The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 30



"Lo gak capek apa ? Buntuti gue terus." ucapku kesal.


"Gue malah seneng buntuti calon masa depan gue. Itu tandanya gue selalu menjaga lo." ujarnya.


"Bukan menjaga. Tapi gangguin gue." ucapku ketus.


Sembari memakan bekalku dengan kesal. Gak ada kerjaan kah dia ? Sampai sampai dia selalu mengikuti ku di mana pun aku pergi.


"Em....Enak." ujarnya.


Ketika sudah memakan suapan, yang hendak ku masukkan ke mulutku. Gegas aku menarik tanganku, yang masih ia genggam.


"Lo kalau laper, makan saja ke kantin jangan rebut makanan gue." ucapku kesal.


Gimana gak mau emosi, tiba tiba saja dia. Menarik tanganku ke mulutnya, saat aku hendak memasukkan nasi goreng ke mulutku.


"Gue mau makan di kantin. Asal lo mau suapi gue." ujarnya, sembari menampilkan senyumannya.


"Dih ogah. Gue gak mau, lo punya tangan sendiri." ucapku.


"Bukannya lo tadi, pengen ngrasain punya pacar yah ? Sampai sampai lo makan di taman." ucapnya.


"Ng nggak kok. Kapan gue bilang pengen pacaran." kilah ku gugup.


"Apakah dia dukun, sehingga tau kalau tadi, aku sempat menggerutu ingin pacaran juga. Gara gara melihat lidia suap suapan di depanku. Ini semua gara gara lidia." batinku.


"Terus tadi siapa yah ! Berjalan sembari marah marah sendiri. Oh....Mungkin gue salah denger kali yah." gumam aldo.


"Salah dengar mungkin lo. Makanya jadi orang jangan suka menguping pembicaraan orang." ketusku.


Beranjak dari bangku, dan meninggalkan aldo di taman. Saat bel berbunyi, menandakan istirahat telah usai.


"Lo hati hati di jalan al." seru lidia yang sudah menaiki motor dava di parkiran sekolah.


"Gue duluan ya al." ucap dava.


Sembari melajukan motornya dengan pelan.


"Iya, kalian berdua juga hati hati. By by by" pekik alya.


"Loh. Ini kenapa ban motorku kempes kayak gini ! Padahal tadi pagi baik baik saja." ucapku.


Saat melihat ban motor belakangku, sudah kempes tanpa sebab.


" Huft....Cobaan apa lagi ini ! Harus cari bengkel dulu, baru bisa pulang. " gumamku.


Dengan helaan nafas yang kasar, sembari menuntun motorku keluar dari gerbang sekolah, dengan pelan.


Tiin....Tiin....Tiin.....


Terdengar bunyi klakson dari arah belakangku, yang sepertinya membuntuti ku.


"Gak bisa apa yah ! Gak usah ganggu gue sehari saja." gumamku.


Setelah melihat ke belakang yang ternyata adalah aldo. Dan memberhentikan motornya tepat di depanku.


"Jangan ganggu gue sehari saja, bisa kan ?" ujarku kesal.


Menghentikan langkahku, saat motor aldo menghalangi jalanku.


"Gue gak mau ganggu lo al, tapi gue mau bantuin lo." ucapnya.


"Gue bisa sendiri tanpa bantuan lo." ucapku ketus.


Ku lewati aldo begitu saja, yang sudah menghampiriku. Hari ini,hari yang sial bagiku. Biasanya sudah sampai rumah. Malah masih berada di jalan gara gara ban kempes.


"Gue bakal temenin lo, ke bengkel." ucapnya.


Setelah menyamai langkahku dengan menuntun motornya.


"Terserah."


Lima belas menit sudah, aku berjalan dan ternyata di depan sudah terlihat kios tambal ban. Ku percepat langkahku agar segera sampai, rasanya kaki hampir patah di karenakan berjalan sembari menuntun sepeda yang beratnya, sama seperti beban hidup.


"Owh ini mah. Cuma tambah angin saja neng . Gak perlu di tambal bannya." ucap pemilik tambal ban.


Setelah aku menjelaskan keluhannya. Ku lihat gegas dia menambahkan angin di ban motorku bagian belakang.


"Capek yah " ucap aldo.


Sembari mengelap keringat di dahiku, dengan tangannya. Tatapan kami pun bertemu saat aku refleks melihatnya.


