The Pursuit Of Love

The Pursuit Of Love
Bab 16



Segera, ku hempaskan tangan aldo yang masih menahan pergelangan tanganku. Lalu pergi meninggalkannya di rooftop.


Biarlah. Setelah ini, dia mau mengganggap ku cewek rendahan. Karna sudah menyatakan cintanya lebih dulu.


Sedangkan aldo. Hanya diam saja melihat kepergian alya dengan tangisannya.


"Bun, besok adalah pembagian rapot. Bunda yang datang ke sekolah, atau ayah ? " tanya alya. Saat selesai sarapan paginya.


"Bunda yang akan datang nanti ke sekolah. Gak sabar nih ! Bunda ingin melihat hasil rapot kamu. Naik kelas gak yah ! " ujar bunda menggodaku.


"Pasti naik kelas donk. Anak bunda kan pinter. Jangan ngomong kayak gitu, alya jadi deg deg an nih ! " ucapku cemberut.


"Hahaha....iya iya. Anak bunda pintar, pasti kamu naik kelas"


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam ." jawab alya.


"Biar alya saja bun, yang bukain pintu." ucapku. Segera beranjak menuju depan.


Ceklek


"Tumben, gak kasih kabar. Kalau lo mau ke sini." ujarku pada lidia.


Setelah membukakan pintu.


"Sengaja. Lagian, bosen gue di rumah terus, setelah ujian kemaren. Bikin pala gue puyeng. Jogging yuk ! " ajaknya.


Yang sudah rapi dengan baju olahraganya.


"Mau jogging kemana memangnya ? " tanyaku.


Hari ini adalah hari Minggu. Senin akan masuk sekolah, tanpa pelajaran. Hanya datang untuk menemani orang tua mengambil rapot. Tetapi, tetap memakai seragam sekolah.


"Hehe.....Ke taman saja. Gue sudah mengajak dava. Sekarang, dia lagi nungguin di taman." ucapnya dengan cengengesan.


"Jadi, ceritanya gue mau di jadikan nyamuk nih ! Sampai sana." ujarku melipat tangan di dada.


Akhir akhir ini, dava dan lidia memulai pendekatan. Setelah satu sama lain sama sama suka.


"Janji, gak akan jadiin lo nyamuk. Apa lagi, jadiin lo baygon. Lo kan saudara gue. Ayok. lo siap siap sana ! " serunya, sambil mendorong tubuhku.


Sesampainya di taman. Alya dan lidia memarkirkan sepeda ontelnya di tempat yang aman. Ya, mereka berdua jogging sepeda ke taman, hanya membutuhkan lima belas menit untuk sampai.


"Itu dava al. Ayo ! " ucap lidia sumringah.


Saat melihat dava sedang duduk di bawah pohon kelapa.


"Duluan saja lid. Gue mau beli minuman haus nih ! " ucapku.


"Ya sudah. Nanti lo nyusul yah ! Gue tungguin." ucapnya.


Sambil berjalan menghampiri dava.


Ku lihat kanan kiri. Siapa tahu ada pedagang kaki lima. Yap. Di seberang jalan, ada penjual minuman, juga cilok di sana.


Sudah lama tidak jajan sembarangan. Tanpa ku lihat kanan kiri langsung aku menyeberang. Gara gara kecerobohanku tidak lama kemudian, ada suara klakson motor yang sangat nyaring.


Tiit...... Tiit .......Tiit.....


Bruuuuk


Ku buka mataku. Saat tidak terjadi apapun pada tubuhku. Dan ku lihat, tidak jauh dari aku berdiri. Sudah ada seseorang yang terjatuh dengan motor ninja warna merah yang sudah menabrak bahu jalan. Sedangkan, pengendaranya sudah terduduk dengan helm yang sudah di lepas oleh pemiliknya.


Gegas aku berlari kecil menghampirinya.


"Maaf maaf ! Kamu tidak apa apa ? " tanyaku cemas.


Sambil berjongkok setelah sampai di sampingnya.


"Gue gpp. Lain kali, kalau mau menyeberang itu, lihat kanan kiri. Biar tidak membahayakan nyawa orang lain, juga lo." jawabnya.


Suara itu tidak asing bagiku. Segera aku melihat wajahnya. Benar sekali dugaanku, kalau pemilik suara itulah. Yang akhir akhir ini selalu ku hindari.


