The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 09



Sesampainya. Di warung pak yanto, yaitu warung bakso lava, yang terkenal enak dan bersih. Di sini lah alya dan lidia berada.


Terlihat di dalam, sudah penuh dengan pembeli. Beruntungnya, hanya ada satu meja yang kosong. Yang sekarang di tempati oleh lidia.


"Pak, bakso lava beranaknya satu, dan es tehnya dua ya pak ! "


"Asiap neng " ucapnya. dengan semangat.


Segera alya berjalan menuju lidia, yang berada di meja tengah. Hanya itu, meja yang kosong.


"Oh iya lid. Tadi lo yah, yang bayarin pesanan gue. Nih gue ganti, makasih ya ! " ucap alya.


Sembari menyodorkan uang tujuh puluh ribu.


"Iya, sama sama al. Padahal gue gak minta untuk di gantiin. Tapi, karna lo sudah kasih ke gue, ya sudah. Gue ambil saja, dari pada mubazir." ucap lidia cengengesan.


"Meskipun lo gak minta ganti. Gue tetap gantiin karna gue yang makan." ucapku.


"Permisi neng, ini pesanannya." ujar pak yanto, pemilik warung bakso lava.


"Makasih pak. " jawabku sembari tersenyum.


Siapa tau, dengan senyumanku. Bakso lava yang ku pesan di kasih gratis.


"Sama sama neng." jawab pak Yanto.


Sambil berlalu meninggalkan meja yang di tepati alya.


"Nih, lo minum es teh saja yah, gratis dari gue." ucapku.


Sembari menyodorkan gelas yang berisi es teh di depannya.


"Nah gitu dong, sekali kali traktir ke yang lebih muda, contohnya ke gue hehe." ujarnya.


Ya, aku dan lidia hanya terpaut satu bulan. Lebih jelasnya di sini. Aku yang lebih tua, gak tua tua amat sih.


Segera, ku potong, bakso beranak lava yang masih mengepulkan asap. Duh, cuma liat saja sudah ngiler duluan nih.



Makanan yang seperti ini nih. Yang cocok buat melampiaskan emosi, serta menghilangkan stress di kepala. Apalagi, makanan yang super pedas. Cocok buat cewek yang lagi patah hati, contohnya seperti aku. Asal tidak punya riwayat maag, dan asam lambung. Bisa kambuh nantinya jika makan makanan yang pedas.


"Duh, kok jadi pengen makan lagi gue ya al. liat bakso lo." ujar lidia.


Sambil menatap baksoku dengan tatapan yang menginginkan, untuk melahapnya juga.


"Pesen aja lid. Enak banget loh, lo bakal menyesal. Kalau malam ini, gak ikutan makan bakso bareng gue." ucapku.


"Ih. Ya sudah deh, gue pesen juga, dari pada gue ileran nanti pas sampai rumah." kesalnya dan segera memesan bakso.


Tidak lama kemudian. Bakso yang di pesan lidia sudah datang.


Kami berdua pun. Memakan lahap, bakso lava yang super pedas dan nikmat itu. Ah...Sepertinya, besok pagi, harus bersiap untuk curhat dengan WC pas diare.


Sesampainya di rumah pukul 21.45


Beruntungnya bunda, dan ayah sudah tidur lebih dulu. Memang ayah dan bunda, tidak pernah tidur sampai larut. Bahkan, akan tidur lebih awal jika sudah kecapekan.


Ku rebahkan, tubuhku di ranjang. Setelah cuci muka, dan mengganti baju tidur. Sembari, memeluk boneka beruang yang berukuran lebih besar dari tubuhku.


Ku ambil handphoneku yang masih berada di tas slempang kecil. Ku buka, galeri yang terdapat banyak foto aldo. Diam diam, aku selalu foto aldo, setiap kegiatan, yang dia lakukan. Karna terlalu besarnya, rasa cintaku untuknya. Sampai sampai, aku tidak mau melewatkannya.


Tes


"Tanpa ijin dariku, tiba tiba saja, air mata ini. jatuh tanpa henti hiks."


