
"Halo semuanya, selamat datang!" Dennis menyambut baik kedatangan teman-temannya. Hanya beberapa yang baru datang, sisahnya membantu sopir memarkirkan busnya di depan halaman rumah.
Saat dilihat-lihat, ternyata hampir semua teman sekelasnya datang. Dari 30 orang, sekarang hanya 23 orang yang datang. Walau begitu, Dennis tetap senang karena rumahnya akan ramai malam ini.
"Wah, ketua kelas juga datang!" Dennis menyapa ketua kelasnya yang bernama Toni itu. Lalu Derrel dan Rei mengajak teman-temannya yang lain untuk masuk. Beberapa anak perempuan tentu sangat senang sekali bisa berteman dekat dengan idola mereka yaitu Rei. Apalagi di sana juga ada Leon yang sama-sama menjadi murid terpopuler di sekolah.
"Wah, kalau dilihat-lihat, semua anak ceweknya datang ternyata!" Begitu tiba, Dian langsung menghitung jumlah teman-temannya. Saat melihat banyak anak perempuan, ia langsung bercermin di kaca spion mobil Leon, lalu bertanya pada Azura yang ada di sampingnya. "Ra, gw udah ganteng, blom?"
"Menurut lu sendiri gimana? Menurut gw lu tetep jelek." Jawab Azura, lalu meninggalkan Dian yang masih bercermin sendirian. Ia diajak Derrel untuk masuk dan saat di dalam sana ada banyak makanan. "Mantap, kebetulan gw belum makan seharian ini."
"Wih, gile~ganteng bet gw." Setelah merasa cukup rapih, Dian mengembalikan posisi kaca spion seperti semula. Tapi setelah itu, tak sengaja ia melihat sosok bayangan hitam dengan mata merah menyala yang tertangkap oleh pantulan kaca spionnya.
Sontak Dian pun langsung menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya ada beberapa tanaman hias yang sudah mati. Karena merasa takut sendirian, Dian pun pergi masuk ke dalam rumah.
"Kok lu ninggalin gw sih, Ra?" Dian menyilangkan tangannya di depan dada.
"Lu ngaca mulu kayak cewek lagi pake make-up, bisa berabad-abad." Azura menjawab sambil menyeruput sirup.
"Penampilan itu nomor satu, biar cewek-cewek itu gak deketin Leon sama Rei doang." Lagi-lagi Dian berkaca pada meja yang samar-samar menampilkan bayangannya.
"Aku ambil kamera dulu. Biar kita bisa foto bareng," ujar Derrel, lalu dia mencari Ayahnya, karena beliau yang membawa kameranya tadi.
Derrel tidak menemukan siapapun di halaman belakang, tapi dia menemukan kameranya berada di atas sebuah batu. Tanpa curiga, dia mengambil kamera itu lalu kembali.
Saat kembali ke dalam, ternyata ada Arel yang baru saja datang. Dia mengenakan kaos berwarna biru dan jaket berwarna ungu. Penampilannya selalu cantik seperti biasa. Derrel segera menghampiri mereka.
"Ayo kita foto bertujuh!" serunya sambil menunjukan kamera.
Azura langsung melirik leon, begitu juga sebaliknya. "Ikut foto ya!"
Leon menghela napas panjang, dia tidak suka difoto. Namun, karena ini ajakan Derrel dia berdeham mengiyakan.
"Atur waktunya dulu, terus atur posisi .... Siap!" Derrel menekan tombol kamera itu lalu berdiri di tempatnya.
Azura berada di paling kanan, di sebelahnya ada Dian dan di belakang dirinya ada Leon. Dennis berada di tengah dengan Derrel di sampingnya, lalu ada Rei di belakang Derrel dan Arel di sebelah Rei.
Saat hitungan jepretan hendak di ambil, Rei melihat sesuatu di sebelahnya, dia melirik. Namun, sosok itu tetap tidak terlihat. Dennis juga melihat sesuatu di atas kepala Dian.
Cekrek!
Foto terambil. Derrel langsung melihatnya dan menahan tawa. "Aku akan cuci fotonya nanti."
"Mau liat dong!" Azura dan Dian berseru bersamaan. Derrel menggeleng dan menjauhi kameranya.
"Ck, elah. Padahal gw penasaran seberapa gantengnya gw~" Dian menyibak rambutnya.
"Sok ganteng, iwh," ejek Azura.
Azura tiba-tiba mengeluarkan ponselnya. "Sini, woy. Gw juga mau dokumentasi!" serunya.
Derrel menarik tangan Rei dan Dennis, lalu berpose. Dian gak kebagian tempat jadi dia melompat di belakang, diapit Derrel dan Dennis. Lalu Leon muncul dari bawah dekat Dennis. Arel selesai foto tadi langsung ke toilet, jadi tidak ikut.
