The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 43



Jawaban papa tadi, membuatnya begitu lemas dan tak bersemangat. Apa yang ada di pikirannya saat ini, sehingga membuatnya lemas seketika.


Ku pandang wajahnya dengan seksama. Cewek yang selama ini, aku sakiti dengan sikapku. Dan selalu merasa risih saat dia berdekatan denganku, sekarang akan menjadi milikku. Ternyata penyesalan, selalu datang terlambat. Saat aku sudah merasakan dia menjauhiku, rasa penyesalan itu pun datang.


Flashback on.


"Ini pasti ulah lo kan !" seru alya.


Saat setelah selesai makan. Alya dan aldo duduk di taman belakang rumah alya.


"Gue gak tau apa apa soal ini." ujar aldo.


"Gue gak mau jadi tunangan lo. Kenapa lo, gak menolak kalau lo di jodohin. Kalau lo menolak pasti tunangan ini gak akan berlanjut." ucap ku kesal.


Sedangkan aldo, hanya menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Kenapa lo ! Ngeliatin gue kayak gitu." ucap ku kesal.


Bukannya dengerin pembicaraan ku, dia malah sibuk sendiri menatapku.


"Lo cantik al."


Tiga kata yang aldo lontarkan membuat jantungku berdetak lebih kencang.


"L... Lo ngomong apa sih !" ujar ku gugup.


Bisa bisanya aku gugup hanya, karna aldo berkata seperti itu.


"Eh." kaget ku.


Yang tiba tiba aldo meraih kedua tanganku dan menggenggamnya.


"Al, gue cinta sama lo. Gue serius sama lo. Perasaan ini sudah lama tumbuh di hati gue. Tapi, selalu gue tepis. Karna gue kira, ini hanya perasaan sebatas teman kelas. Tapi, gue salah. Benar kata lo, memang gue di balik semua perjodohan ini. Gue yang minta ke papa, kalau gue ingin di jodohkan sama lo. Gue ngelakuin ini semua, karna gue gak mau jauh jauh dari lo. Gue mau lo selalu ada di dekat gue. Gue minta maaf kalau dulu, gue selalu menyakiti perasaan lo. Selalu gak menghargai pemberian lo. Gue akui, gue memang sudah kelewat jahat sama lo. Asalkan lo tau al, saat lo sudah menjauhi gue. Di saat itu lah gue merasa kesepian. Dan gue merasa sesak saat lo gak mau gue deketin. Tolong berikan satu kali kesempatan untuk gue. Agar gue bisa mengembalikan cinta lo untuk gue. Kalau kemaren lo yang ngejar gue, sekarang gue yang akan mengejar lo." ucap aldo sembari mencium punggung tangan ku.


Ku tarik tanganku dengan paksa, dari genggaman aldo. Kenapa masalah percintaanku jadi seperti ini, kenapa juga aldo baru mengungkapkan perasaannya sekarang, di saat aku sudah bisa mulai melupakannya. Tapi, kata hati memang tidak pernah berbohong. Aku memang sudah melupakannya. Tapi di hati ini, masih ada namanya.


"Tapi. Jika memang lo cinta sama gue dari awal. Kenapa lo malah pacaran sama laura. " ujar ku sembari menatap nya.


"Gue pacaran sama laura, bukan berarti gue sayang sama dia. Dia yang menyatakan perasaannya ke gue, dia yang suka sama gue. Karna gue ingin menjauhi lo, maka dari itu gue menerima laura jadi pacar gue. Karna yang gue tahu lo adalah cewek barbar, dan manja. Maka dari itu, saat lo menyatakan perasaannya ke gue. Gue langsung menolak lo. Tapi, setelah gue pacaran sama laura, dan lo yang menjauhi gue. Bukannya membuat gue senang karena lo sudah gak ngejar gue lagi, malah membuat gue kesepian. Jadi, lo mau kan ! Kasih gue kesempatan untuk buat lo jatuh cinta lagi ke gue." ujar aldo.


