The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 08



"Ya Allah. Indah sekali ciptaan Engkau" gumamku.


Yang masih tetap menatap aldo di depan sana. Sedangkan aldo, dan teman temannya. Sudah mulai menuruni panggung.


"Ilernya tuh, sudah netes banyak di meja al." seru lidia.


Refleks aku langsung mengelap bibir juga daguku. Seketika itu, aku langsung menatapnya tajam.


"Gak ada yah, iler gue gak netes." ketusku.


"hahahahaha. Au ah, perut gue sakit gara gara ketawa hahaha."


"Dih ....Tawanya, bikin orang pengen masukin tawon ke dalam mulut lo. Biar bengkak sekalian." ujar alya kesal.


Seketika itu. Lidia langsung menghentikan tawanya.


"Waaaah.... semenjak kapan saudara gue sadis begini, sudah minum obat apa lo." ucap lidia.


"Mulai deh ngomongnya gak jelas. Bentar ya lid, gue samperin aldo dulu." cengir ku.


Sambil berlalu meninggalkan lidia sendirian.


"Tuh anak main nyelonong aja." ucap lidia kesal.


Alya celingukan mencari keberadaan aldo.


"Cepat sekali mereka jalannya." gumam alya.


"Sayang. Suara kamu bagus banget loh. Teman temanku sampai kagum liat kamu. Bangga aku punya kamu, sudah ganteng dan vokalis band. Apalagi kamu punya cafe sendiri. Gak sia sia aku pacaran sama kamu." ucap seorang cewek.


Yang bergelayut manja di lengan cowok berkemeja green. Cowok itu, hanya membalas dengan mengelus kepalanya, yang mungkin adalah pacarnya.


"Semenjak kapan lo jadian sama dia ? " tanya salah satu temannya. Dengan penuh selidik.


"Sudah satu bulan lebih, gue menjalani hubungan dengan laura."


Deg


Sedangkan di sisi lain. Sepasang mata, mulai berembun. Ketika melihat, apa yang terjadi di hadapannya. Dan mendengar perkataan mereka.


Ya dia adalah alya. Yang tadinya, berniat ingin menghampiri aldo yang berada di samping panggung. Malah tidak sengaja mendengar perkataan aldo yang sangat menyakitkan di hatinya. Sedangkan yang melontarkan pertanyaan tadi adalah riski.


Segera ku tutup mulutku dengan telapak tangan. Agar suara isakan tangisku tidak terdengar oleh siapapun.


Bergegas aku memundurkan langkahku sedikit, menjauh dari panggung.


"Beginilah rasanya sakit. Ketika seseorang yang kita cintai malah memilih dengan yang lain. Apakah perjuanganku selama ini sia sia. Apa kurang ku? Sampai sampai dia tidak melihat perjuanganku. Untuk meluluhkan hatinya. Apakah ini, saatnya untuk melupakannya. Ya, aku harus bisa melupakannya. Terlalu sakit, hati ini yang ku rasakan saat ini."


"Al.... tungguin gue" pekik lidia.


Yang melihat alya keluar dengan tergesa gesa .


"Kenapa malah gue yang di tinggal sih. Wah.... sepertinya, ada yang gak beres nih." ujar lidia.


Segera lidia menyusul alya setelah membayar pesanan mereka.


"Bagaimana dengan perasaan alya do? " tanya nanda.


" Ya gimana, gue selama ini sama dia gak ada hubungan apa apa. Justru malah dia yang mengejar gue. Sedangkan gue, gak ada perasaan sama dia. Lagian gue gak pernah menyuruh dia untuk mengejar gue." ucap aldo.


