
Pukul 20.30
"Alya ! Gue duluan yah. Lo hati hati di jalan." seru bila.
Teman kelas kursus, yang juga di hukum karna bolos.
"Iya bil, lo hati hati juga." ujar ku.
Saat di pertengahan jalan. Tiba tiba ada empat preman yang berdiri di tengah jalan, yang menghadang ku.
"Stop berhenti gak lo." ujar nya.
Refleks aku langsung mengerem motorku.
"Mau apa kalian." ujar ku.
Saat mereka berjalan menghampiriku, salah satu dari mereka membawa tongkat bisbol. Serta pakaian mereka yang begitu urakan, juga dengan di penuhi tato seluruh badan mereka. Tak lupa tindik di alis juga di hidung.
"Kita gak mau apa apa cantik, kita cuma mau bermain dengan kamu." ujar preman.
Yang berkalung rantai sembari mencolek daguku. Ku tepis tangannya dari wajahku dengan kasar. Bagaimana cara aku menghadapi nya, sedangkan mereka ada empat orang. Aku juga tidak mampu jika melawannya sendirian. Kalau hanya satu orang tidak masalah bagiku.
"Duh. Gimana ini, gue gak akan mampu melawan mereka semua. Badan mereka kekar semua lagi." batinku.
Meski aku pernah mengikuti silat. Tapi, jika menghadapi mereka yang notabene nya preman jalanan. Aku juga tak sanggup melawannya.
"Apa gue kabar aja yah." ucap ku dalam hati, yang masih berperang dengan batinku.
"Loh, kok malah melamun cantik. Kenapa ? Gak bisa kabur dari kami yah." ujar nya.
"Hahahaha" tawa mereka.
Hari ini, benar benar apes sekali. Bertemu preman jalanan dan lebih parahnya aku tidak bisa melawan mereka semua.
"Yuk cantik, kita main aja. Dari pada kamu di sini sendirian, lebih baik temani abang bermain." ujar nya.
Sembari menarik pergelangan tanganku, sampai aku beranjak dari motorku karna terlalu kasar menarik pergelangan tanganku.
Bug💥
Aku berhasil melayangkan bogeman di pipinya, sehingga pergelangan tanganku di lepas begitu saja.
"Cantik, jangan nakal yah. Cukup diam dan temani abang bermain." ujar nya emosi.
Sembari memegang pipinya yang terkena pukulan ku tadi, dan berjalan menghampiriku.
Seketika membuat jantung ku berdetak lebih cepat, karna merasa keadaan semakin mencekam. Yang tadinya aku tidak takut menghadapi mereka. Sekarang, malah ketakutan melihat preman yang ku pukul tadi menghampiriku dengan wajah yang memerah karna emosi.
"Gue gak tau lagi harus gimana, kabur pun juga gak bisa." batinku takut.
Plak
Bruk
Seketika tubuhku terjatuh, karna tamparan yang begitu keras di pipiku. Membuat kepalaku tiba tiba pusing, juga darah kental yang keluar dari hidungku.
"Kurang ajar lo yah. Beraninya cuma sama cewek." pekik aldo.
Langsung memberikan bogeman mentah pada preman tadi. Kebetulan aldo, melewati jalanan yang sama, saat tadi tak sengaja melihat alya, yang di tampar sampai terjatuh. Gegas aldo menepikan mobilnya.
Bug
"Wah.... Sepertinya ada yang ingin menjadi pahlawan di malam hari ini." ujar preman yang tadi yang di hadiahi bogeman oleh aldo.
"Kalian sudah tau kan ! Apa yang harus kalian lakukan." ucap nya.
Seketika tiga preman itu maju untuk menghajar aldo.
Bug 💥
Bug💥
Bug💥
"Kalian bertiga memang tidak becus." ucap preman tadi sebagai bosnya.
Saat tiga preman itu babak belur karna ulah oleh aldo, yang memukulnya membabi buta.
Sembari berlari meninggalkan bos mereka yang masih tetap berdiam diri.
"Akh.... Kalian benar benar keterlaluan ninggalin gue." ujar ketua preman.
Ketika melihat anak buahnya yang berlari meninggalkannya.
"Hari ini lo selamat dari gue." ujar nya.
