The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 13



"Yah, gerbangnya sudah di tutup nih. Gimana donk. Padahal, gue tadi malam, sudah pasang alarm." keluhku.


Setelah sampai di depan pintu gerbang sekolah.


Hari ini. Aku dan lidia baru sampai di sekolah jam 07.15 hanya telat lima belas menit gerbang sudah di tutup. Baru pertama kali ini untukku, di tutupin gerbang. Biasanya kami berdua tidak pernah telat masuk sekolah.


"Lo sih al. Bangunnya kesiangan. Jadi ikutan apes kan gue." kesal Lidia.


"Iya iya. Gue yang salah. Ya sudah, ini gimana caranya kita masuk nih ? "


"Kita minta bantuan sama sama pak yayan." seru lidia.


Dengan wajah yang sumringah,seperti idenya akan berhasil.


Ku parkiran motorku depan gerbang. Ku ikuti langkah lidia, untuk menuju pos satpam.


"Pak. Minta tolong bukain gerbangnya donk pak. Kita hanya telat lima belas menit saja. Kok sudah di tutup sih pak."


"Iya nih pak. Biarkan kami berdua masuk yah, kami siswi yang teladan loh pak. Dan tidak pernah telat. Hanya hari ini saja yang telat. kalau tidak mengikuti pelajaran hari ini. Bisa bisa nilai kita akan turun pak. Bukain yah pak !" ucapku.


Menimpali lidia yang sedang memohon pada pak yayan. Yang berada di dalam pos samping gerbang. Supaya di bukain.


" Aduh neng.....Bapak sebenarnya tidak tega. Tapi gimana lagi. Bapak juga harus mengikuti peraturan sekolah. Kalau tidak. Bapak yang akan di kena denda, karna sudah membukakan gerbang untuk siswa siswi yang telat." ucap pak yayan. dengan raut wajah yang bingung.


"Ayolah pak. Bukain gerbangnya. Lagian pak kepsek tidak akan tahu juga pak. Kalau bapak bukain gerbangnya. Iya kan al ! " seru lidia.


"Iya pak boleh yah ! " ucapku.


"Haish...Ya sudah. Bapak bukakan gerbangnya. Tapi, jangan salahkan bapak kalau kalian ketahuan." ucap pak yayan pasrah.


Sembari membukakan gerbang yang di gembok.


Segera aku menuju motor. Ku tuntun motorku dengan lebih cepat. Takut nantinya, pak yayan berubah pikiran. Dan malah aku yang sendirian berada di luar gerbang.


"Makasih ya pak ! " ucapku tersenyum.


"Makasih juga ya pak yayan. I love you, sudah bukain gerbang buat kita." ucap lidia.


Sembari membentuk love dengan jarinya.


"Anak muda jaman sekarang. Pada suka menggombal. Kalau pas kemauannya di turuti." ucap pak yayan.


"Iiiiiih.....Geli gue denger lo, genit kayak gitu ke pak yayan." ucapku. Sembari bergidik ngeri.


"Ye.....Biarin. Memangnya lo mau, hari ini kita bolos gara gara gak di bukain gerbang. Terus, mau pakai alasan apa ? sampai rumah, di tanyain nyokap dan bokap ha." cerocos lidia tanpa jeda.


"Habis makan apa lo. Kok tambah cerewet gini. " ucapku.


Yang sudah memarkirkan motor di dalam sekolah.


"Hehe.....Enggak sih,gue gak merasa jadi cerewet." ucapnya.


Mereka berdua, berjalan mengendap endap di lorong sekolah. Takut ketahuan guru lain, dan ketua osis.


"Huft.....Akhirnya, sampai di kelas." ucap lidia.


Yang membuang nafas dengan kasar.


Beruntungnya. Hari ini, jam kosong jadi, tidak harus di interogasi oleh wali kelas. Pantas saja, tidak ada ketua osis yang berseliweran, di lorong sekolah tadi.


"Kalian berdua, kenapa telat ? "tanya Dava.


Setelah alya, dan lidia sudah duduk di bangkunya.


"Ini nih, alya bangunnya kesiangan. Jadi, aku ikut telat juga." jawab lidia dengan cemberut.


"Kok lo nyalahin gue terus sih lid. Yang penting, kita sudah selamat sampai tujuan. Tidak perlu pasang wajah seperti monyet gak lucu." kesalku.


