The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 07



"Lid. Lo mau pesen apa?" tanyaku.


Yang sudah memegang buku menu, serta sudah ada pramusaji yang mencatat pesanan kita.


Akhirnya .....Kita sudah sampai di cafe pelangi. Hanya butuh lima belas menit saja. Untuk sampai di sini, cafe pelangi ini milik aldo. Dia sudah membuka usaha cafe satu tahunan ini. Pangeranku memang mandiri, sampai sampai membuka cafe pas masih lajang begini. Para pengunjung, juga ramai di sini. Padahal, masih malam selasa. Biasanya, kalau cafe yang lain, ramainya pas malam minggu saja. Tidak dengan cafe pelangi. Setiap malam, selalu ramai pengunjung. Tidak hanya suasananya saja yang bagus. Tapi, makanan di sini enak enak. Dan murah, apalagi, minumannya. Enaknya.... Gak kaleng kaleng.


"Gue pesen. Mie jongor level tiga, pisang coklat satu. Dan minumannya, milkshake strawberry satu." ucapnya.


Yang, segera di tulis oleh pramusaji di sampingku.


"Aku pesen seblak nya level dua puluh lima satu. Sosis bakarnya pedes satu, dan roti bakar rasa coklat satu. Minumannya, milkshake coklat dan es jeruk yah kak ! " ucapku.


Jangan salah paham yah. Kenapa aku bisa beli jajan sepuas ku. Karna ini, sisa uang jajan pas di sekolah. Jadi, karna selalu ada sisanya, lebih baik ku simpan di tabungan saja.


Kalau makan pedas pedas tuh, lebih segar minum es jeruk . Karna, rasa pedas di lidah akan berkurang.


"Baik. segera di buat, tunggu sebentar yah." ucapnya.


Sambil berlalu, untuk membuat pesanan kita.


"Lo gak makan berapa hari al ? Pesannya banyak banget. " tanya lidia.


Dengan alis yang bertaut.


"Mood makan gue lagi naik lid. Jadi jangan heran deh sama gue. Gue itu lagi seneng tau" ujarku.


Yang mulai senyum senyum sendiri, sambil memutar memori untuk mengingat tadi siang.


"Gila lo al. " sembari menggelengkan kepalanya karna heran.


"Memangnya, lo gak pengen tau nih. Kenapa saudara lo ini. Seneng banget, sampai nafsu makan bertambah." ucap alya.


Sembari menaik turunkan alisnya.


"Iya ya. Memangnya kenapa ? Coba lo cerita sama gue." tanyanya.


"Tadi siang tuh. Gue kan nganterin pesanan customernya bunda. Nah, pas gue mau pulang, tiba tiba motor gue mati di tengah jalan." ucap alya.


Yang masih senyum senyum tak jelas.


"Lah, terus. Apa hubungannya, motor lo mati. Sama mood makan lo naik." tanya lidia dengan heran.


"Gue belom selesai ceritanya lid. Jangan main potong potong aja. Ini tuh, bukan sayuran, tapi cerita gue." jawab alya cengengesan.


"Lumayan lama, gue melamun di jalan. Eh, pangeran penolong gue datang. siapa lagi kalau bukan aldo pacar gue. Terus, dia menghubungi tukang bengkelnya buat benerin tuh motor. Dan pada akhirnya gue di anter pulang sama pacar gue. Terus, yang bikin gue seneng lagi. Dia angkat tubuh gue, untuk naik ke joknya. Karna gue gak sampai, untuk naik. Terlalu tinggi untuk gue jangkau. Bikin gue malu sih, tapi gpp lah, badan gue di angkat gitu, berasa di ratu kan gue tau. Dan parahnya lagi, yang bikin gue tambah seneng banget. Gue refleks meluk dia dari belakang, gara gara aldo gas motornya mendadak." cerocos alya dengan senang.


Tanpa jeda sampai sampai meluk badannya sendiri. Saking kuatnya tuh ingatan. Sampai di putar kembali seperti kaset.


"Permisi kak, pesanannya sudah datang." ucap pramusaji cewek tadi.


Yang mencatat pesanan alya dan lidia. Segera ia langsung menaruh menu masakan, di meja depan alya dan lidia.


"Iya kak. Terimakasih." jawab lidia.


"Semenjak kapan lo jadian sama aldo ? Dia bales cinto lo kagak. Malah lo yang ngaku ngaku pacarnya. Udah deh al, jangan terlalu berharap yang gak pasti. Lebih baik, lo cari yang pasti pasti aja. Gue gak tega liat lo, di sakiti sama aldo. " ujar lidia menasehati.


