
Gegas aku mengambil dan meminumnya.
Kruk....Kruk..... Kruk.....
"Kamu laper sayang? Kenapa gak bilang. Ayo kita ke restoran." ujar aldo.
Sembari menarik tangan alya supaya berdiri dari duduknya. Saat mendengar bunyi diskotik di perutnya. Sedangkan pipi alya, sudah memanas karna malu. Tak lupa juga, membawa belanjaan yang mereka beli.
"Beb." panggil lidia.
Sembari menampilkan senyumannya pada dava.
"Ayo, sekalian kita makan bareng dengan alya dan aldo." ujar dava.
Ketika tahu apa yang ada di pikiran lidia.
"So sweet banget sih aldo." ujar lidia.
Sembari menyenggol lengan alya. Saat mereka berempat sudah duduk di restoran, sedangkan aldo dan dava ke kasir untuk memesan makanan.
"Gitu doang. Lo bilang so sweet, manis dari mananya coba. Tadi, kebetulan aja dia denger perut gue." ujar alya.
Yang masih menahan rasa malu. Atas kejadian tadi.
"Perut gue ini, kenapa gak bisa ajak kompromi sih ! Bikin gue malu." batinku.
"Kenapa tuh pipi lo merah. Cie.... Lo lagi malu atau lagi senang al." ujar lidia.
"Iih....Lo kalau ngomong jangan keras keras lid, malu." ujar ku dengan suara tertahan.
"Hahaha lo lucu banget al, kalau lagi malu kayak gitu." tawa lidia.
"Sepertinya kamu lagi bahagia ya beb." ujar dava.
Menghampiri meja kita, bersama aldo.
"Bukan bukan aku beb. Tapi alya." ujar lidia.
Menghentikan tawanya.
"Dav, lebih baik lo ajarkan lidia yang bagus bagus. Supaya kedepannya gak mengejek orang lain termasuk gue." ujar ku.
Sembari menatap tajam pada lidia. Sedangkan lidia hanya nyengir kuda di depanku.
Tak lama kemudian waiters yang mengantarkan pesanan kami sudah datang.
"Beb ini kamu yang pesan sebanyak ini ?" tanya lidia.
Saat semua menu masakan sudah berjejer dengan rapi di atas meja.
"Owh...Bukan aku beb yang pesan. Tetapi aldo yang memesan semua menu ini. Dan aldo yang mentraktir kita." ujar dava.
"Wah....Makasih do, atas traktirannya. Lo sebagai kakak ipar gue harus sering sering traktir gue." ujar lidia.
Sembari menampilkan senyumannya. Sedangkan aldo, hanya menjawab dengan jari yang membentuk ok.
"Kalau lo, memang selalu suka yang gratisan." ujar ku.
"Gpp lah. Yang penting gue gak minta wleeeee" ujar lidia.
Sembari menjulurkan lidahnya.
"Sudah sayang. Makan makanan mu."ujar aldo.
Sedangkan aku, hanya memutar mata dengan malas. Lagi lagi aldo memanggil ku dengan sebutan sayang, membuatku geli sendiri. Gegas aku memakan menu yang ku ambil di atas meja.
"Sayang, jangan belepotan gitu makannya." ujar aldo.
Sambil mengelap bibir ku dengan tisu. Jantungku mulai berdegup dengan kencang. Saat aldo, begitu dekat denganku. Ku pandang wajahnya dengan seksama, wajah yang begitu tampan, alis yang tebal serta bulu mata yang lentik. Dan, bentuk wajah yang oval. Begitu terlihat tegas dan berkarisma.
"Khem....Khem....." deham lidia.
Seketika membuatku tersadar dan langsung memalingkan wajah, membuat pipiku memanas.
"Beruntungnya, gue gak jomblo. Ya kan beb !" seru lidia.
Sembari menyuapi dava.
"Jadi, kita gak jadi nyamuk deh." ucap dava.
"Kalian berdua apaan sih ! Gak lucu tau." ujar alya.
Sambil melanjutkan makannya yang tadi, sempat terhenti. Sedangkan aldo, hanya tersenyum melihat alya yang salah tingkah.
"Makasih, sudah anterin gue." ujar alya.
Setelah turun dari motor aldo. Sembari membawa belanjaan nya.
