The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 37



"Mereka memang bener bener keterlaluan." ujar ku.


"Oh iya kak. Gue pulang dulu yah ! Abang gue pasti udah nungguin." ujar aulia.


Sembari berlari kecil meninggalkan ku.


"Lo hati hati di jalan." teriak ku.


Yang di balas dengan lambaian tangan oleh aulia. Gegas aku menyusul lidia, di toko peralatan sekolah. Mungkin, dia akan mengoceh panjang lebar padaku, gara gara sudah membuatnya menungguku terlalu lama.


Tak lama kemudian, aku sudah sampai di toko peralatan sekolah. Di dalam, sudah terlihat lidia yang memegang keranjang belanja sembari menggenggam tangan rina. Sedangkan rina, sedang memilih barang yang akan dia beli. Gegas aku menghampiri lidia, yang sudah terlihat menggembungkan pipi nya karna kesal.


"Lo lama banget sih al, dari mana aja ?" tanya lidia.


Ketika aku sudah sampai di depannya.


"Tadi, gue gak sengaja ketemu cewek SMP yang sedang di bully. Karna gue kasihan, jadi gue bantuin dia dulu." ucap ku santai.


"Lo terlalu baik al, sampai sampai lo gak inget sama saudara sendiri, hampir satu jam gue nungguin lo. Dan lo malah bantuin orang, sedangkan gue di sini di buat bingung karna ulah rina yang suka menghilang tanpa pamit. Gue hampir aja di marahi mama, kalau gue gak nemuin rina dan beruntungnya karyawan sini bantuin gue cari nih anak." ujar nya kesal.


Sembari melotot pada rina yang kebetulan memperhatikan kami.


"Lagian, ini juga bukan salah rina. Salah kakak sendiri yang sibuk sama handphone nya." ucap rina cemberut.


"Kamu ini, udah salah masih aja membantah. Kalau kayak gini, kakak gak akan temenin kamu lagi, lebih baik di temani mama aja." ujar lidia.


"Sudah lid, kasian tuh rina udah mau nangis. Jangan di marahi terus, namanya juga anak kecil." ucap ku.


Melerai mereka berdua yang masih beradu mulut. Kalau aku tidak menengahi mereka, pasti ujung ujungnya rina menangis.


"Lebih baik, aku sama kak alya aja ! Lebih sabar dari pada kakak yang sedikit dikit emosi." ucap rina.


Sembari melepaskan tangannya yang di genggam oleh lidia. Dan berpindah menggandeng lenganku.


"Ya sudah. Sana kamu sama alya jangan sama kakak." ucap lidia kesal.


"Udah lid. Sabar, jangan emosi terus. Nanti lo tambah tua. Memangnya lo mau, di usia muda sudah keliatan tua dan banyak uban di kepala lo, gara gara selalu marahi rina terus. " ujar ku.


"Huft ....Lidia lo harus sabar ok." ucap nya pada diri sendiri.


Sedangkan aku hanya tersenyum saja melihat tingkah lidia, yang langsung berubah saat aku menasehatinya.


"Gimana al ! Gue gak keliatan tua kan ? Gue masih muda dan cantik kan al ?" tanya lidia.


Menyesal aku telah menasehati nya tadi. Bukannya membuat dia lebih bersabar, malah semakin bertambah narsisnya.


"Iya iya. Lo masih muda tentunya sudah cantik." ucap ku.


"Alhamdulillah...Jadi, ayang dava akan semakin sayang kalau gue tambah cantik." ujar nya.


"Dek rina kamu sudah selesai belom ? Memilih peralatan sekolahnya. Kalau sudah, ayo kita langsung bayar ke kasir. Di sini ada orang narsis tingkat tinggi." ucap ku.


"Mm....Sudah semua kak." ucap nya bingung.


"Ya sudah, yok kita ke kasir. Kalau berlama lama di sini, kita akan tertular virus NTT (Narsis Tingkat Tinggi)" ucapku.


Sembari berjalan meninggalkan lidia, yang masih mengoceh sendiri.


"Kak ayo." pekik rina.