"Kenapa ? Kaget ngeliat gue. " ucap aldo.


" Biasa saja gue." jawabku dingin.


"Adek kenal sama cowok ini ? Ya sudah dek, tanggung jawab. Itu luka di lututnya lumayan besar. Salah kamu juga gak melihat jalan pas menyeberang." kata ibu ibu yang menghampiri aldo pas jatuh tadi.


"Kenal buk. Saya temannya."


"Ya sudah buk saya gapapa. Biar saya di bantu oleh teman saya."


Bukan aku yang menjawab. Melainkan aldo sendiri. Setelah itu, ibu ibu yang mengerumuni kami berdua bubar.


"Gue bukan teman lo." ucapku, hendak berdiri.


"Kalau lo gak bantuin gue. Gue bakal teriak nih. Karna lo gak mau tanggung jawab, sudah buat gue jatuh." ucapnya. Dengan senyuman sinis.


Huft


Ku hembuskan nafasku kasar. Untuk menghadapinya, harus ekstra sabar.


Segera ku bantu dia berdiri. Aku berinsiatif untuk membelikan obat untuknya. Kalau bukan karna salahku, gak mungkin aku mau menolongnya, apa lagi berdekatan seperti ini.


"Lo diem saja di sini. Gue mau ke apotik sana bentar." ucapku menunjuk apotik yang tidak jauh dari taman.


Segera ku berlari menuju apotik untuk membeli Betadine, alkohol, tisu juga Hansaplast.


Setelah mendapatkan apa yang ku inginkan. Tidak lupa aku membeli air mineral dua, juga cilok untukku. Aku tidak akan melupakan soal keinginanku tadi yang tertunda. Karna, rasa haus juga laper sudah ku rasakan. Setelah sampai di taman tadi. Meski aku sudah sarapan di rumah


"Nih obatnya ! " ucapku.


Sembari memberikan kantong kresek kecil, juga air mineral.


"Gue yang obati sendiri ? Gue gak bisa." ucapnya, menunjuk diri sendiri.


"Jangan manja deh. Lo kan cowok." ucapku ketus.


Yang tidak ada niatan untuk membantu mengobati lukanya. Aku hanya membantunya membelikan obat saja.


"Gue gak bisa Al."


Ku taruh dengan kasar kantong kresek yang berisi cilok, dan air mineral di sampingnya. Terpaksa aku yang harus membantu mengobati lukanya. Beruntungnya, dia memakai celana chinos pendek. Jadi tidak perlu ribet untuk mengobatinya.


Segera aku berjongkok di depannya. Untuk bisa sejajar dengan lukanya. Agar mudah untuk di obati. Ku ambil tisu yang tadi ku beli, lalu ku tuangkan sedikit alkohol. Supaya tidak ada kuman yang menempel, dan ku oleskan pada lukanya. Ku lihat, dia sedang menahan perih.


"Maafin gue al, sudah nyakitin dan sia siain lo, gue janji setelah ini, gue gak akan lepasin lo, gue akan tetap mengejar lo. meski lo gak respon gue. gue akan bikin lo jatuh cinta lagi ke gue." Batin aldo


"Awwwwww ****. Pelan pelan al, sakit." ringisnya. Yang masih menatapku.


Sengaja ku tekan lukanya. Biarkan saja, biar dia tau rasa. Suruh siapa menatapku seperti itu. Bukannya salting ( salah tingkah) malah tambah kesal dengannya. Dan lukanya tidak sebanding luka di hatiku yang dia buat.


Setelah di olesi alkohol. Aku teteskan betadine sedikit, lalu ! ku tempelkan Hansaplast agar lukanya tertutup.


"Makasih al." ucapnya. Setelah melihat aku sudah mengobati lukanya.


Gak salah, seorang aldo yang di kenal dingin dan datar di sekolah. Mengucapkan terima kasih pada cewek.


"Ya." jawabku singkat.


Segera ku berdiri. Dan mengambil kantong kresek yang ku taruh di sampingnya. Hendak meninggalkannya.


"Lo mau pergi kemana ? Kok lo tega ninggalin gue." serunya.


"Kan udah gue obati lukanya. Terus apa lagi ? Gue mau samperin lidia." ucapku.


"Gak bisa, lo nemenin gue bentar al di sini ? " tanyanya pelan.