"Sini barangnya, biar besok aku yang bawa ke sekolah." ujar aldo.
"Jadi, besok kamu hanya membawa pakaian ganti saja dari sini. Sisanya biar aku yang bawa. Ya sudah, kamu masuk sana ke rumah." ujar aldo lagi.
Yang tersenyum pada alya. Sambil mengusap pelan kepalanya. Sedangkan alya, hanya diam saja tanpa berbicara sepatah kata pun.
"Al. Kenapa ? Diem aja dari tadi." ujar aldo.
"Ng nggak kok. Gue gpp. Ya sudah, gue mau masuk dulu." ujar alya.
Meninggalkan aldo sendirian di luar pagar rumahnya.
"Bunda, besok alya berkemah." ujar alya.
Saat sudah mengganti bajunya dan menghampiri bunda, di ruang keluarga.
"Berapa hari nak kamu berkemah ? Sudah membeli peralatan kemah nya ? Aldo juga ikut kan ?" tanya bunda.
"Alya sudah membelinya tadi, sepulang sekolah bersama lidia juga aldo. Mungkin, dua hari berkemah nya. Soalnya tadi, guru tidak memberi tahu berapa hari berkemah. Iya bun ! Aldo besok ikut kemah, kan kita satu kelas." ujar ku.
Sembari memakan stik keju, buatan bunda.
"Bagus lah kalau begitu. Jika sudah ada aldo di samping kamu, bunda jadi lebih tenang. Karna, ada aldo yang akan menjaga kamu. Di saat bunda tidak di samping kamu." ujar bunda.
Sedangkan aku, hanya mengangguk kan kepala sebagai jawabanku.
"Oh iya bun. Alya ke kamar dulu yah ! Mau mengemas baju, untuk besok." ujar ku.
Sambil beranjak dari sofa.
"Jangan sampai ada yang ketinggalan nak." ujar bunda.
"Siap bunda." ujarku.
Sembari memberi hormat pada bunda. Sedangkan bunda, hanya tersenyum padaku.
"Ini juga, di masukin, terus ini dan ini. Apa lagi yah ! Owh iya peralatan mandi. Akhirnya selesai juga." gumam alya.
Srek.....
Bunyi resleting tas ransel yang di tutup kembali oleh alya.
...****************...
"Sayang, cepat turun. Aldo, sudah menunggu kamu dari tadi di bawah." ujar bunda.
Menghampiriku di dalam kamar.
"Ini alya sudah siap bunda." ujar alya.
Sembari menggendong tas ransel ku, dan gegas keluar dari kamar.
Tadi malam, memang ada pengumuman di grup whatsapp. Bahwa, semua murid kelas tiga. Harus sudah sampai di sekolah jam enam pagi.
Di karenakan akan menaiki bus, dan waktu yang di tempuh menuju perkemahan. Memakan waktu sekitar dua jam. Sedangkan aldo, jam lima pagi sudah berada di rumah ku. Biasanya batas tidurku, masih kurang sepuluh menit lagi. Malah terganggu, dengan kedatangan aldo yang menurutku terlalu pagi datang ke rumah.
"Ini sayang ! Bekal untuk kamu, juga aldo." ujar bunda.
Sembari menyodorkan paper bag padaku.
"Alya berangkat dulu ayah, bunda." ujarku.
Setelah mencium tangan ayah dan bunda.
"Om, tante. Aldo berangkat dulu."
"Hati hati ya nak ! Jaga alya untuk bunda yah." seru bunda.
"Baik tan, aldo bakal menjaga alya setiap saat." ujar aldo.
Sembari berjalan menuju mobilnya.
Drt.....Drt.....Drt.....
Segera ku ambil handphone ku di saku jaket, saat ada panggilan telepon masuk.
"Halo al. Lo sudah ada di mana ?" tanya lidia.
Saat sambungan telepon terhubung.
"Gue masih ada di halaman rumah lid. Kenapa ?" ujarku.
"Lo sama aldo kan ? Hehehe ....Boleh gak ! Gue ikut." tanyanya.
Sedangkan aku menatap aldo sebentar, yang kebetulan aldo juga menatapku. Saat membukakan pintu mobil untukku, di samping kemudi.
"Gpp, lidia boleh ikut." ujar aldo.
Saat tahu arti tatapanku tadi.