Seketika aku. Dan lidia langsung menatap dava yang menahan tawanya. Mungkin karna ucapanku tadi.


"Tidak usah menahan tawa seperti itu dav, keluarin saja kalau mau tertawa" ucap lidia.


Sedangkan di belakang bangku alya. Seseorang sedang menatap mereka dengan sorot mata yang dingin.


"Awas lo al." batinnya.


"Oh iya dav. Pelajaran pertama, kenapa jam kosong." tanya alya.


"Gak tau juga gue. Mungkin ada rapat untuk ujian akhir." jawabnya.


Oh iya. Aku baru sadar, ujian akhir semester sudah hampir. Sepertinya, aku harus lebih giat belajarnya, agar naik kelas." gumamku.


" Eh tau nggak. Katanya, akan ada siswi baru di kelas kita. Dengar dengar sih, anak dari penyumbang dana terbesar di sekolah ini"


"jadi gak sabar gue untuk nunggu hari esok"


Samar samar, ku dengar teman kelasku membahas soal akan ada siswi baru lagi. Bukannya, ujian akhir semester akan tiba, kenapa malah menerima siswi baru lagi.


Entahlah. Aku tidak mau memusingkan masalah itu. Biar pihak sekolah yang mengurusnya. Sekarang aku harus fokus dengan belajar. Bagaimana caranya, waktu ujian semester akhir, aku mendapatkan nilai bagus. Supaya tidak mengecewakan ayah, dan bunda.


"Al. Ke kantin yuk. Perut gue sudah pada berdisko nih ! " ajak lidia.


"Mana ada perut berdisko lid. Adanya, perut tuh keroncongan kalau laper." jawabku.


"Gue hari ini gak ke kantin dulu deh. Tapi, gue titip minuman yah." ucapku.


"Jadi, gue ke kantin sendirian nih ! "


"Bareng aku saja lid. Dari pada tidak ada temennya." ajak Dava.


"Khem. Sudah sana, sama dava saja berduaan ke kantin. Gue titip susu kotak coklat. nih uangnya." ucapku.


Sambil memberi uang untuk titipanku.


"Ya sudah deh. Gue ke kantin duluan yah ! "


"Iya iya. Buruan sana." ucapku.


Yang sambil tersenyum melihat tingkah lidia. Seperti malu malu kucing, karna makan berdua dengan dava.


"Sepertinya. Belajar di perpus lebih tenang deh. Makan dulu ah." gumamku.


Sembari mengambil bekal di dalam tas. Tadi pagi, memang tidak sempat sarapan. Karna, sudah kesiangan. Beruntungnya, bunda menyiapkan bekal untukku.


"Bos. Lo gak mau ke kantin ? " tanya nanda.


"Duluan saja." jawabnya.


Masih terus menatap depan, yang tertuju pada alya.


"Ok. Yuk bro ke kantin ! " seru nanda.


Sedangkan, riski dan doni sudah meninggalkan aldo sendirian. Hanya alya, dan aldo saja berdua di dalam kelas. Semuanya, sudah pada ke kantin.


Segera aldo bangkit dari duduknya. Dan berjalan menuju bangku alya. Di mana, alya sedang menikmati makanannya.


"Bekal untuk gue mana ? "


Suara itu tak asing bagiku. Segera aku melihatnya.


"Huft ngapain dia ke sini."batinku.


"Bekal untuk lo?" tanyaku.


"Lo kan bisa makan sendiri, Tanpa harus minta bekal ke orang lain." ketusku.


Entahlah. Kenapa, aku bisa berbicara seperti itu padanya. Semenjak perjuanganku tidak pernah dia hargai. Lebih parahnya, dia sudah punya pacar.Tapi, masih saja membiarkanku mengejarnya. Setidaknya, dia bisa bicara baik baik denganku. Pasti aku akan mundur.


"Oh. Lo sudah mau berhenti gak bawain bekal untuk gue." ucapnya dingin, dan datar. Sambil menatapku.


Ku tatap dia dengan sorot mata yang tajam Dia kira, aku akan takut ketika dia menatapku seperti itu. Aku adalah alya yang sekarang yang tidak mau takut lagi saat dia menatapku seperti itu. Karna, alya yang kemarin sudah hilang pada diriku.