The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 50



"Pasangan kamu adalah aku sayang. bukan nanda." ujar aldo.


Saat sudah mengambil nomer yang di pegang oleh alya.


"Mari kita mulai permainannya. silahkan, semua peserta cowok menutup mata pasangannya dengan kain. yang tadi sudah di ambil. setelah itu, peserta cowok harus berpindah tempat."


Seketika semua para siswa cowok menutup mata pasangannya masing masing.


Deg


"Jantung gue lagi lagi berdisko. padahal gue gak lagi menyetel lagu DJ." ucap batin alya.


Saat alya tak sengaja bersitatap dengan aldo. yang hendak menutupi matanya.


"Gimana sayang ? sudah pas ikatannya ? atau terlalu kenceng !" seru aldo.


Setelah menutup mata alya dengan sarung tangan.


"Sudah pas kok. gak terlalu kenceng." ujar alya.


"Kamu sudah yakin sayang. talinya gak terlalu kenceng." ujar aldo.


"Iya beneran. sudah deh do jangan panggil gue sebutan sayang, gue malu." ujar aldo.


Aldo tidak menyadari saja, bahwa perlakuan dan sikapnya yang lembut pada alya. membuatnya menjadi salah tingkah.


"Gpp sayang. anggap aku latihan aja, biar bagaimana pun. kamu adalah pasanganku, jadi tidak ada salahnya jika aku memanggilmu seperti itu." ujar aldo.


Cup


Seketika alya terdiam mematung, saat benda kenyal dan basah mencium bibirnya sekilas.


"Cari aku sayang dengan isi hatimu, jangan sampai salah memeluk cowok lain." bisik aldo di telinga alya.


Sembari berpindah tempat. sedangkan alya, masih tetap mematung sambil memegang bibirnya.


"Benda apa tadi, yang menempel di bibir gue. basah dan lembut, ini bukan ciuman kan." gumam alya dengan suara pelan.


"Oke, semua peserta cewek matanya sudah di tutup dengan kain. jangka waktu, untuk kalian mencari pasangannya. hanya lima belas menit saja. kalau begitu, ibu hitung sampai tiga, kalian mulai berjalan mencari pasangan kalian. satu...dua...tiiiga.." seru wali kelas dengan memegang toa.


Sedangkan alya, sudah berjalan pelan. untuk mencari aldo dengan dua tangan yang menjulur ke depan. seperti meraba angin.


Di sisi lain, aldo yang melihat alya. yang berjalan tak tentu arah. hanya bisa mengulum senyum, melihat kelakuan alya yang tadi memegang lengan cowok lain. dan malah di hempaskan begitu saja. mungkin lengan yang ia pegang, dia kira lengan aldo.


"Duh....aldo sebenarnya ada di mana sih. sudah dua kali gue salah memegang lengan cowok lain. yang pertama lengannya kurus banget, pas dengan genggaman tangan gue. dan yang kedua malah memegang lengan nya orang gendut. sampai sampai tangan gue, gak muat untuk menggenggam nya." gumam alya dengan kesal.


"Waktunya sisa tiga detik. satu dua " ujar wali kelas.


"Gue harus cepet cepet meluk cowok nih." gumam alya.


Sedangkan aldo, yang melihat alya yang berjalan pelan ke arahnya, dan langsung memeluk tubuhnya. membuat jantungnya berdetak lebih kencang, di pandangi wajah cantik alya, bibir merah alami yang tipis, dengan mata yang tertutup kain.


"Ingin sekali aku mencium mu habis habis an sayang." ucap batin aldo dengan gemas.


"Tiga... semuanya, boleh membuka mata nya masing masing."


Seketika alya membuka kain yang menutup matanya, yang di sambut senyuman oleh aldo.


"Kamu pintar sekali sayang, tepat sasaran." ujar aldo sembari tersenyum.


Deg


"Senyumannya, buat gue tidak ingin beralih sedetik pun dari dia. " ucap batin alya.


Masih betah memandang aldo, dengan posisi memeluk aldo.


"Aa.....kenapa gue jadi meluk lo sih." teriak lidia kesal.


