
"Al, coba deh liat ! " tunjuk lidia ke layar handphonenya, yang berada di aplikasi Instagram.
Saat ini, kami berdua masih rebahan di kamar setelah mencuci piring. Niat hati mau mandi malah singgah di ranjang terlebih dulu. Kami berdua satu kamar.
"Terus kenapa?" tanyaku. Melihat postingan lidia di Instagram hasil selfie tadi di kebun.
"Iih liat di komentarnya al ! Tuh aldo berkomentar lo ada di mana ?" ujar alya sembari membaca di kolom komentar.
"Terus urusan sama gue apa ? lidia sayang," geram ku.
"Hehe gue harus bilang gimana ini ? Sedari tadi dia telfon gue terus nanyain lo" ucapnya.
"Bilang aja kalau kita lagi ada di kampung. Dia gak akan tahu dengan tempat ini. Lagian dia gak ada kerjaan banget yah, komentar postingan lo." ucapku.
"Entahlah. Mungkin dia sudah mulai suka al sama lo." ujar lidia sembari membalas komentar aldo.
"Bukan urusan gue kalo dia suka sama gue ! Gak mungkin juga dia suka sama gue. Apalagi gue sudah sering kali di tolak sama dia pas menyatakan cinta." ucapku sembari mengingatkan sesuatu.
Flashback off
"Aldo, kamu mau nggak jadi pacar aku ! Aku sudah sayang dan cinta sama kamu saat hari pertama masuk sekolah sampai sekarang." ucapku.
Sambil menunduk di depan aldo juga teman temannya. Waktu semua teman kelas pergi ke kantin, juga Lidia yang kebetulan tak masuk sekolah. Aku memberanikan diri untuk menyatakan cinta padanya. Bertepatan ujian akhir semester akan tiba.
"Gue gak suka sama lo ! Cari yang lain saja yang mau sama lo. Yang suka merendahkan diri sendiri, juga sukanya mengejar cowok duluan." jawabnya datar.
Ucapannya membuat hatiku seketika teriris, ku tahan air mata ini agar tak jatuh dari pelupuk mataku.
Ku tatap cowok yang ku sayangi dalam dalam, lalu aku berkata dengan tegas.
"Aku seperti ini karena aku cinta dan sayang sama kamu do. Ok kalau kamu gak menerima cintaku saat ini. Mungkin suatu saat nanti, kamu menerima cintaku dan menjadi pasanganku. Aku gak akan berhenti sampai di sini. Aku akan tetap mengejar kamu sampai kamu luluh dan membukakan hatimu untukku. Aku tidak akan menyerah begitu saja, meski sekarang kamu menolaknya. Aku akan tetap mengejar kamu ingat itu do." ucapku yang segera pergi meninggalkannya
Ku hapus air mata ini dengan kasar. Air mata yang di tahan agar tak jatuh akhirnya jatuh juga tanpa henti. Ku langkahkan kakiku dengan cepat menuju rooftop, agar bisa menenangkan hati juga pikiranku yang sedang kalut ini.
Biarlah teman teman aldo akan berfikir aku seperti apa ! Tidak ada salahnya bukan, menyatakan perasaan pada orang yang kita sayangi. Harus selalu cowok kah yang bisa menyatakan cintanya ! Cewek juga bisa melakukannya, pemerintah saja dan agama tidak pernah melarang cewek untuk menyatakan perasaan dan mengejar cowok lebih dulu.
Setelah penolakan aldo padaku. Aku lebih bersemangat untuk mengejarnya dan bahkan membuatkan dia bekal setiap hari. Itu adalah salah satu kepedulian ku. Biasanya cewek lain setelah di tolak dia akan berhenti mengejarnya, tapi aku bukanlah cewek lain yang mudah patah semangat setelah di tolak.
Flashback on
"Ternyata gue goblok juga yah dulu." gumamku.
"Enggak kok, lo pinter al." ucap lidia yang masih fokus dengan benda pipih nya itu.
"Enggak lid gue udah goblok. Kenapa gak dari dulu saja gue berhenti mengejar dia. Saat dia menolak gue mentah mentah." ucapku lesu.
Yang tadinya lidia tengkurap, refleks langsung duduk dengan tegak di hadapanku.
"Alya di sini lo gak salah. Yang salah tuh si aldo. Kenapa dia goblok banget nolak lo yang cantik luar dalam ini, dan malah nerima cewek cabe cabean itu." ujarnya menyemangati ku.
"Gue tuh saudara lo al. Dimana mana saudara akan tetap ada di saat kita susah, senang maupun sedih. Jadi jangan pernah lo menyembunyikan sesuatu dari gue, karna menyimpan luka sendirian itu sangatlah perih. Ya meskipun gue gak pernah merasakan yang namanya pacaran sih." ucapnya. Sembari mengelus punggungku pelan.
Setelah kejadian penolakan dari aldo, aku menceritakan semua yang terjadi pada lidia. Karna di mana lagi aku harus menumpahkan keluh kesahku, dan membagi cerita kalau bukan pada lidia. Meskipun setiap hari ada saja pertengkaran kecil yang kita buat sendiri. tapi di hati tidak ada timbul rasa benci malah semakin hari, semakin bertambah rasa menyayangi dan ingin melindungi satu sama lain sebagai selayaknya saudara.
"Udah jangan sedih lagi al. Hapus air mata lo." ujarnya sambil menghapus sisa air mata di pipi.
"Lebih baik kita berenang saja, kata kakek di belakang rumah ada sumber mata airnya. Sekali kali lah kita mandi di tempat umum. Lagian tetangga gak akan mengintip orang mandi." ajaknya.
"Ok. Gue mau ambil sabun juga baju ganti kita yah ! " seruku.
"Makasih. Gue mau keluar kamar dulu, minta ijin sama kakek dan nenek." serunya sambil melangkah pergi keluar kamar.
Gegas aku mengambil alat mandi seperti sabun, sikat gigi. Juga pasta gigi dan tidak lupa sabun wajah, dan mengambil baju gantiku dan juga untuk lidia.
"Makasih nek sudah di ijinin." seru lidia sembari mencium pipi nenek.
"Ayo al cepetan. Kita sudah dapat restu dari nenek mandi di sumber mata air." pekik lidia dari arah ruang tamu.
"Iya iya lid. Sabar donk ! " jawabku sembari membawa keranjang sabun juga baju ganti kami.
"Alya mandi dulu ya nek." ucapku yang sudah berada di ruang tamu.
"Iya hati hati dan jangan terlalu lama berenangnya supaya tidak masuk angin. Air di sini lumayan dingin." ucapnya padaku dan lidia.
"Asiap nenek !"
"Kok sepi yah al ! Kayak kuburan." ujarnya yang asal ceplos.
"Ngawur lo. Ya sepi lah namanya juga sumber lid."
Gegas aku dan lidia menaruh baju ganti yang aman sekiranya terhindar dari cipratan air nantinya.
Byur........
"Waaaah.....Seger banget al. Ayo buruan cebur." pekik lidia.
Yang sudah mencebur duluan setelah menaruh baju gantinya.
Bergegas ku susul lidia. Sepertinya, akan sangat seru jika berenang di sini agak lama
Byur.....
"Ini mah kalau di bandingkan dengan kolam di rumah masih kalah. Lebih segeran sumber mata air nih !" seruku sembari berenang kesana kemari.
Sumber di desa sini, memang berbentuk seperti kolam. Ada yang berbentuk bulat juga ada yang berbentuk kotak.