Seketika membuat lidia tersadar, dan gegas menyusul alya yang sudah di depan kasir bersama rina.


"Sepertinya tadi, alya ngatain gue narsis deh. Apa gue salah denger yah !" gumam lidia.


"Kak ! Ayo bayarin belanjaanku." seru rina.


Saat lidia sudah sampai di depan kasir.


"Sabar dulu dek." ujar nya.


Sembari mengambil uang di dalam dompetnya. Setelah membayar belanjaan rina, kami bertiga pun berjalan mengelilingi mall.


"Kak ! Aku laper." ujar rina.


"Ya sudah. Yuk kita makan !" seruku.


"Kita makan di sana aja." tunjuk lidia.


Pada stand ayam geprek. Sedangkan lidia sudah lebih dulu berjalan di depanku. Sembari membawa belanjaan rina. Segera aku menyusul lidia sembari menggandeng tangan rina.


"Kak, aku mau pesen ayam geprek mozarella level 2 satu, minumannya es jeruk satu." ucap lidia.


Setelah sampai di depan kasir.


"Kamu mau pesen apa dek ?" tanya lidia pada rina.


"Aku ayam geprek mozarella juga deh kak, samain sama punyak kakak. Tapi, ayam geprek nya gak pedes." ujar rina.


"Kalau lo al ?"


"Samain aja kayak punya lo lid tapi punya gue level 3." ucap ku.


"Ok." serunya.


Setelah memesan makanan, segera kita duduk di bangku.


"Kak ! Setelah makan, kita pulang yuk. Rina sudah capek." ujarnya.


"Gak jadi mau main ke wahana permainan ?" tanya lidia.


"Lain kali aja deh. Rina mainnya." ucap nya.


"Ok siap. Kita langsung pulang setelah makan." ucap lidia.


Sedangkan aku, hanya menjadi pendengar saja bagi mereka.


"Yah.... Baterai gue habis lagi. Pesan taksi pakai handphone lo aja al. Lupa gue gak charger handphone gue." ujar lidia.


Setelah kami, berada di pintu masuk mall. Saat selesai makan tadi, kita gegas membayar pesanan kami dan berjalan keluar dari mall.


"Ok deh. Untung aja gue bawa handphone kalau enggak. Mau pulang naik apa kita." ujar ku.


Sembari membuka layar handphone ku dan membuka aplikasi GOJEK.


Tak lama kemudian mobil TRD berwarna putih berhenti di depan. Mungkin itu gojek yang aku pesan. Gegas kami bertiga menghampirinya.


"Apa benar atas nama Alya Maharani ? " tanya pak sopir.


Sembari membaca tulisan di layar handphonenya.


"Benar pak, saya sendiri." ucap ku.


Bruk


Setelah menutup pintu mobil, pelan pelan mobil pun berjalan keluar dari area mall.


Dua puluh menit kemudian.


"Bunda ! Alya mau berangkat yah." ujar ku pada bunda.


Mencium tangan bunda dengan takzim. Yang saat ini, bunda berada di teras depan rumah. Setelah sampai di rumah lidia, aku gegas langsung pulang dan membersihkan diri terlebih dulu, sebelum berangkat ke kursus masak.


"Iya sayang, kamu hati hati di jalan." ucap bunda.


Segera aku menaiki motorku dan melajukan dengan kecepatan sedang.


"Sebenarnya hari ini, gue pengen diem di rumah. Tapi, kalau gue gak masuk kelas lagi. Malah akan bertambah hukuman gue. Nasib punya chef yang suka menghukum muridnya, ya begini. Bakal pulang malam lagi gue." gumam ku.


Sembari menghembuskan nafas dengan kasar.


Tak lama kemudian, aku sudah sampai di gedung tinggi. Dengan bertuliskan Kitchen Magic di atasnya.


Segera aku turun dari motor, setelah mengunci setir motorku. Dan berjalan menuju pintu masuk. Seperti biasa, sesampainya di loker mengambil apron ku dan menaruh tas ku, gegas aku berjalan menuju aula.