
"Ayo nak. Silahkan, perkenalkan diri kamu." ucap wali kelas.
Kepada murid baru, yang berada di sampingnya.
Dengan wajah pongahnya dia berucap.
"Perkenalkan, nama gue Angelina Laura."
"Wiih sombong banget lo jadi cewek ! "
"Cantik sih ! Tapi kalau gak ada sopan santun. Cantiknya mah di telan bumi."
"Jangan gitu. Nanti anak pak donatur terbesar di sekolah ini, jadi nangis. Terus ngadu ke bapaknya deh kan takut."
"Hahahaha"
Suara bising pun terdengar. Ulah teman kelas yang tidak suka, melihat kedatangan murid baru yang sudah di cap sombong.
Sedangkan. Laura, hanya menahan amarahnya. Dengan menatap tajam ke depan.
"Awas lo kalian semua." batinnya.
"Sudah sudah ! Cukup." pekik wali kelas.
"Ya sudah. Silahkan laura, kamu duduk di bangku kosong. Yang ada di belakang yah ! " ucapnya.
"Al. Lo baik baik saja kan ? " tanya lidia.
Sembari melihat alya, yang masih menatap ke depan. Dengan tatapan mata yang sulit di jelaskan.
"Lo pengen tau gak ! Ceweknya Aldo." tanya alya, membalas tatapan Lidia.
"Ceweknya adalah. Murid baru yang ada di depan." ucap alya lagi.
Tidak memberi kesempatan lidia menjawab.
"Haaaa....Serius lo al ? Cewek yang sombong itu, pacarnya aldo ? " pekik lidia. Sembari memelankan suaranya.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Waaaah..... Sepertinya lo harus pasang hati sekuat baja deh ! Kelak kalau, melihat mereka uwu uwuan di depan kita." ucap lidia.
"Memangnya, mereka akan melakukan apa ? Sampai lo bicara uwu uwuan." ucapku terkekeh.
"Iiiiiih.....gue seriusan al." kesalnya.
"Iya iya, sayangku. Gue bakal pasang hati yang kuat. Supaya tidak mudah rapuh." ucapku. Sembari mencubit pipi lidia.
"Anak anak, tolong perhatikan saya. Tiga hari lagi, kalian akan menghadapi ujian semester akhir. Jadi, ibu minta tolong supaya kalian semua naik kelas tiga, dan tidak ada yang tersisa di kelas ini. Ibu tidak mau ada salah satu murid ibu tidak naik kelas. Belajarlah, yang giat, dan hafalkan bab bab yang penting. Supaya nantinya, ketika ujian berlangsung kalian menjawab soal dengan mudah."
"Baik bu." suara serentak semua satu kelas.
"Gue belajar sama lo ya al ! Gue setiap hari bakal main ke rumah lo." ucap lidia. Sambil menyeruput es tehnya.
Mereka berdua sudah berada di kantin, siapa lagi kalau bukan lidia dan juga Alya.
"Ok deh. Tapi lo ke rumah pas sore saja ya ! biar puas kita belajarnya." ucap alya.
"Sayang, kok kamu marah sih. Kalau aku pindah sekolah. Iya aku salah, sudah gak beri tahu kamu. Aku hanya pengen kasih kamu suprise sayang." ucap laura. Yang bergelayut manja di lengan aldo.
Sedangkan aldo. Hanya menatap depan, tepatnya sedang memperhatikan alya yang membelakangi Aldo.
"Heh laura ! Jangan genit gitu gue jijik liatnya. Di sini kantin banyak orang yang liat, gak malu lo ! " ujar riski.
Dengan menggelengkan kepalanya, melihat tingkah laku laura seperti pasar malam saja.
"Sayang, kok kamu diem saja, aku di kata in genit sama temen kamu." adunya.
"Ra. gak usah pegang pegang lenganku bisa ?" ucap aldo datar. Tapi masih memperhatikan alya.
Biasanya di mana mana. Kalau ceweknya di bully sama temennya sendiri. Akan membelanya, lah ini ! Bukannya memarahi si riski. Malah membiarkan riski menjelekkan pacarnya.
"Iiiiiiih.....Kamu kenapa sih ! Kok berubah banget sama aku." kesalnya.
"Pasti ini semua gara gara tuh cewek." batin laura menatap punggung alya kesal.
"Al. Coba deh lo liat ke belakang. Sedari tadi, aldo gak henti hentinya memperhatikan lo." ucap lidia.
"Ya sudah ! Yuk ke perpustakaan." ajakku.
"Gue gak ikut yah ! Mau ke toilet. Tapi bentar lagi gue nyusul lo." ucap lidia cengengesan.
" Ya sudah, gue duluan."
Melihat alya bangkit dari tempat duduknya. Segera aldo mengikuti langkah alya, kemana perginya.
"Sayang.....Kok aku di tinggal sih !" pekik laura.
