
"Bu. Pak, tolong jaga anak anak yah ! Kalau mereka berbuat ulah. Marahi atau pukul saja, biar tidak berulah lagi." ucap ayah. Pada kakek dan nenek.
Kami sudah sampai di rumah kakek dan nenek. Sedangkan lidia, tentu saja ikut bersama tante juga om.
Orang tua ayah masih ada. Sedangkan orang tua dari bunda sudah lama tiada. Katanya sih ! Sebelum aku lahir.
"Ya sudah buk. Pak, dina titip anak anak ya. Kalau ada apa apa cepat hubungi kami. Kita pulang dulu. Ibu sama bapak jaga kesehatan yah ! " ucap tante dina. Sembari mencium telapak tangan kakek, dan nenek.
"Ya sudah. Kamu hati hati di jalan ya nak."
Sebaliknya juga begitu. Ayah pun juga mencium tangan kakek dan nenek sebelum pulang.
"Kalian berdua hati hati ya nak ! Jangan nakal, dan jangan menyusahkan kakek dan nenekmu." ucap bunda.
"Siap bunda."
"Siap tan."
Mobil berwarna putih yang di kendarai tante, om sudah mulai berjalan. Dan mobil hitam yang di kendarai oleh ayah, juga mulai berjalan mengikuti mobil tante.
"Alya dan lidia, mau ikut kakek ke kebun ? Di sana pemandangannya juga asri dan indah." ajak kakek.
"Alya ikut kek. Lo gak mau ikut lid ? " tanya alya.
"Gue ikut donk. Lumayan sampai sana, kita selfie selfie." seru lidia cengengesan.
"Bentar kek. Lidia mau ambil handphone dulu." ujarnya gegas masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di sini. Barang barang ku, dan lidia sudah ku taruh di kamar. Ya bunda dan ayah memutuskan pulang lebih dulu. Sebaliknya, juga begitu. Tante dan om tidak bisa berlama lama. Karna tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Menginap meski hanya satu hari saja tidak ada waktu luang. perjalanan menuju kampung membutuhkan sekitar dua jam. Jadi kami memutuskan untuk berangkat pukul 04.00. Pagi sekali bukan ! Sesampainya di sini, sudah pukul 07.00.
"Kalian berdua ikut kakek yh ! Nenek mau masak dulu untuk kalian." ujarnya.
"Iya nek."
"Ayo al kita berkebun." pekik lidia dari dalam rumah.
"Gak usah berisik lid. Disini desa, jangan bikin para tetangga malah keluar rumah. Gara gara suara lo yang kayak toa." ucapku.
"Hehehe..... refleks al." ucapnya. Sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sudah sudah, ayo ikuti kakek."
Gegas aku, dan lidia mengikuti kakek dari belakang. Sedangkan lidia, sudah di sibukkan selfie sendiri.
"Al ! Kita foto dulu." ajaknya.
Menghadapkan layar handphonenya ke wajah.
Cekret
"Lagi lagi al. Bagus pemandangannya tau. Jarang jarang kita foto berdua kayak gini." serunya.
Cekret.
"Udah lid. Lebih baik kita bantuin kakek mengambil sayuran." ucapku.
"Iya iya al. Baru saja gue selfie selfie." kesalnya.
Kakek dan nenek memang memutuskan berkebun. Setelah ayah, juga tante dina pindah ke kota. Jadi, untuk sayuran kakek dan nenek tidak perlu membelinya. Tinggal mengambil saja di kebun. Tapi, ayah dan tante tidak pernah melupakan orang tuanya. Perbulan selalu mengirimkan uang untuk kebutuhan sehari harinya.
Selesai mengambil sayuran kacang panjang, timun, juga terong. Gegas kami pulang ke rumah untuk segera di masak oleh nenek. Kami hanya mengambil seperlunya saja.
"Assalamualaikum nek ! "
"Assalamualaikum."
ucapku dan lidia bersamaan. Sembari menghampiri nenek di dapur. Sambil membawakan sayuran yang di petik di kebun.
"Lidia, tolong tehnya bawain ke depan untuk kakek." ujar nenek. Sembari memberikan gelas cangkir berisi teh.
"Nek. Kacang panjangnya mau di masak apa?Sepertinya lebih enak di buat sambel deh ! Soalnya kacang panjangnya masih muda nih nek." saranku.
