The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 11



"Al. Tunggu. " panggil dava.


Sembari berjalan menuju alya. Dan lidia di lorong sekolah.


Ya. Sekarang adalah jam istirahat. Jadi, alya dan lidia memutuskan untuk ke kantin.


"Ada apa dav ? " tanya alya.


Setelah dava sampai di depannya.


"Kamu mau ke kantin ? " tanyanya.


"Iya. Kita berdua mau ke kantin. Kenapa?" tanyaku. Dengan dahi yang berkerut.


"Aku ikut bersama kalian. Ke kantin boleh ? "


"Boleh banget kok dav. Tambah teman, bertambah juga serunya." ucap lidia.


Alya hanya menatap lidia tidak percaya. Bisa bisanya, dia mengiyakan permintaannya. Selama ini, kami berdua tidak pernah makan bersama cowok. Apa lagi makan bersama di kantin sekolah.


"Iya kan al ! " ujarnya lagi.


Sembari menyenggol lenganku.


Segera aku tersadar dari lamunanku.


"Kalau kalian gak mau. Gapapa aku bisa sendiri." ucap dava.


"Enggak kok. Bersama kita saja." ucapku cepat.


Kalau tidak mengiyakan permintaan lidia. Bisa bisa. Kenak ceramah seharian ini. Lebih baik mengalah saja.


Kami bertiga pun. Berjalan menuju kantin. Beruntungnya, waktu sampai kantin tidak terlalu banyak murid murid mengantri. Jadi, kami bertiga segera mengantri. Sebelum, menuju ke tempat, untuk kita duduk.


Ketika kami berdua ingin mengantri. Segera di larang olehnya. Siapa lagi, kalau bukan dava.


"Loh. Kalian mau ngapain mengantri ? Kalian berdua lebih baik duduk saja. Biar aku yang pesankan. Sekaligus mentraktir kalian." ujar Dava.


"Ya sudah deh. Aku pesan mie ayam,sama es teh." ucap lidia.


"Kalau kamu Al ? " tanyanya.


"Beneran nih. Mau di traktir ? " tanyaku untuk memastikan.


"Iya al. Beneran. Ayo mau pesan apa ? "


" Ok. Aku mau bakso, sama es teh juga."


"Ok siap ."


Segera, Aku dan lidia duduk. Setelah menemukan tempat duduk kosong.


Sedangkan di sisi lain. Yang tidak jauh dari alya duduk. Tepatnya. di depan pintu masuk kantin. Sepasang mata, melihat ke arahnya, dengan sorot mata yang tajam.


"Kenapa lo ? Malah bengong di sini. Bukannya, masuk ke dalam kantin. Laper nih, perut gue." ujar nanda.


"Tuh ! Lagi melihat alya. Jadi, panas sendiri." sindir riski.


Sedari tadi, yang sedang melihat alya, dengan sorot mata tajam. Yang tidak lain, adalah aldo.


Entahlah. Apa yang ada di pikiran aldo sekarang. Sampai sampai, pandangannya tertuju pada alya. Yang biasanya, tidak suka memperhatikan malah kini sebaliknya.


"Kenapa dengan gue. Hanya melihat dia saja ! Dengan cowok lain, hati gue terasa sakit." batin aldo.


Segera. Aldo berjalan memasuki kantin. Sedangkan riski dan nanda. Memesankan makanan untuk mereka berempat.


"Makanan datang nih ! " seru Dava.


Setelah sampai. Di tempat duduk Alya,dan lidia.


"Wah......Terimakasih dav. Sudah mau traktir kita berdua." ucapku senang.


Gapapa. Hanya sekali kali, untuk hari ini. Uang jajanku masih utuh.


"Khem" suara aldo. Yang berdeham pas melewati alya.


Segera. Aku tahan mulut ini, untuk tidak menyapanya. Ku fokuskan pandanganku, pada semangkuk bakso. Agar aku, tidak lagi melihatnya. Yang membuat hati ini sakit.


"Yuk, kita makan. Keburu dingin nih, makanannya." ujar lidia.


Mencairkan suasana panas, yang aku rasakan.


Ku tuangkan sambal sebanyak mungkin. Di mangkokku. Tanpa saus dan kecap.


"Sambalnya tidak terlalu banyak al? Apa tidak sakit perutnya. Kalau kebanyakan sambal." tanya dava.


