The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 27



"Terimakasih kak." ucapku tersenyum.


Setelah waiters tadi menaruh semua menu masakan di depan kami.Gegas aku memakannya dengan pelan. Tanpa menjawab pertanyaan aldo tadi.


Sedangkan aldo. Hanya bisa membuang nafasnya dengan kasar, saat pertanyaan tadi tidak di jawab oleh alya.


"Alhamdulillah." ucap alya.


Setelah menghabiskan semua tiga menu makanan yang ia pesan tadi. Sedangkan di sisi lain, aldo tengah menatap alya sedari tadi. Saat alya tengah fokus dengan makanannya.


Srut.....Srut...Srut.....


Bunyi sedotan dari hasil alya menyeruput es boba nya. Yang hanya tersisa sedikit, langsung ludes seketika.


"Kalau kurang minumannya, bisa pesen lagi al." ucap aldo.


Yang sedari tadi memperhatikan alya, sembari menahan senyumannya karna ulah alya tadi. Menurutnya di saat alya makan atau minum. Terlihat sangat menggemaskan di matanya.


"Ng...Gak kok gue gak kurang. Cuma sayang saja kan kalau gak di habiskan." ucap alya gugup.


Karna sedari tadi, aldo terus memperhatikannya. Dia baru ingat, bahwa yang makan bersamanya bukan lidia, melainkan aldo. Bukannya menjaga image, biar terlihat anggun di matanya. Eh, malah keliatan seperti cewek rakus di depannya.


Kalau makan bersama lidia, atau keluarganya gpp lah tidak perlu menjaga image.


"Lupa gue. Kalau makan bersama aldo. Gpp lah, jika dia melihat cara makanku seperti ini. Mungkin dia akan mundur perlahan. Jadi, tak perlu gue di buat bingung dengan perasaan ini." batinku.


"Santai saja sama gue al, gak usah malu. Cepat atau lambat gue pasti bakal tau kebiasaan, dan kepribadian lo. Karna cuma gue yang akan menjadi pendamping hidup lo." ucapnya percaya diri.


Ketika melihat wajahku dengan pipi merah merona, seperti udang rebus.


"Jangan menghayal terlalu tinggi lo. Nanti jatuh sakit deh." ujarku.


"Kalau gue sakit, kan ada lo yang mau rawat gue." ucapnya.


Sembari memasang senyuman yang manis seperti madu.


"Bagus kan ! Pemandangan di sini ? Sarapan malam, sembari menikmati suasana alam seperti ini. Lo tau gak ? Perbedaan lo sama bulan ! Kenapa bulan selalu hadir setiap ada malam. Karna bulan membantu malam untuk menerangi bumi. Sedangkan lo, membantu menerangi kehidupan gue dalam kegelapan." ucapnya.


Menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan.


"Gak usah modus do. Gue gak mudah baper." ucapku.


Menahan diri di depannya, agar tidak salah tingkah dengan ucapannya tadi. Meski tak di pungkiri ucapannya, membuat hatiku benar benar ingin terbang melayang.


"Gue gak modus sama lo. Gue ngomong sesuai dengan kenyataan." ucapnya.


Masih menatapku dengan lekat.


"Gue mau pulang. Takut sampai rumah, larut malam." ucapku.


Sembari melihat jam di handphoneku. Dan memasukkan di dalam tas slempang kecilku.


"Ok. Tunggu di sini dulu bentar. Gue mau bayar pesanan kita." ucap aldo.


Beranjak dari tempat duduk dan menuju kasir. Tidak lama kemudian, aldo kembali. Sembari menenteng kantong kresek sedang.


"Nih. Buat lo makan di rumah." ucapnya.


Menyodorkan kantong kresek tadi padaku.


"Apa ini ?" tanyaku.


Setelah mengambil kresek darinya. Dan melihat ke dalam kresek. Ternyata ada satu kardus sedang, berisi roti maryam di dalamnya.


"Roti Maryam, gue belikan buat lo lagi. Sepertinya lo suka. Jadi, bisa di makan untuk cemilan sebelum tidur. Ayo pulang ! " ujarnya.


Menarik pergelangan tanganku dengan pelan.


"Gak usah di gandeng kayak gini ! Gue bisa jalan sendiri." ucapku.


Seraya ingin melepaskan genggamannya.


"Gue mau genggam tangan lo. Setiap hari dan setiap saat. Jadi jangan di lepas." tegasnya.


