The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 40



"Maaf yah, alya lupa." ucap ku.


Sembari beranjak dari dudukku dan menaiki anak tangga untuk menuju kamar. Pantas saja, tadi aku melihat bunda yang memasak banyak lauk. Ternyata untuk acaraku sendiri.


"Oh iya, gue lupa kalau lidia bakal bantuin gue. Supaya tunangan ini tidak berlanjut." gumam ku.


Gegas aku mengambil handphoneku dan menelfon lidia.


"Gimana ini, handphone Lidia gak aktif lagi. Apa jangan jangan lidia lupa, kalau mau bantuin gue. Gue coba telfon tante aja kali yah ! Tanya lidia." gumam ku.


" Halo assalamualaikum tan. Lidia nya ada di mana yah ! Soalnya tadi, alya telfon handphonenya gak aktif." ujar ku.


Saat telepon tersambung.


"Loh, memangnya lidia gak bilang kalau hari ini dia masuk sekolah !" ujar tante.


"Bukannya, lidia mau bantuin aku tan ! Kenapa malah sekolah." ucap ku lesu.


"Tante yang suruh lidia tetap sekolah al. Ya sudah tante tutup teleponnya dulu yah ! Ini tante masih ada kerjaan."


Tut....Tut.....Tut....


"Gimana ini ! Gimana caranya gue batalin perjodohan ini." gumam alya gelisah.


Tok....Tok...Tok .....


"Nak, ayo turun sarapan dulu." panggil bunda.


"Iya bunda. Bentar lagi alya menyusul, bunda duluan aja."


"Ya sudah, bunda tunggu kamu di bawah." ujar bunda.


Gegas aku keluar kamar untuk turun sarapan.


"Nak, pukul 09.00 calon tunanganmu akan datang. Kamu bersiap lah, dan berdandan yang cantik. Jangan mempermalukan ayah dan bunda." ujar bunda di sela makanku.


"Meskipun kamu tidak menerima perjodohan ini, ayah hanya minta sama kamu jangan pernah mengecewakan ayah dan bunda. Jalani dengan ikhlas." ucap ayah.


Sedangkan, aku hanya diam saja. Tanpa menanggapi perkataan ayah dan bunda.


"Apa ini udah takdir gue ! Bertunangan di usia muda. Sepertinya, gue haru menerima perjodohan ini. Kalau misal kedepannya tidak ada kecocokan satu sama lain, gue bakal minta di batalin aja ke ayah. Pasti ayah gak akan menolak permintaan gue." batinku.


Pukul 09.10


"Nak ! Ayo turun. Calon tunanganmu sudah datang bersama keluarganya." ucap bunda.


Menghampiri ku di kamar.


"Wah....Anak bunda cantik sekali, pakai gaun ini." ujar bunda.


Saat melihat penampilanku. Aku memakai gaun lengan pendek berwarna biru muda, dengan panjang gaun di atas mata kaki. Dan bagian dada yang tertutup. Juga rambut yang di gerai serta memakai bandana mutiara di kepala.


"Loh. Kenapa tuh muka kok cemberut gitu. Sayang, bunda tahu ! Apa yang kamu rasakan. Bunda juga tidak bisa menghalangi keputusan ayahmu, yang ingin menjodohkan kamu. Alya jalani saja dulu dengan ikhlas yah. Ya sudah yuk kita ke bawah." ujar bunda.


"Iya bunda." ucap ku lesu.


Bunda pun menggandeng lenganku. Sesampainya, di anak tangga. Sosok pemuda yang berbincang bincang di depan ayah, yang membelakangi. Postur tubuhnya seperti tak asing bagiku. Ku hentikan langkahku sejenak, untuk memastikan kalau aku salah melihat.


" Ada apa nak ? Kenapa berhenti." ujar bunda.


"Ng nggak kok bun gpp." ucap ku.


"Salah lihat kali gue." batinku.


Setelah aku duduk di samping ayah. Suara yang memanggil namaku begitu tak asing. Segera ku angkat kepalaku yang sedari tadi menundukkan kepala.


"Aulia." ujarku tak percaya.