Kejadian malam ini, benar benar membuatku kacau. Dan rasa ingin berhenti bernafas sejenak. Karna terlalu dalamnya, luka ini.


Ku tatap foto aldo, dengan senyuman yang miris.


"Kenapa ini semua harus terjadi padaku. Kenapa juga, aku yang lebih dulu mencintaimu. Kenapa. kenapa kamu membuka hatimu untuk orang lain. Sedangkan aku yang berjuang meluluhkan hatimu saja, sampai menghabiskan waktu dua tahun. Sedangkan, orang yang baru kamu kenal. Dengan mudahnya, dia memasuki hatimu. hiks kamu jahat do." ucapku.


Tak lama kemudian. Alya mulai memejamkan matanya karna terlalu lama menangis.


Pagi yang sangat cerah.


Sosok alya, masih bergelung di bawah selimutnya.


"Alya, ayo bangun. Kamu tidak mau pergi ke sekolah ? " ucap bunda.


"Alya, ijin libur hari ini bun. Kepala alya pusing." jawabnya.


Dengan, suara beratnya khas orang baru bangun tidur.


"Beneran pusing. Alya gak lagi bohongin bunda kan. Terus, kenapa tuh mata, kok bengkak seperti panda." tanya bunda.


Dengan penuh selidik.


"Hehe....Tadi malam, sepulang dari luar sama lidia. Alya nonton drakor yang mengandung bawang. Enggak bun, alya gak lagi bohong suer nih ! " ucapku.


Dengan mengangkat dua jariku,agar bunda percaya.


"Maafin alya. sudah berani bohongin bunda. Alya hanya ingin istirahat aja, seharian" batinku.


"Ya sudah, kamu istirahat saja. Bunda, mau pergi ke pasar dulu." ujar bunda.


Sembari pergi meninggalkan alya.


Tok tok tok


Tidak lama kemudian. Setelah bundanya pergi. Terdengar suara orang yang mengetuk pintu kamar alya.


"Al, lo ada di dalam kan? " pekik lidia.


Yang sudah memakai seragam sekolah.


"Buka saja lid. Gak di kunci." ucapku.


Ceklek


Pintu pun terbuka.


"Al. Kata tante, lo sakit yah ? Tadi, gue ketemu tante di bawah. Pas mau berangkat ke pasar."


"Gue cuma pusing saja lid. Gpp kok. Oh iya, lo ke sini mau jemput gue."


"Yakin. Lo gak mau masuk sekolah hari ini, bukan karna kejadian tadi malam kan ? " tanyanya.


Dengan rasa khawatir.


" Gue cuma pengen nenangin pikiran gue dulu lid. Kejadian tadi malam, bikin gue galau berat." ucapku lesu.


"Ya sudah deh. Gpp kalau gitu, besok lo harus sekolah, dan gak boleh galau di depan gue.


Apalagi keliatan murung. Gue mau, lo semangat lagi. Masih banyak, stok cowok ganteng yang lebih dari aldo. Ya sudah, gue mau berangkat sekolah dulu yah. Takut telat nih ! " ucap lidia.


Sembari melihat jam di pergelangan tangannya.


"Iya. Hati hati yah lid, dan makasih."


"Kalau ada apa apa, dan butuh sesuatu. Telfon gue yah ! bay bay bay." ujar lidia yang segera keluar dari kamar alya.


"Huft.....Memang benar yah. Kalau sudah patah hati, buat hidup gak semangat lagi."


"Dari pada bosen sendirian di dalam kamar, lebih baik menonton kartun saja." gumamku.


Segera ku cari remote tv yang ku letakkan di laci. Kamarku, memang sudah di sediakan televisi. Kata bunda, biar bisa menghilangkan stress, pas aku selesai belajar.


Ku tekan tombol on pada remote control. Setelah, televisi menyala. Ku cari film film yang menurutku bisa menghiburku, dan akhirnya. Ku putuskan untuk melihat film kartun dua bocah yang botak. Yaitu Upin Ipin. Film kartun, bukan hanya untuk anak kecil saja. Bahkan, seumuran denganku, masih suka menonton kartun. Karna film kartun, cukup membuat para penontonnya terhibur.