The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 42



"Baiklah, kalau begitu. Aku setuju, asalkan tidak mempengaruhi belajar nya. Jadi, kapan kamu akan ke rumah melamar anakku ?" ucap om irawan.


"Tiga hari lagi, aku akan datang ke rumah mu." ucap papa.


"Kalau begitu. Nanti malam aku akan bicara pada alya."


"Oh iya om. Saya minta, jika nantinya alya menanyakan nama saya jangan di beri tahu om. Saya ingin alya mengetahuinya saat acara tunangan nanti." ucap ku.


Jika alya tahu, bahwa yang akan di jodohkan dengannya adalah aku. Aku yakin, alya akan berbuat macam macam misalnya, seperti kabur. Aku tidak ingin semuanya terjadi. Bukannya aku terlalu obsesi untuk memiliki alya. Tetapi, aku benar benar tidak bisa jauh darinya . Entah kenapa ! Semenjak alya menjauhiku, aku merasa kesepian. Bahkan, saat dia berdekatan dengan lelaki lain hatiku terasa sesak.


"Baiklah kalau begitu, tidak masalah jika harus merahasiakan darinya." ujar om irawan.


"Terimakasih om." ucap ku sumringah.


Sedangkan om irawan dan papa mulai berbincang bincang.


"Ya sudah wan. Kami pulang dulu, masih ada pekerjaan kantor yang belum aku selesaikan." ujar papa.


"Om. Terimakasih sudah menyetujui perjodohan ini. " ujarku.


Sembari mencium tangan om irawan dengan takzim.


"Sama sama nak. Sering sering lah mendatangi om." ucapnya.


"Iya om pasti." ujar ku.


"Aldo, beli lah seserahan untuk alya. Kamu pilih sendiri saja, ajak adik mu untuk menemani kamu." ujar papa.


Saat berada di dalam mobil menuju pulang.


"Baik pa. Mungkin, nanti malam aldo akan membelinya." ucap ku.


Dua hari kemudian.


Tok....Tok....Tok....


"Kak ! Cepat turun. Papa sudah menunggu di bawah. Kata papa jangan lama lama." ucap aulia adikku.


Dari seberang pintu.


"Kakak akan menyusul." ucap ku.


Saat ini, aku mengenakan baju kemeja hitam lengan panjang serta celana chinos panjang warna coklat. Gegas aku keluar kamar dan menyusul papa juga aulia di bawah.


"Seserahan sudah di masukkan semua ke mobil bik ?" tanya papa.


Pada bik ona asisten rumah tangga kami. Yang sudah bekerja selama masih aku balita.


"Semua sudah di masukkan ke mobil tuan." ucap bik ona.


"Baiklah. Terimakasih bik. Saya mau berangkat dulu, jaga rumah baik baik. Jika ada sesuatu yang penting, cepat hubungi saya." ucap papa sembari masuk ke dalam mobil.


"Bik, aldo berangkat dulu yah. Doain, semoga acaranya lancar." ucap ku.


"Bibi selalu mendoakan yang terbaik untuk nak aldo." ucap bik ona.


Aku dan bik ona memang dekat, seperti anak dan ibu. Karna, sejak kecil aku di asuh oleh bik ona. Di karenakan papa dan mama yang sibuk merintis usahanya. Setelah mama hamil, mama sering menjagaku, karna kandungan mama yang lemah di haruskan banyak beristirahat. Saat aku sudah merasakan hangatnya kasih sayang seorang ibu, dan tidak merasakan kesepian lagi. Malah takdir yang memisahkan ku dengan mama. Saat melahirkan aulia, mama mengalami pendarahan yang hebat sehingga merenggut nyawa mama. Setelah kepergian mama, duniaku merasa begitu gelap. Tapi, saat alya hadir dalam hidupku. Duniaku cerah kembali, sama seperti saat mama masih ada. Saat alya mulai menjauhiku dan selalu menghindar saat aku mendekatinya, hatiku mulai merasa kesepian. Maka dari itu lah, aku berniat ingin alya menjadi milikku seutuhnya.