"Setidaknya, lo kasih dia kesempatan do. Bukan gini caranya. Lo gak liat, tatapan alya yang selalu memperhatikan. Dan peduli sama lo. Di saat lo sakit, dia selalu khawatir berlebihan sama lo. Karna kekhawatiran berlebihan ke lo. Dia sampai sakit, gara gara lo. Lo selalu gak menghargai dia. Lo selalu nyakitin dia dengan kata kata kasar Lo. Tetapi, meski perlakuan lo ke dia selalu menyakiti. Dia tetap gak menyerah begitu saja. Bahkan dia bawain lo bekal setiap hari. Tapi selalu lo tolak. Dan tidak jarang pula, lo buang bekal buatannya. Tapi, alya tetap aja gak menyerah meski perlakuan lo sama dia menyakiti dirinya. Inget do, dia udah mengejar lo selama dua tahun. Gue tau kok, kalau lo juga sudah mulai ada rasa sama alya. Tapi, lo selalu tepis perasaan lo sendiri. Jangan menyesal, kalau lo sudah sia sia in cewek sebaik alya. Seandainya gue jadi lo, bakal gue balas perasaan gue ke alya." ucap nanda.


Kesalnya, sambil meninggalkan aldo.


"Ingetin baik baik perkataan nanda tadi. Gue, sebagai sahabat lo. Hanya bisa mengingatkan lo, gue pamit pulang dulu." ucap riski.


Dengan di ikuti Doni di belakangnya, tanpa mengucapkan kata sepatah pun untuknya.


"Al, lo kenapa ?" tanya lidia lembut.


Setelah berhasil mengejar alya, sampai di parkiran motor.


"Lidia." ucap alya.


Yang segera memeluk lidia. Air mata yang sedari tadi ia tahan, untuk tidak di perlihatkannya. Akhirnya jatuh juga dengan derasnya.


"Hiks hiks hiks"


"Menangis lah sepuas lo al. Jangan lo tutupi lagi di depan gue, untuk terlihat tegar. Ada gue di samping lo." ujar lidia.


Sembari mengelus punggung alya, dengan pelan untuk menenangkannya.


" Di dia jahat sama gue lid hiks. Tega teganya dia pacaran dengan yang lain, hiks tanpa gue tau hiks. Setidaknya, jika dia gak bisa bales perasaan gue, dia ngomong langsung ke gue. Jangan beri gue harapan dengan cara dia diem aja saat gue mengejar dia. Sakit lid. Sakit banget hati gue. hiks gue gak tau harus gimana lagi hadapi dia saat sekolah. Gue gak sanggup lagi untuk bersitatap sama dia. Terlalu dalam luka yang dia buat.hiks betapa bodohnya gue gak mengetahui sebelumnya, kalau dia udah punya pacar. Gue terlalu fokus cari cara agar dia balas perasaan gue. Tapi, kenyataannya, gue yang di sakiti di sini lid." ucap alya dengan sesenggukan.


"Lo harus bisa melupakan dia al. Ada saatnya lo berhenti mengharapkan seseorang yang tidak bisa di harapkan. Ya sudah, kita pulang yuk, udah malam nih."


Segera alya melepas pelukannya.


"Gue gak mau pulang dulu. Gue pengen nenangin pikiran gue, sebelum sampai rumah. Gue mau makan lagi, gue butuh makanan yang pedes pedes sekarang. hiks mau yah temenin gue !"


"Ok. Gue bakal temenin lo. Tapi, dengan satu syarat. lo harus berhenti mengejar aldo lagi, dan jangan sampai sedih lagi seperti ini. Cukup hari ini, terakhir lo menangis di depan gue gara gara cowok seperti aldo." ujar lidia.


"Siap. Gue bakal penuhi persyaratan lo. Makasih yah, sudah mau menjadi tempat bahu untuk gue bersandar."


"Gue saudara lo al. Kalau lo inget itu." sungutnya.


"Iya iya bawel. Yuk otw bakso lava !" seruku.


Setelah duduk di motor.


"semangat al, lo harus bisa lupain dia meski itu sulit lo lakuin, lo harus kuat al semangat semangat semangat." batinku.


"Al, lo yakin nih. Mau makan lagi, apa gak kembung tuh perut lo." pekik lidia.


Untuk memastikan ajakannya. Sambil melihat spion yang tertuju pada alya.


"Hehe...Yakin lid. Lo tenang saja, masih muat nih perut gue." ucapku.


Sambil balas menatap lidia di kaca spion.


"Ok deh. Tapi, gue gak ikutan makan yah. Sudah kenyang nih perut gue. Gue mau pesan minuman aja." teriaknya.


Agar suaranya tak terbawa oleh angin.