat dengan heran. "Se–sebelumnya tidak ada pintu di sini."


"Akh, jangan ditekan!" Dennis menjauhkan sedikit tangannya dari Rei.


"Kenapa? Kok bisa sakit?" Rei semakin khawatir, dia menyuruh Dennis masuk terlebih dahulu, sengaja pintunya tetap dibuka. Lalu semua orang yang sudah selesai dengan urusan masing-masing memilih untuk menghampiri Dennis.


Dennis melihat orang-orang sudah berkurang, itu membuat hatinya sedih. Dia pun melihat Azura memakai kemeja merah milik Dennis sambil memainkan sesuatu.


"Itu Azura ngapain, ya?" tanya Dennis kepada Rei.


Rei tidak enak menjawabnya. Namun dia harus jujur. "Itu ... dia lagi mainin tangannya Dian."


"Eh, Azura potong tangan Dian?!" Dennis terbelalak, kaget. Namun Rei menggeleng.


"Dian ... kalah di permainan ular tangga, Azura berusaha bantu tapi tangannya doang yang selamat. Kayaknya dia tertekan kehilangan sahabat." Rei menjelaskan.


Dennis mengangguk paham. Ia juga merasa kehilangan dan turut berduka. Tapi perasaan sedihnya tidak separah Azura saat ini.


Tak lama, Leon mendekati Azura sambil menyodorkan sebatang coklat. Azura hanya menggeleng. Akan tetapi Leon memaksa Azura untuk memakannya sampai coklat itu ditempelin ke pipi Azura.


"Iya, iya gw makan, ah!" Azura merebut coklatnya. Dia makan coklat itu dan perasaannya sudah membaik, tak sehancur tadi.


"Mbing, kalo gw gak bilang ke Dian soal dia jadi makanan ular itu ... dia tetep mati gak?" tanya Azura.


"Takdir," jawab Leon singkat lalu pergi. Mumpung kamar mandi sudah kosong, ia akan menggunakannya untuk membersihkan diri. Lalu tak lama setelah Leon pergi, dua orang gadis yang baru selesai berpakaian sempat lewat dan berhenti di depan Azura.


"Eh, Ra. Kenapa kau masih memegang tangan mayat itu sih?" tanya Olivia. Tania yang ada di sampingnya pun mengangguk. "Hooh, tar lama-lama bisa busuk, tau!"


"Bacod lu semua! Kalian gak bakal ngerti!" bentak Azura lalu beranjak dari tempatnya. Ia pergi ke lantai dua dan masuk ke kamar Dennis Derrel. Ia butuh waktu untuk sendirian sekarang.


"Ck, kek psikopat gila tuh orang." Tania menyindir. Seketika Leon datang dan langsung menjitak dahi gadis itu. Tania menyentuh dahinya lalu menatap tajam ke Leon. Leon balas menatapnya. Seketika dua gadis itu ciut, lalu pergi ke tempat lain.


...********♦********...


 


Rei kembali dari dapur. Ia membawakan segelas air untuk Dennis. "Coba tenangin diri dulu, baru cerita."


Dennis meneguk airnya, lalu kembali bernapas dengan normal. Setelah merasa sedikit tenang, Dennis menoleh ke Rei lalu memberikan sebuah informasi penting pada kakaknya itu. "A–aku udah liat pelakunya! Dia semalam ada di dapur ini, terus dia bawa makhluk dengan rambut panjang!"


"Eh, apa yang kau bicarakan?" Rei meneleng heran. "Kau sudah tahu pelakunya siapa?"


"A–aku tidak tau siapa dia. Tapi orang itu memakai jaket ungu, rambutnya hitam dan dia laki-laki." Dennis memberitahu ciri-ciri yang ia lihat. "Wajahnya tidak jelas tapi pakaiannya kayak gak asing. Lalu laki-laki itu juga kayak seumuran dengan kita."


"Rambut hitam dengan jaket ungu ... kok ciri-cirinya mirip Kak Arel, ya?" Derrel bergumam.


Rei langsung menggeleng pelan. "Gak mungkin, sih. Arel kan udah jadi korban. Mungkin saja orang itu sedang menyamar agar identitasnya tidak diketahui dengan mudah. Lagipula ... Arel kan perempuan, bukan laki-laki."