"Kita ketemu lagi kak, dengan status lo jadi kakak ipar gue." ujar nya sembari tersenyum padaku.


Ku edarkan pandangan di depanku. Seketika membuat jantungku berhenti berdetak. Saat, ku lihat seseorang yang begitu familiar bagiku. Kenapa bisa seperti ini, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa begitu kebetulan sekali.


"Lo ngapain di sini." ujar ku.


"Mau ngelamar lo." ucap aldo santai.


Sosok yang begitu familiar tak lain adalah aldo. Berarti, yang di maksud ayah anaknya om faris adalah aldo yang akan di jodohkan denganku.


"Bukannya yang di ceritakan kak riko, nama anaknya om faris adalah putra ? Kenapa malah jadi aldo." batinku.


"Bun, bukannya kata kak riko anak dari om faris namanya putra yah ! Kok jadi aldo." ucapku.


"Sebenarnya, aldo di kerap di panggil putra. Karna nama kepanjangannya Aldo Syahputra."


Bukan bunda yang menjawab pertanyaanku, melainkan om faris sendiri yang menjawab. Seketika membuat tubuhku terasa lemas seketika. Kenapa, jadi aldo yang di jodohkan denganku, cowok yang ingin ku lupakan dan ku hindari selama ini. Malah menjadi tunanganku.


"Kalian berdua sudah saling kenal yah ! Bagus lah kalau begitu, om tidak perlu mengenalkan kalian berdua." ucap om faris padaku.


"Iya pa, kak alya ini orangnya baik. Kalau gak ada kak alya yang nolongin aku, pasti waktu itu aku pulang dengan wajah babak belur." ujar aulia sumringah.


Ting....Ting...Ting...


"Bentar ya semua, saya mau buka pintu dulu." ujar bunda.


Saat bel rumah berbunyi. Tak lama kemudian, bunda sudah kembali dengan tante dina juga om faisal yang berjalan di samping bunda.


"Cantik sekali ponakan tante ini." ujarnya.


Saat setelah memberi salam kepada om faris. Sedangkan aku, hanya menjawab dengan senyuman saja pada tante dina.


" Maaf ya ris baru datang aku." ujar tante dina pada om faris.


"Santai saja din, seperti baru kenal saja." ujar om faris.


"Irawan, niat saya datang ke sini ingin melamar putri kamu yaitu, Alya Maharani untuk anak saya yang bernama Aldo Syahputra. Apakah kamu mau menerima lamaran ini." ujar om faris pada ayah.


"Kalau aku sudah menyetujui lamaran ini. Tapi, langsung tanyakan saja pada alya sendiri. Karna, keputusan ada pada alya." ucap ayah.


Sembari melihatku, sedangkan bunda. Mengusap punggungku dengan pelan, untuk menenangkan ku.


Jantung pun berdetak lebih cepat, membuatku merasa gugup. Saat semua mata tertuju padaku. Ku tarik nafas dalam dalam untuk menetralkan detak jantungku.


"Alya, setuju om." jawabku.


"Baik. Aldo, silahkan kamu memasangkan cincin pada alya. Sebagai tanda, bahwa alya sudah ada yang memiliki." ujar om faris.


Gegas aldo mengambil kotak cincin. Dan memakaikan pada tangan jari manis kanan alya.


"Sekarang, kamu sudah resmi menjadi tunangan aldo. Begitupun, sebaliknya aldo sudah resmi menjadi tunangan kamu. Dan parsel seserahan ini, untuk kamu semua." tunjuk om faris pada meja di depanku.


Ku lihat seserahan di meja depanku, begitu banyak parsel yang di serahkan sampai meja sofa begitu penuh. Di mulai dari parsel pakaian, skincare yang bermerek, juga ada parsel kue tart dan kue basah lainnya. Sedari tadi, aku tidak memperhatikannya, sampai sampai aku tidak menyadari bahwa sudah ada parsel seserahan di meja sofa.


"Kak al, lo sering sering yah ! Main ke rumah, biar gue ada temannya." ujar aulia.


"Iya, kalau ada waktu luang gue pasti main bareng lo." ujarku tersenyum.