
"Biasa saja." ucapku cuek.
"Owh. Biasa saja ya ! Ya sudah ayo kita balik dan mencari tempat yang lebih bagus dari ini." ujarnya menarik tanganku.
"Gak mau. Em....Maksud gue di sini saja. Kalau misal kita masih cari tempat yang lebih bagus. Akan membuang waktu, dan gue gak mau pulang larut malam. Cuma gara gara kita balik cari tempat yang bagus. Ya, itu maksud gue tadi." ucapku gelagapan.
"Gue tau, lo suka sama tempat ini. Tapi lo malu untuk mengakuinya." batin aldo.
Saat aldo menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ya sudah. Kita cari tempat duduk yang kosong." ujarnya.
Yang masih belom melepas genggaman tangannya padaku.
"Gak usah genggam tangan gue juga kali. Gak usah modus." ucapku.
Menarik tanganku dengan kasar. Ya, meski aku cukup bahagia di bawa ke wisata yang belom aku kunjungi. Tetap saja tak akan membuatku secepat itu luluh padanya.
"Saya pesan. Nasi ayam rica rica satu, risol ayam satu, roti maryam rasa coklat keju satu. Dan minumannya, es teh boba coklat satu." ucapku.
Pada waiters yang bekerja di sini. Sedangkan aldo hanya memesan dua menu makanan saja.
"Baik kak. Silahkan di tunggu." ucapnya.
"Lo yakin al. Bakal ngabisin semua menu yang lo pesan ?" tanya aldo memastikan.
"Gue mampu, untuk menghabiskan semua menu yang gue pesan. Ya, kalau misal gak habis. Bisa di bawa pulang. Atau jangan jangan lo keberatan gue pesan banyak. " ucapku santai.
"Bukan gitu. Gue cuma memastikan saja." ucapnya.
Ku ambil handphone di dalam tas selempang. Ku buka aplikasi whatsapp yang sedari tadi sore belum ku lihat notif chat di dalamnya. Ku ketuk WhatsApp yang bertuliskan panggilan, terdapat sepuluh panggilan tak terjawab dari nomer baru, yang sudah di namai dengan "Kekasihku".
Ku alihkan pandanganku dari layar handphonenku. Ku tatap wajah si pelaku yang sudah beraninya, memberi nama yang tidak pantas. Pada nomernya sendiri di handphoneku.
Sembari menatapnya dengan tajam, tak lupa memperlihatkan layar handphonenku di depannya. Sedangkan, yang di tatap hanya memasang wajah tak berdosanya.
"Kenapa bisa mustahil ? Liat saja, lo bakal panggil gue dengan sebutan nama yang gue kasi di handphone lo." ucap aldo.
Yang terdengar menyebalkan di telingaku.
"Gak akan." ucapku ketus.
Saat hendak ingin mengubah nama nomernya. Tiba tiba handphoneku sudah berpindah tangan. Siapa lagi pelakunya kalau bukan aldo.
"Jangan di ganti namanya, yang sudah gue beri al. Kalau lo masih kekeh untuk mengubah namanya. Liat saja, gue bakal terus mengganggu Lo." ucapnya.
"Meski pun gue nurutin semua kemauan lo. Lo tetap akan ganggu gue." ucapku ketus.
Sembari mengambil handphonenku kembali.
"Tentu saja. Gue tetap akan ganggu lo. Sampai lo jadi milik gue seutuhnya." ujarnya.
Sambil menatapku dengan intens.
"Sampai kapan al ? Lo akan bersikap ketus dan kasar setiap bareng gue. Gue mau alya yang dulu." ucapnya lagi.
Tanpa mengalihkan pandangannya padaku.
"Gue gak tau sampai kapan do ! Entah kenapa, sulit bagi gue untuk terima lo kembali di hati gue. Terlalu banyak lo buat luka di hati ini." batinku.
"Permisi kak. Pesanannya sudah datang." ucap waiters wanita.
Sembari menaruh semua menu masakan yang kami pesan.