"Kalian sudah datang. Mari, kita masuk ke dalam rumah." sambut om irawan bersama tante lastri.


Saat kami turun dari mobil.


"Rupanya, kamu tidak sabar yah. Sampai sampai menunggu kedatanganku." ujar papa.


"Memangnya, aku tidak boleh menyambut kedatangan sahabat ku ini."


"Hahaha kamu masih tetap tidak berubah wan. Oh iya, bagaimana kabarmu lastri ? Apakah irawan masih suka cemburu saat kamu berbicara pada tukang sayur keliling." ujar papa.


"Alhamdulillah, sudah tidak cemburu lagi ris. Jika masih tetap pencemburu aku tidak segan segan untuk pergi darinya dan membawa alya. "


"Tapi sekarang ayah kan sudah berubah bun. Tidak seperti dulu lagi."


"Iya ayah sudah berubah. Oh iya ini anakmu aldo, yang akan menjadi tunangan alya ris ! Ganteng sekali, dulu masih kecil dia nakal sekali, bahkan jika kami bertamu dan menemani mawar dia selalu menempel pada irawan. Dan ini aulia kan ?" ujar tante lastri sembari menampilkan senyumannya.


"Iya tan. Aku aulia." ujar aulia di sampingku sembari tersenyum.


"Bun ! Cepat panggil alya suruh segera turun." ucap om irawan.


"Sebentar yah aldo, tante panggilkan alya dulu." ujarnya.


"Baik tan." ujar ku dengan sopan.


"Oh iya. Aldo, setelah lulus sekolah kamu akan berkuliah di mana nantinya ? " tanya om irawan.


"Aldo, ingin berkuliah di universitas gunadarma om, dan mengambil jurusan bisnis untuk menggantikan papa di perusahaan. Jika om mengijinkan. Alya ikut berkuliah di tempat yang sama dengan saya om. Agar saya, lebih mudah untuk menjaga alya. Karna nantinya, setelah saya lulus. Saya akan langsung mengurus perusahaan, saya takut jika alya berkuliah yang berbeda dari saya, akan membuat saya tidak ada waktu dengannya om." ujar ku.


"Ternyata, kamu pria yang begitu tanggung jawab. Tidak salah saya menyetujui perjodohan ini. Baiklah, tidak masalah jika alya berkuliah di tempat yang sama denganmu. Om harap kamu lebih bisa menjaga alya." ucap om irawan.


"Tenang saja om. Saya pasti, akan menjaganya. Karna, sudah menjadi kewajiban saya." ucapku.


"Kak alya." seru aulia.


Yang duduk di sampingku. Seketika aku langsung melihat alya yang saat ini begitu cantik tidak seperti biasanya. Ternyata, aulia sudah mengenal alya lebih dulu. Bagus jika begitu, aku tidak perlu lagi untuk mendekatkan mereka berdua. Karna, aulia sulit untuk beradaptasi dengan orang baru.


"Aulia." ujarnya.


"Kita ketemu lagi kak, dengan status lo jadi kakak ipar gue." ujar aulia.


Sembari menampilkan senyumannya.


"Lo ngapain di sini." ujar alya.


Saat sudah sadar dengan keberadaan ku.


"Mau ngelamar lo." ucap ku santai.


Sedangkan alya, menatap ku tak percaya.


"Bun, bukannya kata kak riko anak dari om faris namanya putra yah ! Kok jadi aldo." tanyanya pada tante lastri.


"Sebenarnya, aldo di kerap di panggil putra. Karna nama kepanjangannya Aldo Syahputra." ujar papa.


Beruntungnya bang riko tidak menyebut nama kepanjangan ku saat bercerita padanya. Tapi, tidak masalah. Karna saat ini, alya juga sudah mengetahuinya. Aku mengenal bang riko saat mobil yang di kendarainya macet di jalan, dan kebetulan aku melewati jalan yang sama. Karna jalanan sepi, jadi aku berniat membantunya. Saat itu lah aku dan bang riko dekat, seperti sahabat.