"Siying kik iki di tinggil sih." seru doni
Menirukan suara anak kecil
"Hahahaha" tawa riski, nanda juga Doni.
"Apaan sih lo. Awas kalian yah ! " ucap laura.
Dengan kesal, sambil berlalu meninggalkan mereka.
"Gara gara lo sih nan. Anak donaturnya, jadi ngambek deh. hahaha......" tawa riski.
"Kenapa sih, harus pacaran di sekolah. Kenapa juga, harus mengumbar kemesraan gitu. Memangnya di sini, tempatnya kontes percintaan." gerutu alya kesal.
Sambil menghentakkan kakinya seperti anak kecil.
Hanya di depan lidia, dan semua orang. Alya bersikap acuh tak acuh. Saat melihat aldo dengan laura.
Sedangkan disisi lain. Tepatnya mengikuti alya yang tak lain aldo. Hanya senyum senyum sendiri, melihat tingkah alya yang menggemaskan menurutnya.
"Lucu banget si Lo al, jadi kangen gue pas lo mengejar gue." batin aldo
"Lebih baik gue ke rooftop saja deh. Jadi gak mood belajar gue." gumam alya.
Yang terus melangkahkan kakinya. Sedangkan perpustakaan sudah ia lewati tadi.
"Aaa.....Gue kesel sama lo aldo, gue kesel." teriak alya. Setelah sampai di rooftop.
"Kenapa lo kesal sama gue ? Memangnya gue punya salah apa sama lo ? " tanya aldo. Yang sudah berada di belakang Alya.
Seketika itu, refleks alya membalikkan badannya.
"Ngapain Lo ke sini ? " tanya alya ketus.
"Ini kan sekolah. Jadi bebas dong siapa saja. Boleh datang ke sini." jawabnya santai.
"Maksud gue, ngapain lo ngikutin gue." ucap alya. Dengan sorot mata yang tak suka.
"Terserah gue. Gue mau ngikutin siapa."
Mendengar penuturan aldo membuatku semakin kesal. Segera aku melangkahkan kakiku untuk turun dari rooftop.
"Mau kemana lo ? " tanya aldo. Yang berhasil menahan pergelangan alya, saat hendak pergi.
"Lepasin tangan gue." ucapku kesal.
"Gue gak akan lepasin lo. Sebelum, lo jawab pertanyaan gue."
"Cepat. Apa yang mau lo tanyakan ! Gue gak ada waktu buat ladenin lo."
"Kenapa lo berubah ? Lo sudah gak deketin gue lagi. Atau mengejar gue, bahkan lo sudah berhenti gak bawain gue bekal. Seakan akan lo jauhin gue." seru Aldo, sambil menatap alya.
Sedangkan yang di tatap. Hanya memalingkan wajahnya.
"Pertanyaan. Yang gak harus gue jawab. Seharusnya, lo bisa mikir. Tanpa gue jelasin ke Lo." ucap alya dingin.
"Gue butuh jawaban lo al. Semenjak lo jauhin gue. Setiap malam, gue selalu mikirin lo. Gue gak bisa tanpa satu hari pun gak mikirin lo. Bayangan bayangan lo, selalu menghantui gue. Gue gak tau kenapa bisa kayak gini." pekik aldo.
Tak terasa mata alya mulai berembun. Tidak tahu harus bagaimana lagi, menghadapi aldo saat ini.
"Lo mau tau ! Kenapa gue sudah berhenti mengejar lo ? Kenapa gue juga sudah berhenti gak bawain bekal buat lo ? Lo masih inget kan ! Waktu di mana, lo konser di cafe pelangi. Niat gue mau samperin lo, setelah turun dari panggung. Kenyataan yang mengejutkan bagi gue. Gue liat lo sudah menggandeng seorang cewek yang tidak lain adalah laura. Lo perkenalkan dia di depan teman lo. Gue urungkan niat gue, untuk samperin lo. Gue denger sendiri lo bilang, kalau gue gak penting dalam hidup lo. Karna, gue duluan yang mengejar lo. Lo merendahkan gue di depan teman lo do. Gue sadar, kalau tidak sepantasnya. Cewek mengejar cowok duluan. Maka dari itu, gue jauhin lo, dan untuk bekal. Ngapain gue bawain bekal buat lo. Kalau pemberian gue, selalu gak di hargai sama sekali. Bahkan, Lo sering buang bekal yang gue bawain untuk lo. Lo gak tau rasanya jadi gue do. Lo belom pernah merasakan perjuangan yang tak di hargai. Kenapa, lo gak bilang dari awal. Kalau lo risih gue kejar. Kalau lo bilang dari awal, rasa sakit yang gue rasain saat ini. Gak akan separah ini. Gue sayang dan cinta sama lo do. Tapi ! sayangnya, cinta lo bukan untuk gue"
Air mata yang sedari tadi ku tahan, akhirnya jatuh juga tanpa henti.
Lega rasanya, setelah mengungkapkan semua yang ku rasakan.