Deg


"Kenapa denganku, setiap bertatapan dengannya ada perasaan tidak menentu yang kurasakan." batinku.


Gegas aku tersadar dari lamunanku, saat aldo menyodorkan sebotol air mineral padaku yang telah di buka tutupnya.


"Makasih." ucapku.


Yang berusaha menetralkan perasaanku.


"Maafin gue al, gara gara keegoisan gue. Lo sampai secapek ini, kalau bukan karna lo gak mau berangkat sekolah bareng gue. Gue gak akan melakukan hal ini." batin aldo.


Sembari menatap alya dari samping yang sedang meminum air yang ia sodorkan tadi.


Flashback off .


Sesampainya aldo disekolah, dan memarkirkan motornya yang tak jauh dari motor alya.


Bergegas ia berjalan menuju motor alya, setelah ia mendapatkan ide cemerlang di otaknya.


"Nantik lo gak bakal bisa kabur lagi dari gue al." ucap aldo.


Setelah membuka valve cap ( penutup ban ) di ban motor belakang alya, yang sudah mulai kempes karena angin yang keluar.


"Apapun yang gue lakukan, hanya ingin nemenin lo al. Gue pengen ada di saat lo sedih, suka maupun duka." ucap aldo.


Sembari meninggalkan parkiran motor, setelah memasangkan kembali valve cap di ban motor alya.


Kepulangan sekolah telah tiba.


Saat alya terlihat menuntun motornya berjalan keluar dari gerbang sekolah, segera ia bergegas untuk mengikuti alya dari belakang dengan motornya. Sengaja aldo, menunggu alya sedari tadi di parkiran sekolah, sebelum alya sampai terlebih dulu.


"Mungkin karna kelewat kesal, dia sampai gak sadar kalau gue sedari tadi mengikuti dia." ucap aldo menggelengkan kepalanya.


Saat melihat alya yang menuntun motornya, sembari menggerutu kesal. Segera aldo mengklakson motornya, agar alya melihat ke arahnya. Dan benar saja setelah aldo mengklakson motornya, alya melihat ke belakang di mana aldo yang mengikutinya sembari tersenyum padanya.


Setelah aldo menghalangi jalan alya dengan motornya, dan berjalan menghampirinya.


"Jangan ganggu gue sehari saja, bisa kan ?" ujar alya kesal.


Setelah aldo berada di depannya.


"Saat marah dia selalu menggemaskan di mata gue." batin aldo.


"Gue gak mau ganggu lo al, tapi gue mau bantuin lo." ucap aldo.


"Gue bisa sendiri tanpa bantuan lo." ucapnya kesal.


Sembari melewati aldo dengan menuntun motornya.


"Semakin lo menghindari gue, semakin gue berusaha buat lo selalu ada di dekat gue al." batin aldo.


Gegas aldo menuntun motornya, supaya bisa menyamai langkah alya.


"Gue bakal temenin lo, ke bengkel." ucap aldo.


Saat sudah menyamai langkah alya.


"Terserah."ucap alya.


Tidak lama kemudian, alya terlihat senang saat di depannya sudah terlihat kios tambal ban.


"Lucu banget Lo al." batin aldo.


Saat melihat raut wajah alya yang senang karna sudah mulai terlihat kios tambal ban.


"Capek yah." ucap aldo.


Sembari mengelap keringat alya yang bercucuran di dahinya. Tidak lupa aldo mengambil sebotol air mineral yang ia beli waktu mengikuti alya. Dan membuka tutup botolnya.


"Nih, minum dulu." ucap aldo sembari menyodorkan sebotol air padanya.


Segera alya mengambilnya, saat tersadar dari lamunannya.


"Gue yakin kalau perasaan lo masih sama ke gue." batin aldo.


Ketika melihat pipi alya yang merah merona di buatnya.


Flashback on.


"Assalamualaikum." ucapku.


Setelah menutup pintu rumah, dan berjalan menuju ruang keluarga.


"Waalaikumsalam, akhirnya kamu datang juga nak. Soalnya gak seperti biasanya kamu pulangnya agak sore begini." ucap bunda.


"Iya bun. Ban motor alya tadi di sekolah kempes, jadi alya bawa dulu ke bengkel. Ya sudah, alya mau mandi dulu yah bun. Sudah lengket badan Alya." ucapku lesu sembari meninggalkan bunda.