Sembari berlari meninggalkan aldo.
"Dasar pengecut, beraninya main keroyokan." ucap aldo dengan tatapan tajamnya.
Menatap preman tadi yang berlari, dan tidak berani melawan lagi. Gegas aldo menghampiri lidia yang masih terduduk di aspal.
"Al, lo gpp kan ? Di mana yang luka ?" ujar aldo dengan khawatir.
Melihat alya mengeluarkan darah dari hidungnya dan pipi yang lebam. Membuatnya menahan amarah yang begitu besar. Kalau bukan alya sedang terluka saat ini, dia akan mengejar preman itu dan memukulnya habis habisan. Sekarang terpenting adalah keselamatan alya.
Sedangkan alya, menahan rasa sakit di kepalanya juga hidung yang tak henti hentinya mengeluarkan darah.
"Gu... gue gpp do makasih udah nolongin gue." ucap alya.
Tiba tiba pandangan alya mulai mengabur dan jatuh pingsan. Beruntungnya aldo menahan tubuh alya, sehingga badannya tidak terjatuh di aspal.
"Alya." pekik aldo.
Melihat alya yang sudah tak sadarkan diri, gegas aldo membopong tubuhnya dan berjalan menuju mobilnya.
Terik matahari mulai memancarkan sinarnya. Seorang gadis masih betah dengan tidurnya. Siapa lagi kalau bukan alya.
"Ukg.... Pusing banget kepala gue." ucapku.
Saat aku terbangun dari tidurku, sudah berada di dalam kamarku. Bukannya tadi malam aku sedang di keroyok oleh preman jalanan. Ketika teringat sesuatu gegas aku memeriksa tubuhku.
"Alhamdulillah.... Gue gak di jadikan korban pelecehan." ucap ku.
Saat aku tidak merasakan sakit di area sensitif ku.
"Bukannya gue tadi malam, di tolong aldo yah ! Berarti aldo juga yang sudah bawa gue pulang. Tapi kok gue gak inget sesuatu." gumamku.
Mencoba mengingat kejadian tadi malam.
"Akhirnya, kamu sudah sadar nak. Ini minum dulu susu nya selagi masih hangat." ujar bunda.
Yang sudah duduk di tepi ranjangku, gara gara mencoba mengingat kejadian tadi malam. Sampai tidak sadar bahwa bunda sudah masuk ke dalam kamarku. Ku raih segelas susu yang bunda sodorkan padaku. Dan ku teguk sedikit demi sedikit.
"Bagaimana keadaanmu nak ? Apa masih ada yang sakit ?" tanya bunda.
Menampilkan raut wajah yang cemas.
"Alya gpp bun. Cuma kepala alya sedikit pusing, dan pipi alya terasa ngilu." ujar ku.
" Oh iya bun, tadi malam yang anterin alya pulang siapa ?" tanyaku.
Meski aku tahu aldo lah yang mengantarku pulang. Tapi aku masih tidak percaya, bahwa aldo yang menolongku biasanya dia tidak ingin direpotkan oleh orang lain. Makanya aku bertanya pada bunda untuk memastikan saja.
"Anaknya om fa.. Oh itu, tadi malam yang mengantarkan kamu aldo." ucap bunda dengan gelapan.
"Apa yang di maksud anaknya om fa ? Kenapa bunda tidak melanjutkan kata katanya ?" tanyaku heran pada bunda.
Tidak seperti biasanya, bunda berbicara gelagapan padaku.
"Tadi, bunda salah berbicara nak ! Semalam, aldo yang mengantarkan kamu pulang. Ya sudah, kamu habiskan susunya, bunda mau mengambilkan kamu makanan." ujar bunda.
Sembari meninggalkanku, dengan penuh kebingungan.
"Bunda aneh hari ini, gak biasanya bunda seperti ini." gumamku.
Gegas aku menghabiskan susu yang masih tersisa setengah gelas. Setelah itu beranjak dari ranjang untuk menuju kamar mandi.
"Sakit banget nih pipi. Memang gak ada hati tuh preman, bisa bisanya di tampar gue sampai terjatuh duduk." gumamku.
Sembari memegang pelan pipiku yang terasa ngilu.