The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 47



Dua jam kemudian.


"Al, bangun sudah sampai." seru lidia.


Membangunkan alya, yang tidur dengan bersandar di bahu aldo.


Alya pun terbangun. Saat sadar, bahwa iya bersandar pada bahu aldo. Gegas ia melihat dan memandang aldo, yang masih terlelap.


"Ganteng banget." gumam alya.


"Kamu benar sayang, aku memang ganteng sejak lahir." ujar aldo.


Sebenarnya, sudah sedari tadi. Aldo bangun dan ingin membangunkan alya. Malah lebih duluan lidia yang membangunkan alya. Gegas aldo pura pura tidur kembali, saat alya menggeliat.


"Dih....Pede lo." ujar alya.


Setelah menegakkan badannya.


Sedangkan aldo, hanya tersenyum melihat tingkah alya yang gugup. Saat terciduk menatapnya.


Setelah turun dari bus. Semua peserta menuju ke bagasi, dan mengambil barangnya masing masing.


"Sini, biar aku yang bawa." ujar aldo.


Saat alya, menggendong tas ranselnya.


"Gak usah biar gue bawak sendiri. Lagian, lo sudah bawak tas ransel juga. Tas lo lebih berat dari punya gue." ujar alya.


"Aldo, bantuin aku bawain barang ku." ujar laura.


"Lo punya tangan kan ? Jadi, gunanya tangan itu untuk apa !" ujar aldo ketus.


Sembari menarik tangan alya pelan.


Sedangkan alya, hanya tersenyum melihat penolakan aldo yang kasar kepada laura.


"Rasain lo. Gimana ? Enak kan ! Di cuekin sama aldo hahaha ....Ups, jadi orang tuh jangan jadi ulet bulu yah cantik. Ayo beb." ujar lidia.


Merangkul lengan dava, dan meninggalkan laura.


"Tunggu pembalasan gue pelakor." gumam laura sinis.


"Untuk menuju ke tempat perkemahan. Kita harus mendaki terlebih dulu. Jangan, sampai ada yang ketinggalan. Dan berbaris yang rapi, jangan sampai teman kalian ada yang tersesat. " ucap wali kelas, sambil memegang toa.


"Duh.....Capek banget sih. Boleh duduk sebentar gak, gue sudah gak kuat mendaki. Rasanya, kaki gue mau patah." ujar lidia.


Sembari berjongkok.


"Ayo beb, jangan berhenti. Sebentar lagi kita akan sampai." ujar dava yang berada di barisan depan.


Sedangkan alya, berbaris di belakang lidia. Dan tentunya, aldo berada di belakang alya.


"Ayo lid, bangun. Memangnya lo mau kita tersesat gara gara lo beristirahat. Tuh lihat ! Yang lainnya sudah ada di depan. Sedangkan kita, berada di barisan paling belakang." ujar alya.


Sambil menarik tangan lidia, agar bangun dari jongkoknya.


"Capek banget gue al. Sumpah, gue gak kuat." ujar lidia lesu.


"Lo minta gendong aja ke dava." ujar ku.


"Beb. Gendong." ucap lidia manja.


Dengan merentangkan tangannya pada dava. Sedangkan dava, melihat alya dengan tatapan tajamnya.


"Apa ! Lo sebagai pasangan adek gue. Harus siap siaga." ujar alya sembari tersenyum.


"Siap kakak ipar. Perintah anda saya laksanakan." ujar dava.


Sambil menggendong lidia.


"Uh.....Sayang, makasih." ujar lidia manja.


Mengeratkan pelukannya di leher dava.


"Beb, jangan terlalu erat pelukannya. Aku gak bisa nafas." ujar dava.


Yang sudah memerah wajahnya, karna ulah lidia.


Sedangkan alya, hanya menahan tawanya agar tidak menimbulkan suara.


"Sayang, kamu juga mau di gendong ? Siapa tahu, kamu juga gak kuat untuk mendaki." ujar aldo.


Yang berada di belakang alya.


"Gak mau, gue bisa jalan sendiri. Kaki gue masih mampu untuk berjalan." ujar alya.


Gegas berjalan tergesa gesa, menyusul lidia dan yang lainnya. Sedangkan aldo, hanya tersenyum melihat alya.