Kebetulan aku sudah tidak lama memakan sambel kacang panjang. Membayangkan saja membuatku menelan ludah.
"Baiklah. Buat sambel kacang panjang saja al. Oh iya, terongnya kamu taruh di kulkas. Nanti akan nenek buat sambal terong balado. Timunnya, untuk lalapan hari ini." ucap nenek.
Gegas ku taruh terong yang hanya lima buah. Lalu ku potong kecil kecil kacang panjang setelah ku cuci tadi di wastafel. Beserta tiga buah timun.
Selesai memotong kacang panjang juga timun. Aku segera membuat sambal mentahnya. Kalau membuat sambalnya, tidak perlu, cabe dan juga tomat di masak lebih dulu. Menurutku lebih segar tanpa di masak. Ku taruh kacang panjang yang sudah menjadi potongan kecil kecil di cobek. Lalu ku aduk agar sambalnya merata.
"Sudah jadi nek sambelnya. Alya mau panggil lidia sama kakek dulu yah ! " ucapku.
Ya sedari tadi, lidia juga belom balik balik mengantarkan teh untuk kakek. Ku langkahkan kaki ini, menuju teras rumah. Setelah menata semua hidangan masakan di meja makan.
"Hahaha....Berarti dulu alya suka cubit orang pas lewat ya kek ? Sampai sampai tetangga gak mau lagi lewat depan rumah kalau ada alya." tawa lidia sembari memegang perutnya.
Samar samar ku dengar perbincangan Lidia juga kakek.
"Wah.....Ada yang lagi ngomongin Alya nih !" ujarku, sembari menatap mereka.
Sedangkan lidia sudah menahan tawanya, karna aku berada di sampingnya.
"Awas kek. Nantik alya mencubit kakek loh ! " seru lidia, berlari masuk ke dalam rumah.
Sepertinya, kakek lagi ceritain masa kecilku dulu deh.
Ku lihat kakek juga tengah tersenyum padaku.
"Ada apa al ? Apa sudah selesai masaknya ?" tanya kakek.
"Sudah kek. Pasti kakek ceritain aneh aneh yah ! tentang Alya ke lidia." cemberut ku.
"Hahaha.....Tidak, kakek hanya menceritakan sedikit tentang masa kecilmu." ujarnya. Sembari berdiri dan merangkul pundakku.
"Ayo kita sarapan. Biar ngambeknya kamu segera menghilang." ajaknya.
Umur tiga tahun sampai lima tahun aku memang di asuh oleh kakek dan nenek. Di karenakan tidak ada yang menjagaku karna dulunya bunda dan ayah sama sama sibuk bekerja. Sebelum ayah mempunyai usaha sendiri. Jadi, sudah selayaknya kakek dan nenek tau masa masa kecilku dulu yang nakal.
"Wah...... Sepertinya enak nih ! " seru lidia. Berbinar melihat hidangan masakan di meja makan.
"Yang namanya makanan tuh ! Semua enak lid. Gak ada makanan yang gak enak. Baru kalau makanannya sapi gak enak. Karna makanannya rumput." ucapku menimpali lidia.
"Yee....kok lo sewot gitu sih." Ucapnya cemberut.
Sedangkan aku bergegas mengambilkan piring. Juga mengambilkan nasi untuk kakek dan nenek. Biar lah, kalau lauk mereka ambil sendiri sepuasnya.
"Jangan lupa baca doa makan lid." ucapku.
Yang melihat lidia sudah memasukkan nasi ke dalam mulutnya dengan tangan.
"Hehe.....Hampir lupa !" ujarnya cengengesan.
Setelah mencuci tangan. Lanjut dengan membaca doa makan. Menurutku, lebih enakan makan pakai tangan dari pada pakai sendok. Lebih leluasa dan nikmat.
"Sudah nek. Biar Lidia dan Alya yang membereskan makanannya." ucap Lidia ketika nenek ikut membantu.
"Iya nek. Lebih baik nenek istirahat saja, atau tidak, temani kakek. Biar alya dan lidia yang mencuci piring kotor." ucapku.
"Baiklah nenek istirahat dulu yah ! " ucapnya sambil meninggalkan kita.