
"Eh, apa itu?"
Derrel dan Azura pun menghampiri Dennis. Mereka bertiga akhirnya menemukan mobil Leon yang tertimpa dahan pohon. Entah karena apa. Sesuatu yang bersinar itu ternyata adalah bekas pantulan cahaya matahari di kaca spion mobil tersebut.
"Ah coba liat. Ada kuncinya, gak?" tanya Dennis. Azura yang akan mengeceknya. Ia membuka paksa pintu mobil itu, ternyata tidak terkunci. Dengan cepat ia pun membukanya. Ternyata ada kunci mobilnya. Mereka bertiga terlihat senang.
"Sip. Baguslah. Sekarang siapa yang bisa nyetir?" tanya Azura.
Derrel langsung menunjuk ke kakaknya. "Kak Dennis bisa. Dia pernah belajar sama ayah dari SMP."
"Anjay, gege. Kalau begitu, silahkan, Den~" Azura keluar dari mobilnya. Ia membuka pintu belakang untuk masuk, tapi tiba-tiba dari dalam sana ada yang menusuk perut Azura dengan pisau. Lelaki itu langsung memuntahkan darah dan menahan tangan orang yang telah menusuknya. "Akh! Lu ... lu lagi, ajg!!"
Betapa terkejutnya Dennis dan Derrel saat melihat Farel yang selama ini bersembunyi di bangku belakang mobil. Derrel berjalan mundur menjauhi mobil karena ia takut. Sementara Dennis menarik Azura dan langsung menutup pintu.
Namun tak sempat. Pintu itu ditahan oleh tangan Farel dari dalam. Lelaki berambut hitam itu pun mengintip lewat celah pintu mobil yang masih terbuka sambil menunjukkan pisaunya yang berlumuran darah.
"Kalian tidak boleh kabur dari tempat ini~" Farel menusuk lengan Dennis yang masih berusaha menutup pintu mobil.
"Aaakh!" Dennis menahan tangan Farel agar tusukannya tidak semakin dalam. Azura menyingkirkan tangan Dennis lalu menjepit tangan Farel.
"Lari, Nis. Cari bantuan di jalan aja. Gw urus nih orang!" tegas Azura sambil menahan pintu mobil dengan punggungnya. Sementara tangannya masih menyentuh perut yang terluka agar tidak terjadi pendarahan.
"Susul kami kalo udah selesai ya!" Dennis menutup luka di tangannya. Derrel menggenggam ujung baju Dennis. Mereka lari di jalan setapak. Jalan semakin lama semakin gelap.
"Kak Dennis, aku capek." Napas Derrel sesak. Dia mencengkram lengan baju Dennis sebagai tumpuan.
"Sebentar lagi kita sampai di jalan raya itu. Ayo semangat, Rel."
"Nanti kalau udah dapat bantuan, kita mau kemana?"
"Kemana pun yang penting bertahan hidup. Ayo jalan." Dennis menepuk-nepuk pundak Derrel.
Adiknya itu mengangguk. Mereka kembali berlari. Setelah jauh berjalan, Dennis mendengar suara kendaraan. Begitu juga dengan Derrel. Cahaya harapan muncul di hati mereka.
Derrel berlari duluan mendekati cahaya itu. Dennis menyusul di belakang. Kendaraan beroda empat mondar-mandir di jalanan. Dennis mulai khawatir dengan Azura yang tidak kunjung menyusul mereka.
"Rel, kamu tunggu di sini sebentar. Aku mau jemput Azura." Dennis kembali ke pedalaman. Derrel menuju tempat gelap, dia duduk untuk menunggu Dennis.
Tak lama Dennis pergi, Derrel kembali bangun dan memutuskan untuk mencari bantuan sendiri. Ia pun pergi ke jalan raya itu dan langsung mengayunkan tangannya ke atas. Ia berharap ada kendaraan lewat yang mau berhenti untuk melihat keadaannya.
