
Farel duduk di atas meja guru sambil memerhatikan seisi kelas. Dia menyeringai lalu berkata, "Mainannya mudah kok. Kalian cuma harus mengikuti kata-kataku. Kalo aku bilang, 'Farel bilang pegang lutut' kalian pegang lutut kalian. Tapi kalo aku bilang, 'pegang telinga' kalian tetap di tempat."
"Apaan, tuh? Kek mainan pas SD aja," ujar salah satu siswa di kursi paling belakang.
"Udah jangan banyak ngomong. Berdiri kalian semua!" titah Farel. Seketika semua orang berdiri di tempat masing-masing. Mereka saling melirik satu sama lain, lalu memandang Farel.
"Sekarang, Farel bilang ... pegang kepala." Semua murid langsung memegang kepalanya. Farel kemudian berkata lagi, "Farel bilang, lari di tempat."
Semua murid melakukannya, Divan sebenarnya penasaran apa yang akan terjadi jika tidak menurutinya, maka diperintah selanjutnya dia berniat melanggar peraturan yang dibuat Farel.
"Stop!" Ada empat orang murid berhenti lari di tempat. Farel tersenyum ke arah mereka. Dia membuat gestur pistol dengan tangannya lalu mengarahkan ke siswa dan siswi yang berhenti itu. "Dor, dor, dor, dor!"
3 siswa dan 1 siswi yang kena tatap oleh Farel tiba-tiba membenturkan kepala mereka ke meja masing-masing sampai kepala mereka pecah dan tak bernyawa lagi. Setelah melihat temannya yang melakukan hal itu, ada seorang siswi yang tak sengaja berteriak.
Farel langsung menatapnya. Seketika siswi itu mengambil cutter dari kolong mejanya. Kemudian dia merobek pergelangan tangannya sendiri. Akhirnya siswi itu pun meninggal di tempat karena kehabisan darah.
"Ah~ Ya begitulah kalau gak mengikuti omonganku." Farel menatap semuanya dengan sinis, lalu bergumam, "Aku bisa membunuh tanpa menyentuh, loh~"
Kemudian lelaki itu menepuk tangannya sekali, lalu berkata, "Farel bilang, berhenti!"
Semua murid langsung diam. Mereka mengatur napas karena lari di tempat dengan waktu yang lama membuat mereka kelelahan.
Namun tak lama beberapa siswa di tempat empat orang tadi bergerak menjauhi mayat. Farel yang melihat itu langsung menjentikan jari.
Beberapa murid itu langsung mengambil cutter dari lemari belakang kelas dan langsung menyayat pergelangan tangan mereka cukup dalam. Selagi menunggu mereka mati juga, Farel mendengus kasar.
"Hah ... Aku ga bilang kalian boleh gerak, cih. Masa baru awal banyak yang mati, sih?" Farel kesal, matanya menyala sambil menatap murid lain.
"Kalian mau permainan pertama berhenti?" tanya Farel. Tak ada yang menjawab dia, lelaki itu tersenyum. "Bagus, kalian udah pintar ternyata."
"Farel bilang, ambil benda lancip." Seluruh murid langsung bergerak mengambil benda yang berujung lancip seperti gunting, pulpen, pensil, cutter.
"Bunuh teman kalian." Farel kembali tersenyum. Seketika semua murid langsung berwaspada dan menatap satu sama lain. Derrel manatap sekeliling, takut ada yang mendekat.
"Kenapa harus bunuh teman sih?!" Salah satu siswi berseru. Farel menoleh ke arah siswi itu dan menatapnya.
"Dor!"
Tubuh siswi itu bergerak dengan sendirinya. Ia menusuk-nusuk tubuhnya dengan gunting yang dipegangnya. Seketika anak itu pun mati. Semuanya langsung bergidik ngeri melihat hal itu.
"Kita lanjut, ya. Farel bilang, sayat tangan kalian." Farel menyeringai.
"Perintahnya udah ga masuk akal!" tegas Derrel. Farel tertawa kecil sambil menatap Derrel dengan mata menyalanya. Tangan Derrel bergerak sendiri, dia mendekatkan cutter ke tangannya.
Derrel berusaha melawan, tetapi tidak berhasil, dia menyayat tangannya sendiri cukup dalam. "Ukh, sakit." Derrel melihat darah mengalir deras keluar, entah kenapa dia teringat permainan truth or dare pada waktu itu.
Murid lain sudah menyayat tangannya juga, tapi tidak separah Derrel. Vann mendekati jendela, dia merobek gorden jendela secukupnya dengan gunting itu lalu menghampiri Derrel, dia mengikat luka lelaki tersebut dengan kain gorden
"Makasih, Vann." Derrel tersenyum sambil menahan sakit. Wajahnya sudah mulai pucat. Vann mengangguk lalu kembali ke tempat
"Kasian yang lain ga dipeduliin," gumam Farel. Murid-murid lain memandang Vann, mereka baru sadar kenapa hanya Derrel yang dipedulikan.