"Derrel sepertinya benar. Entah kenapa perasaanku mengatakan kalau pelakunya adalah Arel." Ujar Dennis. Dugaan kedua adiknya itu membuat Rei sedikit kesal. Ia tidak mau jika mereka membicarakan apalagi menuduh orang yang sudah mati.


"Jangan kayak begitu ah kalian! Gak mungkin Arel pelakunya. Ciri-ciri yang diceritakan Dennis juga kurang jelas." Rei mengepal tangan di samping tubuhnya lalu menggigit bibir dalam. "Lagipula ... gadis itu udah meninggal. Kalian tidak seharusnya membicarakan dia lagi!"


"Ke–kenapa kak Rei jadi marah begitu?" tanya Derrel yang mulai takut dengan suara keras kakaknya.


"Ck, ah sudahlah lupakan." Rei menghela napas, lalu pergi ke kamar mandi. Gilirannya untuk bersih-bersih sekarang. Permainan berikutnya akan dimulai satu jam lagi.


...********♦********...


Azura masih di kamar Dennis. Dia sedang mengecek ponsel sekalian mencari sinyal. Ternyata masih tidak bisa dipakai untuk menghubungi siapapun. Lalu tak sengaja, ia memencet galeri dan keluarlah foto-foto kenangan.


Saat melihatnya, Azura menggenggam erat tangan Dian dan berusaha menahan tangis. Rata-rata di penyimpanannya itu terdapat banyak foto Dian. Bukan Azura yang suka memotretnya, tapi terkadang Dian yang selalu pinjam ponsel Azura buat foto yang aneh-aneh.


Azura menggeser foto-fotonya dan sampai di foto yang terakhir ia potret. Yaitu saat Dian sedang ngemil dan foto bersama yang lain. Di foto itu, Dian terlihat tidak jelas. Tapi Azura menganggapnya lucu. Ia sampai tersenyum.


Lalu Azura geser-geser lagi isi galerinya dan menemukan sebuah video. Ia memutar video tersebut yang ternyata berisi anak kucing yang Dian temukan. Saat itu, Azura yang merekamnya.


[ Ih kurus amat nih kucing. Eh, Jura. Lu ada bekal gak diabisin kan tadi? Kasih nih, kasian, ] ujar Dian dalam video tersebut.


[ Dih lu banyak cemilan juga. Pelit amat! ] balas Azura.


[ Kucing mana suka keripik, woy! Udah sini kasih aja! ] Dian terlihat memaksa sampai mendorong Azura dan membuat ponselnya jatuh dan seketika rekaman pun mati.


"Hah ..." Azura menghela napas lalu menyandarkan kepalanya di pinggir tempat tidur. Ia memejamkan mata, seketika teringat dengan pertolongan Dian saat dirinya sedang diserang oleh orang yang merampoknya.


"Dia banyak menolong gw, tapi gw bisa apa buat ngebales dia?"


...********♦********...


Para gadis di dapur selesai membuat makanan baru dengan bahan seadanya. Mereka menggoreng telur dan memasak daging untuk makan hari ini. Selagi bahan dapur masih ada, jadi dimanfaatkan saja. Daripada semuanya mati kelaparan.


Mereka membawakan makanannya ke meja ruang tamu tempat semuanya berkumpul. Selagi menunggu makanan lainnya datang, Revan dan Devin menghampiri Dennis.


"Eh, selama ini kau ke mana aja? Kenapa gak ikut permainan Ular Tangga?" tanya Revan sambil mengelap rambutnya dengan handuk.


"A–aku diculik setannya karena memergoki pelaku yang membunuh teman-teman kita. Untungnya aku berhasil melarikan diri." Jelas Dennis.


Revan dan Devin meneleng. "Kau diculik lalu berada di mana?" tanya Devin.


"Aku dikurung di rumah pohon depan san–"


"A–aku sangat panik. Di depan sana sangat gelap dan entah mengapa hanya ada 1 jalan yang bisa kulihat. Ternyata jalan itu menuju ke sini. Lalu ada makhluk yang mengejarku dan aku tidak sampai kepikiran untuk mencari bantuan orang lain di luar sana." Jelas Dennis dengan nada terbata-bata.