...********β¦********...
Di waktu yang sama, Farel berhasil membuka paksa pintu mobil. Azura terlempar karena hal itu. Dia dipukul pada bagian perutnya yang terluka. Azura terjatuh ke tanah. Sebelum Farel sempat menyerangnya lagi, tiba-tiba ada yang memukulnya dari belakang.
BUK!
Ternyata Diana lah yang datang. Dia mendapatkan senjata itu hasil mencabutnya dari pipa di yang ada di rumah Dennis. Farel berbalik badan lalu menebaskan pisaunya. Diana menangkis serangannya dengan tangan.
Azura kembali bangun, lalu menarik kaki Farel sampai dia terjatuh. Lelaki itu menaiki tubuh Farel sambil menahan tangannya yang memegang pisau, lalu mengambil batu yang cukup besar dan hendak ingin memukul lawannya.
Tubuh Farel cukup lentur, dia menendang kepala Azura dengan tumit dari belakang. Pukulan itu membuat hidung Azura berdarah dan penutup matanya terlepas. Farel bangun untuk menyingkirkan Azura dari belakangnya. Lalu mendorong Diana sampai membentur mobil hingga berbunyi.
Farel menginjak tangan Azura berkali-kali. Kebencian merasuki lelaki itu. Dia mulai menggenggam pisaunya kuat-kuat lalu mengangkatnya.
JLEB! JLEB!!
Lelaki itu menusuk Azura tanpa ampun. Darah menyiprat ke wajah dan bajunya. Bahkan saat Azura sudah tak bergerak sama sekali, dia masih melakukannya.
Diana kembali bangun dan mengambil pipa besi yang ia jatuhkan. Dari belakang, gadis itu berhasil memukul kepala Farel dengan brutal dan berkali-kali. Bahkan sampai lelaki itu jatuh di samping Azura, gadis itu tetap memukulnya.
Pipa itu rusak dan akhirnya patah. Darah segar berlumuran menyelimuti ujung pipa tersebut. Diana baru berhenti setelah melihat Farel berhenti bergerak dengan wajahnya yang setengah hancur akibat benturan keras dari benda tumpul berkali-kali.
Diana pikir, Farel telah mati. Tapi tak lama setelah ia berbalik badan, tiba-tiba dirinya dijatuhkan ke tanah oleh Farel yang kembali bangkit. Lelaki itu mencekik Diana di tempat, tapi gadis itu tetap melawan dengan mencengkram lengan dan menarik-narik rambut Farel.
Namun walau begitu, cekikan Farel jauh lebih kuat. Diana tak bisa bertahan lebih lama lagi. Ia mulai sesak dan tenaganya menurun. Gadis itu pun pasrah di tempat. Tapi sebelum kematian menghampirinya, ada seseorang yang datang dan langsung menyingkirkan Farel dari gadis itu.
Diana langsung bangun dan terbatuk-batuk. Ia melihat orang lain yang ada di hadapannya. Tak lain, orang itu adalah Dennis. Lelaki itu mengambil pipa besi yang patah dan terbentuklah ujung yang tajam.
Saat Diana perhatikan, Dennis terlihat marah dengan tatapan matanya yang tajam. Lelaki itu memukul wajah Farel, lalu menendang tubuhnya. Saat Farel terjatuh ke tanah, Dennis tetap menginjak dan menendang lelaki itu.
Sampai akhirnya, Dennis menginjak dada Farel lalu mengangkat pipanya. Dengan cepat, Dennis menusuk dada lelaki itu dengan ujung pipa sampai tembus dan pipa tersebut menancap ke tanah. Sekuat tenaga, Dennis menarik pipanya kembali, lalu menusuk perut Farel dan menekan pipanya dengan kaki.
"Hah ... hah ... berakhir sudah." Dennis tidak mencabut pipanya lagi dan dibiarkan begitu saja. Ia sudah mengecek keadaan Farel. Lelaki itu berhasil dibunuhnya.