"Gue bakal berusaha lagi lid. Siapa tau, dia bakal bales cinta gue. Tapi, kalau misal suatu saat nanti, gue bener bener gak kuat. Dan, ingin menyerah. Gue akan berhenti mengejar dia." jawabku lesu.


Ada rasa sesak di hati ini. Saat aku mengucapkan kata kata yang mungkin akan terjadi. Kalau sampai, aldo tidak bisa di perjuangkan.


"Ya sudah yuk, kita makan. " seru lidia.


Bergegas aku dan lidia memakan yang pesanan kami.


Aku mulai makan menu seblak dulu. Setelah itu, baru sosis dan roti bakar.


"Akh....... Alhamdulillah. Nikmat Tuhan yang mana kau dustakan." ucapku.


Setelah bersendawa.


Ku lihat, masih ada setengah gelas milk shake coklat ku. Sebentar lagi, akan ku habiskan, Setelah makananku turun semua ke dalam perut.


"Muat banget perut lo al, seperti perut gentong aja hahaha." tawa lidia mengejek


"Mending gue. Makan banyak pun, gak akan langsung bikin badan gue melar. Nah lo, makan dikit saja, yang berlemak sudah naik berat badan lo. Lebih baik kayak gue nih, bebas makan apa aja. Tanpa perlu diet, setelah makan banyak." ejek ku menjulurkan lidah.


"Cek....cek.... Perhatian semua, terima kasih. Telah mengunjungi cafe pelangi hari ini. Semoga, kalian betah dan selalu berlangganan di sini. Sebagai imbalannya, saya dan teman teman saya. Akan menyanyikan satu lagu, untuk menemani makan kalian." ucap seseorang.


Yang berada di atas panggung kecil, yang tidak jauh dari tempat duduk alya.


Refleks aku dan lidia menoleh dengan heran. Yang memberi pidato tadi adalah nanda. Serta aldo yang duduk sembari memegang gitar, tepat di depan mic dengan tongkatnya. Sebagai vokalis. Setelah itu, nanda, riski. Dan doni, baru bersiap memainkan musik yang mereka pegang masing masing.


Bukannya, band aldo akan tampil setiap malam minggu saja. Berfikir positif saja, mungkin mereka sedang gabut.


Sopo sing kuat nandang kahanan


Sopo seng ora kroso kelangan


Ditinggal pas sayang sayange


Pas lagi jeru jerune, koe milih dalan liyane


Sopo sing kuat di tinggal lungo


Sopo sing atine ora loro


Kenangan sing wis tak lakoni


Tak simpen ning njero ati


Dewe wes ra dadi siji


Yowes ben tak lakoni nganti sak kuat - kuate ati


Pesenku mung siji, sing ngati - ati


Isoku mung mendem esuk tekan sonten


Mergo sadar diri kulo, dudu sinten sinten


Yowes ben mung tak pendem roso sing ono ing njero dodo


Tetep tak dungakno mugo urip mulyo


Isoku mung nyuwun ora getun


Cekap semanten maturnuwun


Yowes ben tak lakoni nganti sak kuat - kuate ati


Pesenku mung siji, sing ngati - ati


Isoku mung mendem esuk tekan sonten


Mergo sadar diri kulo dudu sinten sinten


Yowes ben mung tak pendem roso sing ono ing njero dodo


Tetep tak dongakno mugo urip mulyo


Isoku mung nyuwun mugo ora getun


Cekap semanten maturnuwun


Isoku mung nyuwun mugo ora getun


Cekap semanten maturnuwun


Tidak lama kemudian. Lagu yang di nyanyikan aldo telah berhenti.


Segera aku tersadar dari lamunanku.


Bukan hanya sekali, aku mendengar suara aldo saat bernyanyi. Bahkan, setiap hari aku mendengarkan suaranya dari rekaman handphoneku. baru pertama kali, aldo menjadi vokalis band, sempat ku rekam suaranya. Dan sampai sekarang masih ku simpan di galeri. Tapi malam ini, beda banget, aku sampai di buat terpana olehnya.


Dia menyanyikan Lagu jawa, yang berjudul "Dalan Liyane "merupakan salah satu terpopuler saat ini. Secepat itu, mereka menghafal lagu jawa, yang menurutku sedikit rumit.


"Prok prok prok prok"


Semua pengunjung cafe memberikan tepuk tangan yang meriah. Beserta sorakan pengunjung, yang mengagumi sosok aldo. Dengan suara yang serak basah dan lembut itu.