
"Mereka berdua, gue ajakin gak mau do. karna takut di intip waktu mandi. " ujar riski.
"Sayang, bareng kita aja. kita gak akan berbuat seperti itu. aku yang akan memastikan sendiri, kalau kamu berdua saja sama lidia. dan tidak tahu arah jalan pulang. bisa bisa kamu akan tersesat." ujar aldo.
" Ya sudah do. gue ikut kalian aja, lagian kalau tersesat dalam hutan gak lucu juga. endingnya malah serem." ujar lidia.
Menimpali perkataan aldo.
"Lid, lo serius." ujar alya.
"Seriusan al. lagian ada beb dava jadi, mereka yang mau macem macem bakal di hajar sama my baby gue." ujar lidia.
"Ya sudah, kalian berdua ikut kita aja. tuh ! mereka sudah menunggu dari tadi." ujar aldo.
Menatap ke arah, nanda, doni juga dava yang berdiri di depan tenda mereka.
"Ya sudah. gue ikut." ujar alya.
Mereka pun berjalan, menghampiri yang lainnya. dan masuk ke hutan untuk mencari sumber mata air.
"Beb, capek banget." ujar lidia.
Pada dava yang bergelayut manja di lengannya.
"Gak usah manja gitu lid. gue ngeliatnya jijik tau." ujar alya.
Memutar bola matanya malas.
"Tuh beb ! alya ngebully aku." ujar lidia.
"Al sudah dong jangan ledek kesayangan gue." ucap dava pada alya.
"Apa lo bilang ! kesayangan ? kesayangan itu semacam hewan peliharaan kan ! seperti lidia yah." beo alya.
"Hahahaha jahat banget lo al, sama saudara lo sendiri." tawa nanda.
Yang mendengar perkataan alya tadi.
"Alya, gue gak mau lagi ngomong sama lo." ujar lidia ngambek.
"Gpp, kalau lo gak mau ngomong sama gue. nanti gue gak mau tidur satu tenda sama lo. biar lo ketakutan di dalam tenda. gue mau tidur di tenda yang lain." ujar alya.
"Tidur satu tenda sama aku aja sayang." ujar aldo.
Menimpali perkataan alya.
"Bos, sadar masih belum muhrim. gak boleh tidur berdua." ujar doni.
"Bahaya nih si bos. main di gercep (gerak cepat) aja anak orang." ujar nanda.
"Apaan sih kalian. gue gak akan tidur di tenda kalian. gue tidur di tenda gue sendiri bareng lidia." ujar alya.
"Nah. itu baru bener al." ujar lidia nyengir kuda.
"Sepertinya di depan ada sungai kecil deh." ujar dava.
"Beneran dav. pengen cepat cepat mandi gue. udah gerah nih." ujar alya.
"Oh iya. kalian para cowok cowok gak boleh ngintip kita berdua mandi. kalau sampai ada yang ngintip bakal gue gebukin kalian, satu satu." ujar alya lagi, menunjuk mereka.
Sambil menggenggam tangannya seperti menonjok.
"Benar tuh kata alya." ujar lidia.
"Iya al. lo tenang aja kita gak akan ngintip kok." ujar nanda.
"Masih ada aku yang memantau mereka sayang, kalau mereka berani ngintip kamu sama alya. aku yang akan menghajarnya. sudah, sana mandi. kita tunggu di sini, kalau ada apa apa teriak aja." ujar aldo.
Sedangkan alya, menganggukkan kepala sebagai jawaban nya.
...****************...
"Duh.... di sini dingin banget yah." ujar alya.
Yang memakai jaket tebal juga kupluk di kepalanya, begitu pun juga lidia. saat ini, mereka tengah berkumpul untuk menghidupkan api unggun.
"Be bener al. dingin banget di sini. " ujar lidia.
Sembari menggosok gosok telapak tangannya.
"Minum wedang jahe ini, biar badan mu lebih hangat." ujar aldo sembari tersenyum.