"Ah, kau ini!" Revan jadi geram sendiri. "Itu kesempatan emas, tau! Kau ingin kita terjebak di sini terus?!"


"Ah sudahlah, Van." Devin menepuk-nepuk punggung lelaki itu, lalu kembali melirik ke Dennis. "Lalu tadi kau masuk ke rumah ini lewat mana?"


"A–aku nemu pintu belakang di dapur." Jawab Dennis.


"Eh, ayo coba kita liat!" Revan dan Devin pergi ke dapur. Di depan pintunya mereka hampir menabrak Adila yang sedang membawa minuman untuk ke ruang tamu.


Revan dan Devin menemukan pintu yang dimaksud Dennis. Tapi saat mereka menariknya, pintu itu tidak bisa dibuka. "Ah sial. Harusnya ini jadi jalan keluar kita satu-satunya."


"Apa yang kalian lakukan di sana?" tanya Rei yang baru selesai mandi.


"Kata Dennis, pintu ini bisa dibuka. Tapi ternyata tidak!"


"Aku sudah membukanya saat Dennis masuk. Tapi pas ditinggalin sebentar, pintu itu tertutup dan terkunci sendiri." Jelas Rei. "Lagipula saat aku lihat ke depan lewat pintu itu, hanya ada jalan menuju ke danau dan dunia yang gelap. Sama saja seperti tidak ada jalan keluar yang aman walau kau sudah keluar dari rumah ini."


Rei pun pergi meninggalkan dua lelaki itu. Revan dan Devin mengeluh. Mereka juga mengikuti Rei pergi. Namun sebelum itu, ada sebuah kertas yang jatuh ke kepala Devin. Lelaki itu pun mengambilnya.


"Hmm?" Dia membaca isi surat dalam kertas tersebut. Ternyata berisi tentang rules permainan berikutnya. "Abis ini mainan buaya-buayaan. Lokasinya di danau. Itu berarti ... kita bisa keluar dari rumah ini!"


Bukannya merasa senang, Devin malah nambah cemas dengan permainan itu dan juga rulesnya. Dia ke ruang tengah terlebih dahulu.


"Ada mainan baru lagi, nih!" seru Devin.


"Ah, pasti bakal ada yang mati lagi." Tania bergumam.


"Asal kak Leon dan kak Rei gak mati, gak masalah," ujar Olivia. Dia melihat Diana sedang berkomat-kamit tidak jelas.


Oliv memilih mendiamkannya saja. Dia fokus mendengarkan Devin. Lelaki itu berdeham, membersihkan tenggorokannya, lalu mulai berbicara. "Kita akan bermain Mangsa dan Buaya. Kita harus ke danau dan berdiri di beberapa pijakan, jangan sampai masuk ke dalam air."


"Kalo Azura masih hidup, tau lah ya siapa pelakunya." Tania melirik ke arah tangga, kebetulan Azura turun dari lantai dua. Seketika semua mata tertuju pada lelaki itu.


"Lu denger gak tadi?" tanya Devin.


"Denger. Ini kenapa pada liatin gw?" Azura melihat mereka semua. Tatapannya mereka mulai teralihkan. Terlihat cahaya dari dapur.


Ternyata pintu belakang terbuka. Jalanan sangat gelap, cuma ada jalan setapak yang terlihat. Olivia dengan iseng melewati jalur yang gelap itu.


SRET!


"Aaaaaa!" suara teriakan Olivia semakin menjauh, mereka berpikir di sebelah itu adalah jurang yang dalam. Semuanya sudah tidak ada yang peduli. Mereka memikirkan keselamatan diri sendiri dan tetap berhati-hati berjalan di jalan setapak itu.


Entah apa yang akan menunggu mereka di depan sana.


*


*


*


To be continued–


List Pemain 🗿:



Dennis (L)


Derrel (L)


Rei (L)


Leon (L)


Azura (L)


Dian (L) ❌


Geo (L)❌


Devin (L)


Lilo (L) ❌


Adila (P)


Revan (L)


Fani (P) ❌


Shira (P) ❌


Toni (L) ❌


Olivia (P) ❌


Tania (P)


Siska (P)


Sasha (P)❌


Lia (P)❌


Diana (P)


Ayah 3 bersaudara ❌