"Vann, kupikir kita teman!" seorang siswa yang ahli dalam berakting memulai aksinya, dia memanaskan suasana.
"Tapi kenapa kamu cuma peduli sama dia?" lanjutnya. Vann baru akan mengeluarkan buku yang biasa dia pakai. Namun tidak ada di saku baju maupun sakit celana. Vann mencarinya ke dalam tas, tapi hasilnya nihil.
"Cari ini?" tanya Farel yang sedang menopang dagu sambil menunjukan buku kecil milik Vann.
Vann berlari mendekati Farel untuk mengambil bukunya itu.
"Berhenti!" titah Farel, seketika kaki Vann tidak bisa digerakan. Dirinya seakan membatu, kakinya terpaku di tempat dia berdiri.
"Kembali ke tempatmu!" Lelaki yang diperintahkan itu berjalan mundur perlahan, kembali ke tempatnya sendiri. "Pake bahasa isyarat."
Vann sebenarnya belajar bahasa isyarat. Namun, dia tak yakin semua orang akan mengerti, jadi dia kadang malas menggerakan tubuhnya dan memilih untuk menulis.
"Vann, kamu ga mau obatin kita-kita?" tanya siswa raja drama itu.
Vann menggeleng dan menggerakan mulutnya tanpa mengeluarkan suara, "Berisik!"
"Ini semakin seru, loh! Ayo lanjut! Farel bilang .... " Jeda itu cukup lama. Jantung Derrel berdetak kencang, dia tiba-tiba teringat kejadian masa lalu dimana semua orang mati kecuali dirinya, kakaknya dan satu orang gadis.
...****************...
Di tempatnya bekerja, Dennis sedang memeriksa list nama dan info pasien di komputer. Lalu tak sengaja ia melihat dua nama pasien yang baru datang semalam. "Eh, namanya kayak aku kenal. Hmm ...."
"Den! Ada telepon!" Ryo menegurnya. Dennis tersentak dan langsung mengambil telepon yang berdering. Ia melayani pelanggan yang menelpon. Ada laporan kecelakaan di suatu tempat dan mereka membutuhkan bantuan ambulans segera.
Mendengar hal itu, Ryo langsung pergi untuk memberikan laporannya. Setelah indo diterima, Dennis menutup telpon. Matanya melirik ke arah depan pintu. Dari sana, jalan raya dapat terlihat, walau jauh.
Dennis memeriksa waktu di arlojinya. "Hmm ... Bentar lagi waktunya Derrel pulang. Aku juga bentar lagi selesai."
****************
Beberapa menit kemudian, Dennis akhirnya keluar dari rumah sakit. Ia membereskan barang-barangnya, lalu berpamitan dengan teman sepekerjanya. Lalu setelah itu, Dennis pun pergi.
Ia memeriksa ponsel untuk melihat alamat yang diberikan Diana. Ia sudah janji akan mengunjungi kediaman gadis itu. Tapi saat mengecek kontak, Diana tidak memberikan pesan apapun.
"Eh, gimana aku mau ke rumah dia kalau dia gak kirim alamat? Aku kan belum pernah ke rumah dia." Gumam Dennis dalam hati. Ia menghampiri halte dan duduk di sana.
Lalu tak lama kemudian, sebuah mobil pribadi yang sama seperti tadi pagi pun berhenti di depannya. Ya, itu mobil Diana. Pemiliknya pun membukakan pintu untuk Dennis.
Dennis berdiri, lalu menghampiri mobil Diana. "Eh, padahal aku bisa pergi sendiri ke rumahmu."
"Aku kan sudah bilang mau menjemputmu." Jawab Diana, lalu menepuk-nepuk kursi kosong di sampingnya. Meminta Dennis untuk duduk di sana.
"Dugaan aja. Tapi sebenarnya aku udh nunggu kau keluar dari sejam yang lalu."
"Eeeh?! Kenapa kau tidak menelponku?"
"Aku malu karena terlalu senang." Jawaban Diana terlalu pelan. Membuat Dennis tak bisa mendengarnya. "Eh, apa?"
"Bukan apa-apa." Diana menggeleng cepat, lalu ia menepuk kursi sopirnya. Mobil pun dijalankan dan meninggalkan tempat itu.
...****************...
Saat sampai di rumah Diana, Dennis terlihat takjub dengan struktur bangunannya yang terlihat mewah. Ia tak percaya Diana bisa tinggal di tempat yang indah seperti itu.
Rumahnya yang besar, halamannya luas dan ditumbuhi banyak tanaman hias dan pepohonan. Di tengah-tengah juga ada air mancurnya. Ada beberapa kolam ikan juga di tamannya. Rumahnya tingkat tiga, terdapat beberapa patung merpati di setiap sudut atap rumahnya.
"Rumah lamaku tak sebagus seperti ini. Keren!" batin Dennis yang masih kagum dengan tempat itu.
Tak lama, mobil berhenti di depan rumah. Diana dan Dennis pun keluar. Lalu sopirnya menempatkan mobil itu ke tempat khususnya. Diana langsung mengajak Dennis untuk masuk. Dennis pun mengikutinya dari belakang.