Saat alya menatapnya.
"Makasih." ujar alya.
Mengambil segelas wedang jahe yang di sodorkan aldo.
"Kalian berdua sweet banget sih ! kok my baby gue gak perhatian seperti aldo." ujar lidia.
"Beb, aku sudah bawain kamu wedang jahe. malah kamu bilang seperti itu." ujar dava cemberut.
"Hehehe enggak kok ! aku tadi salah ngomong aja. kamu lebih perhatian dari pada aldo. ya kan do !" seru lidia.
Pada aldo, yang hanya di tanggapi gelengan kepala. sedangkan aldo, sudah duduk di samping alya.
"Makanya, lo harus bersyukur. dava sudah perhatian dan peduli sama lo, malah sirik sama orang lain." ujar alya.
"Kalau kamu gimana." ujar aldo.
"Ha.. gue. memangnya gue kenapa !" beo alya.
Sambil menunjuk dirinya sendiri. yang tidak mengerti perkataan aldo, yang singkat dan padat.
"Sudah lihat perhatian dan pedulinya aku nggak ! buak kamu." ujar aldo.
Deg
Seketika membuat alya diam mematung, karna perkataan aldo tadi.
"Kalau kamu mengerti tentang perhatian dan pedulinya cowok lain kepada pasangannya. berarti kamu juga paham dong, pengertian dan kepedulian ku ke kamu." ucap aldo.
"O...i itu gue salah ngomong aja." ujar alya gelagapan.
Sambil meminum wedang jahenya.
Sedangkan di sisi lain, yang tak jauh tempat alya duduk. laura sedari tadi, menatap alya dengan tatapan kebencian.
"Lo kenapa ra? iri melihat mereka berdua ? lebih baik lo cari penggantinya aldo deh. karna, mereka berdua itu cocok. kalau aldo pacaran sama lo ! gak serasi banget. " ujar ita.
Saat melihat tatapan laura tertuju pada alya.
"Ah.....gue benci sama mereka." teriak laura kesal.
Sambil beranjak pergi.
"Kenapa tuh ulet bulu, teriak teriak di malam hari. kayak mak lampir aja, yang sedang ketawa keliling." ujar lidia.
"Perhatian semuanya, api unggun telah hidup. waktunya kita memulai permainan. yang pertama kita akan memulai permainan acak acak an. di mana, semua peserta cewek harus mencari pasangannya. dengan mata yang di tutup kain. dan semua peserta cowok tidak boleh berdiri di tempat yang sama. saat semua peserta cewek belom menutup matanya, harus berpindah tempat.silahkan ! kalian semua mengambil nomer yang ada di dalam kotak ini. untuk menentukan siapa pasangan kalian." ujar wali kelas.
"Wah....gak sabar gue. bakal di peluk cewek. permainan ini memang menguntungkan untuk para kaum hawa." ujar nanda.
"Ayo al. buruan kita ambil nomernya." ujar lidia menarik tangan alya.
"Setelah kalian mengambil nomernya. cocok kan nomer kalian dengan teman cowok kalian. jika nomer kalian sama, berarti kalian menjadi pasangan di permainan ini."
"Lo nomer berapa al ?" tanya lidia.
Setelah melihat nomer di kertas kecil, yang ia ambil tadi.
"Gue nomer dua lima. kalau lo ? " tanya alya.
"Gue dua tujuh. " ujar lidia.
"Beb kamu nomer berapa ?" tanya lidia pada dava.
Saat melihat dava dan aldo yang berjalan ke arahnya setelah mengambil nomer di dalam kotak.
"Aku nomer dua tujuh sayang." ujar dava.
"Kita jadi pasangan beb." seru lidia sumringah.
"Kamu nomer berapa sayang ?" tanya aldo.
"Sepertinya pasangan gue nanda deh ! soalnya tadi, nanda bilang dua puluh lima." ujar alya.
Saat tak sengaja mendengar pembicaraan nanda pada riski tadi.