Dengan mimik wajah yang bergidik ngeri. Melihat ke arah baksoku yang di penuhi oleh sambal.


"Kalau alya, jangan di tanyakan lagi dav. Itu mah ratunya pedas. Anti sakit perut dia, Jadi. Jangan heran, kalau dia makan bakso dengan banyak sambalnya. Lebih tepatnya, bakso di cabein." jawab lidia.


"Lo gak tau saja. Kalau makan tanpa rasa pedes tuh, bagaikan minum teh tanpa gula. Hambar." ujarku. Sembari melanjutkan makanku.


Sedangkan dava. Hanya menggelengkan kepala saja. Menurutnya, gadis seperti alya. Terlalu barbar di depannya.


Sepulang sekolah.


"Lid. Gue mau nanyak sama lo. Lo suka sama dava ? " tanyaku.


Yang saat ini, kami berdua berada di kamarku.


Ya. Sepulang sekolah tadi. Lidia, memutuskan untuk singgah sebentar di rumah.


"Ng nggak kok siapa juga yang suka sama dava." jawabnya dengan gugup.


"Beneran. Kalau lo gak suka sama dava. Ya sudah. Setiap kita ke kantin, tidak perlu ada dava yang nemenin kita." ucapku enteng.


"Enak saja lo. Jangan dong. Iya iya iya. Gue ngaku. Gue suka sama dia. Tapi, jangan pernah, lo kasih tau ke siapa siapa. Termasuk dava sendiri." jawabnya cemberut.


Karna aku berhasil memberinya ancaman.


"Nah, gitu donk. Sedari tadi jawabnya kan, udah beres. Gak perlu gue interogasi segala."


"Nyebelin lo. Memangnya gue ketara banget yah. Kalau gue suka sama dava. Di liat dari apanya sih al ? " tanyanya. Dengan penuh selidik.


"Gue tau lah, cukup dengan melihat tatapan lo ke dava. Seperti memuja." jawabku sombong.


Tok tok tok


Ceklek


Ku buka pintu kamarku yang tadi di ketuk.


"Iya bunda, ada apa ? Bunda mau kemana?" tanyaku.


Ketika, melihat bunda yang sudah rapi dengan baju gamis. Juga kerudung syar'i nya.


"Bunda mau ke rumah teman dulu. Di sana, ada acara pernikahan anaknya. Kebetulan bunda di undang. Kamu sama lidia, makan dulu sana. Bunda sudah menyiapkan makanan di bawah."


"Ya sudah. Bunda hati hati yah. Sebentar lagi, alya sama lidia turun ke bawah untuk makan." ucapku.


Sambil mencium tangan bunda, dengan takzim.


"Apa kata tante al ? " tanya lidia.


Saat aku sudah menutup pintu kamar, setelah bunda pergi.


"Bunda mau pergi ke kondangan lid. Kita di suruh segera sarapan."jawabku.


"Wah....Kalau gitu yuk kita makan. Sudah laper nih, perut gue." ajaknya.


Aku dan lidia segera menuju dapur untuk makan.


"Waaaah ......ada sop sayur ayam nih." pekik lidia.


Setelah membuka tudung saji, melihat menu masakan yang ada di meja.


"Lo mau gue bikinin sambel terasi gak ? Biar lebih afdol enaknya." ucapku.


Sembari menaruh piring bersih di depannya.


" Gak usah deh al. Tambah lama, gue makannya. Kalau lo masih bikin sambel. Yang ini saja, sudah enak kok."


Ting


Ku ambil handphoneku, yang berada di dekat bantal. Saat aku keluar dari kamar mandi. Setelah lidia pulang, segera aku membersihkan diri.


Ku buka aplikasi whatsapp, yang ternyata ada chat masuk dari nomer yang ku kejar cintanya selama ini. Yang tidak lain adalah aldo. Tumben dia chat Whatsapp ku duluan,, biasanya, dia cuek bebek. Saat kemaren kemaren aku mengirimi dia pesan. Bahkan, nomerku pernah dia blokir. Karna, aku yang selalu terus terusan chat dia.


"Bawain gue bekal besok."


"Apa aku salah baca. Atau aku yang berhalusinasi." gumamku.


Yang masih menatap layar handphoneku. Dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan dengan kata kata.