Sembari mengeratkan genggamannya. Sesampainya di parkiran, aldo mulai melepaskan genggamannya.


"Pakai helm gue. Supaya gak kedinginan kepala lo." ucapnya.


Memasangkan helmnya padaku. Pandangan kita pun terkunci satu sama lain, saat tidak sengaja aku menatapnya. Segera aku mengalihkan pandanganku. Tidak kuat rasanya jika berlama lama saling tatap begini. Ada rasa aneh yang belum ku rasakan di hatiku.


"Owh. Gu Gue bisa pasang sendiri." gugup ku.


Masih menatapku sambil tersenyum. Sembari mengaitkan tali helm di kepalaku.


"Jantung gue." gumamku.


Sembari memegang dadaku, yang mulai naik turun nafasku, gara gara perlakuannya tadi. Yang menurutku terkesan manis.


"Al. Ayo ! Apa gue bantu lo lagi untuk naik." seru Aldo.


Sembari menaik turunkan alisnya. Segera aku tersadar dari lamunanku. Ini semua gara gara dia, ngapain juga dia pakai pasangin helm segala. Buat jantung gak sinkron saja.


"Gak usah modus. Gue bisa naik sendiri." ucapku kesal.


Sembari menaiki motornya, dengan berpegangan di pundaknya.


"Al. Jangan lama lama yah ! Bersikap seperti ini ke gue." pekiknya.


Saat sudah berada di tengah jalan. Dengan melajukan motornya pelan.


"Memangnya gue bersikap seperti apa sama lo? Bukannya sikap gue wajar yah ! seperti teman kelas, gak lebih." pekikku.


Sembari melihat jalanan yang ramai dengan kendaraan.


"Sebenarnya, apa maksud dari perkataannya tadi. Menerangi dalam kegelapan ? Mungkin dia hanya menggombal saja. Untuk membuatku baper." batinku.


Sedangkan aldo, melihat alya dari kaca spionnya. Sambil tersenyum menatap ke arahnya. Alya yang sedari tadi melamun tidak sengaja bersitatap di kaca spion. Di mana aldo masih memperhatikannya.


"Ngapain lo, ngeliatin gue kayak gitu !" ujarku.


Setelah mengalihkan pandanganku ke arah lain.


"Memangnya salah yah ! Kalau gue ngliatin calon masa depan gue." pekiknya.


"Dia bilang apa tadi? calon masa depan ? benar benar nih orang, haluannya terlalu tinggi." gumamku pelan.


Tidak percaya dengan ucapannya tadi.


"Lo bilang apa al ?" pekiknya.


"Gue gak bilang apa apa yah." ketusku.


Sedangkan aldo hanya menampilkan senyumannya saja. Dengan tingkah alya.


"Gpp, sekarang lo bersikap gini ke gue. Nanti kalau lo sudah jadi milik gue. Gak akan gue biarin lo bersikap acuh ke gue." batin aldo.


"Pegangan di pinggang gue al. Jangan di pundak gue, nanti lo jatuh." pekiknya lagi.


Sembari menuntun tanganku memeluk pinggangnya.


"Lo apaan sih. Gue lebih nyaman pegangan di pundak lo. lagian gak akan jatuh juga." ucapku.


Sembari melepaskan tanganku dari pinggangnya. Yang langsung di tahan oleh aldo. Ku hembuskan nafasku dengan kasar. Ternyata tidak mudah untuk menjauhinya.


"Kalau gitu. Jadikan pundak gue tempat bersandar untuk lo."


"Gila lo." ucapku.


Tiga puluh menit kemudian.


Aldo memberhentikan motornya, tepat di depan pagar rumah.


"Makasih." ucapku.


Setelah turun dari motornya, dan melepaskan helm di kepalaku, yang langsung ku kembalikan padanya.


"Sama sama, jangan lupa di makan rotinya. Oh iya. Minuman yang tadi siang gue beli, sudah di minum ? " tanyanya.


"Sudah gue minum. Lain kali gak usah repot seperti ini. Gue bisa beli sendiri." ucapku.


"Gue gak merasa direpotkan al. Gue malah seneng kalau di repot in." ucapnya.


" Ya sudah. Gue masuk dulu." ucapku.


Cup


Tiba tiba saja, dia mencium keningku. Saat dia berhasil menahan tanganku tadi yang hendak membuka pagar rumah.


"Ya sudah sana masuk. Gue pulang dulu."


Brum.....Brum....Brum....