"Gue gak tau." ujar ku datar.


Mendengar penuturannya tadi, membuat ku sesak. Ternyata, aldo memilih laura karna risih saat berdekatan denganku.


"Ya sudah. Gue mau pulang dulu, papa masih ada pekerjaan di kantor.", ujar aldo.


Meninggalkan ku sendirian di taman. Gegas aku mengikutinya.


"Kak alya, besok main ke rumah yah. Gue tunggu kedatangan lo di rumah gue." ujar aulia.


Yang sudah berada di dalam mobil, duduk di dekat jendela.


"Gue gak janji lia. Kalau gue ada waktu luang pasti gue akan main ke rumah lo." ujar ku.


"Ya sudah. Gue mau pulang dulu ya kak." ujar aulia.


"Hati hati di jalan. " ujar ku.


Saat mobil nya sudah melaju dengan kecepatan sedang.


"Parsel baju skincare nya bawak ke kamar kamu nak." ujar bunda.


Saat aku melewati bunda di ruang keluarga. Gegas aku menghampiri bunda. Dan mengambil parselnya. Sesampainya di kamar. Ku buka parsel pakaian, ternyata gaun yang begitu cantik berwarna pink muda berlengan pendek, serta belahan dada yang terbuka.


"Gaun nya cantik sih ! Tapi, kalau di pakai gue, apa gak tenggelam badan gue. Gaun ini cocoknya di pakai cewek yang lebih tinggi dari gue." gumamku.


Saat mencocokkan gaun ku di badan sembari bercermin di kaca besar dekat ranjangku.


"Ini lagi. Gue gak tau cara pakai ginian. Gue taunya cuma makai lipstik dan bedak tabur. Lebih baik gue taruh aja dulu." gumamku.


Sembari menaruh gaun juga skincare di dalam lemari.


"Gue gak yakin. Kalau hari ini gue tunangan sama aldo." ujar ku.


Sembari melihat jari manis kananku, yang tersemat cincin dengan permata satu.


"Ngantuk banget gue. Siang siang gini memang lebih enakan tidur." gumamku.


Setelah mengganti baju juga mengikat rambut asal asalan.


Drt.....Drt.....Drt.....


Ku buka mataku pelan saat aku hampir terlelap. Saat handphone ku berbunyi, ku ambil handphoneku di dekat bantal. Ku hidupkan layar handphone.


"Nih anak ganggu gue aja." gumamku.


Saat di layar handphone tertera nama lidia. Segera ku usap gambar telepon berwarna hijau.


"Halo al. Gimana acara tunangan lo, gagal kan ?" tanya lidia.


Saat sambungan telepon terhubung. Ku hembuskan nafasku dengan kasar.


"Bukan gagal. Tetapi, lancar jaya acara tunangan gue. Lo sudah janji, sama gue untuk bantuin gue biar pertunangan gue batal. Eh, malah lo mengingkari janji." ucap ku ketus.


"Maaf al. Tadi pagi, gue sudah ngotot banget untuk gak masuk sekolah hari ini. Malah mama maksa gue tetap masuk sekolah. Dan parahnya, gue sampai di marahi sama papa. Jadi, terpaksa gue masuk sekolah." ujar lidia lesu.


"Ya sudah. Gpp lid, mungkin sudah takdir gue berjodoh dengan aldo." ujar ku.


"Apa al ? Lo tadi nyebut nama siapa ? Gue gak salah denger kan ! Apa maksud lo berjodoh dengan aldo. Atau jangan jangan yang di jodohkan lo adalah aldo. Benar gak sih ! Apa yang gue katakan al. Al jawab dong, jangan bikin gue penasaran." ujarnya tanpa henti.


Tut.....Tut.....Tut......


Sambungkan telepon pun terputus.


Sedangkan di sisi lain yaitu lidia.


"Loh. Kok malah di matikan sih ! Sama alya. Benar benar tuh orang, bikin gue penasaran aja." ujar lidia.