Azura yang memegang ponselnya sekalian ia yang memfoto teman-temannya. Foto pun diambil. Azura langsung memperlihatkannya pada Dian. Sosok Dian jadi blur karena dia terlalu banyak bergerak.
"Aib banget gw!" Dian tidak terima dan minta foto ulang. Tapi Azura menggeleng.
"Ini estetik tau! Nanti mau gw pasang jadi wallpaper laptop."
"Jahat lu, Ra. Gak teman kita." Dian cemberut, lalu membuang muka.
"Nih, tadi gw beli keripik kentang pas lu ninggalin gw." Azura menyodorkan kemasan keripiknya. Dian melirik sedikit, lalu merebutnya.
"Makasih, hmph!" ucapannya dengan gengsi. Dian duduk di sofa sambil makan. Azura memfoto dian dari bawah.
"Wih, kece!" ujar Azura.
"Njir, gak sopan lu foto orang makan." Dian mencubit lengan Azura.
"Sakit, ih!" Azura mengelus lengannya lalu duduk di samping Dian.
"Lebay lu!" bales Dian, lalu pergi ke tempat lain untuk makan keripik dengan tenang. Mungkin ia akan mencari tempat tongkrongan para anak perempuan dan ia bisa bergabung di sana.
Rei mau ke toilet. Ia pun pergi. Saat mengetuk pintu, pintu terbuka. Tak sengaja Rei mengetuk kepala Arel. "Ma-maaf."
"Gak apa-apa. Nunggu lama ya?" Arel mengelus kepalanya yang diketuk tadi. Kakinya melangkah keluar kamar mandi, berdiri di samping Rei.
"Gak kok. Oh ya, makan sana, minta aja sama Derrel atau Dennis," ujar Rei.
"Oh, makasih." Arel tersenyum manis. Rei membuang muka, lalu masuk kamar mandi. Dia menutup pintu dengan sedikit dibanting.
Arel menghampiri Dennis. Dia dengan malu-malu meminta makanannya sesuai ucapan Rei. "Oh ya, aku sampai lupa! Sebentar ya. Rel, bantuin sini."
"Iya, kak Dennis!"
Kemudian Arel duduk di sebelah Dian. Lelaki di sebelahnya itu menyodorkan keripik kentangnya. Arel langsung menggeleng pelan. "Em, gak makasih."
Dian lanjut makan. Azura agak risih melihat Dian berantakan gitu. "Ish, makan lu kek bebek anjir."
"Kwek!" balas Dian dengan sinis.
"Maklumlah, Ra. Itu makanan favoritnya Dian." Arel menengahi dua lelaki itu.
"Tuh, dengerin. Cewek selalu benar!" Dian tersenyum sinis.
"Hmph!" Azura membuang muka.
Dennis memberikan piring isi makanan untuk Azura dan Arel. "Selamat Menikmati." Setelah itu ia kembali berbincang dengan temannya yang lain.
"Abisin, Ra. Nanti nasinya nangis!" ujar Dian.
Azura berdecih, lalu berkata, "Mana ada yang percaya begituan. Kecuali anak SD."
Benar saja. Azura tidak menghabiskan makanannya, padahal tinggal dua atau satu suap lagi. "Ah, kenyang banget gw."
Azura menyilangkan lengan ke depan wajahnya. Piring itu pecah dan melukai tangannya. "Eh, kenapa sih!?"
"Kan, kan! Tuhan ngamuk tuh, karena lu gak abisin makanannya." Dian melipat bungkus snacknya yang sudah habis, untuk dibuang nanti.
"Banyak cincong mulut lu. Gw minta obat merah dulu sama Dennis." Azura bangkit dari tempat duduk.
"Ini siapa yang mau bersihin?" Dian berteriak dari tempatnya.
"Lu!" balas Azura yang sudah menjauh. Dian berdecak lidah. Dia mengambil tisu dan membersihkan bekas makanan dan darah yang menentes dari lengan Azura.
"Kak Dian kenapa?" Derrel tiba-tiba datang dengan wajah khawatir.
"Ini si Jura tiba-tiba piringnya terbang. Minta kresek dong buat belingnya."
"Eh, kok bisa? Sebentar," ujar Derrel. Dia menuju dapur untuk mengambil kantong kresek yang diminta Dian. Setelah mengambilnya, ia membantu Dian untuk membersihkan sisah makanan dan pecahan piring.
...********♥********...
Azura akhirnya menemukan Dennis. Ternyata temannya itu ada di kamarnya. "Luas banget rumah lu, Den. Eh, ada betadine gak?"
"Loh, kenapa? Siapa yang luka?" tanya Dennis. Ia berbalik badan lalu menaruh bukunya di atas meja. Azura langsung menunjukan tangannya.
"Eh kok bisa? Tadi Kak Rei, sekarang kamu."
"Loh, si badak kenapa?"
"Tadi jatohin gelas, tiba-tiba ada luka sayat," jelas Dennis sambil mencari obat merah.
"Aneh juga. Rumah lu terkutuk kali."