"Sayang, jangan berlari. Nanti kamu jatuh. Kita berdua tidak akan tersesat." pekik aldo.


Saat melihat alya, yang berlari kecil, menyusul yang lainnya.


"Bisa gak sih. Sehari aja, aldo gak bersikap manis ke gue. Bikin jantung gue berdisko aja." batin alya.


Setelah turun dari gendongan dava.


"Liat tuh si bos." ujar nanda pada riski dan doni.


Saat melihat alya yang berlari kecil, sedangkan aldo yang berjalan tergesa gesa untuk menyamai langkah alya.


"Hahaha lucu banget mereka berdua. Kayak lagi main kejar kejaran." tawa riski.


"Bukan main kejar kejaran lagi, tapi seperti main maling maling an. Alya yang maling hatinya bos, sedangkan bos polisinya cinta alya. Hahaha." tawa doni.


"Auw.....Sakit lid." ujar doni mengusap lengan nya.


Saat dirinya, di lemparkan batu kerikil oleh lidia.


"Alya tuh, bukan maling. Jangan asal ngomong." ujar lidia sembari menatap tajam doni.


"Lagian gue cuma bercanda lid. Eh malah di tanggapi serius sama lo." ujar doni


"Sama aja." ujar lidia.


"Dava, ajarin cewek lo nih. Jangan terlalu kasar sama cowok." ujar doni.


"Cewek gue gak salah kok. Lagian lo yang salah, sudah ngomong sembarangan." ujar dava.


"Wah....Parah nih." ujar doni.


"Sabar bro. Sabar. Kita mah, jomblo gak akan ada yang membela kita." ujar riski.


"Kamu gak capek yank ! Lari larian dari tadi." ujar aldo.


"Bisa gak do. Lo jangan panggil gue gitu. Gue punya nama." ujar alya kesal.


"Gak bisa sayang." ujar aldo.


Sedangkan alya, langsung menarik tangan lidia. Dan berjalan, menuju peserta yang lain untuk membuat tenda.


"Kenapa lo sering main narik tangan gue al. Sakit tau !" seru lidia.


"Gue malu lid. Kalau aldo panggil gue sayang. Rasanya, gue pengen tenggelam di dasar lautan." ujar alya yang saat ini, pipinya bersemu merah.


"Gpp al. Nanti lo juga akan terbiasa. Ya sudah, yuk buat tendanya." ujar lidia.


"Lo tarik yang di ujung al. Nah, kayak gitu." seru lidia.


Saat ini, mereka berdua memasang tenda dengan susah payah.


"Yah, roboh lagi lid." ujar alya lesu.


"Ini, gimana sih. Cara mendirikan tenda, gue gak ngerti." kesal lidia.


Sembari menghentakkan kakinya kesal.


"Kenapa ? Jangan kesal gitu sayang. Sini, biar aku yang bantuin." ujar aldo.


Menghampiri alya dan lidia. Setelah tendanya sudah berdiri dengan kokoh.


"Kalian berempat, sini bantuin gue." pekik aldo.


Pada doni, riski, nanda dan dava.


"Siap bos kami datang."


"Beb. Aku gak bisa bangunin tendanya. Sedari tadi selalu roboh." ujar lidia manja.


Setelah dava berada di depannya.


"Sini, biar aku yang bantuin sama aldo dan yang lainnya." ujar dava.


Sedangkan alya, hanya pasrah saat aldo membantunya.


"Cuma tenda kita al. Yang belom jadi." ujar lidia.


Saat melihat tenda yang lainnya sudah berdiri.


"Bener lid. Kita sampai capek, bangunin tenda yang sedari tadi roboh terus." ujar alya lesu.


"Hehehe beruntungnya, kita masih punya lima bodyguard." ujar lidia.


Sedangkan alya, hanya memutar mata nya dengan malas.


Tak lama kemudian, tenda alya dan lidia sudah jadi dan siap untuk di tepati.


"Makasih, udah bantuin kita." ujar alya.


Sembari tersenyum dengan tulus.


"Santai aja al. kita ini kan teman, sebagai teman. harus saling membantu." ujar nanda.


"Ya sudah. kamu masuk ke tenda, dan taruh barang barang kamu." ujar aldo.


Sembari meninggalkan alya.