"Permisi." Dennis mengintip masuk. Diana langsung membuka pintunya lebar-lebar. Di dalam sana, mereka langsung disambut baik oleh para Asisten Rumah Tangganya Diana.
"Bahkan dalamnya lebih luas. Tapi kenapa sepi banget, ya?" Batin Dennis yang masih melihat sekeliling rumah itu.
"Aku akan langsung mengajakmu ke kamarku aja ya. Di sana kita bisa ngobrol."
"Oke." Dennis mengangguk. Lalu Diana mengantarkan Dennis ke kamarnya. Ternyata ada di lantai dua. Saat Dennis memasuki kamar itu, ia kembali dibuat takjub dengan kerapihan dan kebersihan kamarnya. Ada banyak boneka lucu di atas kasur, lalu beberapa aksesoris indah lainnya.
"Anggap aja rumah sendiri. Aku akan menyiapkan jamuan." Diana tersenyum, lalu ia pun pergi ke luar kamar.
Dennis menghampiri sebuah meja kecil dan bantal duduk di sana. Ia pikir, dirinya akan menunggu di sana saja. Tempat itu dekat dengan kasurnya Diana. Sebelum duduk, Dennis sempat melihat kepala seseorang yang diselimuti oleh selimut tebal. Seperti ada orang lain yang tidur di tempat tidur itu.
Dennis jadi penasaran. Ia tak pernah melihat orang tidur sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia berniat akan membuka selimut tersebut. Tapi sebelum itu, Diana sempat datang membawa kue dan minuman.
"Kamu ngapain, Den?" tanya Diana setelah meletakkan nampan berisi minuman ke atas meja.
"Eh, sorry, Diana." Dennis menggaruk kepalanya, lalu menunjuk ke tempat tidur. "Aku penasaran di situ ada apa. Apa ada orang yang sedang tidur?"
"Oh, itu bonekaku. Jangan khawatir."
"Ah gitu. Aku kira apa." Dennis tertawa kecil, lalu duduk di dekat Diana. Gadis itu memotongkan kue krim yang dibawanya untuk Dennis, lalu setelah itu ia memeriksa ponselnya.
Dennis mengambil piring yang berisi kue itu. Dengan ragu ia memakannya. Ternyata enak, jadi ia terus makan sampai habis. Setelah meletakkan kembali piring itu, Diana diam-diam memotret Dennis dari bawah meja dengan kamera ponselnya.
Namun hal itu sempat digagalkan karena Dennis tiba-tiba menoleh ke arahnya. Membuat Diana terkejut. "Eh kalau boleh tau, orang tuamu ke mana, ya?"
"Eh, umm ..." Diana menyimpan ponselnya di sampingnya, lalu menjawab. "Mereka pergi bekerja dan jarang pulang."
"Jadi kau selalu sendiri di rumah? Apa kau gak punya saudara?"
"Hmm ... aku anak tunggal."
"Oh gitu ...."
Diana melirik jam di kamarnya, lalu ia kembali melirik ke Dennis. Ia memberikan segelas minum yang sudah ia siapkan tadi. Kebetulan Dennis juga merasa haus, jadi ia langsung menerimanya. Dennis pun meminum jus jeruk itu setelah Diana juga ikut meminumnya.
"Ah ... ini enak." Dennis mengelap bibirnya yang basah. "Apa kau yang membuatnya?"
"Ini sebenarnya bekas tadi pagi aku buat. Aku masukin ke dalam kulkas." Jawab Diana, lalu gadis itu menatap Dennis dengan mata berbinar-binar. "Apa minumannya masih enak?"
"I–iya ... tapi kok rada pahit, ya?"
"Eh iya, kah? Apa kurang gula jangan-jangan ...."
"Bukan. Ah kenapa tiba-tiba ngantuk–"
"Den, kamu gapapa?!" Diana menyentuh pundak Dennis. Secara perlahan, Dennis mulai menutup mata dan tubuhnya jadi lemas. Diana menopang tubuh Dennis itu. "Den! Dennis!"
Dennis tak berkata apa-apa setelah ia tiba-tiba tertidur. Diana tersenyum samar, lalu menidurkan tubuh Dennis di tempat. Di saat itulah, dia baru bisa memotret Dennis.
"Yang penting, tugasku selesai."
...****************...
"Farel bilang .... Permainan selesai, yey!" Farel bertepuk tangan sendiri. Tak lama dia berhenti dan bertanya, "Kalian sedih mainan selesai?"
"Ka–kami boleh pulang?" tanya ketua kelas.
Farel menggeleng. "Kita baru aja pemanasan, loh!"
Dia mengambil kertas HVS kosong yang dibawa guru dan menghitung jumlah murid setiap baris.
"Hmm masih banyak yang tersisa. Kita ke permainan selanjutnya, ya?"
Tragedi ini terjadi lagi. Lagi-lagi Derrel mengalaminya. Sekarang, permainan bertahan hidup Farel pun dimulai!
*
*
*
To be continued –