Setelah tahu yang ia peluk adalah nanda, sembari mendorong nya dengan kasar. sedangkan dava, wajahnya sudah memerah karna menahan emosi. melihat lidia yang salah sasaran dan memeluk nanda begitu eratnya.


Sedangkan alya, yang tersadar dengan lamunannya, gegas melepaskan pelukannya. dan menjadi salah tingkah, sehingga membuat pipinya merah merona.


"Selamat, aldo dan alya yang tepat memeluk pasangannya. beri tepuk tangan untuk mereka." seru wali kelas.


Prok prok prok


"Mereka memang serasi banget yah ! dari pada di bandingkan dengan si cewek sombong itu. gak ada cocoknya sama sekali."


"Sweet banget mereka, semoga hubungan aldo dan alya langgeng."


"Kok alya bisa tepat gitu meluk aldo."


Bisik bisik semua peserta yang sempat melihat alya memeluk aldo.


Sedangkan lidia, yang sudah melihat dava cemberut, gegas menghampirinya.


"Beb maaf, aku gak tau. lagian ini hanya permainan. salah nanda juga ! kenapa malah berdiri di depanku." ujar lidia memeluk lengan dava.


"Gak tau, pokoknya hari ini aku mogok ngobrol sama kamu." ujar dava, meninggalkan lidia.


"Semua peserta harap duduk kembali. jika ada yang ingin menyanyikan sebuah lagu, bisa langsung menuju ke depan." seru wali kelas.


"Bu, biarkan aldo yang menyanyi saja."


"Aldo Aldo Aldo." seru semua peserta.


"Baiklah, harap kalian semua tenang. dan aldo, silahkan menuju depan." ujar wali kelas.


Sedangkan aldo, menoleh ke samping. di mana alya duduk di sampingnya, sambil menatap alya sembari tersenyum. lalu beranjak dari duduknya.


"Nih bos ! gitarnya." seru riski.


Menyodorkan gitar pada aldo, yang segera di ambil oleh aldo.


"Oke, gue bakal menyanyikan lagu khusus untuk orang yang gue sayangi." ucap aldo, sambil menatap alya.


Sedangkan alya, gelagapan sendiri. karna tatapan aldo yang sulit dia artikan.


Aldo pun memulai memetik senar gitarnya, yang sudah duduk di kursi, yang berada di tengah peserta.


...Aku mencintaimu setulus hatiku...


...Aku menyayangimu dengan sepenuh jiwaku...


...Aku mengasihi mu sepanjang usiaku...


...Aku menginginkanmu lebih dari apapun...


...Meski tak seindah yang kau mau...


...Tak sesempurna cinta yang semestinya...


...Namun aku mencintaimu, sungguh mencintaimu...


Di sisi lain, alya yang masih menatap aldo. dengan perasaan yang tak menentu. sebaliknya juga begitu, aldo yang bernyanyi pandangannya, tak lepas dari alya sedetik pun.


"Gimana ! masih mau berusaha menjauhi aldo lagi. sudah seromantis gitu, sayang kalau di sia sia in al." ujar lidia.


Menyenggol lengan alya yang duduk di sebelah kiri nya. saat melihat alya, yang sedari tadi tak henti hentinya menatap aldo.


"Mm...lo ngomong apaan sih lid." ujar alya, gelagapan.


Sedangkan lidia, hanya menggelengkan kepalanya saja. dengan sikap alya.


...Aku mencintaimu setulus hatiku...


...Aku menyayangimu dengan sepenuh jiwaku...


...Begitu erat, (begitu erat), begitu lekat (begitu lekat)...


...(Perasaan ku kepadamu) Oh........


...Tak bisa ku hentikan...


...Tak mampu ku tepis kan (tak mampu ku hentikan)...


...Meski tak seindah yang kau mau...


...Tak sesempurna cinta yang semestinya...


...Namun aku mencintaimu, sungguh mencintaimu...


Prok prok prok


Suara tepuk tangan yang meriah, saat aldo selesai menyanyikan lagunya.


"Suara aldo memang benar benar bagus. sudah gitu, menyanyikan lagunya sembari menatap alya lagi. so sweet banget."


"Iya nih. andaikan masih ada cowok yang seperti aldo, gue janji deh gak akan playgirls."