"Hus, sembarangan. Mungkin kak Rei sebelumnya lagi potong-potong sesuatu."
"Kali aja." Azura diberikan obatnya. Dia pun langsung mengobati dirinya sendiri.
...********♥********...
Hari semakin gelap. Semua orang masuk untuk pamitan dengan bunda. Mereka tidak mau pulang terlalu malam. Namun tiba-tiba lampu mati dan seluruh pintu dan jendela tertutup rapat dengan sendirinya. Beberapa anak menangis karena kejadian itu.
Lalu satu-persatu ada benda bulat jatuh. Saat diperhatikan lagi, ternyata itu sebuah bola mata. Mereka yang menangis, bola matanya lepas dari tempatnya. Semua jadi histeris dan panik termasuk Dennis dan Derrel. Akan tetapi Dennis berusaha tetap tenang. Ia mengajak Derrel ke pojokan agar tidak bertabrakan dengan temannya yang lain.
"Ka–kak Dennis, aku takut." Derrel memeluk tangan Dennis.
"Tenang, Rel. Gak ada yang bisa nyakitin kamu." Dennis mengelus kepala Derrel.
Ayah Dennis berusaha untuk mencari jalan keluar. Karena ia sudah hapal rumahnya, dengan cepat ia bisa menemukan pintu keluar. Tapi sayang pintu itu tidak bisa dibuka. Saat ingin memecahkan kaca jendela, entah kenapa kacanya tidak bisa pecah.
"Semuanya tolong tenang!" Ayah Dennis meminta semuanya untuk tidak panik. Tapi anak-anak yang matanya terlepas itu terus saja berteriak kesakitan. Semuanya juga ketakutan melihat penampilan baru dari teman mereka yang sudah tidak memiliki mata.
Namun beberapa orang ada yang masih peduli dan membantu meringankan pendarahan pada 3 orang yang matanya hilang. Mereka menutup mata anak itu dengan kain, lalu beberapa dari mereka menyalakan lampu ponsel masing-masing untuk melihat keadaan.
Sementara semua orang panik, Azura masih duduk santai di sofa sambil melihat orang-orang berlari dan histeris. Dia meminum sirup dari Arel tadi.
"Kamu kok santai sih?" tanya Arel yang mukanya sedikit panik.
"Emang harus panik?" Azura menyeruput kembali sirupnya.
"Ra, ke atas yuk. Daripada diinjek-injek." Dian menarik tangan Azura. Lelaki itu bisa merasakan telapak tangan Dian yang basah. Ia menyalakan senter ponsel karena di sana sangat gelap.
"Lu abis olahraga apaan sampe basah gini?" tanya Azura
"Abis olahraga jantung gw." Dian menjawabnya. Mereka menuju lantai dua ke kamar Dennis dan Derrel. Di dalam sana sudah ada Derrel, Dennis, Rei, dan Leon.
"Lah, kok kau bawa Azura doang?" Rei melotot menatap Dian.
"Loh, emang siapa lagi?"
"Arel mana?" tanya Rei yang sedang duduk di kasur. Begitu melihat Arel tidak ada, ia langsung berdiri dan menghampiri Azura dan Dian.
"Loh, gak bilang, anying!" Dian hendak keluar lagi.
"Biar gw aja," ujar Azura sambil tersenyum tipis. Lelaki itu merebut ponsel Dian untuk memakai senternya.
Saat Azura ingin memutar kenop pintu. Lampu langsung menyala. Mata mereka silau untuk beberapa saat.
"Loh, udah nyala. Bunda udah bayar listrik, Kak Dennis?" tanya Derrel dengan polos.
"Mungkin iya," jawab Dennis.
"Ya udah, ayo kita keluar. Sepertinya di depan sana–" Baru saja Rei menganggap kalau semuanya telah baik-baik saja, tiba-tiba suara beberapa teriakan muncul. Membuat semuanya yang ada di kamar itu langsung berlarian keluar.
Mereka menuruni tangga dan kembali ke ruang tamu tempat berkumpul teman-temannya tadi. Mereka semua terkejut dengan pemandangan baru yang terlihat di depan.
3 teman mereka yang menangis dan kehilangan matanya kini telah meninggal karena kehabisan darah dan 1 diantaranya meninggal karena terinjak-injak. Lalu di depan pintu ada ayahnya Dennis yang sedang mengerang kesakitan karena jari-jarinya hilang tanpa sebab. Sisahnya sedang di pojok ruangan sambil saling menenangkan satu sama lain.
Begitu melihat ayah mereka, tiga bersaudara langsung menghampirinya. Mereka memeriksa keadaan ayahnya dan Dennis pergi ke dapur untuk mengambil obat. Tapi begitu sampai di sana, ia terkejut melihat ibundanya yang telah meninggal dengan pisau daging tertancap di dadanya.
"Bu–Bundaaaa!!"
*
*
*
To be continued–