"Hebat juga lu, Den ..."
"Eh, Azura!" Dennis menghampiri Azura yang sekarat tak jauh di dekat Farel. Lelaki itu memiliki luka tusuk yang cukup banyak. Ia masih hidup, tapi sepertinya tak lama lagi. "Bertahanlah!"
"Ga perlu, Den." Azura menepis pelan tangan Dennis yang ingin menggendongnya. "Gw lebih suka begini. Gak ada beban hidup lagi ..." Lelaki itu memandang langit. "Yah ... gw gak bisa makan ayam geprek."
"Dalam keadaan begini, kau masih memikirkan soal itu?!" bentak Dennis, lalu menempelkan kepalanya di dekat perut Azura. Lelaki itu mulai menangis kecil di sana dan tubuhnya gemetar setiap ia mengeluarkan isak tangisnya.
"Rambut lu bikin sakit, woy ...."
"Azura jangan pergi dulu! Aku ... aku tidak punya teman lagi. Bunda, Ayah, Dian, Leon, Kak Rei ... semua orang yang aku sayangi udah gak ada!"
"Tapi tetap aja ... aku ...."
"Den, gw yakin lu kuat."
"Nggak bisa, Ra ... dari tadi ... hiks ... dari saat aku kehilangan bunda, aku selalu menahannya. Mereka semua mati di depan mataku dan aku tidakβ"
"Sorry, Den. Gw gak kuat ... gw mau nyusul Dian ...." Azura mulai menutup mata dan tak bergerak lagi. Dennis mengepalkan tangan dan menggigit bibir bawahnya. Ia tak menyangka kalau semua teman-teman dekatnya akan mati secara mengenaskan. Emosi dan kesedihannya bercampur aduk. Ia ingin meluapkan amarah, tapi entah bagaimana caranya.
"Dennis ..." Diana memeluk Dennis dari belakang dan menenangkan lelaki itu. Seketika hujan turun dan membasahi keduanya. Tak lama kemudian, muncul suara sirine polisi yang tak jauh dari tempat mereka. Lalu ada Derrel yang menghampiri kakaknya. Ia ternyata berhasil membawakan bala bantuan.
"Kak Dennis!" panggil Derrel. Dennis berbalik badan. Diana melepaskan pelukannya.
Derrel menghampiri Dennis. Dia melihat tubuh Azura di belakang kakaknya itu. "Kak Azuraβ"
"Rel, jangan tinggalin kakak juga ya." Dennis berbicara cepat pada adiknya, lalu memeluknya dengan erat.
"Aku gak akan ninggalin kakak, aku akan selalu di sisi kakak," ujar Derrel. Dia membalas pelukannya.
Seorang polisi mendekati mereka. Mereka diajak ke kantor polisi untuk diinterogasi. Sementara polisi lainnya menyelidiki tempat itu dan mengevakuasi mayat yang mereka temukan. Sepanjang perjalanan, Dennis melihatnya keluar jendela, seperti banyak pikiran di kepalanya.
Derrel menggenggam tangan kakaknya, lalu bersandar. Dia lelah dengan hari mengerikan ini. Tak lama, dia pun tertidur. Dennis merangkul Derrel dan membiarkan dia tidur dipelukannya.
"Apakah sudah berakhir?"
*
*
*
To be continuedβ
List Pemain πΏ:
Dennis (L)
Derrel (L)
Rei (L) β
Leon (L) β
Azura (L)β
Dian (L) β
Geo (L)β
Devin (L) β
Lilo (L) β
Adila (P) β
Revan (L)β
Fani (P) β
Shira (P) β
Toni (L) β
Olivia (P) β
Tania (P) β
Siska (P) β
Sasha (P)β
Lia (P)β
Diana (P)
Ayah 3 bersaudara β
Huwaaaaaaaa